Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Kesembuhan Yang Seutuhnya  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Kesembuhan Yang Seutuhnya

Dalam nama Tuhan Yesus, saya bersaksi.

Pada tanggal 15 Januari 2008 saya melahirkan bayi laki-laki yang sehat, gemuk, dan lucu dengan berat 3350 gr dan panjang 50 cm melalui proses normal dan lancar di Bandung. Kami sangat senang atas berkat yang Tuhan berikan ini: menjadi orangtua baru. Melalui proses pencarian nama yang panjang sebelum melahirkan, bayi ini kami beri nama Joshua Tanfelicio. Hari demi hari berlalu, bayi kami tumbuh normal, sehat, dan jarang sekali sakit ataupun rewel.

Suatu hari di minggu terakhir bulan Agustus, Joshua sulit tidur dan tidak dapat tidur nyenyak, selalu ingin digendong agar bisa tidur. Dia akan terbangun jika ditidurkan di ranjangnya. Siang harinya ia tak punya nafsu makan, hanya mau minum ASI. Kami kira dia sakit perut, hanya saja nafasnya agak cepat, tidak seperti biasanya. Kondisi ini berlanjut sekitar 2-3 malam. Saya memberinya jamu untuk bayi, namun keadaannya tidak membaik. Lalu kami pun membawanya ke dokter anak di kota kami, Cianjur.

Dokter pertama mendiagnosa Joshua terkena radang paru sehingga harus dirawat karena ada lendir di dalam paru-parunya yang tidak bisa keluar, serta perlu diinfus. Untuk meyakinkan diri, kami membawanya ke dokter kedua. Dokter kedua ini mendengarkan keluhan kami, memeriksa, dan menganjurkan untuk rontgen paru-paru keesokan harinya. Sepulang dari dokter, tidurnya agak membaik dan tidak terlalu rewel.

Esoknya, melihat hasil rontgen, dokter mengatakan ada tumor di sebelah jantung Joshua. Karena itu dokter memberikan rujukan untuk menemui dokter spesialis tumor anak di rumah sakit besar di Bandung dan menganjurkan melakukan CT-Scan agar lebih jelas terlihat di mana letak tumor tersebut sebelum dioperasi.

Pada hari itu juga kami berangkat ke Bandung dan melakukan semua saran dokter. CT-Scan yang biasanya baru bisa dilakukan setelah membuat janji 2-3 hari sebelumnya, puji Tuhan dapat dilakukan dan hasilnya diperoleh saat itu juga.

Dari hasil CT-Scan, kepala laboratorium memastikan bahwa bukan tumor yang terdapat di dalam tubuh anak kami, melainkan jantungnya yang membesar. Beliau kemudian membantu kami memeriksa ulang dengan USG tanpa biaya tambahan untuk memastikan bahwa itu memang jantung yang bengkak.

Dari situ kami dirujuk ke dr. Sri, satu-satunya dokter spesialis jantung anak di daerah Jawa Barat. Kami menemui dr. Sri sore itu juga. Opini dr. Sri ialah melakukan diagnosa ulang dengan ECHO (USG jantung) di laboratorium khusus, dengan tujuan melihat di mana kesalahan daya kerja jantung sampai mengalami pembengkakan. Kami diberitahu kemungkinan-kemungkinan terburuknya jika harus dioperasi, yang bisa lebih dari sekali, dengan biaya 20 sampai 500 juta rupiah.

Berharap ada kesalahan diagnosa, kami mengunjungi satu dokter anak lagi. Melihat hasil rontgen dan CT-Scan, dokter ini memberikan jawaban yang sama bahwa kami harus menjalani ECHO dengan dr. Sri untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kami pulang dengan menyimpan harapan agar Joshua yang masih kecil ini tidak perlu dioperasi karena kami tidak tega; semoga Joshua bisa sembuh dengan obat saja.

Keesokan harinya, tanggal 29 Agustus 2008, seusai 15 menit ECHO, dr. Sri menyampaikan temuannya kepada kami. Dalam bahasa kedokteran, Joshua menderita cardiomiopati dilatasi dengan keefektifan 23% (normalnya 60-70%), yang artinya otot jantungnya sudah lemah/longgar sehingga bengkak dan daya kerjanya jadi lebih keras yang membuat nafasnya agak cepat dan lebih cepat lelah.

Keadaan ini bukan seperti jantung bocor atau katup jantung tidak otomatis yang bisa dioperasi atau diberi alat. Teknologi dan pengetahuan dokter di Indonesia sampai saat ini tidak memungkinkan otot jantung diganti oleh sesuatu yang baru agar dapat bekerja normal. Pencangkokan jantung baru bisa dilakukan di luar negeri. Jadi dr. Sri hanya memberikan dua macam obat puyer yang harus diminum setiap hari. Dokter Sri mengira saya dan suami punya pertalian darah, karena ada banyak kasus di daerah Tasikmalaya yang serupa dengan keadaan Joshua. Setelah tahu bahwa bukan demikian keadaannya, kami dianjurkan menemui dr. Poppy di RS Jantung Harapan Kita di Jakarta.

Tanggal 30 Agustus 2008 kami berangkat ke Jakarta. Melihat hasil ECHO dan mendengar cerita kami bahwa Joshua sudah bisa tidur agak nyenyak, dr. Poppy berpendapat kelainan jantung ini kemungkinan bukan bawaan, ditandai oleh fisik anak kami yang gemuk. Joshua pun menjalani tes darah, dan hasilnya dapat diperoleh minggu depan sambil menjalani ECHO bersama dr. Poppy.

Kami pulang dengan harapan besar mendapatkan jawaban yang lebih baik minggu depan. Banyak pergumulan, air mata, dan pertanyaan dari diri saya, mengapa ini terjadi pada bayi kami? Yesus yang berkarya dan menolong bayi kami; seminggu ini Joshua mau makan dan bisa tidur seperti biasa.

Setelah mendapatkan keterangan pasti dari beberapa dokter itu, kami sepakat untuk membaptis Joshua. Pembaptisan ini kami maksudkan agar jika terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap Joshua dan penyakitnya tidak bisa disembuhkan dan nyawanya tidak tertolong, Joshua bisa pulang ke rumah Yesus dalam keadaan bersih tak berdosa karena sudah dibaptis. Maka suami saya mencari informasi rencana baptisan yang lebih cepat dari jadwal baptisan GYS Bandung pada bulan Desember 2008. Akhirnya saya mendapat berita bahwa baptisan di GYS Cianjur akan diadakan pada minggu-minggu awal November. Kami pun mendaftarkan anak kami Joshua agar dapat dibaptis dan semakin dikuatkan dalam tangan Yesus. Tanggal baptisan ditetapkan 15 November 2008, pas dengan genapnya Joshua berumur 10 bulan.

Tanggal 6 September 2008 kami berangkat lagi ke Jakarta mengambil hasil tes darah. Ternyata Joshua terserang virus yang membuat otot-otot jantungnya longgar. Penyembuhannya tergantung pada kondisi anak, dan karena Joshua masih bayi, diharapkan ada pemulihan dari dirinya sendiri. Selama dua minggu ke depan Joshua akan diberi obat yang dosisnya agak keras, sehingga perlu dirawat di rumah sakit agar lebih terpantau. Kami memilih rumah sakit di Bandung agar lebih dekat dengan sanak famili. Selama dirawat dua minggu tanpa infus itu keadaan Joshua semakin membaik, tidak rewel dan bisa berteman baik dengan para perawat yang bertugas mengukur suhu tubuh, tekanan darah, oksigen darah, dan sebagainya.

Banyak anggota tim besuk GYS Bandung yang datang menjenguk dan mendoakan Joshua. Menurut mereka Joshua tidak seperti anak yang sedang sakit, dan para perawat bahkan bercanda bahwa Joshua sedang berlibur di hotel. Dua minggu pun berlalu dan Joshua diperbolehkan pulang setelah dilakukan ECHO ulang dengan hasil keefektifan 25% dan dosis obatnya diturunkan perlahan-lahan, tetapi harus menemui dokter bulan berikutnya untuk kontrol rutin.

Sepulang dari rumah sakit Joshua lincah seperti dulu. Kontrol pertama di pertengahan Oktober, hasil ECHO-nya menunjukkan keefektifan 31%, sungguh menggembirakan. Obat-obatan rutin kami berikan kepada Joshua setiap harinya.

Pada tanggal 11 November 2008 kami membawa Joshua kontrol rutin ke dua dokter di Bandung. Keduanya mengatakan perkembangan Joshua semakin baik, dan Joshua pun sudah bisa merangkak. Kami terus memberikan obat secara rutin kepada Joshua.

Tanggal 14 November 2008 siang Joshua bermain dan belajar jalan bersama kami dengan penuh semangat dan ceria. Namun malam harinya terjadi hal yang mengagetkan. Pada saat Joshua digendong oleh neneknya, mata Joshua menatap kosong suami saya. Lalu suami saya menepuk-nepuk pipi Joshua sambil berkata: “Jo… jangan begitu bercandanya!” Namun Joshua tidak bergerak sama sekali. Langsung saja suami saya mengambil Joshua dari gendongan neneknya. Baru saat itulah Joshua bergerak dan memeluk suami saya, kemudian tidur di gendongan suami saya. Pada saat tidur, nafas Joshua agak cepat seperti sesak, mungkin dia terlalu capek bermain. Malam itu suami saya tidak bisa tidur karena merasa sangat tidak enak. Suami saya punya perasaan bahwa Joshua akan dipanggil oleh Tuhan Yesus setelah proses pembaptisan.

Tanggal 15 November 2008, Joshua bangun pagi sekitar pukul 05:30. Sebagai persiapan sebelum dibaptis, saya memberinya makan bubur. Kami berangkat ke gereja sekitar pukul 06:45. Setelah berdoa dan diberi petunjuk oleh pendeta, kami berangkat menuju sungai. Haleluya! Ajaib sekali Joshua tidak menangis saat dibaptis, padahal airnya dingin karena semalaman hujan turun cukup deras. Sepulang baptisan, dari sungai sampai rumah, Joshua tidur di mobil.

Pukul 10:00 dilakukan Sakramen Basuh Kaki. Selesai sakramen, kami pulang agak tergesa-gesa karena sudah waktunya Joshua tidur siang. Joshua bisa tidur di ranjang sekitar 30 menit, selebihnya dia ingin tidur di pangkuan atau digendong sampai pukul 15:30. Sampai saat itu nafasnya masih sesak.

Saat Sakramen Perjamuan Kudus pukul 16:00, Joshua mau bermain dan bercanda sebentar dengan anak kecil yang ada di barisan belakang. Setelah itu dia merasa tidak nyaman, mungkin karena udara di aula agak panas dengan banyaknya jemaat yang hadir saat itu. Sampai pada waktunya pembagian roti tidak beragi, saya dan suami berdoa dengan air mata sukacita dan kesedihan yang bercampur aduk. Joshua tetap berada di pangkuan saya. Saya masih mengharapkan mujizat untuk kesembuhan jantung Joshua, namun saya pasrahkan apa pun yang terjadi; jalan Yesus lebih baik. Joshua bisa mengunyah roti dengan baik, dan minum sari anggur dua sendok kecil.

Usai Perjamuan Kudus, kami membawanya ke dokter karena suhu tubuh Joshua melewati batas normal (di atas 38°C). Dokter bilang Joshua harus dirawat dengan bantuan oksigen dan infus karena nafasnya terlalu cepat, tidak normal. Kami berdiskusi dan memutuskan berangkat ke Bandung menemui dokter yang sudah biasa menangani Joshua di rumah sakit langganan agar mendapat perawatan dan pelayanan yang lebih baik.

Sesampainya di rumah sakit di Bandung pukul 23:00 kami langsung menuju UGD. Joshua dirontgen, dipasangi jarum infus, dan diberi uap untuk membantu pernafasannya. Joshua menangis tidak henti-henti selama lima menit lebih sampai mukanya jadi pucat dan bibirnya kebiruan (ini tidak pernah terjadi sebelumnya). Lalu dokter memberikan oksigen yang dipompa dan memasangkan selang oksigen pada hidungnya (mulai saat itu dia lepas dari gendongan saya, karena diharuskan berbaring).

Saya sudah lemas melihat keadaan Joshua yang semakin kesulitan bernafas, tapi saya harus kuat di hadapan orangtua saya agar mereka bisa melihat pengharapan yang baik dan tidak patah semangat. Di dalam hati saya terus berdoa, Tuhan di mana saat itu, Tuhan tolong Joshua, Tuhan kuatkan iman, fisik, dan pikiran kami semua. Joshua harus dirawat di NICU, ruang ICU untuk bayi.

Joshua masuk ruang NICU sekitar pukul 01:00 dini hari tanggal 16 November. Di sana orangtua tidak boleh mendampingi bayinya, jam kunjungan hanya dua kali sehari, minum ASI pun melalui selang. Kami menunggu di ruang tunggu sampai tiba kunjungan dokter pagi sekitar pukul 07:00. Pikiran saya dan suami saat itu sangat kompleks dan tidak tenang; bagaimana kesehatan Joshua nanti setelah keluar dari NICU, bisakah dia lincah seperti dulu, bisakah dia tumbuh normal, bisakah dia melalui proses pemulihannya dengan baik? Kami hanya bisa menunggu dan berdoa untuk keselamatan putra kami tercinta.

Pukul 06:35 kami dipanggil untuk menemui perawat di ruang NICU. Dari kejauhan terlihat banyak perawat yang mendekati Joshua, dan salah satu dokter jaga menjelaskan bahwa kesadaran bayi kami semakin menurun, nafasnya semakin cepat dan detak jantungnya semakin tidak beraturan. Mereka meminta izin kami untuk memasang selang pernafasan melalui mulutnya dengan tingkat harapan membaiknya 50%.

Tidak ada pilihan lain bagi kami selain mengiyakan. Saya menghubungi pendeta di Cianjur meminta bantuan doa. Tak lama kemudian dokter yang biasa menangani Joshua datang dan memberikan obat penguat jantung, sambil terus para perawat bergantian memompa jantungnya agar mau bekerja. Kami hanya bisa membelai kening dan kakinya serta berdoa di dalam Roh untuk keselamatan Joshua.

Apa daya manusia yang hanya bisa merencanakan; pukul 07:00 Joshua dinyatakan meninggal. Kami harus merelakan, dia sudah bebas di surga bersama malaikat-malaikat, tidak perlu lagi bergantung pada obat-obatan.

Pukul 11:00 kami membawa jasad Joshua ke rumah duka. Setelah pendeta tiba dari Cianjur, kami berdoa. Dalam doa, suami saya mendapat penglihatan bahwa Joshua sedang tertawa-tawa dalam gendongan malaikat, kemudian ia digendong oleh Tuhan Yesus.

Tanggal 17 November 2008 sekitar pukul 10:00, jasad Joshua dikremasi di Bandung. Abunya kami taburkan ke laut di Cilincing, Jakarta, pada keesokan harinya sekitar pukul 09:00.

Terima kasih Tuhan atas kenangan indah yang sudah Kauberikan. Sejak Joshua divonis memiliki kelainan pada jantungnya, dia dapat bertahan sampai tiba waktunya harus pulang ke rumah Bapa di surga setelah tuntas melewati Baptisan Air, Sakramen Basuh Kaki, dan Sakramen Perjamuan Kudus. Semua ini Yesus yang menentukan jalan; tanpa seizin dan campur tangan-Nya, semua itu tidak akan bisa terjadi dan tidak dapat berjalan dengan lancar. Mujizat atau kesembuhan yang kami harapkan ternyata mendapat jawaban kesembuhan yang seutuhnya yaitu kesembuhan yang terbebas dari penyakit dan derita duniawi. Biarlah kami semua semakin dikuatkan di dalam Engkau. Amin.

Fena - Cianjur, Indonesia

sumber: Warta Sejati edisi 61