Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Dulu Saya Tegar Tengkuk dan Bodoh  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Dulu Saya Tegar Tengkuk dan Bodoh

Peter Wong – Malacca, Malaysia

 

Dalam nama Tuhan Yesus saya bersaksi. Ayah saya percaya kepada Yesus saat ia berumur tiga puluhan. Dia seorang penjudi, bahkan sesudah dia dibaptis dia tidak berhenti sampai Tuhan mengingatkan dan menggerakan hatinya melalui serangkaian kejadian. Sama seperti ayah saya, saya juga adalah seorang yang tegar tengkuk.

Menolak Panggilan Tuhan

Pada tahun 2008, beberapa pendeta mengusulkan kepada pengurus di gereja tempat saya berkebaktian untuk mengangkat saya menjadi diaken. Saat saya mendengar berita ini, saya terkejut sekali. Saya benar-benar tidak ingin melayani sebagai seorang diaken; saya berpikir bahwa orang dengan karakter seperti saya tidak cocok. Saya menolak usulan tersebut.

Saat beberapa pendeta menegur saya atas penolakan yang saya lakukan, saya merasa saya ada di posisi yang benar dan saya menjadi kesal terhadap mereka. Saya berpikir sudah cukup baik jika saya aktif di gereja tanpa harus menjadi seorang diaken. Saya memiliki karir yang sangat baik, dan saya menikmati kehidupan pribadi dan kehidupan bergereja saya. Terlebih lagi, saya berpikir bahwa ini adalah hidup saya dan gereja tidak mempunyai hak untuk memutuskan apa yang harus saya lakukan. Saya salah. Dari saat kita dibaptis, hidup kita bukan milik kita lagi tetapi sudah ditebus oleh Yesus; hidup kita adalah kepunyaan Tuhan Yesus dan kita adalah anggota tubuh-Nya yaitu Gereja.

Keadaan yang Aneh

Tidak lama berselang, sesuatu terjadi kepada saya. Suatu malam di tahun 2008, jam 3 subuh, saya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa di punggung saya, seperti seseorang baru saja meninju saya dengan sangat keras. Saya bangun dan menyuruh istri saya untuk memijat punggung saya. Tetapi hal itu tidak membantu. Saya berjalan naik turun di tangga rumah saya, mencoba untuk menghilangkan rasa sakit. Tiba-tiba, saya kehilangan semua fungsi motorik dan tidak bisa berdiri. Sebelum saya roboh, saya berteriak memanggil istri saya, “Saya akan jatuh!” Berbaring di lantai ruang tamu, saya hanya mampu menggerakan kepala saya. Bagian tubuh saya yang lain lumpuh. Saya kaget luar biasa tetapi berusaha menenangkan diri saya sendiri. Sesudah istri saya dan saya berdoa bersama selama satu jam, luar biasa, ada perasaan melegakan di leher saya dan tiba-tiba saya dapat bergerak kembali. Jauh di lubuk hati saya, saya merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tetapi saya menekan hati nurani saya untuk berpikir tentang hal itu.

Sesudah kejadian itu, saya menjalani pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) tetapi hasil menunjukkan tidak ada masalah apa pun. Lega rasanya dan saya pun melanjutkan hidup saya seperti biasa. Sesudah satu tahun kemudian yaitu tahun 2009, gejalanya muncul lagi dan saya jatuh sebanyak tiga kali di waktu yang berlainan – dua kali di rumah dan satu kali di gereja. Setiap kali, sesudah saya berdoa, saya sembuh. Jelas sekali Tuhan ingin memberitahukan sesuatu kepada saya. Istri saya bahkan bertanya kepada saya, “Apakah kamu berbuat kesalahan? Apakah kamu perlu bertobat?” Saya berkata, “Tentu saja tidak.” Tetapi jauh di dasar hati saya, rasa takut mulai ada. Saya merasakan Tuhan sedang memberi saya pelajaran, tetapi sekali lagi saya menekan perasaan saya tersebut, saya keras kepala dan bodoh.

Sesudah kejadian-kejadian ini, kami berkonsultasi dengan berbagai dokter. Semua mengatakan tidak ada apa-apa dengan saya. Salah satu dokter ingin merujuk saya ke psikiater, dan dokter lain bahkan meminta saya untuk menemui “orang pintar”. Saya juga berobat ke akupuntur. Saya bahkan hampir mati di klinik. Lima menit sesudah dokter memulai akupuntur dan meninggalkan ruangan, saya kehilangan semua fungsi motorik saya lagi. Lebih lagi, saya hampir tidak bisa bernafas dan saya merasa saya menjadi lumpuh lagi. Hal ini benar-benar menakutkan. Saya gemetaran, dan saya berteriak minta tolong tetapi tidak ada yang datang. Kemudian saya berdoa dan berjuang untuk meraih handphone saya. Puji Tuhan, saya akhirnya dapat menghubungi istri saya, yang langsung lari ke ruang pengobatan dengan dokter.

Mereka terkejut ketika mereka melihat saya. Pada awalnya, saya tidak bisa bergerak tapi setelah sekitar satu jam, saya dapat bergerak kembali dan pulang ke rumah. Dokter pengobatan alternatif mendesak saya untuk segera menemui dokter bedah.

Tetap Keras Kepala

Keesokan paginya, pada tanggal 14 Juni 2009, saya pergi ke rumah sakit dan langsung dirawat. Sepanjang hari itu saya hanya berbaring di tempat tidur, tanpa ada seorang pun datang memeriksa saya. Dokter bedah memeriksa hasil MRI saya, yang telah dilakukan tahun sebelumnya namun tidak ada masalah. Ia berpikir bahwa tidak mungkin terjadi sesuatu kepada saya dalam waktu sesingkat itu.

Namun pada jam 7 malam itu, saya mengalami rasa sakit kembali dan saya menahannya sampai tengah malam. Saya diberi obat penghilang rasa sakit tetapi tidak berhasil. Rasa sakit mencapai titik di mana tubuh saya tidak bisa menanggungnya lagi dan akhirnya saya kejang. Saya mulai kejang-kejang secara mengerikan di tempat tidur. Saya bahkan tidak ingat apa yang terjadi setelah itu, tapi sepertinya saya telah kehilangan semua indera saya. Menurut istri dan adik saya, saya mulai meneriaki orang tanpa beraturan.

Selain dari rasa sakit, seluruh tubuh saya terasa mati rasa dan saya tidak bisa bernapas. Dokter datang dengan beberapa perawat dan mereka menusuk tubuh saya dengan jarum untuk memeriksa indera perasa saya. Saya benar-benar berpikir bahwa saya tidak akan bertahan hidup. Namun, bahkan pada saat menyakitkan seperti itu, saya tetap keras kepala. Orang lain mungkin akan mulai bertobat dan meminta ampun kepada Tuhan, tapi saya tidak. Saya tidak mau berjanji apa-apa kepada Tuhan.

Malam itu, saya melakukan pemeriksaan MRI lagi dan juga melakukan CT scan. Akhirnya dokter menemukan ada pendarahan di belakang leher saya. Saya harus menjalani operasi darurat untuk menyelamatkan nyawa saya. Dokter masih belum dapat memastikan penyebab pendarahan tersebut dan mengatakan kepada saya bahwa operasi ini akan sangat berbahaya. Dia juga mengatakan bahwa walaupun saya selamat dari operasi ini, saya mungkin kehilangan beberapa fungsi motorik saya. Jauh di dalam hati saya, saya tahu bahwa saya tidak akan mati, namun saya mengatakan kepada istri saya bahwa saya mencintainya dengan pemikiran siapa tahu saya tidak bangun lagi.

Keesokan paginya, saya menjalani operasi. Puji Tuhan, saya bangun setelah itu, dan saya sembuh dalam waktu seminggu, walaupun tiga tulang diambil dari belakang leher saya. Saya juga berterima kasih kepada Tuhan bahwa saya tidak memiliki efek samping dari operasi kecuali kehilangan beberapa bagian dari memori saya.

Melayani Tuhan Dimulai dengan Kepatuhan

Setelah kejadian ini, saya mulai berpikir mengapa hal ini terjadi. Saya mulai berdoa kepada Tuhan. Saya tahu bahwa saya tidak patuh dan bahwa seorang diaken yang tidak patuh akan menyebabkan banyak masalah di gereja. Saya berkata kepada Tuhan: "Tuhan, jika Engkau ingin memakai saya, Engkau harus mengubah saya." Kemudian, saya menyadari bahwa Tuhan memang mengubah saya melalui pengalaman ini. Tuhan meninggalkan bekas luka yang sangat dalam di belakang leher saya, yang akan selalu mengingatkan saya untuk tidak tegar tengkuk.

Pada 2013, pengurus gereja lokal sekali lagi membicarakan tentang masalah diaken kepada saya dan kali ini saya menerima panggilan tersebut. Sejak saat itu, pandangan saya tentang pelayanan Tuhan telah berubah secara signifikan. Di masa lalu, saya egois dan saya hanya akan melakukan pelayanan yang saya sukai saja. Namun, saya menyadari bahwa pekerjaan gereja bukanlah hobi; itu adalah pelayanan kita kepada Tuhan. Jadi ketika kita dengan rendah hati melakukan pelayanan yang kita tidak suka, kita melaksanakan kepatuhan dan benar-benar melayani Tuhan.

Setelah pentahbisan saya sebagai diaken, Tuhan terus mengubah saya. Saat ini, saya selalu berdoa kepada Tuhan untuk membentuk, mengubah, dan membantu saya untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak saya sendiri. Kadang-kadang, saya masih memiliki pikiran negatif atau keras kepala. Setiap kali itu terjadi, saya menjangkau dan menyentuh leher saya. Saya benar-benar bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan kedua untuk melayani-Nya menurut kehendak-Nya dan atas pengajaran, pembentukan dan perubahan yang Tuhan lakukan atas saya.

Jika kita tegar tengkuk dan mencoba untuk menantang Tuhan, kita akan merasakan kita kalah perang, karena kita memang tidak akan pernah menang melawan Tuhan. Namun, jika kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, kita akan menemukan kedamaian dan sukacita dalam pelayanan kita kepada-Nya.

Segala kemuliaan bagi  nama Tuhan Yesus yang terkasih. Amin.