Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Belajar dari Anakku  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Belajar dari Anakku

Ketika Josh terdiagnosa menderita autis (high functioning autism (HFA)), saya dan suami merasa sedih. Tentu saja kami tidak bahagia jikalau putra kami yang berumur 5 tahun memiliki keterbatasan, tetapi kami bersyukur bahwa sudah ada istilah yang menjelaskan tentang kelakuan anak kami yang tidak dapat dimengerti.

Josh lahir pada bulan Mei tahun 2000. Tidak ada yang aneh pada waktu ia lahir, dan pada dua tahun pertama, semuanya terlihat hebat. Ia belajar duduk dan berjalan. Ia belajar pula berkata-kata dan memainkan mainannya, sama seperti anak kecil-anak kecil pada umumnya.

Ketika ia berumur dua tahun, kami memutuskan untuk mendaftarkannya ke KB (Kelompok Bermain). Ia hanya bersekolah dua kali seminggu dan sekolah itu lebih bersifat bermain-main saja. Saya bekerja di rumah dan sebetulnya tidak benar-benar memerlukan pengasuh untuknya. Sekolah tersebut melibatkan orang tua juga. Ini berarti saya harus menjadi sukarelawan sekali dalam tiap dua minggu. Untuk pertama kalinya, saya memerhatikan perbedaan yang ada antara anak saya dengan anak-anak lain seumurnya.

Saya melihat Josh tidak suka bermain dengan anak-anak lainnya. Ia selalu sendiri. Saya sering berkelakar bahwa seseorang dapat dengan mudah menemukannya di taman bermain karena ia suka memutari batas luar taman bermain, berputar dan berputar, atau sedang melamun tentang sesuatu.

Ia juga tidak banyak berbicara. Ia banyak menggunakan satu kata saja, seperti "Mama" atau "jus" tetapi tidak dapat menghubungkannya menjadi satu kalimat yang utuh. Sering kali, ia menggunakan gerak tubuh untuk berkomunikasi. Bagaimanapun, ia kelihatannya mengerti semua yang ditanyakan padanya, jadi saya tidak begitu memerhatikan.

Tetapi hal itu makin jelas terlihat pada kehidupan bersosialisasinya di sekolah. Ada sesuatu yang ganjil pada perkembangan sosial dan kemampuan berbahasanya. Di kemudian hari saya menemukan bahwa dua hal ini merupakan ciri-ciri mendasar dari anak yang menderita autisme. Orang yang terdiagnosa menderita autisme memilki penundaan atau ketidakmampuan dalam pergaulan sosial seperti bercakap-cakap, melakukan kontak mata, dan pemahaman emosi orang lain.

Bagi kita yang normal, kadang kita menganggap kemampuan tersebut di atas sebagai hal yang biasa saja, yang memang seharusnya ada. Namun bagi mereka yang mengidap kelainan ini, mereka akan merasa begitu sulit, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu. Akibatnya, masalah-masalah ini mengarah pada lemahnya interaksi sosial, masalah komunikasi verbal dan nonverbal, serta minat dan aktivitas yang terbatas, aneh dan terus menerus berulang.

Saat saya membandingkan Josh dengan anak-anak lainnya di kelas, saya menceritakan kekhawatiran saya dengan keluarga dan teman-teman. Saya ingat mereka menenangkan saya dengan berkata bahwa Josh adalah anak laki-laki dan bahwa anak laki-laki selalu tumbuh lebih lambat. Bahkan dokter anak saya pun bercerita bahwa putranya tidak benar-benar berbicara sampai berumur empat tahun.

Saya dengan gembira menerima penjelasan dan dorongan semua orang dan kemudian melupakan hal ini selama beberapa bulan sesudahnya. Satu hal yang saya dapat lakukan pada waktu itu adalah mengajaknya untuk lebih berinteraksi dengan kawan sebayanya.

Anak yang Sulit Dimengerti
Selama tahun pertama di KB, ada gejala HFA besar lainnya yang tampak, walaupun kami tidak menyadarinya saat itu. Kami hanya beranggapan bahwa Josh adalah anak yang sulit dan kami tidak dapat mengerti dia.

Suatu hari, pada perjalanan pulang ke rumah, kami memutuskan untuk mengambil rute yang berbeda. Saat saya berbelok ke jalan yang tidak biasa kami lalui, Josh berteriak di kursi belakang. Walaupun ia bukan orang yang banyak bicara, ia memberitahu saya dengan jelas bahwa ia tidak bisa menerima rute baru itu. Ia tetap memaksa untuk kembali ke tempat yang sama sebelum saya berbelok dan pulang ke rumah lewat jalan biasanya.

Karena ia baru berumur dua tahun lebih, saya tidak mengerti mengapa sungguh bermasalah baginya bila kami tidak melewati jalan yang biasanya dilalui. Jadi saya menjawabnya bahwa kami tidak akan kembali ke tempat tadi, dan terus melanjutkan perjalanan. Teriakannya berubah menjadi kemarahan dalam beberapa detik. Ia memukul-mukul tempat duduknya, dan wajahnya menjadi merah karena teriakannya.

Saat itu, saya kesal dengannya dan berpikir, "Apa yang salah dengannya? Mengapa ia begitu sulit dimengerti?" Saat tiba di rumah, satu-satunya hal yang dapat saya lakukan adalah menghukumnya. Saya mau ia mengerti bahwa hal yang telah ia lakukan di mobil tadi tidak pantas.

Tetapi bahkan sepanjang waktu hukumannya, ia terus menendang dan berteriak. Saya sendiri harus menahan rontaannya. Kelihatannya seperti ia telah menabrak halangan di jalanan dan tidak dapat melewatinya. Saat itu adalah waktu hukuman yang paling melelahkan yang pernah kami rasakan dan kejadian itu adalah yang pertama dari peristiwa-peristiwa selanjutnya.

Kekakuan dan kebutuhan mendalam akan kesamaan adalah karakter lainnya pada anak autis. Mereka tidak menyukai perubahan dari sesuatu yang rutin dan sulit berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.

Terlalu Banyak Untuk Ditangani
Ketika Josh berusia tiga tahun, kami membawanya ke ahli terapi bicara karena jelas sekali ia ketinggalan dalam perkembangan bahasa.

Ahli terapi mendiagnosanya dengan berbagai penundaan bicara, jadi Josh memenuhi syarat untuk masuk ke sekolah umum, yang akan membantunya selama dua tahun dalam kemampuan bicara dan motoriknya.

Tetapi saat ia memasuki TK, segala hal berubah dari buruk menjadi lebih buruk lagi. Walaupun kemampuan bicaranya telah meningkat, ia tidak dapat mengikuti kelas dengan dua puluh anak lainnya dan seorang guru. Ada terlalu banyak peraturan haru yang harus dipatuhinya dan ada terlalu banyak pergantian dalam sehari. Seringkali, ia memutuskan bahwa jalannya adalah yang terbaik.

Misalnya, ia tidak suka ketika guru mematikan lampu. Ia berjalan menuju ke stopkontak lampu, menyalakan lampunya kembali, dan mematikannya sendiri. Ia harus selalu menjadi orang yang melakukannya. Dan hal ini tidak hanya terjadi dengan begitu gampangnya, seolah-olah ia hanya berjalan ke stopkontak lalu mengulangi gerakannya. Tindakannya ini selalu disertai oleh kemarahan besar.

Akhirnya, ia memiliki orang yang membantunya bertransisi melewati harinya. Terkadang ia begitu frustrasi, kemudian menendang temannya dan berlari keluar kelas karena ia tidak dapat menangani semua hal yang datang kepadanya.

Ketika itu, kami telah membuat janji supaya ia dievaluasi oleh dokter-dokter di sebuah klinik bernama Autism Spectrum Disorder Clinic di Kaiser Permanente. Walaupun informasi mengenai autisme sangat sedikit, namun saya dan suami saya telah membaca banyak referensi dan sungguh menyadari bahwa Josh mengidap kelainan ini. Keterlambatan kemampuan bahasanya, kesulitannya dalam bergaul, dan ketidakmampuan menerima perubahan terlihat sangat jelas.

Rencana Tuhan
Segera setelah Josh didiagnosa, kami memulai perjalanan kami ke dalam dunia autisme. Kami membaca setiap buku di toko dan mencoba segala makanan untuk menyembuhkannya dan juga terapi. Ia sudah ke terapi bicara dan terapi okupasional, dan juga ke terapi kelompok sosial yang menolongnya belajar cara-cara bersosialisasi.

Ada saat-saat yang sangat buruk dan menegangkan dalam kehidupan kami. Misalnya seperti saat Josh frustrasi dengan dirinya dan ia mengambil kursi komputer (benda terdekat yang dapat ia raih) dan mencoba memukulkannya ke adik perempuan dan neneknya. Mereka lalu melarikan diri ke ruangan lain.

Itulah saat dimana saya masuk ke kamar saya dan menangis pada Tuhan untuk waktu yang lama. Saya menganggap bahwa saya adalah orang terpelajar yang memahami banyak mengenai penyakit ini, tetapi saya tidak dapat menolong anak saya ketika ia sangat memerlukannya.

Ketika hari-hari dimana HFA menyerang, mereka menghabiskan seluruh keberadaan saya, dan saya hanya ingin merangkak ke dalam lubang dan menyerah. Tetapi ada juga saat dimana saya sadar bahwa ini bukanlah hal yang dapat saya lawan sendiri. Tidak peduli berapa terpelajarnya saya dan suami saya pada bidang ini, tidak peduli betapa kami selalu mengetahui jenis-jenis terapi terbaru, kami tetap membutuhkan Tuhan.

Dan Tuhan sudah ada di sana untuk kami.

Berdoa pada-Nya setiap hari telah mengembalikan lagi kesehatan pikiran kami. Walaupun ada banyak momen yang menenggelamkan kami, Tuhan telah memberikan kekuatan pada kami untuk melewati hari-hari. Walaupun ahli terapi bicara, okupasional dan kelompok sosial telah membantu Josh, tidak ada yang lebih membantu kami dalam tahun-tahun ini selain kedamaian yang kami peroleh melalui doa kami setiap hari.

Kami tidak mengerti dan terus mencoba untuk mengerti, mengapa Josh memiliki cacat ini. Beberapa ilmuwan mengira bahwa ini disebabkan karena keturunan, yang lainnya berpendapat mungkin disebabkan oleh lingkungan atau kombinasi keduanya. Saya sering mengingat kembali ke saat-saat saya sedang mengandungnya dan mencoba mengingat apa yang telah saya lakukan sampai hal ini terjadi.

Tetapi akhirnya, kami mengetahui bahwa Tuhan memiliki rencana-Nya sendiri untuk kami. Mungkin kami tidak menyukai ataupun mengerti rencana-rencana itu. Namun bagaimanapun, Tuhan tidak akan memberikan lebih daripada yang dapat kami tanggung.

Disiram oleh Kasih-Nya yang Berlimpah
Walaupun sangat sulit, Tuhan telah menunjukkan kasih-Nya dalam banyak cara karena ketidakmampuan Josh ini. Josh bertumbuh di gereja San Jose. Kami pindah ke California ketika ia baru berusia empat bulan, dan ini telah menjadi berkat luar biasa untuk kami.

Anggota-anggota di sini telah melihatnya bertumbuh dan menjadi dewasa tahun demi tahun. Hampir semua anggota mengetahui keadaannya dan mau menolongnya. Kedekatan dengan Tuhan dan keluarga telah menjadi dukungan terbesar untuknya dan untuk kami.

Setiap minggu ia pergi ke gereja dan melakukan hal-hal yang tidak terduga. Bukannya menunjukkan muka yang lucu (seperti yang biasa dilakukan orang-orang asing), saudara-saudari menunjukkannya pengertian dan kasih. Mereka menunjukkan kesabaran, kebaikan, dan kemurahan. Bahkan banyak pula yang mengajaknya bercakap-cakap.

Inilah yang Yesus katakan ketika Ia berbicara pentingnya gereja sebagai keluarga. Kami merasakannya setiap minggu saat kami bersekutu dengan saudara-saudari di San Jose. Walaupun Josh tidak menyadarinya sekarang, namun ia telah disiram oleh kasih Tuhan yang berlimpah.

Josh berusia delapan tahun sekarang dan ia terus menerus menjadi lebih baik. Ia pergi ke kelas biasa tanpa perlu orang untuk mendampinginya. Ia masih memiliki saat-saat dimana beberapa hal terus membuatnya frustrasi. Tetapi dengan tuntunan Roh Kudus, kami telah belajar banyak darinya.

Kami telah belajar untuk mengijinkannya menjadi apa yang ia butuhkan, bukan malah memaksanya menyesuaikan diri dengan norma-norma kami. Kami telah belajar untuk menjadi sabar dan bertoleransi. Kami telah belajar untuk mempercayai Tuhan akan segala kebutuhan kami. Dia akan benar-benar memberi kami kekuatan untuk menghadapi segala masalah. Mungkin inilah pelajaran yang terbesar yang Tuhan ingin keluarga kami pelajari.

Jennifer Lu—San Jose, California, USA
Sumber: Manna 56 / Warta Sejati 63
untuk menyimpannya ke dalam media penyimpan, klik-kanan pada link di atas, dan pilih "save link as" (pada Mozilla Firefox) atau "save target as" (pada Microsoft Internet Explorer).