Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Ayah, Jangan Takut!  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Ayah, Jangan Takut!

Penulis: Feng-Mei Chen

Ketika saya membuka pintu bangsal rumah sakit, saya melihat ayah mertua saya memegang erat kedua sisi tempat tidur rumah sakit, menatap langit-langit dan seluruh tubuhnya gemetar. Istri saya dengan cepat mengatakan kepadanya, "Ayah! Jangan takut!"Tapi ayah mertua saya terus menggigil. Tangannya terus memegang erat sisi tempat tidur sampai jam 5 pagi." Sdr. Yang Jianzhang ingat bagaimana ayah mertuanya, seorang pria lembut dan jujur​​, yang tidak pernah melakukan hal-hal yang tertentangan dengan hati nuraninya, menghadapi ancaman kematian, bagaimana ia berjalan melalui "lembah kematian", dan bagaimana ia dipenuhi dengan rasa takut tentang dunia yang tidak dikenal.

Namun setelah ayah mertua saya dibaptis, ia mampu bernyanyi, "saya ingin pulang." Dia tahu ke mana ia pergi, dan ia benar-benar tenteram dan tenang ". Yang Jianzhang secara pribadi menyaksikan perbedaan keadaan mental dan emosional dari ayah mertuanya sebelum dan setelah ia dibaptis, dan dia merasa harus bersaksi tentang tindakan Tuhan yang luar biasa.

 

Saya tidak memerlukan agama

Chai Jingzhu (ayah mertua dari Sdr. Yang Jianzhang, ayah dari Sdri. Chai Cunhui) berasal dari Kabupaten Pingtung, Taiwan. Ia lahir pada tahun 1929, dan bekerja sebagai guru di Sekolah Dasar Pingtung Municipal Chung Zheng selama 44 tahun, mengorbankan seluruh hidupnya untuk penelitian dan mempromosikan pendidikan di bidang seni.

"Ayah saya adalah seorang yang rendah hati, baik, optimis, sopan santun dan tulus. Dia juga adalah seorang guru yang baik, suami yang baik dan ayah yang baik." Demikianlah Sdri. Chai Cunhui menggambarkan ayahnya. Yiang Jianzhang mengingatnya sebagai "orang yang menjalani kehidupan yang sederhana, ia tidak memiliki sifat buruk, dia adalah orang yang lembut dan ramah, yang tidak bertengkar dengan orang-orang. Bahkan sebelum ia percaya kepada Tuhan, ia berperilaku sangat mirip dengan seorang Kristen. "

Namun semakin tinggi kedisplinan diri dan kepercayaan diri yang ia miliki, semakin sulit ia menerima Injil.

Chai Cunhui adalah satu-satunya yang percaya dalam keluarga. Setelah dia menikah dengan Yang Jianzhang, mereka berdua terus berpikir untuk memberitakan Injil kepada orang tuanya. Namun ayahnya selalu berkata, "Selama seorang pria tidak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nuraninya, tidak ada yang perlu ditakutkan dan tentu ia akan menjalani kehidupan yang baik. Jika semua orang muda memiliki agama mereka sendiri, lalu siapa yang akan menyembah nenek moyang!" Kata-katanya membuat mereka merasa benar-benar tak berdaya. Namun, dengan perlindungan Tuhan, ia melewati setiap hari dengan lancar dan damai. Dengan demikian, Yang Jianzhang dan istrinya tidak merasa perlu untuk memberitakan Injil kepada orang tuanya.

Namun, kebutuhan untuk menginjili itu muncul lima belas tahun yang lalu, ketika ibu Chai Cunhui meninggal dunia karena kanker lambung. Tidak mau merepotkan anak-anaknya, ayahnya Chai Jinzhu bersikeras tinggal sendirian. Namun, Chai Cunhui khawatir akan ayahnya dan meneleponnya setiap hari untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja. Dia juga berusaha meyakinkan ayahnya untuk datang ke utara untuk tinggal bersama mereka, namun ayahnya selalu menepis saran tersebut.

Pada bulan September 1998, Chai Cunhui akhirnya berhasil meyakinkan ayahnya untuk datang dan tinggal di Taipei. (Namun atas desakan ayahnya, diatur baginya untuk tinggal di kondominium berbintang lima khusus orang-orang tua– Runfu Xinxiang, terletak di sekitar kediaman Yang Jianzhang dan istri). Yang Jianzhang berpikir, "Kesempatan telah tiba!"

Namun, setelah pindah ke Taipei, Chai Jinzhu bahkan semakin sibuk. Selama pengobatan diabetes yang dideritanya, ia mengenal Dr. Hong Jiande, dan atas dorongannya, Chai Jinzhu mengambil pekerjaan sebagai seorang guru seni untuk kelas seni yang dilakukan khusus untuk pasien diabetes. Dia melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, bahkan media pun datang untuk mewawancarainya. Setiap Yang Jianzhang dan istrinya mengundangnya ke gereja, dia akan mengatakan bahwa ia terlalu sibuk dan tidak perlu baginya untuk ke gereja.

 

Takut selama sakit serius

Pada Maret 2000, Chai Jinzhu kuatir atas rasa dingin yang dideritanya yang berlangsung lebih dari satu bulan. Setelah satu bulan, masih belum ada tanda-tanda pemulihan. Putrinya membawanya ke dokter, dan setelah pemeriksaan lebih lanjut ditegaskan bahwa ia menderita kanker paru-paru (lung adenocarcinoma), dan bahwa sel-sel kanker telah menyebar ke tulang. Chai Jinzhu telah masuk stadium empat kanker dan dokter memperkirakan bahwa dia kemugkinan besar akan hidup hanya setengah tahun lagi. "Supaya memberikan ayah keinginan untuk hidup, kami hanya mengatakan kepadanya bahwa ia menderita kanker, tapi tidak mengatakan kepadanya bahwa penyakitnya telah menyebar ke tulang. "Chai Cunhui menekan kesedihannya saat memberitahukan ayahnya atas kondisinya, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasa tertekan sekali. Dia tahu bahwa saat-saat bahagia, bebas dari kekhawatiran, yang biasanya mereka nikmati pada masa lalu akan hilang, dan jalan di depan mereka akan sangat berat.

Selama masa pengobatan, Chai Jinzhu menahan semua jenis rasa sakit dan penderitaan tanpa kata atau keluhan. Dengan belas kasihan Tuhan dan perawatan yang sangat hati-hati dari Chai Cunhui, ia hidup damai satu tahun lagi.

Namun pada tahun 2001, setelah Chai Jinzhu menjalani 32 kali kemoterapi, ia mulai merasakan sakit di mana sel-sel kanker menyebar ke tulang-tulangnya. Tumor menggerogoti pinggangnya, dan tekanan dari panggulnya membuat dia tidak bisa berdiri, membuatnya hanya mampu bergerak di kursi roda. Dengan saran dari dokter, ia mulai menjalani radioterapi. Tanpa diduga, kondisinya memburuk dari hari ke hari, dan ia menjadi semakin lemah dari hari ke hari, muntah bahkan hanya sedikit air saja yang diminumnya. Yang Jianzhang dan istri harus membawa ayah mereka ke rumah sakit lagi.

Pada 3 November, itu adalah hari kesepuluh berturut-turut Chai Jinzhu tidak memakan makanan apapun. Pada tengah malam hari itu, pihak rumah sakit memberitahu bahwa Chai Jinzhu berada dalam kondisi kritis. Ketika Yang Jianzhang dan istrinya bergegas ke rumah sakit, mereka melihat ayah mereka menatap langit-langit, dengan kedua tangannya berpegang erat ke tempat tidur rumah sakit dan seluruh tubuhnya gemetar.... "Ini adalah pertama kalinya saya melihat mertua saya dalam keadaan ketakutan hebat. Ketika dia dalam keadaan sehat, ia sering menekankan bahwa selama seseorang tidak melakukan apa-apa yang berlawanan dengan hati nuraninya, tidak ada yang perlu orang tersebut takutkan. Namun dalam kenyataannya, untuk orang yang tidak mengenal Tuhan, karena ia tidak tahu ke mana dia akan pergi setelah dia menutup matanya, dia akan merasa ketakutan."Yang Jianzhang melihat bagaimana takutnya ayah mertuanya ketika menghadapi kematian. Dia bahkan tidak berani untuk tidur dan terus gemetar ketakutan.

Selanjutnya, dokter menyarankan agar mereka mengirim Chai Jinzhu ke rumah perawatan. Baru di kemudian hari Yang Jianzhang dan istrinya menyadari bahwa ayah mereka tidak akan "pulang" dengan mereka lagi.

 

Berdoa kepada Tuhan agar Tuhan menganugerahkan kehidupan rohani

Pada 10 November, setelah Yang Jianzhang menghadiri kebaktian Sabat, ia memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit Mackay untuk melihat di lingkungan rumah sakit tersebut. Ketika seorang saudari tahu tentang hal ini, dia berkata, "Ayah mertuamu sudah begitu parah sakitnya sekarang, mengapa kamu masih belum membawa dia untuk dibaptis?" Ketika Yang Jianzhang mendengar hal ini, dia merasa sangat bingung dan tak berdaya. Ia berpikir, "Selama 19 tahun terakhir ini, kami telah mencoba untuk menginjilinya tapi tidak memiliki kesempatan. Sekarang penyakitnya sudah begitu berat, bagaimana ia dapat menerima baptisan?"

Keesokan harinya pada 11 November, Yang Jianzhang pergi ke Banqiao untuk persekutuan dan pelajaran Alkitab. Namun ia terus mengkhawatirkan peralihan ayah mertuanya dari rumah sakit ke rumah sakit perawatan, dan dia merasa sangat kecewa, karena dokter mengatakan kepadanya bahwa ayah mertuanya hanya akan hidup satu bulan lebih lagi. Sambil menyetir, ia menyalakan saluran di radio, dan tiba-tiba ia mendengar saluran radio Gereja Yesus Sejati. Dia segera berhenti di saluran ini, dan mendengarkan kesaksian bagaimana Bro. Chen Rencai mendedikasikan dirinya untuk menjadi seorang pendeta.

Selama operasi kanker lambung Chen Rencai ini, setelah dokter membuat sayatan, dokter keluar dari ruang operasi untuk memberitahu istrinya, "Jika saya melanjutkan operasi, suami kamu akan meninggal di meja operasi saat ini." Namun Ny. Chen mengatakan, "Kami percaya kepada Tuhan, lakukan apa yang perlu Anda lakukan!" Kesaksian ini membuat Jianzhang sangat terharu dan merasakan sumber kekuatan yang besar mengalir dari dalam.

Setelah ia kembali ke rumah, ia segera memberitahu istrinya: "Ayah kita tidak punya banyak waktu lagi. Di masa lalu kita sering mengatakan bahwa kita ingin menginjilinya, sekarang kita harus mengambil kesempatan untuk memohon kepada Tuhan untuk melimpahkan ayah dengan kehidupan rohani." Malam itu, mereka bersatu hati berdoa tentang hal ini.

Keesokan harinya, pada pagi hari 13 November, Yang Jianzhang menelepon orang tuanya di Pingtung, serta saudara-saudara di gereja Danshui, meminta mereka untuk berdoa tentang hal ini. Dia juga menelpon pendeta setempat di gereja Danshui pada saat itu, Pdt. Chen Shengquan, meminta ia mengunjungi rumah sakit setidaknya dua sampai tiga kali seminggu, untuk bersaksi tentang Injil kepada ayah mertuanya. Pdt. Chen Shengquan bersedia.

Kakak tertua dari Chai Cunhui bergegas kembali dari Amerika Serikat pada hari berikutnya. Malam itu, mereka memindahkanayah mereka ke Rumah Sakit Mackay, sebuah rumah sakit perawatan yang sangat besar. Karena kurangnya tempat parkir, Yang Jianzhang dan kakak dari istrinya kembali ke rumah mereka di Danshui. Namun pada jam 10:20 malam itu, mereka menerima telepon dari istrinya Chai Cunhui yang memberitahukan mereka bahwa, "Dokter memprediksi bahwa ayah tidak akan mampu bertahan melewati malam ini. Bawalah tikar untuk kakak dan diri kamu sendiri untuk tidur di sini di rumah sakit! "

 

Membawa ayah untuk dibaptis besok!

Ketika Yang Jianzhang meletakkan telepon, pikirnya, apakah benar Tuhan telah meninggalkan ayah mertuanya? Pada saat ketidak berdayaan dan kebingungan, ia sekali lagi memanggil kedua orang tuanya di Pingtung dan saudara-saudari di Danshui, berharap bahwa mereka dapat berdoa bagi ayah mertuanya. Ketika Pdt. Chen Shengquan menerima kabar ini, beliau menelepon Sdr. Yang untuk menanyakan keadaan. Yang Jianzhang menjawab, "Ayah mertuaku tidak akan hidup melewati hari ini!" Pdt. Chen bertanya kembali: "Jianzhang, apakah kamu memiliki iman? Hal pertama yang akan kita lakukan besok pagi, kita akan membawa dia untuk dibaptis." Ketika ia mendengar ini, Yang Jianzhang tertegun sejenak, setelah itu ia berkata, "Ok!" Setelah itu, ia menelepon istrinya, dan Cunhui patuh, "Baiklah, kita akan mempercayakan kehidupan ayah ke tangan Tuhan."

Setelah semuanya diatur, ketika Yang Jianzhang hendak pergi tidur, ia tiba-tiba teringat bahwa istrinya adalah satu-satunya orang percaya dalam keluarga. Dia akan perlu menginformasikan saudara kandung istrinya, dan perlu mendapat persetujuan mereka juga. Oleh karena itu, pertama-tama ia menelepon kakak perempuan istrinya di Amerika Serikat. Karena ia adalah seorang Kristen juga, ia berkata, "Itu hanya percikan air, saya setuju saja, lakukanlah itu!" Yang Jianzhang kemudian menjelaskan padanya, "Di gereja kami, segala sesuatu adalah sesuai dengan ajaran Alkitab, yaitu, kami harus sepenuhnya terendam dalam air yang mengalir selama baptisan."Ketika kakak mendengar ini, dia berseru "Wow!" dan ia pun setuju saja.

Berikutnya, ia menelepon adik istrinya. Dia bukan seorang Kristen, oleh karena itu lebih sulit untuk menyampaikan hal ini kepadanya. Setelah berbicara dengannya dalam waktu yang lama, ia akhirnya setuju. Orang terakhir yang harus ia lalui adalah kakak laki-laki tertua istrinya. Karena kakaknya ini sudah tertidur pulas, Yang Jianzhang berpikir bahwa ia akan memberitahukan kepadanya keesok harinya

Pukul 6 pagi keesokan harinya, dia membangunkan kakak tertua istrinya. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Yang Jianzhang memberitahukan kepadanya bahwa seluruh jemaat gereja menasehati untuk diadakannya baptisan, dan bersaksi kepadanya bahwa kehidupan rohani lebih penting daripada kehidupan fisik. Namun saat itu ada arus dingin dan suhu turun menjadi di bawah 13o, dan selama baptisan, ayah perlu benar-benar diselamkan di laut Danshui. Sang kakak berpikir bahwa Yang Jianzhang sudah gila, dan berbalik untuk menatapnya tak percaya. Yang Jianzhang terus berkata bahwa cukup sering seseorang dibaptis saat sakit parah, atau keadaan cuaca sangat buruk, namun ini adalah ujian Tuhan bagi iman anggota keluarga yang bersangkutan.

Sang kakak menjawab, "Ayah sudah sangat sakit, bagaimana dia bisa masuk ke dalam air?" Tuhan memberikan iman Yang Jianzhang pada detik itu untuk berkata, "Jangan khawatir! Tuhan akan mempersiapkan air panas!" Sang kakak kemudian berkata, "Kita lihat apa yang ayah katakan saat kita sampai di rumah sakit."

 

Tuhan akan mempersiapkan air panas

Ketika ia melangkah ke bangsal, ia melihat istri dan pembantunya menangis, mata mereka bengkak. Ayah mertuanya hampir tidak bernafas, tekanan darahnya telah turun menjadi 40, dan ia tak sadarkan diri. Yang Jianzhang mengumpulkan keberaniannya dan mengatakan kepada istrinya Cunhui, "Berimanlah, bawa ayah untuk dibaptis." Dia juga meminta istrinya untuk memberitahu ayahnya yang tidak sadarkan diri, "Ayah, yakinlah, Tuhan Yesus mengasihi ayah, Tuhan Yesus akan menyelamatkan ayah hari ini!" Setelah Cunhui mengatakan hal itu, ayahnya, yang tak sadarkan diri, tiba-tiba terbangun dan berkata,"Saya pikir saya akan dilahirkan kembali hari ini."

Ketika ia melihat Yang Jianzhang dan anak sulung ia bahkan berkata, "Kamu sudah di sini!" Yang Jianzhang cepat-cepat meminta istrinya untuk menanyakan ayah mertuanya, "Ayah, apakah ayah ingin percaya pada Tuhan Yesus?" Ayah mertuanya menjawab, "Tentu!" "Ayah, apakah kami boleh membawa ayah untuk dibaptis hari ini?" Ayah mertuanya menjawab, "Tentu!" Yang Jianzhang dengan cepat menggunakan perekam untuk merekam kejadian itu sebagai bukti atas keinginan ayah mertuanya untuk percaya kepada Tuhan.

Selanjutnya, ketika adik istrinya yang tiba, pernyataan pertama yang ia sampaikan saat ia melangkah ke bangsal itu adalah, "Di luar hujan!" Kemudian ia berpaling ke ayahnya Chai Jinzhu dan mengatakan, "Apakah ayah tahu bahwa setelah ayah dibaptis, ayah tidak boleh memegang dupa lagi?" Chai Jinzhu menjawab, "Tidak apa-apa!" Lalu ia memanggil anak tertuanya ke sisinya dan mengatakan, "Mulai sekarang kamu yang harus bertanggung jawab untuk menyembah, membeli buah-buahan…" Ia berbicara dengan cara yang sangat teratur, tanda jelas bahwa pikirannya masih jernih. Ia juga menyatakan bahwa mulai dari sekarang, ia tidak akan lagi menyembah berhala. Melihat ayahnya masih sangat sadar, anak bungsunya bertanya, "Apakah ayah lapar?" Chai Jinzhu, yang tidak bisa makan makanan selama lebih dari sepuluh hari berkata, "Ayah lapar." Setelah itu, ia dengan cepat menghabiskan setengah semangkuk bubur.

 

Dimana air panasnya?

Setelah menghabiskan buburnya, ia mengganti pakaian dan menunggu pendeta tiba. Sekitar pukul 11 ​​pagi, pendeta tiba. Yang Jianzhang kemudian mengatur mobil ambulans untuk membawa ayah mertuanya ke pantai untuk baptisan. Sepanjang jalan, cuaca sangat dingin dan angin kuat. Yang Jianzhang terus menghibur kakak tertua dan adik istrinya dengan berkata, “Tuhan Yesus akan mempersiapkan air panas."

Ketika mereka tiba di lokasi baptisan, saudara-saudari dari gereja Danshui sudah ada di sana menyanyikan pujian. Yang Jianzhang dan anggota keluarganya membawa Chai Jinzhu yang duduk di kursi roda turun dari ambulans. Ada seorang saudara yang mengajukan diri untuk memanggul Chai Jinzhu ke dalam air, tetapi ia tiba-tiba mengatakan, "Saya bisa berjalan ke sana sendiri!" Semua orang terkejut mendengar hal itu. Di tengah puji-pujian anggota keluarganya dan saudara-saudari gereja, Chai

Setelah ia kembali ke mobil dan tukar pakaian, dalam perjalanan kembali ke gereja Danshui, wajah kakak tertua dan adik dari istri Sdr. Yang terlihat sangat serius dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka berpikir dalam hati mereka sendiri: "Ayah pastilah masuk angin." Tidak pernah mereka bayangkan bahwa wajah Chai Jinzhu ini sedikit memerah ketika mereka tiba di gereja, bahkan menyapa semua orang dengan mengatakan, “Haleluyah!” Setelah itu, Chai Jinzhu menyelesaikan sakramen Basuh Kaki dan Perjamuan Kudus.

Chai Jinzhu memiliki iman yang baik saat mereka kembali ke rumah sakit, dan dia berkata kepada anak-anaknya, "Hari ini saya telah menerima baptisan, dan memenuhi keinginan saya lebih dari sepuluh tahun. Seolah-olah saya menerima baptisan atas nama ibumu juga." Lima belas tahun yang lalu, ibu Chai Cunhui menjalani operasi untuk kanker lambung, dan juga diobati dengan kemoterapi selama dua sampai tiga minggu. Namun, ia mengalami stroke sesaat sesudah itu dan tenggelam dalam ketidaksadaran. Sementara dalam keadaan itu, dia terus mengulang, "Haleluya!"

Pada saat itu, Chai Cunhui meminta pendeta untuk melakukan baptisan bagi ibunya. Namun karena Chai Cunhui adalah satu-satunya yang percaya kepada Tuhan di keluarganya, pendeta berharap untuk menunggu sampai Ny. Chai sadar, dan menyatakan keinginnya sendiri untuk dibaptis. Oleh karena itu saudara-saudari seiman diminta untuk berdoa untuk hal ini. Namun Ny. Chai tidak pernah bangun. Mereka tidak menyangka kalau sesudah sepuluh tahun hal ini masih ada dalam pikiran Chai Jinzhu.

Tidak lama sesudah Chai Jinzhhu mengatakan hal itu kepada putrinya, ia mengalami demam tinggi dan tidak sadarkan diri lagi.

Malam itu, ketika Yang Jianzhang sedang dalam perjalanan pulang, Cunhui yang dipenuhi dengan banyak pikiran dan perasaan berkata, "Belum pernah saya bermimpi bahwa Tuhan Yesus akan membiarkan ayah menerima baptisan dengan cara yang sedemikian menakjubkan." Lalu ia menambahkan dengan mengatakan, "Jianzhang, hari ini cuaca sangat dingin, tapi kamu terus bersaksi bahwa Tuhan akan mempersiapkan air panas untuk ayah? Saya pastilah disalahkan oleh kakak dan adik saya karena ayah masuk angin." Jianzhang tercengang sejenak, sehingga ia berkata, "Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda."

Keesokan harinya, Jianzhang menemani kakak istrinya yang bergegas datang dari Amerika Serikat untuk ke rumah sakit mengunjungi Chai Jinzhu. Ketika mereka membuka pintu bangsal rumah sakit, mereka melihat Chai Jinzhu dalam keadaan sangat sadar dan sedang makan! Karena itu, Cunhui merasa nyaman dan karenanya memutuskan untuk kembali mengajar. Jianzhang didampingi istrinya ke stasiun kereta api, dan sepanjang jalan Cunhui bertanya sekali lagi, "Bukankah kamu mengatakan bahwa akan ada air panas?" Dia tampak merenung atas masalah ayahnya yang demam waktu itu.

 

Saat saya masuk ke dalam air, airnya panas

Orang tua Yang Jianzhang dan kakak nya bergegas ke rumah sakit untuk mengunjungi Chai Jinzhu setelah pembaptisannya. Ketika mereka sedang mengobrol, tiba-tiba mereka mendengar kesaksian berikut direkam adik perempuan keduanya. Chai Jinzhu tiba-tiba berkata, "Saya punya sesuatu yang penting untuk mengatakan. Pertama, saya telah dibaptis hari ini. Kedua, dengan menerima baptisan saya telah memenuhi keinginan saya semenjak sepuluh tahun yang lalu, dan ini seolah-olah istri saya juga telah menerima baptisan. Ketiga, saya telah mengecewakan Tuhan Yesus karena baru sekarang saya menjalani baptisan ini. Keempat, hari ini ketika saya menerima baptisan, meskipun cuaca sangat dingin, ada banyak saudara-saudari seiman yang datang dan menunjukkan perhatian mereka. Tapi saya lebih bersyukur lagi yaitu saat saya masuk ke dalam air, air itu panas! "

Saat Chai Cunhui kembali ke rumah, dia juga mendengarkan rekaman ini. “Terima kasih Tuhan, saat saya masuk ke dalam air, air itu panas!” Tuhan Yesus benar-benar sudah mempersiapkan air panas!

 

Gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku

Seminggu kemudian, Chai Jinzhu tiba-tiba menyanyikan lagu rakyat Jepang "Sunset" (Dia tidak tahu bagaimana menyanyikan lagu pujian), frase terakhir dari lagu ini adalah, "Saya ingin pulang!" Seolah-olah dia memberitahu semua orang bahwa dia bisa pergi dengan damai sekarang. Dua hari kemudian, setelah Yang Jiangzhang dan istri berdoa untuk dia sembari memegang tangan ayah mereka, ia meninggal dengan damai. Pasangan ini menggenggam tangannya dan berdoa, "Ayah, damai sejahtera menyertaimu! Hanya orang-orang yang telah menerima Tuhan Yesus dapat menerima kedamaian yang sejati, sukacita dan hidup yang kekal."

Ketika Yang Jianzhang ingat pengalaman ini, dia mengatakannya dengan penuh syukur, "Dengan dipilihnya ayah mertua saya oleh-Nya, Allah menguatkan iman kami berdua, dan memungkinkan kita untuk mengalami kasih karunia-Nya yang besar. Selama 19 tahun terakhir, kami telah mencoba menggunakan cara kami sendiri, tetapi kita tidak bisa meyakinkan ayah mertua saya untuk menerima Injil. Namun Tuhan Yesus hanya memerlukan waktu tiga hari, ayah mertua saya sadarkan diri, terbangun dan menerima baptisan. Yang lebih menakjubkan adalah bahwa dengan iman saya mengatakan bahwa akan ada air panas, dan benar-benar ada adalah air panas! "

Karena kasih karunia yang luar biasa ini, Yang Jianzhang mengambil setiap kesempatan yang dipunyainya saat memimpin kebaktian di GYS berbagai cabang untuk bersaksi akan hal ini. Dia secara pribadi menyaksikan bagaimana ayah mertuanya yang telah menjadi manusia benar sepanjang hidupnya, ketika dihadapkan dengan ancaman kematian, mewujudkan apa yang ditulis di Mazmur, "Hatiku gelisah, kengerian maut telah menimpa aku." (Mzm 55: 4), dan setelah baptisan, ia langsung mendapat kedamaian, "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mzm 23: 4)

Memang merupakan berkat besar bagi seseorang untuk dapat "meninggalkan dunia dalam damai", dan membawa penghiburan yang besar bagi kerabat yang sedang berduka.