Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Bersenang Karena Tuhan  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Bersenang Karena Tuhan

Tiga tahun setelah kami menikah, suami saya memulai usaha sendiri dengan membuka toko yang menjual suku cadang mobil. Puji syukur kepada Tuhan, Dia berkenan memberkati usaha kami sehingga berjalan dengan lancar.

Kira-kira sepuluh tahun kemudian, tahun 1991, dalam salah satu sesi pelajaran yang diadakan gereja bagi mereka yang ingin mempelajari kebenaran Firman Tuhan yang saya ikuti, pembicara membahas mengenai kebenaran tentang hari Sabat. Mendengar penjelasan beliau, saya menyadari bahwa selama ini kami telah salah dalam menjalankan perintah untuk menguduskan hari Sabat ini.

Selama ini, setiap hari Sabtu kami masih buka toko sampai pukul 2 siang, setelah itu barulah kami ke gereja untuk mengikuti kebaktian Sabat. Artinya, selama ini kami hanyalah menguduskan jam ibadah Sabat, bukan menguduskan hari Sabat seperti yang dimaksudkan Tuhan dalam perintah ke-4 dari Sepuluh Perintah-Nya.

Maka saya pun mengemukakan hal ini kepada suami saya dan mengajak dia untuk sepenuhnya melakukan perintah Tuhan untuk menguduskan hari Sabat ini dengan menutup toko pada hari Sabtu. Tetapi pada waktu itu suami saya masih bimbang dan kurang beriman, karena biasanya pada hari Sabtu toko kami cukup ramai dikunjungi pelanggan. Lalu kami membawa pergumulan iman ini dalam doa, memohon agar Tuhan menguatkan iman suami saya dan memimpinnya, agar kami dapat melaksanakan firman-Nya dalam kehidupan kami.

Sungguh puji Tuhan! Dia mengetahui kelemahan kami. Ketika suami saya kurang beriman untuk menjalankan perintah-Nya, heran sekali, Tuhan memakai hamba-Nya untuk membawakan firman tentang hari Sabat selama dua minggu berturut-turut pada kebaktian Sabat. Ini sungguh merupakan anugerah dari Tuhan. Ia telah membagikan 'makanan' kepada domba-Nya tepat pada waktunya. Suami saya mengerti akan firman kebenaran tersebut dan imannya dikuatkan, maka kami pun menutup toko pada hari Sabtu.

Sejak itu, pada hari Sabtu, selain mengikuti kebaktian Sabat, kami banyak melakukan pekerjaan Tuhan. Dan kami sungguh merasakan bahwa hari Sabat adalah hari yang diberkati Tuhan. Berkat dan anugerah Tuhan masih tetap menyertai kehidupan kami sampai hari ini. Memang, tindakan menutup toko pada hari Sabtu ini berpengaruh terhadap penghasilan dari usaha kami, tapi bukannya berkurang, melainkan semakin diberkati. Hingga hari ini kurang lebih sudah 10 tahun kami menutup toko pada hari Sabtu dan anugerah Tuhan tetap ada.

Hal ini membuktikan bahwa janji Tuhan adalah ya dan amin bagi setiap orang yang taat, seperti tertulis dalam Kitab Yesaya 58:13-14, "Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat 'hari kenikmatan', dan hari kudus TUHAN 'hari yang mulia'; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya."

Berkat dan anugerah Tuhan sungguh tidak terhitung banyaknya, kiranya Tuhan senantiasa menambahkan iman dan kekuatan kepada kami agar kami dapat senantiasa menjalankan firman Tuhan dan setia melayani-Nya seumur hidup kami. Kepada Saudara/i sekalian, apabila kita mengetahui kebenaran firman Tuhan namun tidak dapat menerapkannya dalam kehidupan kita karena kita lemah dan kurang beriman, biarlah kita mau memohon dan bersandar kepada-Nya. Dia pasti akan memberikan kekuatan kepada kita untuk menjalankannya sesuai dengan firman-Nya. Segala puji dan hormat hanya bagi kemuliaan nama Tuhan! Amin.

Oleh: Juliaty Surja - Jakarta, 2002



HARI SABAT

Pernahkah Anda membayangkan, bagaimana jadinya jika dalam satu minggu tidak ada hari libur? Syukurlah, pada waktu menciptakan langit dan bumi, Allah telah memikirkan perkara ini. Pada hari yang ketujuh, Allah berhenti dari pekerjaan penciptaan dan menetapkan hari itu sebagai hari perhentian. Satu hari dalam dalam satu minggu, manusia pun boleh berhenti dari segala pekerjaannya.

Masalahnya, hari apakah hari ketujuh itu? Pada masa penciptaan, hari-hari belumlah memiliki nama, hanya disebut sebagai hari pertama, kedua, dan seterusnya. Lambat laun barulah hari-hari itu mendapatkan namanya seperti sekarang ini.

Namun khusus untuk hari ketujuh, bahasa Ibrani tidak memberikan nama lain, tetap disebut hari Sabbath (artinya ketujuh). Hari ketujuh dalam bahasa Arab juga menggunakan akar kata yang sama, Sabth, dan kata inilah yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi Sabtu.

Hari Sabat, yaitu hari Sabtu, menjadi hari yang khusus bagi manusia karena Allah menetapkan hari itu sebagai hari perhentian penuh, bahkan menuliskannya dengan jari-Nya sendiri di atas loh batu yang berisi Sepuluh Perintah Allah sebagai perintah yang ke-4 (Kitab Keluaran 20:8-11; 31:18), adalah perjanjian antara Allah dan manusia (Kitab Keluaran 31:12-17, bandingkan dengan Markus 2:27). Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya pun menguduskan hari Sabat dengan beribadah dan berbuat baik pada hari tersebut (Kitab Lukas 4:16; 6:6-10; Kisah Para Rasul 13:13-14).