Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Bertumbuh Melalui Pelayanan  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Bertumbuh Melalui Pelayanan

Perjalanan saya ke Republik Dominika

Grady Low – Elizabeth, New Jersey, USA

 

Saya mendapatkan kesempatan untuk menemani Pdt. Raymond Chou dalam perjalanan penggembalaan ke Republik Dominika dari tanggal 24 Juni sampai dengan 4 Juli 2010. Saya di sana menjadi penterjemah bahasa Spanyol untuk para jemaat, khususnya di gereja San Pedro yang mana jemaatnya mayoritas berbicara bahasa Spanyol. Melalui perjalanan ini saya belajar banyak tentang pelayanan saya, Tuhan dan diri saya sendiri.

 

Memutuskan untuk melayani di area pelayanan Spanyol

 

Hanya beberapa tahun yang lalu, saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan melakukan pelayanan di gereja kecuali menghadiri kebaktian Sabat; tidak juga pernah terpikir bahwa saya akan bergabung dengan perjalanan misionaris ke luar negeri.

 

Tetapi sikap saya mulai berubah selama mengikuti National Youth Theological Seminar (NYTS) di tahun 2008 ketika saya menyadari apa arti iman saya untuk diri sendiri. Sebagai peserta, kita diminta untuk berpikir apakah kita memahami hutang kita kepada Tuhan, dan apa yang akan kita lakukan dalam hidup kita. Saya mengingat kembali berapa kali dalam hidup saya, saya merasakan kasih Tuhan dan bagaimana saya mempunyai pengharapan tentang keselamatan melalui darah Yesus.Saya menyadari sebagai orang Kristen, saya perlu untuk melayani Tuhan untuk membayar hutang ini.

 

Untuk alasan inilah, saya meluangkan banyak waktu untuk berdoa selama seminar, mencoba untuk mengerti bagaimana saya dapat melayani Tuhan. Karena saya menghadiri beberapa kali kelas tentang pelayanan Spanyol selama mengikuti NYTS dan juga pernah belajar bahasa Spanyol sebagai bahasa sekunder di sekolah, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri untuk Ministry Volunteer Program (MVP) 2009 dan projek pelayanan Spanyol-nya.Tidak lama setelah MVP, saya diminta untuk melayani di Republik Dominika.

 

 

Berhadapan dengan keraguan dan kecemasan

 

Tetapi meskipun saya mendaftar di MVP, saya mengalami periode kecemasan dan ketidakpastian.Oleh karena alasan inilah, saya tidak langsung menyetujui permintaan untuk melayani di Republik Dominika. Melainkan, saya menghadiri College Youth Convocation (CYC) 2009, di mana saya berpikir untuk bagaimana saya dapat mempersiapkan diri saya sendiri agar dapat berguna untuk majikan (2 Timotius 2:20-21)

 

Selama CYC, saya belajar bahwa saya akan dapat berguna untuk Tuhan, meskipun keahlian bahasa Spanyol saya terbatas, selama saya menjaga diri saya kudus  dan bersih dan terus berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dari kitab Yosua, saya belajar bahwa saya perlu untuk mengatasi rasa takut saya untuk melayani Tuhan dan hanya “Menguatkan dan meneguhkan hati”. Tuhan memimpin Yosua dan hal yang sama, saya yakin Tuhan juga akan memimpin saya. Yang dapat saya lakukan adalah percaya pada kekuatan-Nya. Melalui semua kelas dan doa saya benar-benar merasakan keyakinan bahwa Tuhan akan membimbing saya.

 

Segera setelah CYC, saya menghadiri Western Hemisphere Africa Voluntary Missionary Workers’ Training Seminar 2010 di London untuk belajar lebih dalam lagi tentang Tuhan dan pelayanan. Saya terinspirasi melihat saudara/idi seminar itu penuh dengan semangat dan keinginan untuk melayani.Ini memotivasi saya tidak hanya untuk melayani Tuhan, tetapi juga lebih menekankan pembinaan diri dalam kehidupan sehari-hari.Saat itu, tanpa ragu saya tahu bahwa saya ingin menjadi sukarelawan untuk perjalanan ke Republik Dominika di bulan Juni 2010 dengan Pdt. Raymond Chou.

 

Persiapan untuk perjalanan

 

Untuk 6 bulan ke depan, saya mempersiapkan fisik dan rohani saya untuk perjalanan tersebut: saya banyak sekali berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk membantu juga meluangkan waktu dan berusaha untuk memperbaiki bahasa Spanyol saya.

 

Dengan bantuan dari saudara/i di persekutuan kampus Universitas Rutgers, kita mengadakan beberapa persekutuan penterjemahan (interpretasi), di mana kita berlatih menterjemahkan dengan menggunakan rekaman khotbah dari gereja kita di Argentina yang mana dibawakan dalam bahasa mandarin kemudian diterjemahkan ke bahasa Spanyol. Saya juga ambil bagian dalam tim pemahaman Alkitab bahasa Spanyol yang mengadakan session pemahaman Alkitab mingguan melalui kamera webcam. Kita dapat berlatih untuk berbicara, mendengarkan dan belajar kosakata baru dalam bahasa Spanyol.Ini tidak hanya mendidik rohani saya tetapi juga meningkatkan keahlian bahasa Spanyol saya.

 

Saya juga coba membaca setidaknya satu pasal di alkitab dalam bahasa Spanyol setiap hari dan seringkali melihat ke kamus aturan tata bahasa Spanyol.Saya bertekad untuk mempersiapkan diri sepenuhnya untuk melayani Tuhan dengan patuh.Tetapi meskipun saya mempunyai tekad untuk melayani Tuhan, saya masih bergumul dengan keraguan dan kecemasan.

 

Saya memuji Tuhan untuk saudara/i yang memberikan semangat dan dukungan dari kesaksian tentang bagaimana mereka pernah berada di situasi yang mirip sampai dengan simple berkata “Kami akan berdoa untukmu,” semuanya membantu saya dalam mempersiapkan diri saya untuk melayani Tuhan di Republik Dominika.

 

 

Selama perjalanan

 

Selama berada di Republik Dominika, saya harus menterjemahkan untuk kelas malam, kebaktian Sabat dan pemahaman alkitab selama kunjungan. Saya juga harus menyiapkan tiga pelajaran agama yang berlangsung selama kurang lebih satu jam. Pdt. Raymond ingin menekankan bahwa saya di sana tidak hanya untuk memberikan terjemahan, tetapi saya di sana untuk melayani.

 

Meskipun kehidupan selama perjalanan tidaklah terlalu berat untuk saya, saya masih harus mengatasi beberapa kesulitan; tidak semua makanan dapat saya nikmati; di sana tidak ada system audio visual yang bekerja (yang berarti saya perlu untuk berbicara dengan keras setiap kali saya menterjemahkan), tidak ada air hangat, dan terkadang tidak ada air dan listrik, yang berarti melewati waktu untuk tidak mandi dan menggunakan senter untuk belajar alkitab.

 

Ditambah lagi, bahasa Spanyol saya tidaklah terlalu baik yang berarti adakalanya saya tidak dapat berkomunikasi secara efektif dengan saudara jemaat di sana. Tetapi, saya dapat melihat kasih dan perhatian antara sesama jemaat, dan bagaimana dengan sungguh-sungguh mereka mencoba untuk membawa kembali domba yang hilang atau menyakinkan yang lainnya akan pentingnya keselamatan.  Semua ini memberikan saya semangat untuk belajar dari mereka dan lebih baik lagi mempersiapkan diri untuk kunjungan berikutnya.

 

Disamping dari tugas-tugas ini, saya memiliki banyak waktu sendiri bebas dari gangguan yang membolehkan saya untuk benar-benar bercermin tentang iman saya, doa dan baca alkitab. Benar-benar suatu pengalaman yang baik untuk bangun dan tahu bahwa beberapa jam berikutnya saya akan dapat lebih mendekatkan diri saya kepada Tuhan.

 

Hati untuk melayani dan tunduk

 

Saya menyadari bahasa Spanyol saya sebelumnya, yang berarti saya tidak akan mampu melakukannya dengan baik.; pertanyaannya apakah Tuhan akan melengkapi atau tidak. Dari pengalaman selama perjalanan ini, satu ayat alkitab berkata dengan benar untuk saya: “Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.” (2 Korintus 8:12).

 

Tuhan akan menyediakan – hanya sesederhana itu. Terlibat masuk dalam perjalanan ini, seringkali mempunyai keraguan dan kecemasan bahwa Tuhan tidak akan membantu saya karena saya tidak memuliakan Tuhan dalam banyak hal, tetapi cukuplah kasih karunia-Nya (2 Korintus 12:9).

 

Saya belajar bahwa ketika kita telah melakukan persiapan yang diperlukan untuk melayani Tuhan, kita perlu untuk mempercayakan sisanya kepada Tuhan.Dia manifestasikan kekuatan-Nya dengan menyediakan untuk kita ketika kita kekurangan, maka kita tidak perlu terlalu khawatir dengan kemampuan kita. Selama kita memiliki keinginan untuk melayani dan tunduk kepada Tuhan, pelayanan kita akan berbuah.

 

Kasih Tuhan tidak mengenal batasan

 

Tidak diragukan lagi, dari semua yang saya alami, saudara/i di Republik Dominika meninggalkan kesan yang sangat dalam untuk saya.Saya tidak menyukai bepergian dan terutama tamasya tidaklah menarik perhatian saya. Tetapi setiap kali saya mengunjungi Gereja Yesus Sejati di tempat lain, saya benar-benar menyukai bagaimana kita semua adalah bagian dari tubuh Kristus yang sama. Kasih Tuhan tidaklah terbatas.Jemaat yang saya temui telah memberikan contoh yang baik untuk saya.Melihat usaha dan pengorbanan mereka, mengingatkan saya bagaimana saya harus lebih lagi meningkatkan kasih saya kepada saudara/i lainnya.

 

Saudara Rafael selalu datang ke gereja satu jam sebelumnya untuk membersihkan gereja. Meskipun dia lebih tua dalam hal umur, dia selalu menyapu dan mengepel lantai, menyapu halaman belakang dan memastikan semuanya rapi dan layak digunakan untuk kebaktian Sabat.Saudara Borges mempunyai masalah dengan matanya, maka dia tidak membaca dengan baik, tetapi dia mempunyai tekad yang kuat untuk belajar dan membaca alkitab.

 

Saudara Floro pergi berkeliling sekitar rumahnya dan mengabarkan berita tentang baiknya untuk percaya kepada Yesus dan bagaimana kehidupannya menjadi jauh lebih baik setelah percaya kepada Yesus. Dia bahkan pergi menempuh satu jam setengah untuk menjemput kami di airport. Dia harus menunggu 2 jam karena keterlambata pesawat kami, tapi dia tetap mengantar kami kembali ke gereja dan menyiapkan semuanya untuk kami.

 

Saudara Huang memberikan keramah-tamahan yang dalam sekali; kami tinggal di rumahnya di Santo Domingo selama 4 hari. Dia menyediakan begitu banyak makanan untuk kami berdua dan membuat kami nyaman selama berada di sana.

 

Saya benar-benar terpesona dengan kesediaan mereka untuk melakukan apapun, hanya agar Pdt. Raymond dan saya dapat merasa sedikit lebih nyaman.

 

Hitung Berkatmu

 

Banyak jemaat di sana yang sedikit memiliki, tetapi tetap memanjatkan syukur kepada Tuhan. Mereka bernyanyi untuk berkat mereka, berdoa dengan rajin dan rajin belajar untuk memahami alkitab.

 

Kidung kesukaan jemaat di Republik Dominika adalah “Hitung Berkatmu.” Kita menyanyikan kidung ini berkali-kali setiap kebaktian Sabat, dan setiap kali saya akan tersentuh dengan bagaimana mereka menyanyikan nada koor-nya dengan penuh semangat (terjemahan secara langsung dari versi Spanyol); “Berkat, berapa banyak yang telah kau terima! Berkat, Tuhan akan memberikanmu lebih banyak! Berkat, kamu akan terkejut ketika melihat apa yang telah Tuhan lakukan untukmu!”.

 

Setelah kebaktian, beberapa jemaat akan datang ke depan dan saling berbagi tentang bagaimana mereka menerima anugerah Tuhan. Mereka berbagi bagaimana Tuhan telah membuat perjalanan bis mereka lebih lancar, bagaimana Tuhan telah membuat rasa sakit di jari mereka berkurang, dan bagaimana sukacitanya dan diberkati karena mereka telah menemukan gereja sejati.

 

“Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:16-18).

 

Saya menyukai ayat ini di sekolah dasar karena ayat ini sangat pendek dan mudah untuk diingat.Tetapi selama perjalanan ini, saya melihat bagaimana jemaat di Republik Dominika benar-benar mengaplikasikan ayat ini dalam kehidupan mereka.

 

Saya benar-benar mendapatkan berkat yang tidak saya harapkan sama sekali dengan belajar banyak sekali dari saudara/i di Republik Dominika. Mereka mengajarkan saya bagaimana untuk selalu mengucap syukur kepada Tuhan dan berbagi anugerah Tuhan kepada yang lainnya, dan jangan pernah menyia-nyiakan kasih Tuhan. Meskipun saya sangat takut dengan semua hal yang akan terjadi selama perjalanan, Tuhan memberikan kedamaian di hati saya dan mengubah kebodohan saya menjadi kesaksian tentang kekuasaan-Nya.

 

Saya mengucap syukur kepada Tuhan untuk kesempatan yang diberikan untuk dapat pergi ke Republik Dominika.Dari persiapan diri sampai ke semua hal yang menyentuh saya selama perjalanan, semuanya benar-benar berkat dan pengalaman yang tidak terlupakan.

 

Pendidikan Agama di India

 

Sebelum tahun 1999, banyak gereja-gereja di India tidak memiliki kelas pendidikan agama. Hanya dua gereja besar mempunyai kelas  agama yang diadakan secara mendadak. Puji Tuhan untuk bimbingan-Nya, sekarang ini kita telah memiliki kelas agama di setiap gereja di India.

 

Tetapi, kita menghadapi kesulitan kekurangan guru agama. Banyak guru agama yang bekerja di pabrik-pabrik dan kantor, dan karena negara ini juga bergerak ke arah industrialisasi dan ekonomi mereka juga telah membuat langkah kemajuan dalam beberapa tahun terakhir. Gereja di India hanya mempunyai anggota dengan total 1300 jemaat dan oleh sebab ini, tidak banyak pemuda/i yang dapat membantu dalam pelayanan guru agama. Ini adalah rintangan yang kita alami yang memerlukan doa kita secara konstan.

 

Berkat anugerah Tuhan, IA telah mendirikan Eastern Hemisphere Volunteer Mission Training Program di tahun 2002. Sekarang ini kita mempunyai tim dengan tujuh orang sukarelawan yang membantu dengan misi pelayanan di India – mereka membantu anak-anak lokal dan pelayanan pemuda dan juga misi pengabaran injil. Tetapi kita memerlukan lebih banyak sukarelawan untuk membantu dalam Bible camps, seminar pemuda, Kebaktian Kebangunan Rohani Pemuda, training pemuda dan program training guru agama. Kami berharap Tuhan akan menggerakkan hati lebih banyak orang untuk sukarela membantu dalam pelayanan ini. Adakah orang yang mendengar panggilan Tuhan, “beri makan domba-Ku, gembalakanlah domba-Ku”?