Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Bapa Surgawi Menemukanku  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

BAPA SURGAWI MENEMUKANKU

DISAMBUT PULANG KE RUMAH
Aku tak akan pernah melupakan hari ketika Roh Kudus memasuki kehidupanku. Saat itu musim panas 1986, dan sekaligus akhir tahun keduaku di universitas. Tak pernah terbayang olehku suatu saat akan pergi ke New York seorang diri, apalagi ke gereja. Tapi, di sanalah aku, di Gereja Yesus Sejati di Queens, New York.

Pada waktu itu, aku tinggal di kota universitas kecil di Texas bagian tengah. Keluargaku atheis, kecuali Ibu, yang mulai tertarik pada Gereja Yesus Sejati. Walaupun Ibu sering mendorong, baru dua kali aku bersua dengan gereja sebelum berangkat ke Queens.

Aku merasa tidak nyaman dengan cara orang-orang berdoa di gereja. Tetapi, kontak pertama dengan gereja membuatku bertanya-tanya tentang Tuhan yang mereka beritakan ini. Aku terkesan melihat betapa mereka selalu menggunakan Alkitab sebagai referensi untuk menjawab semua pertanyaanku. Suatu kali aku juga merasakan rasa hangat sewaktu berdoa.

Tetapi, diperlukan suatu mujizat bagiku untuk benar-benar ingin pergi ke New York guna menghadiri acara rohani istimewa di sana. Pergi mengikuti kebaktian kebangunan rohani (KKR), yang sepanjang hari diisi dengan sesi khotbah dan doa, bisa sangat membosankan dan menakutkan bagi seseorang yang tidak punya latar belakang kerohanian, seperti aku.

Oleh karena itu, mula-mula aku berencana untuk tinggal di gereja selama beberapa hari saja supaya pemuda-pemudi yang kutemui di Texas bisa mengajakku jalan-jalan di New York. Lalu, aku akan mengunjungi seorang teman di Boston.

Kita bisa membuat rencana tetapi Tuhan mungkin menyimpan sesuatu yang sangat berbeda untuk kita. Begitu sampai di New York, aku ingat betapa saudara-saudari di Queens menyambutku dan membuatku merasa seperti di rumah sendiri. Malahan, aku merasa seolah sudah pulang ke rumah meskipun baru kenal beberapa orang di sana. Aku merasakan ketertarikan yang sangat kuat karena kata-kata yang kudengar selama khotbah, dan karena kasih yang ditunjukkan oleh saudara-saudari kepadaku.

Suatu peristiwa yang ajaib terjadi. Sewaktu doa sore di hari kedua, aku berdoa supaya Tuhan menyembuhkan seorang saudari yang sedang menderita sakit kepala hebat. Tak lama setelah berlutut, sekali lagi aku merasakan seluruh tubuhku menjadi hangat. Rasa panas itu mulai menjalar dari kepala sampai ke seluruh tubuh. Selanjutnya, aku merasakan lututku naik dan turun membentur lantai kayu, seolah ada suatu kekuatan yang berulang-ulang mengangkat tubuhku setengah inci dari atas lantai dan cepat-cepat menurunkannya lagi.

Pikiran yang langsung terlintas adalah, "Waduh, pasti ada gempa bumi." Tetapi aku ingat, tidak ada gempa bumi di pantai timur. Oleh karena itu, aku menyimpulkan bahwa itu pasti karena aku terlalu lelah berlutut begitu lama akhir-akhir ini. Cepat-cepat aku mengganti posisi demi menghentikan benturan tapi tidak berhasil.

Selanjutnya, dalam keadaan mata tertutup, aku melihat suatu cahaya terang nan agung menyoroti diriku lurus dari atas. Aku yakin cahaya itu menghubungkanku langsung dengan Tuhan. Pada saat yang bersamaan aku melihat sesuatu yang pastilah merupakan kemuliaan Tuhan, dan tanganku mulai bergetar naik dan turun. Lidahku bergerak dengan cara yang berbeda dari "haleluya" yang berusaha kuulang-ulang—menghasilkan suara yang sama sekali asing bagiku.

Setelah dibungkus oleh cahaya ajaib itu selama kurang lebih 10 menit, aku merasa tangan kananku menggenggam tangan orang lain. Malah, itu adalah tangan seorang lelaki; besar dan terasa kasar. Aku terkejut luar biasa. Aku harus membuka mata untuk melihat, walau pendeta menghimbau untuk tidak "mengintip" selama berdoa. Aku ingin tahu tangan siapa yang kugenggam itu.

Lalu, melihat bahwa yang kugenggam masih tetap tangan kiriku sendiri, ada sesuatu yang memberitahuku bahwa Yesuslah yang menggenggam tanganku. Tiba-tiba saja, air mata mengalir dari mataku. Aku tidak mengerti mengapa aku menangis, tetapi aku ingat akan sukacita dan kedamaian luar biasa yang membanjiri hatiku pada saat itu. Kata-kata tak akan dapat mengungkapkan perasaan menakjubkan yang kualami pada saat itu juga.

Akhirnya, Bapaku menemukan aku! Aku merasa seperti seorang gadis kecil yang sudah jauh tersesat sekian lama sampai-sampai ia sendiri lupa bahwa dirinya tersesat. Lalu, akhirnya Bapa yang penuh kasih meraih tanganku dan menuntunku pulang. Kasih Yesus meliputi diriku sepenuhnya, mengisi "lubang" yang ada di hatiku; lubang-lubang yang ku tak tahu ada di sana. Aku tidak pernah mengalami perasaan puas semacam ini sebelumnya di dalam hidupku. Aku tahu bahwa sejak saat itu, aku tak akan pernah melepaskan tangan-Nya.

Setelah doa selesai, aku tahu bahwa aku sudah menerima Roh Kudus. Semua saudara-saudari yang mendoakanku merasa senang, dan mereka mendorongku untuk menerima baptisan pada akhir KKR.

Ini berarti aku harus tinggal lebih lama dari rencanaku semula, dan aku harus memberitahukan perubahan ini kepada temanku di Boston. Aku yakin dia akan merasa sangat kecewa.

Awalnya aku tidak ingin membuat komitmen macam apa pun yang seserius baptisan. Meskipun pada saat itu aku tidak tahu banyak tentang Alkitab, paling tidak aku bisa bilang bahwa dibaptis berarti aku terikat seumur hidup. Selagi aku menunda-nunda membuat keputusan akhir, banyak pemuda-pemudi yang mendoakanku. Dan akhirnya, pada malam sebelum baptisan, Tuhan memberitahuku dengan cara yang ajaib bahwa aku harus menerima baptisan.

KEHAMPAAN TEROBATI
Setelah pulang ke rumah, aku tidak tahu bagaimana melanjutkan hidup sebagai orang Kristen. Tak ada seorang pun di gereja yang tahu orang macam apa aku sebelumnya, walau mereka mungkin sudah mendapatkan gambaran dari penampilanku.

Seperti apa penampilanku? Aku bangga pada diri sendiri karena menjadi orang yang "unik". Rambut kupotong sangat pendek di satu sisi sehingga anting-anting besarku bisa terpampang jelas, sementara sisi yang lain kubiarkan tetap panjang menjuntai di depan wajah, nyaris menutupi salah satu mataku. Aku suka memakai berbagai jenis topi. Dan pada hari-hari yang dingin, aku akan memakai mantel hitam ala militer.

Pada salah satu foto yang kuambil di Queens, aku mengenakan topi merah, sepatu bot merah, dan tas besar model loper koran. Aku senang menarik perhatian orang lain dengan mengenakan dandanan yang sangat berbeda dari orang lain. Walaupun pada saat itu aku tidak mengerti, belakangan aku sadar bahwa semua penampilan "nyentrik"-ku itu hanyalah cerminan satu hati yang teramat hampa.

Untuk mengisi kehampaan itu di masa lalu, aku berpaling pada musik dan disko. Aku hidup dengan video-video musik dan aku menyetel musik keras-keras. Setiap kali sempat, aku akan pergi ke pesta-pesta disko atau pergi dugem. Aku sangat terkenal di antara orang-orang sepergaulan, mereka bahkan memilihku menjadi ketua klub gaul Asia-Amerika di kampus.

Tapi anehnya, semakin aku mengelilingi diri dengan orang-orang yang menyukai musik keras dan disko, semakin aku merasa hampa. Kekosongan di dalam hatiku kadang-kadang begitu parahnya sampai aku nyaris merasakan sakitnya secara fisik. Untuk mematikan rasa sakit, aku semakin sering pergi ke pesta-pesta dan klub-klub untuk mencari kepuasan.

Dalam rangka mengejar "kebahagiaan" ini, nilai-nilaiku menurun drastis. Sekolah menempatkan aku ke dalam masa percobaan. Aku tidak punya arah dan tujuan hidup. Kukira disko bukanlah hal yang buruk. Tidak seperti minum, merokok, atau memakai obat-obatan.

Aku berpendapat itu cuma cara berolah raga yang menyenangkan. Aku menganggap diriku seorang yang sangat bermoral dan "baik" karena aku punya banyak teman. Tapi aku tidak tahu bahwa aku sudah menjadi orang yang sangat angkuh, egois, dan pemberontak.

Aku tidak ingin berbicara dengan orang yang kelihatannya tidak memenuhi standarku. Aku tidak ingin bercakap bahasa Mandarin karena aku tidak mau membuang waktu dengan orang-orang yang tidak kenal cara hidup Amerika. Aku membuang-uang uang yang dengan susah payah diperoleh orangtuaku, untuk kesenanganku sendiri dan tidak bersekolah dengan sungguh-sungguh. Aku tidak mau mengindahkan permohonan Ibu agar tidak pulang larut malam.

Aku harus berterimakasih kepada Tuhan karena Dia telah menemukanku sebelum aku sempat mulai ketagihan pada hal lain di luar musik dan disko. Kemungkinan besar pada akhirnya aku akan terlibat penyalahgunaan obat-obatan karena aku begitu tersesat dalam kehidupan yang tanpa tujuan. Meskipun orangtuaku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, Bapa kita yang di surga sudah tahu. Ia mengulurkan tangan-Nya yang penuh kasih dan memegang tanganku. Dan kenapa Yesus mau menyentuh orang sejahat aku? Itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah kumengerti.

DIUBAH OLEH KASIH TUHAN
Yang kutahu adalah, begitu aku menerima Roh Kudus, Tuhan membuang kecintaanku pada musik keras dan disko. Entah bagaimana, aku tidak memerlukan semua hal yang tadinya membuatku bersemangat itu.

Di tempat disko, aku hanya ingin membaca Alkitab dan berdoa. Di tempat lagu-lagu pop, aku hanya ingin menyanyikan lagu-lagu pujian untuk memuji dan bersyukur kepada Tuhan. Aku memutuskan bahwa aku tidak lagi membutuhkan teman-teman pestaku. Sebaliknya, setiap minggu aku menantikan tibanya hari Sabat supaya aku bisa berada di antara umat Tuhan.

Di dalam hatiku ada perasaan yang begitu damai dan sukacita sehingga aku tidak lagi keberatan bila harus sendirian. Aku merasa puas duduk diam di kamar membaca Alkitab atau menyanyikan lagu-lagu pujian yang baru kupelajari. Diriku yang lama sangat takut bila harus sendirian. Itulah sebabnya aku menyetel volume pengeras pada posisi maksimal, dalam upaya membenamkan rasa sepi yang mendera ketika aku sendirian.

Aku juga menyadari bahwa aku tidak lagi merasa perlu memakai baju-baju aneh untuk menarik perhatian orang. Aku gembira saja mengenakan kaos dan jins tua apa pun yang ada di lemari bajuku. Aku mulai menimbang-nimbang akan membeli beberapa rok dan gaun yang dapat kupakai ke gereja. Sampai di titik itu dalam hidupku, aku tidak memiliki apa pun yang bersifat feminin semacam rok atau gaun. Aku mulai membiarkan rambutku tumbuh panjang.

Perubahan dalam diriku membingungkan keluargaku dan bahkan aku sendiri. Tak ada seorang pun yang benar-benar menjelaskan kepadaku apa yang perlu kulakukan untuk hidup sebagai umat Kristen. Tetapi, Roh Kudus sendiri yang membimbingku dan menggerakkan aku untuk melakukan hal-hal yang dikenan-Nya. Roh Kudus juga mengajarkan kepadaku pelajaran tentang kerendahhatian, ketaatan, dan tidak mementingkan diri sendiri.

TUHAN DAPAT MENGUBAH KEHIDUPAN
Sungguh ajaib apa yang dapat dilakukan oleh Roh Tuhan untuk mengubah kehidupan seseorang secara menyeluruh ketika Dia memilihnya. Yang dibutuhkan hanyalah kerelaan kita untuk terbuka bagi-Nya dan memiliki hati yang sederhana dan rendah hati di hadapan-Nya. Aku sudah tahu betapa berkuasanya Roh Tuhan. Dia membimbingku kepada diri-Nya, meskipun aku berusaha melarikan diri dari-Nya,, mengira diriku tidak memerlukan Tuhan.

Ketika Roh Tuhan datang kepadaku dengan penuh kuasa, aku tidak lagi bisa mengingkari keberadaan-Nya. Untuk pertama kalinya aku belajar bahwa dosaku yang terbesar ialah mengingkari kebutuhanku akan Tuhan. Aku mengira bahwa akulah yang memegang kendali dan bahwa aku bisa mengurus hidupku.

Tetapi akhirnya aku diyakinkan oleh kasih Yesus, saat Dia menggenggam tanganku dan membuatku mengerti betapa Dia memedulikan aku. Karena Tuhan memuaskan hatiku yang hampa dengan Roh-Nya, aku memperoleh pengharapan dan arah hidup yang baru. Aku tidak lagi ingin hidup demi diri sendiri. Sebaliknya, aku ingin memberikan hidupku bagi Sang Pencipta, Juruselamat, dan Sahabatku.

Tak terhitung banyaknya peristiwa di mana Tuhan mengubah kehidupan orang-orang secara menyeluruh, dan hari ini siapa pun bisa mengalami kehidupan yang diubahkan. Yang dibutuhkan dari Anda hanyalah mengenali kebutuhan Anda, berusaha sekuat tenaga membaca dan mendengarkan firman-Nya, dan memiliki hati yang sederhana dan rendah hati. Yesus selalu siap mengubah kehidupan Anda menjadi jauh lebih baik.

Tetapi pertanyaannya adalah: "Siapkah Anda?"

Alice-Jung – El Monte, California, Amerika Serikat
Sumber: Manna 46 / Warta Sejati 52
untuk menyimpannya ke dalam media penyimpan, klik-kanan pada link di atas, dan pilih "save link as" (pada Mozilla Firefox) atau "save target as" (pada Microsoft Internet Explorer).