Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Aku Belajar Berjalan Bersama Tuhan  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Aku Belajar Berjalan Bersama Tuhan

Iman kita di dalam Tuhan bukanlah serangkaian kejadian terpisah melainkan seuntai pita tanpa sambungan yang terangkai dari iman ke iman. Saya mahir mengutarakan perenungan semacam ini karena sejak hari saya percaya kepada Tuhan sampai sekarang, Ia telah memberkati saya dengan begitu banyak cara yang sudah membuat iman saya berakar dan membuat saya dapat lebih mendekati Dia.

Tuhan memilih kita tentu saja bukan karena sesuatu yang telah kita perbuat tetapi karena kemurahan dan kasih karunia-Nya. Ia juga memberi kita pengalaman yang begitu kaya yang mendorong kita untuk membalas kasih-Nya dan mempelajari pengajaran-Nya dengan lebih mendalam lagi.

Berikut ini adalah kisah tentang sekelumit berkatnya kepada saya, dan setiap pengalaman melabuhkan iman saya semakin dalam serta membantu saya berjalan bersama Tuhan dalam Roh dan kebenaran.


Kasih Karunia Tuhan
Keluarga saya pindah ke Argentina pada 1986 karena kepindahan tugas kerja ayah saya. Pada saat itu saya baru berumur lima tahun dan Gereja Yesus Sejati di Argentina masih dalam tahap bayi. Ibu saya membawa kami bersaudara beribadah di sana, tapi pada saat itu kami belum dibaptis.

Baru pada tahun 1992 gereja mengadakan kebaktian kebangunan rohaninya yang pertama. Saya ingat malam pertama kebaktian pengabaran Injil jatuh pada hari Rabu, dan semua orang menceritakan pada saya betapa indahnya menerima Roh Kudus itu, dan betapa, tanpa Roh Kudus, kita tidak akan dapat memasuki pintu surga. Pada saat itu, saya hanyalah seorang anak sebelas tahun tak berdosa yang tidak banyak tahu soal keselamatan, tapi saya bertekad kuat untuk menerima Roh Kudus.

Saya ingat membuat janji kepada Tuhan, dalam salah satu doa di kebaktian kebangunan rohani, bahwa jika Dia memberi saya Roh Kudus, saya akan mempersembahkan diri saya sebagai persembahan yang hidup untuk melayani Dia seumur hidup saya. Saya merasa seperti seorang anak yang menukarkan sesuatu yang bernilai demi harta yang jauh lebih berharga.

Setelah mengucapkan janji ini kepada Tuhan, saya merasakan suatu rasa hangat yang luar biasa turun dari atas dan memenuhi tubuh saya. Sewaktu Roh Kudus memenuhi diri saya, suatu sinar yang amat terang menyala di depan saya. Cahayanya lebih terang dari matahari dan sangat hangat. Saya bisa menatap lurus ke dalamnya, dan ada perasaan ramah nan lembut yang tak bisa dibandingkan dengan sinar jenis lain mana pun juga.

Sewaktu sinar itu semakin mendekat, saya mulai menangkap garis-garis salib yang muncul dari sinar itu, yang lebih terang dari sinar itu sendiri, dan salib serupa-kristal itu tampak transparan dan sangat berharga. Sinar dan salib itu semakin mendekati saya, dan sewaktu berada tepat di depan wajah saya, saya melihat seorang pria tergantung di atasnya.

Ia babak belur parah sekali dan kurus kering sampai saya bisa menjajaki tulang-tulang-Nya. Mata-Nya terpejam dan saya melihat mahkota duri di kepala-Nya, tetapi raut mukanya bukanlah raut muka seseorang yang terluka parah. Ia memiliki penampilan yang sangat ramah—penampilan yang teramat ingin saya dekati, yang berkata, “Aku mengasihimu. Inilah yang harus Kubayar untuk menyelamatkanmu.”

Penglihatan ini mendorong saya untuk menerima baptisan setelah kebaktian kebangunan rohani tahun itu. Tapi yang paling penting, saya menyadari betapa besar Tuhan mengasihi saya dan betapa saya juga harus mengasihi Dia.

Selama tahun-tahun berikutnya yang penuh kesakitan nan semakin meningkat, dan sewaktu iman saya lemah, penglihatan ini mengingatkan saya bahwa saya sudah dibeli dengan darah Yesus Kristus, dan melalui kasih karunia-Nyalah keselamatan datang kepada saya. Oleh karena itu, saya berbeda dari dunia ini. Ingatan ini menguatkan saya untuk hidup menurut firman-Nya, dan masih terus menguatkan saya sampai hari ini.


Penyembuhan Tuhan
Saya terlahir dengan sejenis penyakit yang sekarang kita kenal sebagai Lupus (SLE-Systemic Lupus Erythematosus), suatu kelainan sistem kekebalan tubuh. Gejalanya seperti reaksi alergi terhadap musim dingin.

Setiap kali musim berputar, seluruh sendi-sendi saya akan membengkak sampai saya jadi tak bisa dikenali lagi. Saya sangat mengerikan untuk dilihat karena pembengkakan itu, mungkin lebih mengerikan daripada raksasa, dan saya sendiri takut melihat diri sendiri setiap kali melongok ke cermin. Bengkak-bengkak di persendian saya akan menjadi biru dan hijau, dan terasa gatal serta sakit.

Orangtua saya membawa saya ke dokter sewaktu saya berumur empat tahun, dan satu-satunya kecurigaan mereka pada waktu itu hanyalah adanya masalah pada sirkulasi darah saya. Kesempatan bertahan hidup dengan menjalani operasi yang disarankan paling banyak hanya lima puluh persen, dan tingkat keberhasilan operasi itu sendiri hanya lima puluh persen. Biayanya juga sangat mahal jadi kami tidak melakukannya.

Kelainan ini akan mendera saya kira-kira dua kali setahun, dan butuh kira-kira satu sampai dua minggu bagi bengkak-bengkak itu untuk kempis lagi sebelum saya kembali normal. Orangtua saya mengharuskan saya untuk tetap pergi ke sekolah selama masa bengkak itu, dan saya akan menundukkan kepala sedalam-dalamnya selama pelajaran atau pada saat berjalan di koridor. Anak-anak sering memanggil saya “monster kecil”.

Saya sudah mendengar kesaksian bagaimana baptisan bukan hanya menghapus dosa, tapi Tuhan juga dapat menyembuhkan penyakit sewaktu orang menerima baptisan. Setelah dibaptis, saya masih mengidap penyakit itu dan saya bertanya-tanya kenapa Tuhan tidak menyembuhkan saya.

Pada tahun yang sama dengan tahun baptisan saya, kami pindah ke Amerika Serikat. Dan pada 1993, pada saat kebaktian kebangunan rohani siswa musim dingin, alergi itu menyerang lagi dan saya merasakan persendian saya membengkak. Takut orang akan ngeri melihat saya, saya pun menelepon Ibu, minta dijemput pulang.

Ibu saya tahu betapa seriusnya masalah ini, jadi dia berkendara ke gereja Garden Grove dalam guyuran hujan. Belakangan ia menceritakan bahwa sewaktu mengemudi ke gereja, ia berseru kepada Tuhan, “Putriku sudah mengidap penyakit ini sejak masih kecil dan kami tidak bisa menolongnya. Tuhan, Engkau Allah yang perkasa dan Engkau dapat menyembuhkannya sekarang juga.”

Ia menjemput saya dari gereja lalu kami pulang dan berdoa. Ibu saya memohon kepada Tuhan, katanya, “Aku memercayakan dia ke dalam tangan-Mu. Bagi manusia ini tidak mungkin, tapi aku berharap kepada-Mu karena bagi-Mu segala sesuatu mungkin. Jika Engkau berkenan menyembuhkannya, mohon hentikan pembengkakannya.”

Sebelum saya pergi tidur, Ibu memberitahu saya apa yang ia doakan, dan saya tahu bahwa itu adalah permintaan yang mustahil karena, selama tiga belas tahun terakhir kehidupan saya ini, selalu butuh waktu paling tidak seminggu sampai bengkaknya mengempis, dan tak ada cara supaya bisa kembali normal persis pada keesokan harinya.

Benar saja, setelah saya pergi tidur, Tuhan benar-benar menyembuhkan saya pada keesokan harinya—persis seperti doa ibu saya. Dua belas tahun sudah berlalu sejak peristiwa itu dan penyakit saya tidak pernah kambuh. Puji Tuhan!

Julie Lee - Baldwin Park, California, USA