Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Mujizat Jeffrey  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

 

MUJIZAT JEFFREY

Widya Susanto – Garden Grove, California, USA

 

 

SEORANG ANAK LAKI-LAKI YANG LEMAH

Kita percaya bahwa segala sesuatu ada maksudnya, dan dalam masalah saya, saya percaya ada maksud Allah untuk membawa putra bungsu saya ke dunia ini.

          Jeffrey adalah salah satu anak kembar yang berusia empat setengah tahun. Ketika lahir beratnya kurang dari dua setengah kilo, merupakan berat yang normal bagi anak kembar. Kakak perempuannya, Renee, setengah kilo lebih berat darinya dan tujuh menit lebih tua.

          Kelahirannya sesungguhnya merupakan suatu mukjizat tersendiri, dan saya menyaksikannya sendiri di rumah sakit. Karena resiko melahirkan anak kembar, istri saya harus dibawa ke ruang operasi dan bukan ke ruang bersalin, untuk berjaga-jaga jikalau operasi Ceasar diperlukan.

          Puji Tuhan, tidak diperlukan operasi dan kedua bayi kembar dilahirkan secara normal. Tetapi Jeffrey dilahirkan dengan kaki terlebih dahulu dan bukannya kepala. Bagaimanapun mereka berusaha untuk membalikkannya, usahanya tidak berhasil. Puji Tuhan kedua bayi dilahirkan sehat.

          Ketika Jeffrey berusia satu tahun, ia mengalami masalah pernafasan. Dokter mengirimnya ke rumah sakit tetapi tidak dapat menemukan masalah padanya. Ketika keadaannya mulai membaik, ia diperbolehkan pulang.

          Tiga setengah tahun kemudian. Musim dingin kali ini, California bagian Selatan terserang wabah virus influenza. Jeffrey dan saudara kembarnya masing-masing menerima suntikan flu. Mungkin karena virus jenis baru vaksinasi menjadi tidak efektif, menyebabkan Jeffrey mengalami flu berat walaupun telah diberi pencegahan.

          Maka kami membawanya ke dokter dan memberinya obat-obatan. Tetapi bukannya membaik seminggu kemudian keadaannya memburuk. Ini terjadi pada Januari 2004.

          Ketika istri saya membawanya ke dokter untuk kedua kalinya, nafasnya sangat berat dan terengah-engah. Tanpa berbicara dulu pada istri saya dokter memerintahkan suster untuk membawa Jeffrey ke ruang gawat darurat.

          Segera ia dimasukkan ke ruang gawat darurat untuk diberi perawatan dan infus dan bantuan pernafasan, dan ia diamati selama dua puluh empat jam. Mereka memberinya steroids untuk menguatkan kekebalan tubuhnya, tetapi ia tidak dapat makan maupun minum. Itu adalah saat yang berat baginya.

 

PROSEDUR YANG MENYAKITKAN

Tim dokter tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, oleh karena itu mereka harus melakukan tes pada Jeffrey. Dimulai dengan rontgen, namun itu tidak memberikan informasi cukup, maka mereka memerintahkan CT scan dan dilanjutkan dengan MRI.

          Jeffrey tidak memahami apa yang terjadi dan tidak dapat diam. Karena terus-menerus bergerak dokter terpaksa melakukan laryngoscopy,  di mana perlengkapan operasi dan kamera dimasukkan melalui hidungnya dan terus ke tenggorokan, dengan hanya pembiusan lokal. Prosedur tersebut sangat menyakitkan.

          Tim dokter tidak menemukan masalah pada sistem pernafasan bagian atas. Guna melakukan tes lebih jauh dari pita suara, mereka harus membiusnya total dan melakukan bronchoscopy, yaitu suatu prosedur di mana kamera merekam aktivitas dari kerongkongan terus sampai ke paru-paru.

          Resiko dari prosedur ini adalah adanya kemungkinan Jeffrey kehilangan suaranya secara permanen, di sinilah saya mulai meminta saudara saudari seiman untuk berdoa baginya. Resiko lainnya adalah jika ia tidak dapat bernafas selama prosedur berlangsung maka mereka harus membuka tenggorokannya.

          Tentu akibat pembiusan total, ia tidak akan terbangun selama dibius. Maka saya menghubungi beberapa pendeta, penasihat gereja dan jemaat gereja untuk berdoa baginya. Saya menelpon ibu saya di Indonesia untuk meminta jemaat di Indonesia berdoa baginya juga.

          Kami berdoa dan berdoa, mulai dari awal operasi sampai selesai. Operasi memakan waktu satu jam dan selama itu pula kita bedoa.

          Ia masih tertidur ketika dibawa keluar dari ruang operasi. Saat itulah aku melihat beberapa tanda ungu pada lehernya. Tanda ungu bertulisan huruf X. Saya bertanya pada dokter mengapa tanda-tanda itu ada di sana dan mereka menerangkan bahwa tanda tersebut menunjukkan tempat untuk memasukkan selang bilamana ia berhenti bernafas selama operasi berlangsung.

          Puji Tuhan Jeffrey dapat bernafas dengan normal selama prosedur operasi berlangsung sehingga mereka tidak perlu mengambil langkah drastis tersebut.

 

MENCARI APA YANG SALAH

Dokter menemukan permasalahannya seperti yang digambarkan di bawah ini.

          Diagram pertama di sebelah kiri menunjukkan saluran pernafasan yang normal pada tubuh manusia. Trachea yang juga dikenal sebagai pipa udara mulai dari lubang hidung terus turun ke paru-paru. Menyambung pipa pernafasan yang membawa oksigen ke lubang paru-paru.

          Pada diagram di sebelah kanan, kita dapat melihat saluran pernafasan Jeffrey. Permasalahan pertama adalah pengecilan pipa udara bertahap dan menerus menuju pipa paru-paru.

          Dalam keadaan normal, ia bernafas seperti anak laki-laki normal lainnya, Tetapi ketika pipa udaranya terlalu kecil, ia tidak mendapat cukup udara. Dan ukuran cincin terkecil dari pipa udaranya hanya tiga millimeter saja.

          Menurut salah satu dokter, itu setengah ukuran pipa tenggorokan bayi yang baru lahir. Ini menjelaskan masalah pernafasan yang ia alami sebelumnya. Ketika dokter mendiagnosa masalah ini, beliau terkejut kalau Jeffrey masih bisa bertahan hidup. Katanya, “Ini adalah mukjizat.”

          Ketika kami mendengarnya, kami bersyukur dan memuji Allah untuk semua bimbingannya selama ini. Pada  kondisi medis yang normal, bahkan dokter merasa Jeffrey tidak seharusnya bertahan selama ini, dan dokter ini memiliki sepuluh tahun pengalaman menghadapi kondisi seperti ini, Beliau telah melihat ribuan kasus serupa dan Jeffrey adalah pasien ketiga yang berhasil selamat.

 

DOA MENGHASILKAN PERBEDAAN

Setiap kali Jeffrey harus dibius total, kami selalu khawatir kalau-kalau ia tidak dapat bangun lagi. Oleh karena itu kami berdoa, agar tanpa pembiusan ia dapat diam sehingga dokter dapat melakukan prosedur diagnosa sebagaimana mestinya.

          Dengan doa yang dipanjatkan oleh saudara saudari seiman dan pendeta, kami dapat melihat bahwa Jeffrey mulai mempunyai kepercayaan diri dan menjadi lebih tenang.

          Selama tiga kali CT scans sebelumnya, Jeffrey bergerak terlalu banyak, maka tim dokter harus memberinya pembiusan total. Tetapi mereka tidak perlu membuat Jeffrey tidur pada prosedur terakhir di  mana mereka harus memastikan penemuan mereka.

          Karena prosedur berjalan dengan lancar, kami pulang ke rumah lebih awal. Puji Tuhan kami tidak perlu melalui prosedur pembiusan total lagi.

          Setelah menyelesaikan prosedur diagnosa terakhir, tim dokter ingin melakukan operasi besar pada Jeffrey.

          Mereka percaya bahwa mereka dapat melebarkan bagian sempit dari pipa udara tetapi mereka harus mengambil jaringan dari bagian lain tubuhnya, dan kemungkinan berhasil hanya enam puluh persen saja. Ini seperti berjudi bagi saya. Saya merasa sangat tidak nyaman karena kesempatan terbaik mereka hanyalah enam puluh persen saja.

          Maka saya dan istri mulai lebih lagi berserah pada Tuhan.

 

BERSERAH SEPENUHNYA PADA TUHAN

Mazmur 71:6 mengingatkan kita bahwa Pencipta kita adalah:

 

Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku; Engkau yang selalu kupuji-puji

 

          Ini adalah sesuai untuk Jeffrey. Dengan dorongan dari para pendeta dan jemaat, kami memutuskan untuk tidak membiarkan Jeffrey dioperasi. Dan setiap kali kami memerlukan penghiburan dari Tuhan, kami juga diingatkan oleh kata-kata ini:

 

Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku.

(Mazmur 71:3)

 

          Saat ini, Jeffrey baik-baik saja. Dia selalu tampak normal dan walaupun ia mempunyai masalah ini, kami tidak pernah menyangka kalau masalahnya seserius ini. Dengan perlindungan Tuhan, ia dapat bertahan selama ini. Kami terus berdoa dan kami meminta setiap orang untuk terus mendoakan kami.

          Baru-baru ini, kami menerima hasil CT scan / MRI tetapi kami harus menjumpai dokter lain karena dokter Jeffrey anggota rumah sakit lain.

          Ketika kami membawa Jeffrey ke dokter baru dan keadaannya diperiksa, ia melihat hasil akhir CT scan Jeffrey dan heran mengapa pipa udaranya membesar. Sebelumnya hanya berukuran tiga millimeter, tetapi hasil scan terakhir menunjukkan pelebaran.

          Ia segera menghubungi dokter pertama yang langsung menanyakan, “Bagaimana keadaan Jeffrey?” Dia hampir tidak dapat percaya kalau Jeffrey tidak mengalami masalah apa-apa, sehingga dokter kedua berkata, “Dia kelihatan normal bagi saya.”

          Walaupun tenggorokannya menyempit, ia tidak merasa hal itu akan menjadi masalah. Kalau anda berjumpa Jeffrey sekarang, anda tidak akan menyangka kalau ia mengalami hal-hal mengerikan di atas. Kami sangat memuji dan bersyukur pada Allah untuk segala perlindunganNya.

 

Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: "Ya TUHAN, luputkanlah kiranya aku!" TUHAN adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang. TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku.

(Mazmur 116:4-6)

 

          Ini sangat mengena bagi saya dan istri. Kami sangat bersedih ketika kami harus melalui cobaan tersebut. Kami berada di rumah sakit selama kurang lebih delapan hari dan secara bergantian kami menenani Jeffrey setiap saat.

          Ada saatnya ketika kami merasa kehilangan harapan karena tim dokter tidak dapat menemukan apa-apa sehingga mereka harus melakukan tes demi tes

          Itu adalah saat yang sulit bagi kami tetapi kami memohon agar Tuhan menolong dan menyelamatkan kami. Kami berlutut dan berdoa memohon pengampunan, mungkin saja kami melakukan dosa tanpa kami sadari dan kami berdoa supaya kehendakNya sajalah yang terjadi.

          Kami tidak tahu kapan Jeffrey boleh keluar dari rumah sakit, apakah ia harus tinggal atau akan sembuh total. Pada saat itu, kami berserah pada Tuhan dan menyerahkan Jeffrey ke dalam tanganNya. Kami hanya dapat meminta karena hanya Allah saja yang menentukan. Maka kami meminta yang terbaik dari Allah untuk Jeffrey,

          Saya percaya segala sesuatu ada maksudnya, dan Tuhan telah menjawab doa kami dan senantiasa melindungi kami. Kami juga ingin mengucapkan banyak terima kasih yang tulus kepada semua saudara saudari seiman terkasih yang turut mendoakan Jeffrey dan keluarga kami. Kami senantiasa berhutang kepada kalian.

          Kiranya segala kemuliaan hanya bagi nama Allah saja.