Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Kuasa Tuhan Yesus Dalam Puji-Pujian  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Kuasa Tuhan Yesus Dalam Puji-Pujian

Kesaksian ini berawal ketika saya bekerja di toko material merangkap rumah Ii (kakak perempuan Mama) di Jalan Mangga Besar Raya. Bangunan rumahnya agak kuno dengan panjang 50 meter dan lebar 18,5 meter, ditambah bangunan mess untuk karyawan, gudang, dan kamar pembantu. Rumah yang didirikan di atas tanah bekas kuburan ini terdiri dari dua lantai,

Lantai satu untuk toko, ruang makan, kantor, dapur, kamar mandi, dan gudang. Di lantai dua ada taman, ruang tamu, lima kamar tidur, kamar mandi, di tengah-tengah ada taman lagi, lalu sebuah bangunan lagi terdiri dari dua kamar tidur ukuran besar, ruang tamu, dan kamar mandi. Di lantai atasnya lagi ada tempat jemuran, lapangan kosong, dan gudang.

Tapi rumah sebesar itu hanya ditinggali oleh Ii suami istri sudah lanjut usia, dua orang pembantu, dan saya sendiri.

Pada waktu mulai bekerja saya tidak tahu kalau rumah itu agak angker. Sampai tak lama kemudian, sewaktu tidur di malam hari, saya merasa ada yang mencekik leher saya. Tapi saya tidak melihat wujudnya. Dalam hati saya berteriak, “Dalam nama Tuhan Yesus, Iblis pergi!” Saya terbangun dengan napas terengah-engah dan ingin buang air kecil, tapi takut.

Waktu itu saya tidur di salah satu dari lima kamar tidur yang ada di bangunan bagian depan lantai dua. Saudara saya dan suaminya tidur di kamar lainnya di bagian yang sama. Setelah beberapa tahun, saya pindah ke kamar yang di bagian belakang, sendirian, karena khawatir kalau dibiarkan kosong terus akan bertambah angker. Hanya di siang hari pembantu menyeterika di ruang belakang.

Ternyata di kamar ini hampir setiap malam saya diganggu. Saat saya sudah tidur pulas, sering tiba-tiba ada suara keras, seperti batu yang diketuk-ketukkan, dari arah bawah tempat tidur saya, membuat jantung saya berdetak-detak. Saya pun terjaga lalu dalam hati berdoa, terus mengulang-ulang Haleluya, Haleluya. Karena saya tidak mau terpengaruh, saya lalu tidur lagi. Kadang gangguannya berupa suara orang membuka pintu kamar, atau bunyi-bunyian di lemari hias.

Karena penasaran, saya bertanya kepada Icong (suami Ii). Ternyata katanya dulu pernah ada karyawan yang kerasukan sewaktu rumah itu direnovasi. Roh yang merasuki karyawan itu marah-marah karena setiap hari dia dilindas truk-truk besar. Maka orang pun menggali tanah di halaman tempat parkir mobil, dan di kedalaman beberapa meter ditemukan peti mati yang masih utuh, lengkap dengan tulang belulang manusia.

Tulang-tulang itu diangkat dan dikuburkan di ujung pekarangan, sedangkan peti matinya dikembalikan ke tempat semula. Pernah diusahakan untuk mengremasi tulang-tulang itu, kira-kira dua tahun yang lalu, tahun 2004, tapi pihak yayasan kremasi meminta surat kematian dari kepolisian. Karena tidak ada surat kematian dan asal tulang-tulang itu pun tidak diketahui, rencana kremasi pun dibatalkan dan tulang-tulang itu dibiarkan tetap terkubur di ujung pekarangan.

Icong ingin menjual rumah itu, maka ia membeli rumah lagi. Tapi karena rumah itu tidak laku-laku, dipanggilah paranormal. Sewaktu paranormal datang, dalam hati saya berdoa terus. Paranormal itu minta disediakan tanah asli rumah itu, yang berarti tanah kuburan, dan kerupuk putih. Semuanya diletakkan di atas meja lalu dibacakan mantera-mantera.

Malamnya, kira-kira pukul 21.00, kebetulan saya belum tidur, tiba-tiba muncul seekor kelewar yang cukup besar berputar-putar dari lantai atas turun ke lantai bawah. Anehnya kelelawar itu ingin menyerang saya tapi saya terus berdoa. Setelah beberapa kali gagal dalam usahanya menyerang saya, kelelawar itu naik lagi ke lantai atas dan pergi lewat taman. Esoknya pada pukul 18.00 sewaktu saya dan pembantu sedang duduk nonton TV, sesosok bayangan perempuan berpakaian putih berkelebat menuruni tangga lalu berbelok ke kiri menuju toko dan menghilang. Saya dan pembantu hanya bisa saling pandang dalam diam.

Semua itu saya ceritakan kepada Icong dan Ii, dan sejak itu mereka tidak mau lagi memanggil paranormal itu lagi ataupun menuruti permintaannya supaya mereka mengadakan selamatan dengan mempersembahkan sesajen. Saya mengatakan kepada mereka, saya akan membantu doa agar rumah cepat terjual jika memang Tuhan berkenan, tepat pada waktunya. (Pada bulan Desember 2004 sebenarnya sudah ada yang mau membeli tapi entah kenapa Icong membatalkannya.)

Pada bulan Oktober 2004 Icong dan Ii pindah ke rumah baru dengan membawa satu orang pembantu. Jadi kalau malam tiba, tinggal saya dan pembantu satu lagi yang tinggal di rumah Mangga Besar.

Setelah kepindahan mereka, gangguan makin menjadi-jadi. Bahkan di siang hari pun sering ada yang membuka pintu kamar di lantai bawah padahal tidak ada orangnya. Kulkas sering bersuara seperti dibuka tutup, juga ada suara orang yang naik turun tangga. Suatu hari pada pukul 19.00, saat saya sedang minum di meja makan, tiba-tiba dari arah dapur terdengar suara orang yang sedang mengambil air minum dari teko. Saya kaget dan dengan serta-merta menengok, tapi tidak ada siapa-siapa. Pernah juga saat saya menaiki tangga pada pukul 20.00, terasa ada sekelebat bayangan yang melintas. Jantung saya serasa berhenti berdetak dan dalam hati saya langsung berteriak Haleluya, lalu saya jalan lagi.

Sejak tinggal berdua saja dengan pembantu, saya jadi punya lebih banyak waktu di dalam kamar untuk memuji-muji Tuhan dan membaca Firman. Dulu saya suka nonton TV. Tapi belakangan saya sadar itu kebiasaan yang tidak baik, maka saya berdoa mohon Tuhan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk dan puji Tuhan akhirnya berhasil.

Saya suka sekali memuji Tuhan. Walaupun suara saya sumbang, saya tidak malu karena tidak ada orang yang mendengar; hanya Tuhan yang tahu dan melihat saat saya memuji Tuhan dengan sepenuh hati. Kalau lagunya sedih, kadang tanpa saya sadari air mata saya menetes. Saya sungguh merasakan hadirat Tuhan ketika saya sedang memuji-muji Dia. Apalagi saya pernah menanyakan kepada pendeta apa yang harus kita lakukan kalau kita suka diganggu roh jahat ketika sedang berdoa, dan pendeta menjawab sebaiknya memutar lagu-lagu rohani pelan-pelan untuk menemani kita berdoa.

Jadi kalau saya masih bertahan tinggal di rumah itu, semua karena perlindungan Tuhan Yesus. Setiap kali saya merasa ada roh jahat yang ingin mengganggu atau merasa gelisah, saya akan mengambil Kidung Rohani lalu menyanyi memuji Tuhan. Kalau saya sudah memuji dan menyembah Tuhan, saya pasti bisa tidur lelap sekali dan ada damai sejahtera di dalam hati saya.

Pada awal Februari 2005, saya mendapat kabar bahwa kakak laki-laki saya sudah beberapa hari diganggu roh jahat. Dia beragama Kristen aliran Pentakosta dan suka berdoa berjam-jam, bisa dua sampai tiga jam lamanya berdoa. Saya tidak tahu kenapa dia tiba-tiba diganggu roh jahat.

Keluarga saya, yang tinggal di Tanjung Priok, sudah menghubungi gereja dan teman-temannya tapi tidak ada tanggapan dan tidak ada yang datang.

Roh jahat dalam dirinya itu suka mengamuk, kadang membuatnya bertelanjang bulat, bahkan pernah membahayakan jiwanya. Waktu itu kebetulan tidak ada yang bisa menjaganya di rumah. Maka papa mengajaknya ke rumah yang merangkap toko di Jl. Warakas. Di lantai dua rumah itu ada jendela yang selalu terkunci. Kakak naik ke lantai dua lalu mengacak-acak lemari pakaian mencari kunci jendela. Papa yang ada di toko curiga mendengar suara ribut di lantai atas. Saat naik, Papa kaget melihat Kakak sedang membuka kunci jendela. Dia bilang mau meloncat dari jendela untuk menyambut Tuhan Yesus yang sedang menunggunya. Cepat-cepat papa merebut kunci dari tangannya.

Karena saat itu saya sedang bekerja, saya menelepon Mama supaya mencoba menghubungi gereja Samanhudi (waktu itu Mama sudah percaya Tuhan Yesus dan sering kebaktian di Samanhudi tapi belum dibaptis). Tapi saat itu di gereja sedang tidak ada pendeta, dan Mama disarankan untuk menghubungi gereja Sunter. Saya ingin Mama yang menelepon langsung karena Mama lebih tahu kejadiannya. Tapi di Sunter juga tidak ada pendeta. Akhirnya Kakak dibiarkan saja beberapa hari, sampai tanggal 6 Februari 2005, hari Minggu, saat menelepon, saya diberitahu bahwa masih belum ada pendeta yang datang.

Padahal waktu itu saya sedang mengikuti rapat pertama drama musikal, dan ada beberapa pendeta yang ikut hadir. Tapi saya tidak berkata apa-apa kepada mereka karena tidak ingin menyusahkan. Sebab saya tahu semua pendeta sedang sibuk dan malah ada yang esoknya harus pergi tugas.

Malamnya saya saat berdoa dan memuji Tuhan, saya memohon agar Tuhan memimpin saya karena besoknya saya mau pulang ke Tanjung Priok. Tanggal 7 Februari 2005, saat bersiap-siap untuk pulang, seperti ada yang menyuruh saya membawa Kidung Rohani. Dalam perjalanan, tidak henti-hentinya saya berdoa dan memuji Tuhan.

Tiba di rumah, Kakak masih tidur-tiduran di kamar di rumah, tidak mau mandi dan makan. Di rumah ada Mama, Papa, kakak ipar, dan kakak laki-laki lain yang belum berangkat kerja. Papa tidak berani pergi ke toko karena takut kalau kakak ngamuk lagi tidak ada yang bisa memegangnya. Kakak yang lain juga tidak kuat.

Sewaktu mendengar suara saya, dia bangun lalu keluar kamar. Saya melihat sorot matanya aneh dan bicaranya kacau. Saya duduk lalu menyuruhnya duduk di seberang saya. Dalam hati saya berdoa mohon perlindungan Tuhan Yesus.

Saya berkata, “Dalam nama Tuhan Yesus memuji Tuhan.” Mula-mula saya menyanyikan Kidung Rohani No. 41. Di tengah-tengah nyanyian, Kakak tidak tahan lalu menutup kedua telinganya dan menyuruh saya berhenti menyanyi. Tapi bukannya berhenti, saya malah menyanyi lebih bersemangat lagi dan lebih berserah kepada Tuhan Yesus. Akhirnya Kakak ikut memuji Tuhan.

No. 41 selesai, saya lanjutkan menyanyi Kidung Rohani No. 43, 39, 78, 168, 170, 172, 173, 176, 285, 292, 292, dan masih ada yang lainnya lagi, saya lupa. Kira-kira setengah jam lamanya saya memuji-muji Tuhan.

Sewaktu sudah menyanyikan beberapa lagu, tiba-tiba Kakak bangun dan mau makan. Tapi Mama menyuruhnya mandi dulu karena sudah beberapa hari tidak mandi dan gosok gigi. Kakak menurut. Selagi dia mandi, saya terus saja memuji Tuhan. Akhirnya saya lelah dan berhenti menyanyi. Saya lihat dirinya sudah berubah, terlihat segar dan wajahnya cerah.

Lalu saya membantu Mama membereskan rumah karena sudah beberapa hari Mama sibuk mengurus Kakak dan keluarga. Sorenya saya harus balik ke Mangga Besar karena pembantu di sana tidak berani tinggal sendirian dan tanggal 8-nya saya masih harus kerja walaupun tanggal 9-nya adalah tahun baru Imlek Sebelum pamit saya berpesan kepada Mama supaya menyanyikan puji-pujian kalau Kakak diganggu roh jahat lagi.

Pada hari tahun baru Imlek, keluarga saya termasuk Kakak datang ke Mangga Besar, lalu dari situ kami bersama-sama ke rumah baru Ii. Saat itu Kakak sudah sembuh total. Saya sempat bercakap-cakap dengannya, memberikan kekuatan iman. Puji Tuhan, sampai hari ini Kakak tidak pernah diganggu roh jahat lagi. Semua ini berkat kuasa Tuhan Yesus di dalam puji-pujian.

Pengalaman ini semakin menguatkan iman saya bahwa jika kita bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, menyembah dan memuliakan Dia dengan puji-pujian, kuasa Tuhan Yesus pasti akan bekerja; tidak ada yang mustahil bagi Tuhan Yesus. Jika kita memuji Tuhan dengan hati yang sungguh-sungguh, Tuhan Yesus pasti hadir di tengah-tengah kita.

Segala puji syukur dan kemuliaan hanya bagi nama Tuhan Yesus. Amin.

Mimi - Jakarta