Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Di Ujung Pelangi  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Di Ujung Pelangi

TUHANLAH PEMBERI HIDUP

"Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku… mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya." (Mzm. 139:13-16)

Tuhanlah pemberi hidup, tetapi jatah kita dalam kehidupan berbeda-beda - masing-masing menurut kehendak-Nya. Ada yang terlahir sehat dan ada yang lemah. Putra bungsu saya, Elliot, terlahir lemah.

Saya dan suami menyambut kedatangan Elliot ke dunia ini pada 7 Juli 1998, di New Jersey, USA. Tidak lama setelah kelahiran Elliot, ahli jantung anak memberitahu saya bahwa ada debaran abnormal di jantungnya, dan Elliot akan membutuhkan operasi jantung saat berusia empat tahun.

Pada saat itu, ada begitu banyak pertanyaan dalam hati saya: "Mengapa Tuhan memberiku anak yang tidak sehat? Apakah aku berdosa terhadap Tuhan? Masihkah Dia mengasihiku? Tuhan itu kasih tetapi bagaimana mungkin Dia membiarkan ini terjadi pada kami?"

Seorang saudari menulis surat untuk menguatkan saya bahwa Tuhan membiarkan kita menderita supaya kita menata ulang titik perhatian kita dan mengikuti teladan Yesus. Dalam masa-masa sukar, pelajaran bagi kita ialah belajar berempati, sehingga iman kita pun akan disegarkan kembali untuk mengikuti Dia dengan sepenuh hati.

Saya mengharapkan terjadinya mujizat supaya Elliot tidak perlu menjalani operasi pada usia empat tahun, dan saya pikir inilah satu-satunya cara bagi saya untuk menyaksikan kemuliaan Tuhan - mengalami mujizat-Nya. Ketika Elliot berusia empat tahun, dan operasi pun tak terelakkan, saya berdoa dengan tekun bersama Elliot.

Tetapi, dokter memberitahu kami bahwa debaran abnormal jantung Elliot masih ada di hari menjelang operasi. Kami melaksanakan operasi pada keesokan harinya dan, memang, doa-doa dijawab sebab operasi berjalan dengan lancar. Syukur kepada Tuhan.

Sepuluh tahun kemudian, kemuliaan Tuhan Yesus kita masih amat terbukti dan menusuk hati dalam baris-baris jurnal on-line Elliot:


Senin, 9 September 2002

Puji syukur kepada Tuhan, aku sudah melewati satu lagi CT scan untuk pendarahan-dalam. Aku tahu ini hanyalah cobaan lain yang harus dilalui. Aku tidak akan takut terhadap apa pun, karena aku tahu Tuhan menjagaku. Tuhan tak akan pernah memberimu sesuatu yang tak dapat kau tanggung. Aku punya dokter jantung yang harus dikunjungi besok untuk pemeriksaan menyeluruh dan satu tes ultra sound untuk melihat leverku. *Hhh* begitu banyak yang harus dilakukan...aku punya begitu banyak yang harus dipelajari dan masih begitu banyak lagi yang harus dihadapi. Dengan Tuhan di sisiku sepanjang hidupku, aku tidak takut terhadap apa pun.

  • Lahir prematur 5 minggu
  • Umur 4 - perbaikan jantung, penemuan sakit paru-paru
  • Menjelang umur 8 - infeksi telinga, sinus, radang bronkhitis, dan radang amandel
  • Umur 8 - pemasangan pipa telinga untuk menghindari infeksi
  • Umur 13 - pendarahan-dalam pada kaki kanan, kebocoran nadi utama, penggumpalan darah di sekeliling tulang. Ditemukan kebocoran di jantung.
  • Umur 14 - pendarahan-dalam total, masuk rumah sakit, CT, ultra sound, tes masa pendarahan. Tes penggumpalan darah, tes kanker hati, dan tes kanker lainnya. Tindak lanjut tes CT scan dan ultra sound.

Aku bersandar pada Tuhan sepanjang hidupku, penderitaanku, cobaan-cobaanku...aku ingat waktu umur empat, aku begitu takut sebelum dioperasi. Semua orang di gereja mendoakanku sebelum operasi itu, aku berdoa kepada Tuhan...aku ingat sewaktu pergi ke meja operasi, aku tidak takut. Aku ingat Pendeta Chou sangat gembira sewaktu aku bertemu dengannya di gereja setelah itu. Operasinya berhasil. Aku tak tahu seberapa banyak yang harus kulewati, tapi aku senang karena Tuhan hidup di dalamku. Dia memberiku kekuatan untuk melalui semua ini.


Elliot mengejar Tuhan dengan tekun. Ia sering mengikuti kebaktian rumah tangga dan menguduskan Sabat setiap minggu. Walaupun fisiknya lebih lemah daripada orang lain, ia bertumbuh besar di New Jersey dan mengalami penderitaan yang terus meningkat khas remaja normal bersama teman-temannya.

Pada 29 Juni 2002, keluarga kami pindah ke San Jose, di California Utara. Elliot meninggalkan kerabat, saudara-saudari gereja, teman-teman, tetangga, dan guru-guru sekolah terkasihnya. Dan dia kesepian.

JURNAL ON-LINE ELLIOT


Kamis, 17 Oktober 2002

Tak seorang pun tahu bagaimana perasaanku soal tinggal di San Jose...New Jersey adalah rumahku, dan akan selalu jadi rumahku. Surga adalah rumahku dan akan selalu jadi rumahku. ...ke mana pun aku pergi, itu bukan rumahku. Tak akan pernah jadi rumahku. Tapi sulit sekali menyadarinya, sebab kau menjalani hidupmu dengan mata bukan dengan iman. Jadi ayo kita coba menjalani hidup, dengan mata tertutup, dan biarkan saja Kristus bergandengan tangan menuntun jalan kita, kembali ke rumah-Nya, rumahku. Rumah sejatiku selamanya.


Dalam buku hariannya, Elliot begitu bersemangat dan nakal seperti remaja mana pun, tetapi pada saat yang sama ia mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam. Walaupun fisiknya menderita, ia mempelajari makna kehidupan secara mendalam dan memahami misi yang telah Tuhan berikan kepadanya.

Sebagai orang-orang yang sehat, kita sering menganggap segala sesuatu memang sudah semestinya dan lupa bahwa Tuhanlah yang mengaruniakannya. Setiap kali menemui cobaan, kita merasa tertekan dan ragu bahwa Tuhan akan menyatakan kemuliaan-Nya melalui penderitaan kita.

Tanggal 10 Juli 2002, pada umur empat belas, Elliot pergi ke rumah sakit karena sakit yang parah di daerah perut. Setelah menjalani tes, sumber pendarahan-dalamnya tidak ditemukan dan dia keluar tiga hari kemudian.

Pada bulan Agustus, dia balik ke New Jersey untuk mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani Siswa musim panas (KKRS) dan dipenuhi dengan Roh Kudus. Dia merasa sangat bersukacita dan diperbaharui. Walaupun Elliot sudah menerima Roh Kudus dua tahun yang lalu sewaktu berumur dua belas, Tuhan mengambilnya lagi setelah dia melakukan suatu kesalahan.

Kali ini, dia bertobat dengan setulus hati dan dipenuhi dengan Roh Kudus lagi. Ia benar-benar memahami pentingnya sering berdoa supaya Roh Kudus tetap menyertainya. Setelah Kebaktian Kebangunan Rohani Siswa, Elliot menuliskan pikiran-pikirannya:


Selasa, 20 Agustus 2002

Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku masih hidup hari ini. Ingat, "berikan kemuliaan kepada Tuhan dalam segala perbuatanmu dan lihatlah Dia melakukan perkara-perkara BESAR bagimu."

Rabu, 21 Agustus 2002

...kuharap aku tidak mengalami pendarahan-dalam lagi karena kalau mengalaminya lagi, darah akan mengalir deras ke otakku dan siapa yang tahu...aku bisa mati. Aku belum siap bertemu Tuhan. Begitu banyak yang akan kupersembahkan bagi-Nya. Tetapi Tuhan akan memberikan jalan. Mulai sekarang aku akan berusaha memasukkan Tuhan ke dalam setiap jurnalku karena apa yang kuberikan kepada Tuhan belum memadai.

Kamis, 05 September 2002

Hidupku mungkin tidak baik, mungkin tidak gembira, mungkin tidak menyenangkan. Suatu hari, sewaktu kita meninggalkan dunia ini, kau melihat ke belakang dan mencoba mengenang kembali kegembiraan, kesenangan, dan hari-hari baik. Tetapi hanya sedikit yang kau temukan. Selagi melihat masa lalumu, kau bahkan menangis sedikit. Tuhan akan melihat masa lalumu, Dia akan memberimu mahkota kehidupan. Karena Dia melihat perbuatan baikmu. Dia melihat kasihmu, Dia melihat semangat menggebumu untuk memenangkan banyak orang bagi Kristus. Dia melihat semua yang kau lakukan. Walaupun hari ini kau mungkin merasa hidupmu tidak berarti. Tetapi sewaktu kau berada di surga, kau akan senang. Kau memperoleh lebih dari yang kau pikirkan. Jangan bersedih atas masa lalumu, tapi bergembiralah untuk masa depanmu.

Jumat, 6 September 2002

...aku akan merasa senang bahwa Tuhan menyertaiku sepanjang hidupku. "Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia. Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia." (2Tim. 2:11-12)

Selasa, 3 September 2002

KKRS musim panas ini sangat berarti bagiku...aku belajar bagaimana saling mengasihi...aku merasakan kasih Tuhan begitu dekat..."kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak sombong, ia tidak cemburu"...kasih sejati berasal dari Tuhan. Aku merasakan kuasa Iblis, dan kuasa Tuhan di KKRS ini, karena Setan berusaha menarikku jauh dari Kristus...

Selagi aku memikirkan dan menuliskan ini dalam 6 jam penerbangan pulang ke California, air mata jatuh ke atas secarik kertas yang sedang kutulisi ini...aku merasa Tuhan telah mempersiapkanku. Aku sudah melewati banyak penderitaan...aku berjanji pada diri sendiri untuk menguatkan gereja di San Jose. Sama seperti para rasul menguatkan jemaat Galatia, Korintus. Aku ingin menyentuh hati manusia.

Rabu, 4 September 2002

Tuhan, aku ingin lebih menyerupai Engkau. Aku ingin mengasihi, melayani, memuji, meninggikan, dan memuliakan Engkau. Tuhan, aku ingin menjadi orang yang lebih baik, pimpinlah hidupku. Taruhlah aku di jalan yang benar. Engkau menolongku sewaktu aku sakit, Engkau menolongku sewaktu aku menderita. Oh Tuhan, Engkau memberiku teladan yang baik, sebab Engkau mengorbankan hidup-Mu bagiku, jadi aku harus mengorbankan apa yang kumiliki demi-Mu. Aku akan membicarakan kebenaran-Mu, jalan-Mu, hidup-Mu, di seluruh sisa hidupku. Selama aku masih hidup, aku akan melayani-Mu. Selama aku masih hidup, aku akan memuji-Mu. Selama aku masih hidup aku akan selalu mengasihi-Mu.

Minggu, 8 September 2002

Renungan hari ini: Beri Tuhan yang terbaik darimu, beri Tuhan seluruh dirimu, beri Tuhan kemuliaan-Nya. Jangan biarkan Yesus mati sia-sia...Roh Kudus menggerakkanku..dan aku teramat mengasihi-Nya. Aku akan melangkah bersama Tuhan. Kalau kau punya masalah dan cobaan, kau boleh ceritakan padaku...aku akan mendoakanmu. Kalau saja mereka tidak memberikan batas umur untuk menjadi pendeta...aku akan menjadi pendeta sekarang juga...aku akan memilih untuk masuk sekolah teologia sekarang juga...dunia begitu menggoda dan aku perlu belajar bagaimana melawannya.


Pada 17 September, Elliot dilarikan ke rumah sakit karena sakit di bagian perut, dan lagi-lagi tak ditemukan apa-apa. Ia boleh keluar empat hari kemudian.


Minggu, 13 Oktober 2002

Kau tak dapat mengubah masa lalu, tapi kau hanya bisa mengendalikan masa depanmu. Kumohon, aku mendesakmu untuk menghargai waktumu, selagi masih bisa...seperti yang dikatakan seseorang, "hargai apa yang kau miliki sekarang, atau dia akan hilang selamanya." Aku tak punya kesempatan untuk bilang selamat tinggal. Aku tak punya kesempatan untuk bilang selamat tinggal kepada orang-orang yang membenciku. Aku tak punya kesempatan untuk mengasihi orang-orang yang seharusnya dikasihi. Aku tak punya kesempatan untuk bilang selamat tinggal kepada semua tetanggaku, yang menemaniku tumbuh besar. Aku tak punya kesempatan untuk bilang selamat tinggal kepada guru-guruku, yang sudah mengajarku...intinya adalah, menghargai, menerima segala sesuatu.

Senin, 21 Oktober 2002

Aku tak punya kemewahan bisa hidup terlalu lama...aku mengidap sakit paru-paru, dan nadi yang tipis akan mengurangi umur sekitar 20 tahun...Selagi kalian harus menjalani 20 tahun tambahan, aku akan tersenyum ke bawah dari surga. Aku perlu tahu bagaimana caranya belajar menghargai waktu. 50 tahun adalah umur rata-rata orang yang mengidap sakit paru-paru...Aku tak akan menyia-nyiakan hidupku...aku akan membuatnya berharga. Tapi aku masih belajar. Seperti kubilang, hargai segala hal sebelum terlambat...aku punya perasaan bahwa Tuhan menempatkanku di San Jose untuk mengajarku seberapa besar penderitaannya, kalau kita menganggap segala sesuatu memang sudah sewajarnya. Ini hanyalah satu pelajaran lagi. Hanya karena orang-orang seperti kalian, para pembaca, harus hidup jauh lebih lama. Hidup kalian tak akan banyak berarti, bila kalian menyia-nyiakannya. Aku tahu aku tak akan menyia-nyiakan hidupku, karena 20 tahunku yang hilang akan membuatku kuat...dan kuharap kalian tidak menyia-nyiakan hidup. Setiap tarikan napas adalah satu langkah lebih dekat pada kematian.

Rabu, 11 Desember 2002

Hari ini adalah hari paling buruk seumur hidupku. Dan juga yang paling membahagiakan.

Waktu aku main basket hari ini, aku melakukan lemparan jarak pendek ke keranjang dan saat mendarat, ototku robek. Dan sepertinya aku harus dioperasi, blah! Doakan aku - perlu sekitar dua minggu untuk sembuh, tapi aku akan datang ke KKRS pada hari Jumat!! Aku hanya butuh mujizat...


JAM-JAM TERAKHIR


Senin, 16 Desember 2002
(Jurnal terakhir)


Aduh...perutku sakit! Aku capek sekali...kurasa tak usah bikin PR matematika saja...


Pada Selasa pagi tanggal 17 Desember, saya melihat Elliot berdoa sambil berlutut, dan jelas terlihat bahwa luka di lututnya memburuk. Pagi itu ayahnya membawanya ke seorang ahli akupuntur dan sorenya saya membawanya ke dokter keluarga.

Dokter keluarga mendiagnosis Elliot sakit usus buntu dan harus segera dioperasi. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Elliot menghitung-hitung bahwa dia bisa keluar keesokan harinya dan masih bisa kembali ke New Jersey untuk mengikuti KKRS pada hari Jumat.

Sekitar pukul 9 malam itu, sebelum Elliot digiring ke ruang operasi, saya memberitahu dia untuk mengulang-ulang "Haleluya" di dalam hati dan Tuhan pasti akan menyertainya. Pada saat itu, saya sangat merasakan kehadiran Tuhan. Saya menciumnya, dan ayahnya berkata, "Selamat tinggal, Elliot."

Tak seorang pun tahu bahwa inilah kali terakhir kami melihatnya. Hampir lima jam operasi, pada pukul 02:10 pagi tanggal 18 Desember, dokter mengumumkan bahwa dia telah berbuat semampunya untuk menyelamatkan nyawa Elliot.

Karena kelemahan bawaan di pembuluh darahnya, aneurisma (pembuluh darah yang melebar) di perutnya pecah dan menyebabkan pendarahan-dalam. Ahli bedah menemukan bahwa sebagian usus besarnya sudah rusak sewaktu para dokter berusaha menghentikan pendarahan. Ahli bedah langsung memanggil seorang ahli pembuluh darah untuk membantu operasi.

Para dokter memberikan transfusi darah sepanjang operasi sampai jantung Elliot berhenti berdetak. Elliot kehilangan seratus persen darahnya dan akibatnya dokter memompa masuk seratus persen juga. Ini diulangi sampai lima kali selama operasi.

Kami merasa lega bahwa Elliot tidak perlu merasakan sakit sedikit pun dari awal sampai akhir operasi karena dia dibius total. Dia kembali ke pelukan Bapa Surgawi kita dengan tenang. Inilah kasih dan kemurahan Tuhan.

RENUNGAN SEORANG IBU
Sewaktu musim gugur berlalu dan kami memasuki bulan Desember, ada satu melodi kidung rohani yang selalu memenuhi benak saya setiap kali saya sedang sendirian. Kidung "Apakah Yesus Memperhatikan?" mengalun dalam hati saya dan memberikan banyak kekuatan dan penghiburan.

Pada dini hari meninggalnya Elliot, suami saya memanggil dua saudara dari gereja San Jose dan mereka langsung datang ke rumah sakit. Mereka menemani kami kembali ke ruang operasi. Sewaktu saya melihat Elliot, hati saya terasa damai karena saya tahu dia beristirahat dalam pelukan Tuhan dan Tuhan akan menjaganya.

Sekitar pukul empat pagi kedua saudara itu menemani kami pulang. Saya teringat pada kidung itu lagi, dan saya minta semua orang menyanyikannya bersama-sama. Setiap patah kata dalam liriknya menyentuh saya - terutama bait terakhir:

Saat ku t’lah tinggalkan semua
Yang kusayangi di dunia,
Sampai hatiku pedih dan hancur,
Berartikah bagi Yesus?

Sungguh ku tahu, Dia jagaku,
Dia mengerti susahku;
Walau hidup t’rasa berat,
Ku tahu Tuhan perhatikanku.


Ya, Tuhan Yesus selalu menjaga kita. Dia membawa Elliot ke rumah yang lebih indah sehingga ia tidak akan menderita lagi, dan Dia menggunakan kidung ini untuk menguatkan saya sehingga saya boleh terhibur.

Malam itu, sahabat karib Elliot bermimpi tentang dia. Inilah yang dikatakan temannya:


Semalam aku bermimpi. Ini tentang Elliot. Elliot sedang berdiri di sana dan kemudian ada cahaya berpendar dalam dirinya. Cahaya itu bertambah besar dan terang dan seakan meliputinya. Dengan kata lain, cahaya itu bersinar begitu terangnya sampai menyelubungi tubuhnya. Aku melihat bahwa dia sama sekali tidak sedih, malahan, dia sangat ceria. Dia benar-benar cukup gembira. Sewaktu terbangun aku mendapati perasaan yang cuma satu kali kurasakan sewaktu menerima Roh Kudus dan aku mendapati bekas air mata di seluruh bantalku.


Selama operasi Elliot, saya berdoa: "Tuhan Yesus, mohon beri dia lebih banyak waktu di dunia ini sehingga dia dapat mengejar kesempurnaan rohani. Aku belum pernah melihatnya membawa seorang pun percaya kepada-Mu, jadi, mohon beri dia kesempatan untuk melayani Engkau supaya mendapatkan upah di surga."

Saya menyesal karena Elliot tidak akan punya kesempatan untuk melayani Tuhan karena dia meninggal pada usia yang begitu muda. Baru setelah kematiannyalah saya mengetahui pikiran-pikiran yang dituliskannya dalam jurnalnya, dan kata-katanya menyentuh saya dan membuat saya memahami bahwa, selama ini, dia sudah bekerja untuk Tuhan.

Dalam waktu dan tenaganya yang terbatas, kata-katanya kepada kita merupakan pelayanannya yang indah kepada Tuhan. Yang terpenting, kasih dan keharuman Kristus menyebar melalui jurnalnya.

Pada hari pemakaman, saya tiba-tiba menyadari bahwa kelahiran Elliot, empat belas tahunnya di dunia ini, dan bahkan kepergiannya, semuanya adalah perbuatan Tuhan yang mulia. Kemuliaan Tuhan dinyatakan bukan hanya melalui iman, harapan, dan kasih Elliot, tetapi juga dari dampak yang ditinggalkan oleh kehidupannya bagi orang-orang.

KEMULIAAN SURGA
Elliot bermata besar dan beralis tebal dan dia sedikit pemalu. Ia tidak pandai bicara dan tidak terlalu menarik. Hidupnya singkat dan penuh dengan penderitaan jasmani, tetapi sama seperti janda yang cuma punya dua peser, ia rela mempersembahkan apa yang ia miliki. Ia tahu bahwa dirinya tidak sempurna, tetapi melalui kuasa Tuhan yang ajaib, ia mampu memberitakan manisnya kasih karunia Tuhan.

Bahkan dalam penderitaan dan kesakitan, Elliot begitu berani, optimis, dan selalu bersyukur. Ia benar-benar percaya pada kerajaan surgawi yang dijanjikan oleh Yesus dan harapannya tidaklah sia-sia. Inilah kemuliaan surgawi.

Tadinya saya tidak tahu bagaimana memulai percakapan tentang Injil dengan teman-teman saya. Tetapi melalui kata-kata Elliot dan pengalaman pribadinya, saya sekarang mampu membicarakan kasih dan kesetiaan Tuhan sewaktu berbincang-bincang dengan teman dan kerabat.

Mereka semua bersedia mendengarkan dan saya bisa merenggut kesempatan ini untuk memberitakan kabar keselamatan dari gereja sejati. Benarlah bahwa Tuhan menggunakan cara-cara berbeda untuk menyatakan kemuliaan surgawi-Nya.

Sekalipun Elliot sudah pergi, Tuhan telah menguatkan iman saya lebih dari sebelumnya. Setelah kepergian Elliot, Tuhan menuntun saya pada ayat ini:

Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku,
Di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu.
Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus
Dan memuji nama-Mu,
Oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu;
Sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.
Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku,
Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.

(Mzm. 138:1-3)

Sekarang, saya lebih menyukai firman-Nya dan berdoa dengan lebih berkekuatan. Roh Kudus terus-menerus menggerakkan saya, dan saya mampu menguatkan para kerabat dan sahabat pada saat pemakaman dan juga terbang ke gereja New Jersey untuk menyampaikan kesaksian.

Pada 26 Desember 2002, seorang pramugara melihat saya sedang membaca Kitab Ayub selama penerbangan. Dia menanyai saya, "Apakah Anda membaca Alkitab Mandarin?" dan saya menjawab, "Ya." Saya menggunakan kesempatan itu untuk memperkenalkan dia pada Roh Kudus dan saya juga memberinya alamat situs gereja kita.

Sebelum Elliot pulang ke rumah surgawinya, ia menulis sebuah puisi untuk sahabat karibnya di gereja yang mengungkapkan harapannya:


Aku ingin pulang ke rumah
Tempat tiada kekuatiran
Di sana tak ada mimpi
Sebab kau tinggal di dalamnya
Rumah itu bukanlah bangunan
Tapi tempat yang penuh kedamaian
tempat yang penuh pujian
Tempat yang memberikan hati yang selalu puas...
tempat yang rasanya sudah kukenal selamanya
Tempat yang hampir kulihat, hampir kusentuh, hampir kurasakan...
Tempat ini punya kebahagiaan yang tak berkesudahan
Kasih yang tidak berkesudahan
Di sana tak pernah ada harapan
Kau tak perlu berharap
Tempat di mana kau tak perlu iman,
sebab kita akhirnya dapat melihat, akhirnya setelah seluruh hidup kita, kita dapat melihat Tuhan kita
Tuhan yang kita percayai dengan iman dalam hidup kita.


DI UJUNG PELANGI
Pada bulan Mei 2002, sewaktu kami bersiap-siap pindah dari New Jersey ke California, saya melihat dua pelangi indah bersinar di langit seusai hujan. Keesokan harinya, saya berkata pada Joshua, putra sulung saya, betapa ajaibnya semua itu, dan kidung "Surga Datang" memenuhi hati saya.

Surga datang, mulia penuhiku.
Di kayu salib, Yesus ubahku.
Dosaku dihapus, malam pun jadi siang.
Surga datang, mulia penuhiku.


Setelah membaca liriknya, saya merasakan Tuhan menghibur saya melalui kidung ini. Saya meminta Tuhan membantu memimpin saya memahami pengajaran dan kehendak-Nya.

Hari-hari di minggu pemakaman diselimuti oleh hujan lebat. Tetapi setelah kebaktian Sabat, di hari sebelum pemakaman, kami melihat lagi pelangi indah lainnya. Hari berikutnya, sewaktu membuka pintu untuk meninggalkan rumah pagi itu, kami disapa oleh langit jernih nan cerah. Sekarang, kenangan saya tentang hari pemakaman Elliot akan selalu merupakan hari yang mulia.

Inilah jaminan dan penghiburan yang saya butuhkan, bahwa Tuhan sudah mempersiapkan segalanya bagi kita dengan indah. Seolah-olah Tuhan meneguhkan kembali pada saya bahwa kehendak-Nya ada dalam hidup saya dan kemuliaan-Nya akan selalu memenuhi jiwa saya. Setelah itu, sewaktu menemukan jurnal on-line Elliot, saya menyadari bahwa misteri pelangi adalah hal yang sama-sama kami alami:


Jumat, 6 September 2002

Cobaan harus dilalui, rintangan harus diselesaikan. Pertandingan harus dimenangkan... Suatu hari, aku akan menemui-Mu di ujung pelangi.


Ya, setelah kita memenangkan pertandingan yang baik, menyelesaikan pertandingan, dan memelihara iman, kita bukan hanya akan menemui-Nya di ujung pelangi tetapi juga akan menikmati kemuliaan surgawi bersama semua orang kudus. Haleluya, Amin.

Jean Yeh - San Jose, California, USA

Manna 40: God's Loving Anger