Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Belas Kasih-Nya yang Indah  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

 

 

BELAS KASIHNYA YANG INDAH

Irene Chua – Singapura

 

 

DATANG KEPADA TUHAN

Pada tahun 1996, saya mempunyai keinginan yang sangat untuk membawa ibu saya mengunjungi anak laki-laki tertuanya di Cina. Keinginan itu juga memberitahukan kepada saya bahwa itu mungkin adalah perjalanannya yang terakhir. Ibu saya sakit-sakitan sepanjang perjalanan itu.

            Setelah menghabiskan separuh bulan di Swatow, kota kelahirannya, kita kembali ke Singapura. Hari berikutnya, saya harus membawa mama saya ke rumah sakit Singapore General Hospital karena dia merasa sangat lemah.

            Dokter memutuskan dia perlu dirawat inap setelah dites beberapa kali. Tapi pada hari itu, rumah sakit penuh dan mama saya tidak mendapat kamar. Saya mengecek rumah sakit lainnya dan juga tidak ada kamar.

            Rumah sakit yang ketiga yang dapat menampungnya, dan mereka bahkan mempunyai tempat khusus untuk orang tua. Saya tidak rela mengirim mama saya ke sana, tetapi kondisinya pada saat itu membuat saya tidak punya pilihan.

            Selama mama saya menginap d rumah sakit ini, dia menjalani banyak sekali tes yang membuatnya hampir meninggal. Tetapi Tuhan menunjukkan belas kasihNya yang indah.

            Salah satu dari tes itu adalah colonoscopy (pemeriksaan bagian atas dubur dengan alat pemeriksa rongga/endoscopy). Saya tidak memperhatikan bahwa dia harus puasa satu hari penuh sebelum tes ini. Barium enema (zat untuk pemeriksaan dubur) juga dimasukkan ke dalam duburnya untuk membuang kotoran dari usus besarnya.

            Ibu saya, sudah lemah dan kecil secara fisik, tidak dapat berhenti buang air besar selama 2 (dua) hari setelah tes colonoscopy itu. Yang terjadi, dia menjadi shock dan bahkan tidak dapat duduk sendiri.

            Dalam kondisi yang benar-benar lemah itu, dia berdoa kepada Yesus, demikian, “Yesus, saya ibunya Irene. Meskipun saya berdoa kepada dewa-dewa, saya percaya kepadaMu. Jika Engkau membuat saya dapat duduk, maka saya akan pergi ke gereja dan menyembahMu.

            Hari berikutnya, ibu saya dapat duduk sendiri tanpa dibantu! Ketika pendeta dari gereja membesuk dia, dia memberitahukan mereka tentang doanya itu. Mereka, memberitahukan kepada saya tentang doa ibu saya itu, dan saya sangat senang dan bahagia.

            Setelah beliau keluar dari rumah sakit, ibu saya ikut dengan saya beribadah di gereja.

 

Kuasa Dari Kata “Haleluya”

Pada tahun 1997, tanda-tanda penyakit TBC ditemukan pada paru-paru ibu saya. Ayah saya telah meninggal karena TBC paru-paru pada awal tahun 1960. Menurut dokter, ibu saya telah terinfeksi tetapi virus itu masih pada tahap awal.

            Maka ketika kesehatan ibu saya terganggu, virus itu muncul kembali. Saya berhenti dari pekerjaan saya untuk menjaganya. Setelah 2 (dua) babak penyembuhan, ibu saya pulih kembali. Puji Tuhan, selama periode itu, ibu saya belajar untuk menaruh harapan yang besar pada doa ketika dia merasa tidak sehat.

            Meskipun TBC sangat menular, Tuhan menjaga saya dan memberi saya kesehatan yang baik selama saya menjaganya sepanjang tahun.

            Kemudian, saya mengambil pekerjaan sambilan. Suatu hari ketika saya bekerja, saya menerima telepon dari ibu saya. Dia telah jatuh. Menakjubkan, tidak ada satu goresan atau cedera padanya!

            Ibu saya berkata bahwa ketika dia jatuh ke belakang di toilet, dia merasa sebuah tangan menahannya. Tangan-tangan ini kemudian dengan lembut meletakan dia di lantai.

            Setelah kejadian ini, ibu saya memutuskan bahwa dia harus dibaptis dan, pada tanggal 29 Juni 1997, dia menerima baptisan itu.

            Sepanjang tahun itu, ibu saya keluar masuk rumah sakit karena berbagai penyakit. Tak lama setelah beliau dibaptis, ibu saya menderita stroke ringan. Puji Tuhan, dia pulih kembali dalam 6 (enam) bulan dan dapat melanjutkan beribadah bersama saya di gereja.

            Meskipun demikian, sebelum ibu saya dapat membangun imannya, dia diserang penyakit Parkinson. Penyakit itu melumpuhkan semua fungsi-fungsi tubuhnya. Pada tahun 1998, ibu saya menjadi benar-benar lumpuh.

            Sejak penyakit TBC dan penyakit lainnya yang menyerang ibu saya, kami sering berdoa bersama. Melalui sesi berdoa yang sering, kata “Haleluya” telah tertanam dalam dalam dirinya.

            Bahkan sekarang, sesulit apapun itu, dia akan mengucapkan kata “Haleluya” ketika dia dalam kesakitan dan tidak nyaman. Mengulangi kata “Haleluya” menjadi biasa, khususnya bagi kita orang-orang yang telah lama percaya, tetapi hal itu bukan pencapaian yang kecil bagi ibu saya.

            Dia telah tidak bicara sepatah katapun sejak dia kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Maka selalu menakjubkan dan menggembirakan saya mendengarnya berkata “Haleluya”. Kata itu tidak pernah gagal untuk meringankan garis-garis kesakitan dan penyakit dari wajahnya.

            Setiap malam, ketika saya menjaga beliau setelah hari-hari yang melelahkan bekerja, ekspresi wajahnya yang damai menunjukkan kemuliaan Tuhan telah berbicara banyak.

 

MENERIMA ROH KUDUS

Dari tahun 1998 sampai 2003 merupakan tahun-tahun yang panjang dan pencobaan, bukan hanya untuk ibu saya tetapi juga untuk saya. Melihat ibu saya lemah dan tidak dapat tertolong sangat menyakitkan. Hati saya terbebani khususnya karena ibu saya yang berumur 88 tahun belum menerima Roh Kudus.

            Karena kondisi yang terganggu selama bertahun-tahun, saya menjadi sangat khawatir. Bagaimana saya akan tahu jika dia telah menerima Roh Kudus jika dia tidak dapat berbicara? Dengan keadaan yang tertekan dan berat hati pada pagi tanggal 27 September 2003, saya mulai doa saya dengan ibu saya, seperti rutinitas normal di pagi hari kami.

            Hati saya sangat terbeban ketika saya memegang tangan-tangan ibu saya. Dia mulai sakit lagi dan itu terlihat di wajahnya. Tetapi bagaimana menusuk sakitnya, dia tidak dapat berbicara.

            Tuhan mencurahkan kasihNya yang berlimpah atas kami sekali lagi. Di tengah doa, saya mendengar ibu saya berbicara dengan bahasa lidah. Meskipun sebentar, hal itu terdengar ringan dan berirama, seperti seseorang bermain piano tetapi tepatnya lebih indah dan bermelodi.

            Sesungguhnya, saya tidak pernah mendengar melodi surgawi seperti ini sebelumnya selama hidup saya! Sukacita saya tidak terbendung, saya merasa seperti cara tahun-tahun yang lalu ketika saya menerima Roh Kudus.

            Tuhan kita yang ajaib tidak hanya memberkati ibu saya tetapi juga mengabulkan permintaan saya untuk menyaksikan bahwa ibu saya menerima Roh Kudus. Dia mengijinkan saya mengalami dan mendapat bagian dalam sukacita untuk berkatNya atas ibu saya.

 

PENGAJARAN DARI TUHAN

Perjalanan ibu saya menuju Tuhan adalah juga sebuah perjalanan iman saya.

            Pada umur 80 tahun, ibu saya masih dapat menaiki 4 anak tangga tanpa kelelahan. Dengan perlahan, dengan kesakitan yang mendadak, kesehatannya dan kekuatan badan yang terganggu dalam kunkungan penyakit.

            Saya merasakan penyakitnya yang menjemukan dan berduka untuknya. Merupakan sebuah tekanan melihatnya dalam keadaan yang tidak nyaman tetapi tidak dapat melakukan apapun untuk meringankan sakitnya. Kadang-kadang, ketidakberdayaan terlalu berat untuk saya tanggung.

            Kakak laki-laki saya, keduanya bukan orang percaya, menyalahkan saya karena mengijinkan ibu untuk dibaptis. Mereka bahkan menyalahkan keadaan kesehatannya sekarang karena baptisan. Mereka berkata, “Jika dia tidak menjadi orang Kristen, semua ini tidak akan terjadi.

            Kata-kata mereka menusuk seperti sebuah panah menembus hati saya. Sepanjang hidup saya, saya hanya mempunyai satu permintaan – agar ibu saya dan saudara kandung saya mengenal Tuhan Yesus. Kata-kata mereka yang menyakitkan membuat saya bertanya-tanya apakah saya telah melakukan sesuatu yang salah.

            Saya menjadi pendusta jika saya mengakui bahwa saya tetap kuat dan positif dengan sakitnya ibu saya. Sesungguhnya, saya sedang melalui tahap depresi yang dalam.

 

Menyilakan Tuhan Menanggung Beban Saya

Selama beberapa tahun pertama sakitnya ibu saya, saya jarang mendapat satu jam tidur setiap malamnya. Saya harus bangun setiap lima dan sepuluh menit untuk menemaninya ketika dia ibu mengeluh dan merintih kesakitan dan tidak nyaman sepanjang malam.

            Suatu kali, pada tahun pertama ketika dia harus berada di tempat tidur, ketika segala sesuatu menjadi terlalu berat untuk saya tangani. Karena kelelahan karena kurang tidur dan keluhan dan rintihannya yang tidak ada akhir, saya membentaknya.

            Saya membuka jendela yang digeser, bermaksud untuk terjun berdua dari apartemen kami. Pikiran saya sedang kacau.

            Terlebih lagi, kata-kata bergetar kencang dan menggaung dalam otak saya: “Mati, dan kamu akan bebas dari semua malam-malam kurang tidur. Meskipun kamu tidak mati karena terjun, ibumu akan mati. Hal terburuk untuk kamu, kamu akan lumpuh. Tetapi kamu akan bebas, BEBAS!”

            Saya berdiri dekat jendela itu selama hampir setengah jam. Tetapi, ketika saya baru saja akan menarik dia dari tempat tidur, saya khilaf. Bagaimana saya dapat berpikir untuk bunuh diri?

            Saya sungguh berterima kasih atas campur tangan Tuhan. Saya takut memikirkan akibat-akibatnya jika Tuhan tidak campur tangan pada saat itu.

            Lalu saya menangis dan memutuskan bahwa saya tidak menanggung beban itu sendirian lagi. Tuhan Yesus ada di sana untuk saya maka saya harus membiarkan Tuhan menolong saya membawa beban itu.

            Sejak itu, setiap kali ibu saya sakit berlebihan, saya akan menyanyikan kidung pujian untuknya. Luar biasa, pujian itu bukan hanya membuatnya tenang, tetapi juga menghibur dan meyakinkan saya bahwa Tuhan selalu ada di sana untuk saya.

 

Lebih Banyak Dukungan daripada yang Saya Harapkan

Pelajaran lain untuk saya adalah pelajaran tentang kasih persaudaraan. Saudara-saudari seiman di gereja sering bertanya tentang keadaan ibu saya. “Bagaimana ibumu? Apakah dia lebih baik?” Tetapi mereka tidak bertanya tentang saya.

            Jarang ada yang bertanya,”Bagaimana perasaanmu? Apakah kamu dalam keadaan baik?” Saya sedikit terluka mengenai hal itu. Saya juga menderita dan saya juga perlu sedikit perhatian juga. Tetapi setelah itu, saya sadar bahwa, bagi mereka, jika ibu saya baik, lalu saya akan damai dan baik juga.

            Perlahan-lahan, kemarahan saya mencair.

            Tuhan membantu menyembuhkan hubungan keluarga saya lebih lanjut. Kakak laki-laki saya tidak lagi menyalahkan saya untuk kesalahan atas ibu saya itu. Mereka telah melihat sendiri kasih yang telah diberikan gereja pada ibu dan saya.

            Mereka juga menyaksikan sendiri keadaan ibu saya yangl lebih damai meskipun dia biasanya tertidur saat mereka mengunjunginya.

            Belas kasih Tuhan yang indah kepada saya bertambah bahkan kepada keadaan keuangan. Meskipun kakak-kakak saya memberikan semampu mereka untuk biaya pengobatan ibu saya setiap bulan, beban keuangan itu masih cukup besar.

            Selama tahun pertama sakitnya, seorang jemaat, melalui pendeta, memberikan bantuan kepada saya untuk biaya pengobatan ibu saya. Lalu, kira-kira empat tahun lalu, seorang saudari yang tahu bahwa saya sedang membutuhkan uang menyumbangkan dua ribu dolar untuk ibu saya.

            Saudari yang lain yang jarang saya kenal pada waktu itu, setelah mengetahui bahwa ibu saya kena stroke, menawarkan dan memberi bantuan biaya pengobatan setiap bulannya selama enam bulan.

            Bantuan-bantuan ini cukup melegakan. Saya sungguh berterimakasih kepada Tuhan untuk bantuanNya dan kasih mereka. Saya juga akan menggunakan kesempatan ini untuk berterima kasih kepada semua saudara dan saudari ini atas doa dan perhatian mereka, juga sukacita mereka ketika mereka mendengar bahwa ibu saya telah menerima Roh Kudus.

 

Lebih dari yang lain, saya belajar melakukan sesuatu menurut kehendakNya dan bukan atas keinginan saya.

            Melihat ibu saya menderita, saya biasanya memohon kepada Tuhan untuk membawanya pulang ke dalam kerajaan surga sehingga dia tidak akan terus menderita.

            Meskipun keinginan saya baik, hal itu tidak terjadi pada saya karena sesungguhnya saya berdoa untuk keegoisan saya dan tidak menunggu kehendak Tuhan terjadi sampai sebuah khotbah menyadarkan saya atas kebodohan saya itu. Saya segera memohon pengampunanNya.

            Meskipun setiap hari adalah perjuangan dan ibu saya bertambah parah radang paru-parunya, saya telah belajar untuk bersyukur atas setiap tambahan waktu yang Tuhan berikan kepadanya.

            Sungguh, saya senang atasi hak istimewa yang luar biasa untuk menyaksikan mukjizat di mana ibu saya menerima anugerah keselamatan Tuhan dan Roh Kudus.

            Sungguh, Tuhan telah menunjukkan saya bahwa Dia selalu mempunyai tujuan yang baik atas setiap keadaan yang Dia izinkan terjadi atas kita (Roma 8:28). Dia juga telah mengajarkan saya bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya (Pengkhotbah 3:1-8).

            Dia akan selalu tinggal bersama dengan kita dalam belas kasihNya yang indah.

 

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. (Fil 4:6,7)

 

Segala pujian dan kemuliaan bagi Tuhan. Amin.

 

1

Tahapan infeksi ketika tubuh belum membangun anti bodi melawan virus, tanda-tanda menutupi dari virus dari tes darah.