Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Kedamaian di Dalam Tuhan  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Kedamaian di Dalam Tuhan

Haleluya! Dalam nama Tuhan Yesus saya bersaksi. Saya adalah anggota Gereja Yesus Sejati Toronto, Kanada. Pada tahun 1993, ketika saya masih tinggal di Taiwan, saya menjalani operasi untuk mengangkat tumor ganas pada lambung saya (Gastric Lymphoma). Pada awalnya, dokter menyarankan agar seluruh bagian lambung saya diangkat dan setelah operasi saya harus menjalani kemoterapi. Tetapi akhirnya dokter hanya mengangkat 80% lambung saya. Dan herannya, saya tidak perlu menjalani kemoterapi setelah operasi tersebut karena tumor tersebut termasuk tumor jinak (tidak berbahaya). Puji Tuhan, para dokter menyatakan bahwa saya sehat. Setahun kemudian saya kembali memeriksakan diri dan hasilnya sangat baik. Kira-kira pada saat itulah saya memutuskan untuk beremigrasi ke Kanada.

KEPUTUSAN YANG SULIT
Pada bulan Februari 1998, penyakit pada lambung saya kambuh, dan saya dilarikan ke rumah sakit. Kali ini kondisi saya jauh lebih serius. Cukup lama saya tidak bisa makan karena tumor tersebut memenuhi sebagian besar lambung saya. Saya mengeluarkan banyak darah dan kehilangan banyak berat badan. Badan saya tinggal tulang dan kulit saja. Ketika saudara-saudari seiman datang menjenguk, mereka tidak bisa menahan air mata, karena saya kelihatan seperti orang yang hampir mati.

Para dokter merekomendasikan agar saya tidak menjalani operasi karena kondisi tubuh saya terlalu lemah. Resikonya terlalu tinggi untuk menjalani operasi tersebut. Mereka menganjurkan agar saya langsung menjalani kemoterapi. Akan tetapi saya juga terlalu lemah untuk dapat segera menjalani kemoterapi.

Setelah mengamati laporan kesehatan saya, ada seorang ahli bedah yang yakin bahwa ia dapat mengoperasi tumor saya, meskipun dokter-dokter yang lain tidak menyetujuinya. Pada awalnya, saya dan keluarga menolak karena operasi tersebut terlalu berbahaya, dan saya sendiri sangat takut untuk menjalani operasi sekali lagi. Tetapi setelah berdoa bersama, kami memutuskan untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan dan menerima saran ahli bedah tersebut. Kami percaya bahwa tangan dokter tersebut ada di bawah kuasa Tuhan, begitu pula dengan hidup manusia.

Operasi pembedahan dijadwalkan 2 minggu kemudian, yaitu pada tanggal 16 Maret 1998. Tetapi saya pikir saya tidak akan dapat bertahan selama itu karena kondisi tubuh saya kian memburuk.

SUATU KESADARAN BARU
Pada suatu malam yang bersalju, pemandangan di luar jendela kamar rumah sakit sangat indah. Saat itu saya masih dapat berjalan, jadi saya berjalan dengan istri saya ke tempat parkir. Istri saya memerlukan waktu untuk beristirahat setelah demikian lama menemani saya di rumah sakit. Sebelum dia pulang, saya memeluknya erat-erat, mengira kami tidak akan punya kesempatan untuk bersama-sama lagi. Ini adalah salah satu momen paling indah yang pernah kami miliki. Bagaimana mungkin saya tidak pernah menyadari atau menghargai saat-saat seperti itu sebelumnya? Kita seringkali tidak melihat kebahagiaan yang sebenarnya ada di sekitar kita, dan baru menyadarinya setelah hampir kehilangan kebahagiaan itu.

PENYERTAAN TUHAN DALAM PENCOBAAN
Masa-masa menjelang operasi merupakan saat yang paling genting dan berat, karena saya sedang sekarat. Adakalanya saya bahkan kehilangan kesadaran. Tetapi selama masa itu, banyak saudara-saudari seiman mengalami pengalaman yang indah saat mereka berdoa. Berkali-kali istri saya begitu digerakkan oleh Roh Kudus dalam doa dan dipenuhi sukacita yang luar biasa. Ia tidak dapat mengerti mengapa ia merasa demikian sukacita padahal saya sedang mengalami kesakitan yang luar biasa dan hampir meninggal. Ini adalah penghiburan dari Roh Kudus.

Saudara-saudari seiman di tempat yang jauh juga digerakkan oleh Roh Kudus dalam doa mereka. Bahkan, dengan tulus mereka mengatakan kepada istri saya bahwa saya akan sembuh. Ini adalah rahasia dari Roh Kudus.

Di malam yang saya rasa adalah saat yang paling genting, saya sudah menyelesaikan surat wasiat saya. Saya muntah darah dalam jumlah yang cukup banyak, dan berpikir bahwa Tuhan akan memanggil saya kembali. Istri saya memutuskan untuk menemani saya di rumah sakit. Sampai pukul 5 pagi istri saya masih belum bisa tidur. Tiba-tiba ia mendengar suara doa dari tempat tidur saya. Itu adalah doa dalam bahasa Roh—keras, jelas, dan penuh kekuatan. Mendengar suara doa itu, dia merasa tenang dan dalam sekejap jatuh tertidur. Ia berpikir bahwa orang yang dapat berdoa seperti itu pasti baik-baik saja. Saya benar-benar tidak ingat bahwa saya berdoa pada malam itu. Sekali lagi, saya percaya bahwa ini adalah penghiburan yang diberikan oleh Roh Kudus.

Saya sendiri juga merasakan kekuatan Roh Kudus yang luar biasa melalui doa. Saya berusaha sekuat tenaga untuk melupakan rasa sakit yang dialami oleh tubuh dan mental saya dan berkonsentrasi dalam doa. Saya berusaha melewati masa-masa itu dengan berdoa kepada Tuhan dan menyerahkan segalanya kepada-Nya—tetapi saya tidak bisa. Saya berada dalam kesukaran yang sangat besar. Segala hal menghalangi saya untuk berkonsentrasi, dan banyak pikiran buruk melintas dalam benak saya. Itu adalah masa yang luar biasa sulit untuk dilalui.

Tapi sungguh menakjubkan, setelah saya sepenuhnya menyerahkan hati saya kepada Tuhan, hati saya menjadi bertambah tenang. Roh Kudus turut campur tangan dan kedamaian dari Tuhan memenuhi hati saya. Saya tidak perlu lagi memikirkan bagaimana harus berdoa dan apa yang harus saya katakan kepada Tuhan; saya hanya perlu berkata, "Haleluya! Puji Tuhan!" dan tidak memikirkan apa pun lagi. "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan" (Roma 8:26).

JALAN DI TENGAH RIMBA
Puji Tuhan, saya bisa bertahan hingga hari operasi yang dijadwalkan. Beberapa hari menjelang operasi, saya menjadi orang yang sangat pemarah dan pemurung, tapi pada hari H tersebut, ada perubahan yang amat besar dalam diri saya. Saya menjadi ramah dan lemah lembut, dan menurut istri saya, wajah saya terlihat seperti malaikat. Ketika saya didorong menuju ruang operasi, dia melihat saya melambaikan tangan kepadanya dengan penuh kedamaian, seraya berkata, "Damai sejahtera menyertaimu", seolah-olah kami sedang mengucapkan selamat jalan kami yang biasa. Pada saat itu saya tidak merasakan sesuatu yang luar biasa, hanya merasa bahwa itu adalah sesuatu yang perlu saya lakukan. Saya juga tidak memikirkan apakah saya bisa keluar dari ruang operasi dengan selamat atau tidak.

Sekitar jam 10 pagi, dengan keringat bercucuran, dokter yang mengoperasi saya keluar dari ruang operasi. Dengan gelisah, ia memberitahu istri saya bahwa saya dalam kondisi yang sangat kritis dan situasinya sama sekali di luar dugaannya. Tumornya cukup besar dan sudah membengkak sampai mengenai hati. Jika ia mencoba untuk mengangkatnya, hati saya bisa terluka dan kemungkinan saya akan mati. Tetapi jika dia tidak mengangkat tumor saya dan hanya menjahit kembali bekas operasi, saya hanya bisa bertahan hidup paling lama 2-3 hari.

Dokter tersebut telah kehilangan kepercayaan diri untuk melanjutkan operasi tersebut, jadi dia keluar untuk berunding dengan istri saya apakah sebaiknya dilanjutkan atau tidak. Puji syukur atas berkat Tuhan, Ia memberikan keyakinan kepada istri saya untuk berkata, "Lakukan apa yang dapat Anda lakukan, dan kami akan berdoa dan menyerahkan selebihnya kepada Tuhan kami." Kemudian dokter tersebut kembali ke ruang operasi.

Selama operasi berlangsung, keluarga saya terus berdoa dan menyanyikan pujian untuk melewatkan masa paling kritis tersebut. Seorang pendeta dan saudara dari gereja Toronto secara tak terduga datang, dan mereka memberikan banyak dorongan moral. Operasi berlangsung sampai pukul 4 sore. Dokter keluar dari ruang operasi dan berkata kepada istri saya, "Tuhan Anda telah menyelamatkannya!" Dia menggambarkan proses operasi tersebut sebagai "mencari jalan di tengah rimba". Dia tidak tahu bagaimana dia bisa menyelesaikannya, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa operasi tersebut berhasil.

PENYERTAAN TUHAN YANG TIDAK HENTI-HENTINYA
Dokter sudah membuang seluruh lambung dan limpa saya, juga sebagian pankreas dan usus. Seluruh sistem pencernaan saya disusun ulang. Meskipun demikian, puji Tuhan, pemulihan saya berlangsung lancar dan cepat. Secara bertahap, saya dapat makan dan menyerap nutrisi dengan baik. Setelah operasi, saya menjalani 6 sesi kemoterapi dalam 6 bulan. Itu juga lancar-lancar saja.

Ketika meninggalkan rumah sakit pada bulan April, berat badan saya hanya 99 pounds (45 kg). Ahli gizi di rumah sakit tersebut mengatakan bahwa meskipun berat badan saya bisa bertambah, sepertinya saya tidak mungkin dapat mencapai 132 pounds (60 kg) karena saya tidak lagi memiliki lambung. Tetapi puji Tuhan, hanya 3 bulan kemudian, berat badan saya sudah menjadi 136 pounds (62 kg) dan tetap stabil sejak itu. Sekarang saya masih pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin, tetapi tidak lagi menjalani pengobatan. Segalanya sudah kembali normal.

Ketika saya pulang ke Taiwan pada bulan Februari 1999, saya menjenguk kakak ipar saya dan seorang saudari seiman yang berprofesi sebagai ahli anestesi. Mereka memberitahu saya bahwa ada konsep di kalangan ahli bedah yang dikenal sebagai "buka dan tutup". Jika seorang dokter menyadari bahwa situasinya sudah di luar kendalinya dan kemungkinan operasi tersebut akan berhasil sangat kecil, dia tidak perlu melanjutkan operasi tersebut. Dia dapat menjahit kembali irisan di tubuh pasien tanpa harus berkonsultasi terlebih dulu dengan keluarga pasien ataupun mengambil resiko dengan melanjutkan operasi tersebut. Dokter yang mengoperasi saya bisa saja melakukan hal seperti itu, dan saya yakin keluarga saya tidak akan menyalahkannya. Tetapi dia tidak berbuat demikian. Saya yakin ini adalah penyertaan Tuhan. Melalui tangan ahli bedah tersebut, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya.

DAMAI MELAMPAUI SEGALA AKAL
Saya seringkali memikirkan betapa seringnya mujizat seperti ini terjadi di gereja kita. Mungkin bagi Tuhan hal ini bukanlah hal yang luar biasa. Tuhan Yesus dapat membangkitkan orang mati; jadi apa susahnya menyembuhkan penyakit jasmani? Tapi bagi manusia, ini adalah berkat yang sangat besar yang melampaui kemampuan dan pemikiran manusia.

Namun demikian, berkat terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita bukanlah penyembuhan tubuh jasmani ataupun berkat materi. Tak perduli bagaimana pun sehatnya tubuh kita, suatu hari kita pasti mati. Ini adalah keterbatasan tubuh jasmani. Akan tetapi, berkat terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita adalah damai sejahtera dalam hati kita dan pengharapan akan hidup yang kekal. Inilah hal yang sungguh-sungguh nyata. Jika kita menggunakan kesempatan dalam hidup kita yang singkat dan tak menentu ini untuk mencari kedamaian yang sejati dan kehidupan yang kekal, maka hidup kita akan sangat berharga dan berarti.

Bagaimanakah cara Tuhan membuat kita menyadari nilai dan arti kedua hal tersebut? Melalui kedamaian rohani. Ketika Yesus dilahirkan, malaikat dan sejumlah besar balatentara surga datang, memuliakan Tuhan serta berkata, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Luk. 2:14).

Kedatangan Kristus ke dalam dunia adalah hal paling mulia bagi Tuhan; dan hadiah paling berharga yang Dia berikan kepada umat manusia adalah damai. Kedamaian sejati hanya ada di dalam Yesus Kristus. Itulah sebabnya Yesus berkata, "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu" (Yoh. 14:27). Kedamaian sejati dari Tuhan bukanlah berasal dari dunia ini, ia melampaui segala yang ada di dunia ini. "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus" (Flp. 4:7).

Manusia diselamatkan oleh iman, bukan karena mujizat. Dengan alasan itulah, setiap kali menyembuhkan seseorang, Yesus selalu berkata, "Imanmu telah menyelematkan engkau." Sekarang saya sudah disembuhkan. Tuhan sudah menyatakan mujizat yang amat besar kepada saya. Tetapi mujizat yang sesungguhnya bukan terjadi selama operasi atau sesudahnya. Bagi saya, itu terjadi tepat sebelum operasi, ketika hati saya dipenuhi oleh damai sejahtera dari Tuhan dan saya tidak lagi menguatirkan apa yang akan terjadi pada diri saya–itulah mujizat saya.

Ketika Paulus dan Silas dipenjara (Kis. 16:16-40), mujizat yang sebenarnya terjadi bukan pada saat pintu-pintu penjara terbuka dan rantai yang membelenggu tangan mereka lepas. Melainkan terjadi pada saat mereka berdoa dan menyanyikan pujian kepada Tuhan, dan juga pada saat mereka punya kesempatan untuk melarikan diri tapi tidak mereka gunakan, sehingga seluruh anggota keluarga kepala penjara dapat menerima keselamatan.

Pada saat-saat seperti itu, kedamaian dan kebebasan dari Tuhan memberi mereka kekuatan rohani untuk mengalahkan semua kelemahan tubuh jasmani mereka, sehingga mereka tidak lagi terjerat oleh apa pun juga.

"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibr. 11:1). Segala kemuliaan hanya bagi nama Tuhan Yesus. Amin.

Fritz Chen - Toronto, Kanada
Sumber: Manna 32 / Warta Sejati 39
untuk menyimpannya ke dalam media penyimpan, klik-kanan pada link di atas, dan pilih "save link as" (pada Mozilla Firefox) atau "save target as" (pada Microsoft Internet Explorer).