Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Dalam Keputusasaan Aku Bertemu Tuhan  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Dalam Keputusasaan Aku Bertemu Tuhan

Masa muda adalah masa keemasan dalam hidup dan saat memiliki harapan yang tinggi serta masa depan cerah.

Namun bagi saya, seorang mahasiswa baru yang berumur 20 tahun, saya kecanduan obat-obatan terlarang. Pandangan saya akan kehidupan ini amat gelap dan suram. Ditengah jerat obat-obatan terlarang, saya menjadi pribadi yang muram dan menyedihkan, saya kehilangan harapan hidup sampai pada titik dimana bahkan keluarga saya telah pasrah dengan kehidupan saya.

 

KECANDUAN PADA NARKOBA

Pada tahun 1990, ayah saya mengirim saya ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan disana. Datang dari Taiwan tanpa ada keluarga yang mendampingi, saya tinggal bersama tantesaya dan kuliah di kota New Jersey. Karena perlakuannya yang terlalu ketat pada saya, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri ke Universitas Arizona karena saya ingin memiliki kebebasan yang lebih.

Keinginan saya terwujud pada tahun 1995. Saat saya pindah ke asrama, saya merasa seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya. Saya dipenuhi rasa kegembiraan dan suka cita! Dengan mobil mewah yang diberikan ayah saya, saya pergi ke banyak pesta yang penuh dengan minuman-minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang.

Penasaran dan tanpa berpikir panjang, saya mencoba segalanya. Saya berkata pada diri saya sendiri, “Aku kuat dan dapat mengontrol diri.” Sayangnya, saya terlalu tinggi diri, dan secara tidak sadar saya menjadi kecanduan. Saya merasa ada yang tidak beres ketika penggunaan obat-obatan terlarang dan pengeluaran saya meningkat. Saya berkata kepada diri sendiri untuk menjauhi narkoba tetapi saya dikalahkan berkali-kali oleh kecanduan saya.

Yang paling membuat saya terkejut adalah saat rambut saya mulai rontok. Karena pemakaian obat-obatan terlarang berlebih, rambut saya banyak yang rontok setiap kali saya menyisir rambut. Hal itu membuat saya cemas, hingga suatu kali saya mencukurnya habis dengan pikiran bahwa nanti rambut saya akan tumbuh lebih lebat. Tetapi itu semua sia sia.

Hidup dengan kepala botak di usia 20 tahun saat penampilan adalah segalanya sungguh menjatuhkan ego saya. Hal ini membuat rasa percaya diri saya hilang dan hancur. Dengan penampilan saya yang sekarang, rasanya mustahil pula untuk menemukan cinta.

Antara tahun 1996 dan 1998, saya menjadi amat terbebani oleh masalah kebotakan saya. Saya mengenakan topi baseball setiap hari dan menghindari yang mau mengunjungi saya. Saya menjadi tidak waras. Pernah suatu kali saya terpikir untuk melakukan transplantasi rambut, namun transplantasi tidak dapat berhasil dengan rambut tipis saya yang tersisa.

Perasan saya hancur, saya meminum minuman beralkohol untuk lari dari masalah. Saya terus memakai obat-obattan terlarang dan berkubang dalam keterpurukan dan depresiku. Prestasi saya di kampus menurun dan saya akhirnya dikeluarkan dari kampus.

 

KEKACAUAN DALAM KELUARGA

Menyadari bahwa anaknya hanya menyia-nyiakan diri, ayah saya memaksa saya untuk tinggal dengan kakak laki-laki saya di California agar terjadi perubahan. Jadi dari tahun 1998 sampai 1999, saya kuliah di California. Namun demikian tidak serta merta menyembuhkan saya dari kecanduan yang parah.

Pada kondisi ini, bahkan keluarga saya ketakutan mendengar kabar dari saya. Kakak perempuan saya, Ruo-Lan, berkeluh kesah, “Adikku sering menghilang selama dua atau tiga hari. Tiap kali dia meneleponku, dia menginginkan uang untuk melepaskan dirinya dari jerat penjual obat-obatan terlarang. Dia diancam dengan begitu mengerikan. Setiap hari aku merasa gugup dan takut untuk menerima telepon darinya.”

Dan dengan penuh kepedihan hati bagi saya untuk menceritakan ini, bahwa ibu saya sampai berlutut di depan saya dan memohon agar saya berbalik dari kehidupan saya yang sekarang. Namun saat itu hati saya telah membatu dan tubuh saya diperbudak oleh obat-obatan terlarang.

Semua orang dalam keluarga saya telah putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa. Ayah saya ingin agar saya memulai semuanya dari awal dengan kembali ke Taiwan untuk masuk dalam militer, namun berada di Amerika Serikat selama sebelas tahun dan tidak lulus kuliah terlalu memalukan untuk pulang.

Saya sungguh tersesat bahkan muncul dipikiran saya untuk menjadi biksu Buddha. Dalam keadaan saya yang menyedihkan saya memutuskan untuk menjalani nasehat nenek saya: “Percayalah pada Yesus! Inilah satu-satunya jalan.”

 

MENCARI TUHAN

Dari saat itulah, saya mulai menonton saluran televisi penginjilan di malam hari, kemudian saya mulai merasakan beberapa pengalaman yang luar biasa.

Ketika saya mau merokok, saya akan mendengar suara penginjil di televisi berkhotbah menentang rokok. Ketika saya berkeliaran di jalanan saya akan mendengar suara atau pesan yang memberitahu untuk pulang ke rumah. Ketika saya ingin membaca atau menonton film porno, yang terjadi adalah saya tidak dapat meraih majalah tersebut di bawah sofa atau film itu entah bisa terhapus begitu saja.

Pada saat itu, saya tidak mengerti tentang dunia rohani dan berpikiran bahwa sesuatu yang tidak berasal dari Bumi menuntun saya. Saat saya menonton saluran televisi penginjilan, saya juga belajar membaca Alkitab. Saya sering kali mendapatkan ayat dalam Alkitab yang mendorong saya agar tidak jatuh ke dalam perangkap iblis. Perlahan saya menyadari bahwa Tuhan membenci hal-hal yang bersifat najis, maka itu saya membakar semua hal-hal yang berbau pornografi yang saya miliki. Saya juga mulai untuk berdoa dan meminta Tuhan untuk menyelamatkan saya. Seringkali kepedihan saya membuat saya meneteskan air mata dan membuat saya putus asa.

Suatu hari, jemaat Gereja Yesus Sejati memperkenalkan injil pada adik laki-laki saya. Namun karena adik saya tidak percaya Tuhan, kakak perempuan saya lah yang diundang ke gereja. Dia pergi ke gereja untuk mendoakan saya, meminta pada Tuhan untuk membantu saya. Ketika dia kembali malam itu, ia berkata, “Sungguh luar biasa! Roh Kudus ada dalam Gereja Yesus Sejati!”

 

TUNTUNAN MENUJU GEREJA YESUS SEJATI

Saya ingin pergi ke gereja, namun saya ragu-ragu karena kebotakan saya. Disamping itu, bukankah akan sama saja apabila saya berdoa dan belajar Alkitab di rumah?

Meski demikian, Tuhan menggerakan seorang saudari dari gereja untuk mengajak saya ke gereja. Karena kebotakan saya, saya berulang kali menolak ajakannya. Meski ia dengan gigihnya mengajak saya, akhirnya saya berkata padanya, “Aku telah membulatkan tekad, jangan hubungi aku lagi.”

Dalam pikiran saya, “Mengapa dia tidak menyerah dan berhenti menghubungiku?” Lalu saya berkata padanya, “Kecuali kalau Tuhan sendiri yang menghubungiku untuk pergi, maka aku akan pergi!” Sebelum dia memutuskan teleponnya dia berkata, “Baiklah kalau begitu. Mengapa kau tidak mencatat alamat gereja kami: B-a-l-d-w-i-n, Baldwin Park Church.” Saya tersentak ketika saya mendengar alamat itu. Apa yang dia maksud Bald Win? Si botak akan menang? (Dalam bahasa inggris Bald berarti botak dan Win berarti menang). Saya telah berjuang dalam kebotakan sejak saya berumur 20. Apakah ini sebuah arti bahwa Tuhan ingin saya pergi ke gereja ini dan saya akan mengalahkan kebotakan saya? Apa ini berarti saya akan menang?

Hal ini sungguh memberi saya harapan dan kemudian saya bertanya pada Ruo-Lan, “Apa benar bahwa gereja itu ada di Baldwin?” Ketika dia membenarkan hal tersebut, saya berteriak keras, “Tuhan Yesus mengasihani aku! Aku mau ke gereja! Aku mau ke gereja!”

Keinginan pergi ke gereja memang sudah pasti, namun harus bertemu dengan orang-orang dengan kebotakan saya nyatanya lebih sulit. Saya berjuang secara emosional saat pertama kali saya mengunjungi gereja. Saya bahkan sampai memakai spray penumbuh rambut. Setelah saya pulang dari gereja, saya bermimpi bahwa rambut saya tumbuh kembali. Ini bisa jadi jaminan yang sungguh indah dari Tuhan

Dalam kebaktian yang berikutnya, saya merasakan bahwa Tuhan berbicara pada saya melalui suatu khotbah. Beberapa kali, saya merasa amat tergerak dan sadar bahwa saya tidak perlu gelisah dengan penampilan saya. Hanya ada dua hal yang benar benar penting: Takut akan Tuhan dan membenci dosa. Saya juga mengalami firman Tuhan ini: “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani 4:12).

Saat saya mulai memahami Alkitab, saya berhenti memakai topi baseball. Saya tidak lagi takut untuk menunjukan siapa sebenarnya diri saya di dalam gereja dan dalam ibadah. Saya sungguh menyesali perbuatan saya dan bertobat dihadapan Tuhan dan memohon pengampunanNya akan segala pelanggaran saya di masa lalu. Diliputi dengan dosa-dosa saya di masa lalu, saya hanya bisa bergantung pada kekuatan Roh Kudus untuk mengatasi segala kelemahan saya.

 

DIBAHARUI OLEH ROH KUDUS

Saya telah bertekad untuk berdoa memohon Roh Kudus setiap hari. Dari Desember tahun 2000, saya mulai berpuasa dan berdoa sebelum melayani. Saya berkata pada diri saya sendiri, “Aku akan selalu ingat hari dimana Tuhan mengaruniakanku Roh Kudus”. Pagi hari pada tanggal 25 Desember, aku mendorong diriku sendiri untuk berpuasa dan fokus berdoa di dalam gereja.

Dalam kesedihan, saya menyesali segala pelanggaran saya di masa lalu. Kemudian suatu gelombang panas yang hebat mengampiri saya saat saya berdoa. Ini terasa seperti sekujur tubuh saya dialiri listrik. Saya merasakan suatu arus yang kuat mengalir di tangan saya. Ini adalah pengalaman akan kekuatan Allah yang tidak akan saya lupakan. Selesai berdoa, beberapa jemaat gereja memberitahu bahwa ketika seseorang menerima Roh Kudus, ia akan merasa sukacita dan berbahasa lidah. Saya tidak dapat berbahasa lidah saat itu, namun saya memutuskan untuk berdoa lagi esok harinya. Keesokan harinya, saya berdoa sepenuh hati, dan kekuatan yang sama datang kembali, namun saya masih belum berbahasa lidah. Beberapa saat kemudian, pendeta menyarankan saya agar tidak terlalu tegang. Tidak lama setelah itu, saya menerima Roh Kudus.

Sungguh luar biasa bisa menerima Roh Kudus. Saat saya memiliki pikiran jahat, Roh Kudus menegur dan meningkatkan kesadaran saya akan hal tersebut. Saya berserah pada Roh Kudus dan pikiran tersebut segera menghilang. Sewaktu-waktu saya merasakan dorongan untuk memakai narkoba, rokok, atau minuman, saya berdoa dalam roh. Roh Kudus membantu saya mengatasi keinginan tersebut, dan saya kembali merasa damai, bahagia dan sukacita dalam Tuhan.

Saat bulan Maret tahun 2001, saya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Saya merasa seperti orang yang baru setelah baptisan karena segala beban saya disingkirkan. Di masa lalu, saya merasa hampa dan tidak ada harapan, menyimpan pikiran untuk bunuh diri, mendatangkan malapetaka dalam keluarga, dan berkeliaran tanpa tujuan di jalanan.

Namun Tuhan yang maha pengasih menarik saya dari kegelapan dan membawa saya kepada terang. Dia memilih saya dan mengaruniakan Roh Kudus. Ia membuat saya lahir baru. Semua yang saya miliki dan apa adanya diri saya adalah dari Dia. Inilah mengapa saya merasa begitu yakin akan Lukas 1:79: “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera."

Ya, hanya Allah Yang Mahakuasalah yang sanggup melakukan keajaiban. Setelah mengalami kasih karunia Allah, saya selalu bersukacita untuk melihat terang dalam hidup saya. Perubahan dari perjuangan saya untuk kemenangan saya atas dosa mendorong saya untuk berjalan di jalan terang.

Di dalam gereja, saya mengalami kasih yang sejati dari saudara-saudari, dan saya akhirnya mampu melepas kebencian di masa lalu. Sayapun terdorong untuk membalas kasih karunia ini menjadi tindakan untuk berbagi kasih karuniaNya dengan orang lain. Tuhan Yesus adalah “Jalan(ku), kebenaran(ku), dan hidup(ku)” (Yohanes 14:6)