Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Dijaga oleh Doa  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Dijaga oleh Doa

Iman yang tidak bertumbuh
Kedua orangtua saya dibaptis ketika saya masih kecil. Mereka dibaptis karena dibawa ke gereja oleh tetangga kami. Setelah dibaptis, iman Mama bertumbuh dan bertahan. Setiap Sabat Mama rajin datang ke gereja, tetapi Papa imannya tidak bertumbuh, sehingga ia hampir tidak pernah berkebaktian.

Suatu ketika Papa sakit kencing batu, dan harus dioperasi. Kemudian jemaat gereja bersama-sama mendoakannya agar sembuh. Dan Tuhan yang sangat murah hati, mendengarkan doa kami. Sebelum dioperasi, Papa buang air kecil, dan saat itu batunya keluar, sehingga ia tidak jadi dioperasi. Akan tetapi mujizat ini tidak berhasil membuat iman Papa tumbuh. Ia tetap tidak datang berkebaktian. Berkali-kali kami mengajaknya berkebaktian, tetapi ia tetap tidak mau, dengan berbagai alasan. Akhirnya yang dapat kami lakukan adalah berdoa agar Tuhan membuat Papa mau datang berkebaktian.

Bertahun-tahun berlalu, doa yang diucapkan tetap sama, yaitu agar Papa mau datang berkebaktian. Doa yang sekian lama diucapkan itu akhirnya menjadi hafal di luar kepala, sehingga ketika saya berdoa, ucapan itu terlontar begitu saja, tanpa dipikir lagi. Tetapi yang terjadi adalah, bukan saja Papa tidak mau berkebaktian, sebaliknya ia memarahi kami jika pergi ke gereja. Berbagai perkataan yang keras diucapkannya jika kami pulang dari gereja. Lama kelamaan kami menjadi takut pulang, apalagi jika kebetulan di gereja sedang ada banyak kegiatan, yang membuat kami harus pulang lebih telat dari biasanya.

Lalu pokok doa pun kami tambah. Selain mendoakan Papa agar mau datang ke gereja, kami juga berdoa agar Papa tidak melarang kami ke gereja. Herannya kami masih berani mengajaknya datang ke gereja setiap kali ada Kebaktian Kebangunan Rohani, untuk memohon Roh Kudus. Tetapi Papa selalu menjawab, “Kamu orang saja yang pergi.” Kembali lagi tahun-tahun berjalan. Keadaan bukan semakin baik, sebaliknya jadi semakin parah. Sering kali terjadi pertengkaran antara Mama dan Papa, dan gereja yang tidak ada hubungannya, ikut terbawa-bawa.

Terkena stroke
Suatu kali kepala Papa sakit luar biasa, sehingga kami semua panik, karena selama ini Papa jarang sakit. Lalu kami semua mendoakannya agar sembuh dan membawanya pergi ke dokter. Tidak lama kemudian, sakit kepalanya sembuh, tetapi dokter berpesan agar Papa berhati-hati, karena bila terserang lagi, akan mengakibatkan penyakit yang lebih parah. Sebenarnya Tuhan berbaik hati kepada Papa saya, dengan memberikan kesempatan untuk bertobat dan menjaga kesehatannya. Tetapi kesembuhan ini pun tidak membuat Papa pergi ke gereja.

Kembali lagi tahun-tahun berjalan dengan berbagai pertengkaran mengenai ibadah Sabat. Setiap Sabat, kami ingin pergi ke gereja, sedangkan Papa ingin agar kami mengurus usahanya. Sampai pada suatu hari, karena tidak memperhatikan nasihat dokter, Papa terkena stroke. Kami semua bingung karena saat itu stroke masih jarang terdengar. Kami membawanya ke rumah sakit. Saudara seiman datang menjenguk, sambil berdoa agar Papa cepat sembuh. Tetapi kali ini, doa kami tidak segera dijawab seperti sebelumnya. Sebulan berlalu, Papa masih juga dirawat di rumah sakit. Kami sekeluarga bertanya-tanya, sampai kapan Papa akan dirawat di rumah sakit. Kami dan saudara seiman tidak henti-hentinya mendoakan Papa. Dua bulan berlalu, masih belum ada kabar kapan Papa boleh pulang. Dokter hanya berkata jika Papa pulang, makan dan minumnya harus melalui selang dari hidung. Kami bingung dan berdoa kepada Tuhan. Kali ini Tuhan langsung menjawab doa kami. Secara mendadak Papa melepaskan selang yang ada di hidungnya dan fisioterapis memerintahkan suster untuk memberi Papa makan. Dan Puji Tuhan, Papa dapat makan secara normal, lewat mulut, dan ia segera diperbolehkan pulang.

Karena penyakit stroke yang dideritanya, Papa mengalami kelumpuhan kaki dan tangan kanan. Ia juga tidak dapat berbicara lagi. Hal ini sangat menyiksa dirinya yang biasa aktif. Bahkan ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya, sehingga banyak terdapat luka di kaki, tangan, dan badannya. Tubuh manusia jika diam terus di atas ranjang, akan mengalami iritasi yang lama kelamaan menjadi lecet dan akhirnya luka. Jika hal ini terus berlangsung, maka lukanya akan semakin dalam dan membentuk lubang.

Setelah melalui begitu banyak penderitaan, akhirnya tubuh Papa mulai dapat bergerak sedikit-sedikit. Melihat kemajuan yang dicapainya, mulanya Papa masih bersemangat untuk memulihkan kelumpuhan yang dideritanya agar sembuh total. Fisioterapis secara rutin datang untuk membantu memulihkan kaki dan tangan Papa. Keadaan Papa sedikit membaik. Ia dapat bangun, berdiri bahkan berjalan dengan menggunakan kaki dan tangan kirinya, tetapi yang sebelah kanan tetap tidak dapat digerakkan. Dokter akupunktur pun secara rutin memberikan terapi kepada Papa. Tetapi setelah bertahun-tahun berusaha, keadaan Papa tidak ada kemajuan lagi. Hal ini membuat Papa akhirnya menyerah, dan tidak mau berobat lagi. Sementara itu kami terus mendoakannya agar tubuhnya pulih kembali, sambil mengajaknya berdoa memohon kesembuhan, dan juga membujuknya untuk datang ke gereja. Sampai saat ini pun Papa masih tidak mau datang ke gereja. Memang sulit dengan tubuh seperti itu untuk datang ke gereja, apalagi aula letaknya di lantai dua.

Setahun dua tahun kemudian, Papa sakit lagi. Badannya panas. Dan karena ia tidak dapat berbicara, kami tidak tahu apa keluhannya. Kami membawanya ke dokter, dan Papa dinyatakan sakit infeksi paru-paru, dan harus menjalani pengobatan di rumah sakit selama satu sampai dua minggu, setelah itu harus minum obat minimal enam bulan. Sejak saat itu, pokok doa kami bertambah, yaitu agar Papa jangan sakit-sakitan, dan memohon kepada Tuhan agar stroke-nya jangan kambuh lagi, karena kalau sampai terserang lagi, dapat membahayakan hidupnya. Kadang-kadang kami masih membujuknya untuk datang ke gereja, dan sesekali mengajaknya berdoa bersama. Sampai saat ini pun Papa masih belum mau datang ke gereja.

Iman mulai bertumbuh
Kemudian saya menikah dan tinggal bersama orangtua. Belum lagi setahun, istri saya diketahui mengidap penyakit kanker usus. Papa saya yang mengetahui hal ini, hanya bisa sedih dan menggelengkan kepalanya. Sepuluh bulan di akhir hidupnya, istri saya selalu menangis dan berteriak kesakitan. Setiap malam Papa mendengar tangisan istri saya. Setiap kali melihat istri saya yang semakin kurus, Papa saya hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Suatu kali saya mengundang pendeta dan jemaat untuk datang berkebaktian di rumah. Pada kesempatan itu, Papa ikut berkebaktian di rumah. Dan saya meminta kepada mereka agar kebaktian ini dilakukan secara rutin seminggu sekali. Mereka setuju, dan akhirnya Papa saya ikut berkebaktian di rumah. Selain mendoakan istri saya, pendeta juga mendoakan Papa.

Rupanya Tuhan mulai mendengarkan dan mengabulkan doa kami. Setelah sekian tahun kami berdoa, Papa mulai senang berkebaktian. Setiap kali ada kebaktian, Papa selalu keluar kamar untuk ikut berkebaktian. Setelah kebaktian, ia masuk kamar kembali. Sekian bulan kemudian, sakit istri saya semakin parah dan Papa semakin prihatin melihatnya. Akhirnya di bulan November 2002, istri saya meninggal, dan Papa memaksakan diri untuk ikut datang ke rumah duka. Dari sikap dan raut wajahnya, kami menduga Papa telah sadar, bahwa hidup manusia penuh dengan penderitaan dan berlalunya terburu-buru.

Saat itu kami tidak menyia-nyiakan kesempatan dan segera mengajak Papa datang ke gereja. Kami berkata kepada Papa, “Papa tidak usah sedih, dia sudah meninggal, tetapi ia sekarang senang karena telah berada di Surga. Sedangkan Papa belum tentu masuk Surga. Jadi yang harus disedihkan adalah diri Papa sendiri yang belum tentu masuk Surga.” Mendengar itu Papa setuju untuk datang ke gereja berkebaktian Sabat.

Mula-mula kami membawa Papa ke gereja Samanhudi, karena di sana ada ruang serba guna di lantai satu yang dipakai untuk kebaktian Sabat pagi, sehingga tidak perlu naik tangga. Karena Papa tidak dapat berjalan, maka kami menggunakan kursi roda. Tetapi di sana ramai sekali, sehingga bulan berikutnya, kami membawa Papa ke gereja Sunter, meskipun di sana kami harus menggotongnya untuk naik ke lantai dua.

Dijaga oleh doa
Tahun pertama kebaktian Sabat pagi di Sunter dimulai pukul 7.00. Walaupun pagi hari, Papa rajin ikut berkebaktian. Pagi-pagi Papa harus bangun dan mandi untuk pergi ke gereja. Melihat hal ini, saya mulai tidak mendoakan Papa lagi untuk mau datang ke gereja, karena saya berpikir, Papa telah bulat tekadnya untuk rajin datang ke gereja, dan Tuhan telah mengabulkan doa kami. Jadi untuk apa saya mendoakannya lagi? Tetapi di saat lengah itu, Iblis datang mengganggu. Suatu kali Papa sakit flu. Ia tidak mau datang ke gereja, dan kami pun tidak memaksanya. Kami berpikir nanti setelah sembuh, Papa akan kami ajak kembali. Tetapi yang terjadi adalah, Papa tidak mau datang ke gereja lagi, meskipun ia telah sembuh. Melihat hal ini, saya seperti tersadar akan pentingnya doa, dan mulai mendoakannya kembali agar ia mau datang ke gereja lagi.

Puji Tuhan, Ia segera menjawab doa saya, dan Papa mau rajin datang ke gereja kembali. Kali ini saya tidak mau ambil risiko. Setiap hari saya mendoakan Papa agar datang ke gereja terus. Saya bertekad untuk mendoakan Papa sampai akhir hidupnya. Saya tidak ingin kecolongan lagi.

Perjamuan Kudus terakhir
Selama ini Papa tidak pernah makan Perjamuan Kudus lagi. Sejak dibaptis, ia hanya sekali makan Perjamuan Kudus, setelah itu, entah kapan terakhir kali ia makan Perjamuan Kudus. Tetapi hal yang baik terjadi. Sejak bulan Maret 2005, di Sunter diadakan Perjamuan Kudus pagi hari untuk pertama kalinya. Selama ini Perjamuan Kudus hanya diadakan di Sabat siang. Dan hari itu Papa pun menerima Perjamuan Kudus, setelah sekian puluh tahun tidak menerimanya.

Tanggal 12 April 2005, Papa meninggal di rumah sakit. Setelah delapan tahun menderita dengan berbagai kesulitan, kesakitan, dan kelemahan, akhirnya Papa dipanggil Tuhan. Delapan tahun adalah waktu yang panjang bagi orang yang menderita lumpuh. Hidupnya hanya di kursi roda dan di ranjang. Tetapi kami bersyukur pada Tuhan, karena Ia memberikan kesempatan kepada Papa untuk datang ke gereja sebelum ia meninggal, dan diberi kesempatan untuk mengikuti Perjamuan Kudus pula. Bisa saja Papa meninggal saat ia sakit stroke, atau sakit paru-paru, atau sakit yang lainnya. Tetapi Tuhan sangat bermurah hati kepada Papa. Ia tidak memanggil Papa ketika ia dalam keadaan tidak siap. Tuhan memberikan kesempatan yang indah yang mungkin tidak dapat diperoleh oleh orang lain. Kesempatan telah begitu banyak dilewatkan, tetapi Tuhan masih memberikan kesempatan terakhir kepada Papa.

Pentingnya doa
Berkat doa, Papa mau datang ke gereja. Berkat doa, Papa dijaga agar tekun berkebaktian. Hal ini membuat saya sadar akan pentingnya doa, dan teringat sebuah perikop tentang berjaga-jaga.

Matius 25:1-13: "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Berjagalah dalam doa, janganlah putus asa. Banyak jiwa dapat dimenangkan dengan berdoa. Selain itu dengan berjaga dan berdoa, mata hati kita akan selalu menyala, bagaikan pelita yang berminyak.

Amin

Jokoginta - Sunter, Jakarta, Indonesia

Sumber: Warta Sejati 46