Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Dari Belenggu Setan Kepada Kristus  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

DARI BELENGGU SETAN KEPADA KRISTUS

Merasakan Campur Tangan Tuhan
Saya dilahirkan sebagai orang Katolik, tetapi keluarga saya mulai mengikuti gereja Kharismatik di tahun 1980-an. Pada saat itu saya hanyalah seorang bocah, tetapi hati saya haus akan tujuan ilahi dalam hidup yang lebih tinggi.

Ibu saya tidak memperbolehkan saya untuk pergi ke gereja, karena saya harus menjaga rumah. Tetapi puji Tuhan, oleh karena keinginan saya yang tulus, walaupun tidak rutin, saya diperbolehkan untuk mengikuti kebaktian di gereja Kharismatik.

Tahun 1992, saya meninggalkan rumah dan tinggal bersama tante saya karena keluarga saya sangat miskin dan tak mampu membiayai uang sekolah saya. Sebaliknya, tante saya menjalankan pengelolaan bir di rumahnya. Pada waktu itu, saya tak bisa terus-menerus pergi ke gereja karena saya harus membantu usaha tante.

Tanpa dukungan dalam iman saya, saya merasa putus asa dan mulai mengembangkan kebiasaan minum-minuman keras. Kebiasaan ini mengakibatkan radang lambung, dan membuat saya sangat sulit untuk makan dan minum, karena radang itu terasa sangat sakit setiap kali saya makan.

Semasa itu, saya berkelahi dengan seorang laki-laki yang telah mencuri beberapa barang saya, sehingga dia harus dirawat di rumah sakit. Karena perbuatan ini, saya menghadapi tuntutan pengadilan karena penganiayaan, dan diharuskan hadir dalam pengadilan begitu orang itu keluar dari rumah sakit. Keluarga orang itu mengumpulkan uang untuk menggugat saya.

Dua kejadian ini mengingatkan saya tentang apa yang saya baca dalam injil Lukas. Tahun 1990, saudara laki-laki saya memberikan sebagian dari Alkitab yang berisi injil Lukas, tetapi saya tidak membacanya secara teliti sampai dua tahun kemudian.

Melalui injil Lukas ini, saya mulai mengenal Yesus secara lebih pribadi. Saya percaya, bahwa seperti halnya Yesus telah menyembuhkan orang-orang sakit dan melepaskan mereka dari belenggu Iblis (orang-berdosa berdosa), saya pun dapat dilepaskan. Di rumah, tak ada orang yang bisa menyelamatkan saya.

Iman perempuan yang menderita pendarahan (Mrk. 5:25-34) sangat mendorong semangat saya dan saya mulai mencari Tuhan di rumah dan mengakui segala dosa saya dalam doa.

Suatu hari, saya menghadiri kebaktian gereja di kampung saya. Sebelum kebaktian di mulai, setiap orang berlutut dan berdoa dan saya menceritakan masalah saya kepada Tuhan.

Puji Tuhan, setelah kembali dari gereja, sakit radang lambung saya hilang. Sejak hari itu dan seterusnya, oleh karena kuasa Tuhan, saya bisa berhenti minum alkohol. Walaupun teman-teman dan keluarga minum-minum di hadapan saya, saya tidak merasa sulit untuk berhenti minum, karena saya bisa merasakan kuasa Tuhan bekerja di dalam diri saya. Saya juga bersaksi kepada mereka tentang bagaimana Yesus telah menolong saya.

Saya tetap berdoa kepada Tuhan mengenai kasus pengadilan dengan lelaki yang telah saya lukai itu. Ajaibnya, Tuhan campur tangan. Keluarga lelaki itu berselisih pendapat di antara mereka mempermasalahkan pengumpulan dana untuk membiayai kasus pengadilan. Kasus pun ditutup tanpa persidangan. Hal ini menguatkan iman saya dan mendorong saya untuk lebih mencintai Tuhan.

Mencari Kebenaran yang Sepenuhnya
Tahun 1995, saya mulai membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu. Saya mencari-cari kebenaran dengan tekun. Pada waktu itu, saya hanya dapat mengikuti kebaktian di suatu gereja pada hari Sabtu atau hari Minggu.

Dengan mempelajari Alkitab, saya belajar tentang Roh Kudus, basuh kaki, baptisan air, hari Sabat, Perjamuan Kudus, dan bagaimana semua ini berhubungan dengan keselamatan. Saya tidak bisa menemukan ajaran yang lengkap mengenai sakramen-sakramen ini di gereja-gereja mana pun yang telah saya kunjungi. Tetapi saya merasa bahwa ini adalah doktrin yang penting dalam firman Tuhan.

Saya berpuasa dan berdoa supaya Tuhan memimpin saya kepada gereja yang memberitakan seluruh kebenaran menurut Alkitab. Saya yakin bahwa hanya dengan mengenal kebenaran yang lengkap barulah seseorang bisa masuk ke dalam kerajaan Tuhan. Seperti yang Tuhan Yesus sendiri firmankan, "Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga." (Mat 7:21).

Saya juga berjanji kepada Tuhan, seperti Dia telah membawa seseorang untuk membagi kebenaran kepada saya, dengan cara yang sama saya pun akan membagi kebenaran-Nya kepada orang lain.

Selama berdoa dan berpuasa itu, Tuhan menunjukkan tiga penglihatan kepada saya.

Dalam penglihatan pertama, saya memegang Alkitab dan saya berada di studio penyiaran radio di atas gunung yang sangat tinggi dan saya sedang berkhotbah. Pesan saya disalurkan seperti siaran radio ke seluruh wilayah Kenya.

Dalam penglihatan kedua, saya melihat daerah pegunungan di mana saya berdiri di atas gunung tertinggi. Saya memegang mikrofon dan saya sedang berkhotbah kepada semua orang yang ada di Kenya.

Dalam penglihatan yang terakhir, saya sedang memancing ikan bersama dengan orang lain di danau yang sangat besar. Kami semua berada di perahu yang sama dan ketika kami menebar jala kami menangkap banyak ikan yang ukurannya berbeda-beda. Setelah menangkap ikan, kami pun menjualnya.

Saya baru menyadari arti dari tiga penglihatan ini setelah saya mengikuti Gereja Yesus Sejati. Di bawah bimbingan Roh Kudus, saya mengerti bahwa menurut kitab Yesaya Pasal 2, Tuhan akan mendirikan Bait-Nya di gunung yang tertinggi dan kebenaran pun akan diberitakan dari bait tersebut kepada segala bangsa. Menebarkan jala itu seperti sedang berkhotbah kepada orang-orang. Satu kapal di dalam penglihatan saya itu mengacu pada satu gereja sejati dan satu jala itu mengacu pada satu iman.

Datang ke Gereja Sejati
Pada bulan Oktober 1997 pada hari Sabtu, saya mengunjungi salah satu gereja Pentakosta di Kamwala. Dari kunjungan itu saya mendapatkan kepastian bahwa mereka memegang hari Sabat dan juga memberitakan tentang Roh Kudus. Maka saya mengunjungi gereja itu lagi hari Sabat berikutnya untuk melihat apakah mereka juga memberitakan tentang Perjamuan Kudus, basuh kaki dan baptisan air.

Akan tetapi, jemaat yang menjawab pertanyaan saya pada hari Sabat sebelumnya tidak hadir. Saya memutuskan untuk kembali untuk ketigakalinya pada hari Sabat berikutnya. Karena biasanya saya tidak kembali ke gereja yang sama lebih dari dua kali, jadi kali ini saya berdoa secara khusus kepada Tuhan.

Di dalam doa, saya memutuskan untuk bertanya kepada jemaat gereja itu walaupun jemaat yang saya kenal tadi tidak hadir. Saya juga memutuskan untuk tidak kembali ke gereja itu jikalau mereka tidak memberitakan kebenaran yang lengkap.

Sungguh ajaib, di saat kebaktian baru akan dimulai, Pendeta Ko dan dua saudara bernama Cornell dan Silvanus dari Gereja Yesus Sejati datang untuk yang pertamakalinya ke Kamwala. Ketika Pendeta Ko berdiri untuk berkhotbah, dia mulai dengan menanyakan jemaat mengenai lima dasar kepercayaan Gereja Yesus Sejati.

Ketika Pendeta Ko mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu kepada jemaat, sepertinya seakan-akan saya-lah yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Setelah selesai bertanya, Pendeta Ko mulai mengajarkan tentang hari Sabat dan juga empat doktrin yang lain, yaitu, Roh Kudus, Perjamuan Kudus, baptisan air dan basuh kaki.

Karena anugerah Tuhan, ketika kami berlutut berdoa, saya menerima Roh Kudus. Setelah saya kembali untuk mempelajari lebih banyak lagi pada Sabat siang itu dan pada Minggu paginya, barulah saya menyadari bahwa saya hanya menerima sebagian kecil dari kebenaran sebelum saya datang ke gereja ini.

Pada Sabat berikutnya, kebaktian Sabat ke-4 yang saya hadiri, saya melihat bahwa seluruh jemaat pun telah sungguh-sungguh menerima kebenaran yang lengkap, maka saya memutuskan untuk bergabung dengan mereka untuk mengikuti kebaktian secara rutin. Pada tanggal 19 Juli 1998, saya menerima baptisan air.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah memimpin saya kepada gereja sejati-Nya.

Memberitakan Injil
Saya tetap berdoa dengan bahasa roh dan bersukacita dalam Roh, membagikan kebenaran yang telah saya terima kepada orang lain. Tetapi pada waktu bersamaan, saya mengalami siksaan dalam keluarga Katolik tante saya.

Sebagai contoh, oleh karena saya teguh dengan ajaran untuk tidak bekerja di hari Sabat, tidak akan ada makanan bagi saya di hari Sabtu. Walaupun saya tidak diperbolehkan makan, tetapi saya tidak merasa lapar. Sebaliknya saya merasa kenyang sepertinya saya telah makan.

Pada masa itu, ayat dalam injil Matius mendorong semangat saya, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." (Mt 5:10). Ayat ini menyakinkan saya lebih lanjut tentang pentingnya menjalin hubungan dengan Tuhan lebih dari hubungan saya dengan sesama manusia.

Saya juga ingat akan janji saya kepada Tuhan untuk membagikan kebenaran kepada orang lain, jadi saya bertekad untuk membantu memberitakan injil.

Pada bulan November 1998, saya pergi menginjil ke Awendo bersama dengan saudara yang lain. Orang yang dahulu mencuri dan saya lukai, kebetulan ada di sana. Jadi kami membagikan kebenaran kepadanya. Dia dan istrinya pun datang menghadiri kebaktian gereja kita.

Tetapi dia tidak melanjutkan imannya - dia mencuri sepeda orang lain. Dia lalu ditangkap dan akhirnya meninggal di penjara. Walaupun dia memilih untuk meninggalkan kebenaran, saya bersyukur telah diberikan kesempatan untuk menjalankan tugas saya kepada Tuhan dengan membagikan kebenaran kepadanya, dan mengamalkan ajaran pengampunan.

Pada tahun 2000, saya pulang ke kampung halaman untuk memberitakan kebenaran. Pada tanggal 25 Maret 2000, empat orang menerima kebenaran dan kami memulai persekutuan bersama. Salah satunya adalah ibu saya, orang yang sebelumnya telah bertekad untuk tidak meninggalkan kepercayaannya pada gereja Kharismatik.

Pada tanggal 13 Juni 2000, ibu saya menjadi orang pertama yang dibaptis di Ogongo.Tahun berikutnya, pada tanggal 19 Mei, tempat kebaktian baru didirikan di Kibanga. Di kedua tempat ini, 62 jemaat menerima baptisan air.

Alkitab mengatakan bahwa Yesus memberikan nyawa-Nya untuk domba-domba-Nya (Yoh 10:15). Saya merasakan bahwa Yesus telah menyelamatkan jiwa saya dan melepaskan saya dari segala pergumulan dan penyakit saya. Dia juga telah menuntun saya untuk mengetahui apa yang harus saya perbuat bagi-Nya. Barangsiapa tinggal di dalam Kristus, harus melangkah seperti Kristus yaitu mencari kebaikan dan keadilan (1Yoh 2:6).

Saya harus terus bersyukur kepada Tuhan, dan selama saya masih hidup di dunia ini, saya harus bertekad untuk memberitakan kebenarannya-Nya kepada semua orang, karena ada begitu banyak domba yang belum menjadi satu kawanan dengan-Nya. (Yoh. 10:16). Sejak sekarang, saya mengarahkan pikiran kepada Kristus dan menantikan kedatangan-Nya pada akhir zaman.

Biarlah segala kemuliaan dan kuasa bagi Tuhan dan semoga segala bangsa dapat mengenal nama-Nya. Amin.

Clement Titus Adede- Ogongo, Kenya