Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Nyatalah Kasih dan Mujizat-Nya  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Nyatalah Kasih dan Mujizat-Nya
Penantian Panjang Mendapatkan Buah Hati

Kenneth Timothy Halimawan Lauw, itulah nama yang kami berikan kepada buah hati kami yang lahir pada tanggal 18 Juli 2006.

Apabila saya mengingatnya, banyak hal yang sudah kami lakukan di masa penantian panjang yang akhirnya berujung pada kepasrahan dan keharuan dengan lahirnya seorang bayi laki-laki; bayi yang akan mengisi kebahagiaan kehidupan rumah tangga yang telah kami nantikan sejak pernikahan 11 Juni 1995 silam.

Sebelum Kenneth lahir, kami melakukan berbagai usaha untuk memperoleh keturunan. Mulai dari konsultasi dan pengobatan ke berbagai dokter spesialis kandungan baik di Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan Bandung, hingga mengikuti saran orang-orang di sekeliling kami melalui jalur pengobatan alternatif dan pengobatan tradisional Cina. Tahun demi tahun kami lewati dengan berbagai harapan, entah berapa banyak obat dan ramuan yang sudah saya telan. Apa pun yang kami dengar dan baca di berbagai media mengenai pengobatan untuk memperoleh keturunan selalu kami datangi, namun semuanya tidak berhasil mewujudkan harapan kami.

Akhir tahun 2004 kami mendatangi dokter spesialis kandungan yang sangat ternama di Bandung. Menurut hasil pemeriksaan, dokter menyatakan tidak ada gangguan apa pun pada rahim saya, namun mengingat usia yang sudah memasuki 34 tahun, ada kecenderungan penurunan kemampuan indung telur untuk menghasilkan sel telur, begitu pula fungsi alat-alat reproduksi dan hormon yang mendukungnya.

Saran dokter adalah menjalani pemeriksaan dengan laparaskopi lengkap dengan prosedur panjang lazimnya program kehamilan. Kami pun terhenyak membayangkan lamanya waktu yang harus kami lewati dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Sepulangnya dari dokter, kami sepakat untuk pasrah saja kepada Tuhan sambil memikirkan apakah mengadopsi anak adalah jalan terakhir yang harus kami tempuh.

Hari berlalu begitu cepat, tak terasa liburan akhir tahun 2005 sudah tiba. Selewat tiga hari di rumah keluarga di Tangerang, saya mengajak suami berpesawat ke Surabaya untuk mengunjungi Gereja Yesus Sejati di sana. Kemudian tanggal 31 Desember kami melanjutkan berkereta-api ke Gereja Yesus Sejati Semarang. Selama tiga hari di Semarang saya jatuh sakit, mungkin terlalu lelah. Karena tidak kunjung membaik walaupun sudah mengonsumsi obat bebas, kami pun kembali ke Tasikmalaya melalui Bandung.

Beberapa minggu kemudian saya merasakan ada perubahan pada tubuh saya. Tetapi walaupun saat itu haid saya sudah terlambat, saya menganggapnya biasa saja sebab selama ini memang tidak pernah teratur. Namun tanggal 28 Januari 2006 pagi saya iseng juga melakukan cek urin, dan hasilnya membuat saya tertegun dan tak percaya: tandanya positif!

Puji Tuhan, kami benar-benar terharu dan berdoa untuk kehamilan ini. Teringat pada kelelahan selama berlibur, saya yakin Tuhan telah menguatkan janin di dalam rahim. Iman kami semakin dikuatkan bahwa Tuhan Yesus luar biasa. Di saat kami dalam kepasrahan dan tidak lagi mengandalkan dokter, Dia menyatakan mujizat-Nya tepat seperti firman dalam Yeremia 17:7: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN.” Haleluya!

Sorenya kami mengunjungi dokter kandungan, namun hasil USG menunjukkan bahwa kantung kehamilan memang ada tetapi janinnya tidak berkembang, dan menurut dokter seminggu kemudian akan digugurkan dengan bantuan obat. Saya pulang dengan perasaan sedih dan terpukul, namun suami saya terus menghibur dan menguatkan saya. Selama seminggu itu pula kami bergumul dalam doa dan kepasrahan bahwa Tuhan pasti sedang berkarya agar iman kami terus bertumbuh.

Tanggal 6 Februari 2006 kami mengunjungi dokter kandungan yang berbeda dengan harap-harap cemas mendengarkan diagnosanya. Tetapi kasih-Nya begitu luar biasa. Dokter mengatakan kehamilan saya baik, demikian pula keadaan embrionya yang dinyatakan sudah memasuki usia enam minggu, artinya kehamilan dapat dilanjutkan. Kami pulang dengan penuh rasa sukacita dan syukur.

KELAHIRAN YANG TIBA-TIBA
Saya menjalani kehamilan dengan berbagai kemudahan yang diberikan Tuhan, tanpa keluhan apa pun. Bahkan di usia kehamilan 26 minggu, gerakan dan tendangan bayi di rahim pun tidak menyakitkan. Semuanya baik dan menyenangkan.

Memasuki usia kehamilan 32 minggu, tepatnya tanggal 16 Juli 2006, selepas menyelesaikan program semesteran untuk pekerjaan saya sebagai guru, tiba-tiba sumbat lendir yang menutupi muara rahim keluar. Karena tidak mengerti, saya menyangka itu karena terlalu lelah. Pagi harinya, melihat bercak darah dan sedikit rembesan cairan, saya segera bertanya pada dokter. Ketika memeriksakan kandungan pada sore harinya, kondisi saya dinyatakan cukup baik, hanya ada sedikit infeksi pada saluran kemih.

Tetapi tanggal 18 Juli 2006 pukul 5 pagi saya terbangun oleh rasa nyeri yang berpangkal dari bagian bawah punggung menyebar ke bagian bawah perut. Segera saya menghubungi dokter dan disarankan untuk langsung ke rumah sakit bersalin, agar bayi bisa dipertahankan mengingat berat bayi masih 1,8 kg dan kehamilan bisa dilanjutkan sampai usia 36 minggu guna mencegah kelahiran bayi prematur.

Saat mulai diperiksa pada pukul 7 pagi, ternyata sudah pembukaan dua. Artinya leher rahim sudah menipis dan kelahiran tidak dapat dicegah. Pukul 8 pagi berdasarkan hasil USG terlihat bahwa kepala janin sudah memasuki rongga jalan lahir dan didapati air ketuban sudah kering.

Dokter segera memanggil suami saya dan berkata, “Mohon Bapak bantu doa. Dikhawatirkan ibu atau bayinya terkena infeksi yang bisa berakibat fatal buat keselamatan mereka. Untuk operasi, dibutuhkan waktu setengah jam untuk persiapannya, sedangkan sekarang sudah pembukaan 8, takutnya si bayi terlalu lama di jalan lahir, sementara air ketuban sudah tidak ada, padahal berat bayi diperkirakan hanya 1,8 kg dengan kondisi paru-paru yang belum sempurna.”

Ketika dokter berbicara, yang terlintas di benak saya hanya kepasrahan dan keyakinan jika Tuhan menghendaki kami memiliki anak, maka semuanya akan dimudahkan dan saya akan mampu melewati sakitnya persalinan. Sepanjang masa kontraksi saya terus mengulang-ulang “Tuhan Yesus, tolong aku,” dengan nafas terengah-engah dan badan lemas menahan sakit.

Dokter sangat gelisah dan cemas, tapi berusaha memberikan semangat dan dorongan pada saya untuk terus bertahan. Puji Tuhan, pukul 08:30 pembukaan sudah lengkap. Saya yang sudah kehabisan tenaga pun diberi bantuan oksigen. Saya berulang kali berjuang melahirkan bayinya, tetapi sangat sulit dan hampir tidak berdaya. Saat dokter menyuruh saya mengejan sekuat tenaga supaya bayi tidak terlalu lama di jalan lahir, saya berseru pelan, “Tuhan tolong mampukan aku melahirkan bayi ini dengan selamat,” dan mengerahkan sisa tenaga yang terakhir.

Segala kemuliaan bagi Yesus Kristus, bayi kecil saya lahir dengan begitu mudahnya, masih terbungkus Vernix Caseosa, suatu lapisan yang cenderung dimiliki oleh bayi prematur. Sesaat setelah lapisan tersebut disobek, sungguh saya terharu mendengar suara nyaring tangisan bayi laki-laki yang sudah kami nantikan selama sebelas tahun ini.

Dokter tercengang dan menyatakan bahwa ini mujizat Tuhan yang luar biasa; bayi yang diduga beratnya hanya 1,8 kg ternyata memiliki berat 2,1 kg, terlahir sehat dengan mudahnya walau air ketubah sudah kering, setelah melewati tahap kontraksi yang sempurna dalam waktu singkat.

MENGALAMI KELUMPUHAN TANGAN DAN KAKI KANAN
Kenneth mengalami pertumbuhan yang pesat, berat badannya meningkat selayaknya bayi normal lainnya. Ia juga sehat dan jarang sakit. Keceriaan dan kelucuannya membuat lengkap kebahagiaan kami. Acap kali kami memandanginya dengan rasa kagum dan haru kala dia tertidur pulas; begitu sempurna yang Tuhan berikan.

Sore hari 11 Juni 2007, kami sekeluarga larut dalam kebahagiaan melihat Kenneth yang begitu aktif berjalan ke sana ke mari dengan baby walker-nya sambil tertawa riang. Tetapi setengah jam kemudian dia muntah dan mencret. Saya segera membersihkan dan memberinya obat, dengan pemikiran besok pagi akan kami bawa ke dokter. Sesaat kemudian Kenneth sudah tidur pulas sambil minum susu.

Pukul 19:30 kami mendapati Kenneth bangun dan sedang duduk muntah-muntah, juga buang air besar beberapa kali. Dengan berbagai cara kami usahakan agar dia tidak kekurangan cairan. Saat suhunya mencapai 38,5°C, kami memberinya obat turun panas dan mengompresnya; badannya begitu lemah tak berdaya. Pukul 24:00 Kenneth bisa tertidur kembali dan suhu tubuhnya mulai turun, sehingga kami bisa beristirahat. Saat terbangun, kami mendapati anak kami sudah tak sadarkan diri dengan nafas yang sangat pendek tersengal-sengal dan tangan serta kaki kanannya kejang-kejang. Waktu menunjukkan pukul 03:00.

Segera kami melarikannya ke rumah sakit. Setelah diberi oksigen, infus, dan stesolid (obat anti kejang) yang dimasukkan melalui dubur oleh dokter jaga UGD, kejangnya berhenti dan dia dapat tertidur tenang.

Sesuai rujukan dokter syaraf yang menyatakan tangan dan kaki kanan Kenneth mengalami kelumpuhan/stroke ringan, tanggal 13 Juni 2007 siang kami memindahkan Kenneth ke sebuah rumah sakit besar di Bandung dengan ambulans.

Diagnosis dokter jaga di Bandung adalah radang selaput otak. Kenneth menangis dan meronta saat para perawat mengambil darah dan berkali-kali menusukkan jarum mencari-cari pembuluh darah, di kaki maupun di tangan, untuk memasukkan infus. Hati saya tersayat pilu kala mendengar jerit tangisnya mengalami kesakitan.

Puji Tuhan, beberapa hari kemudian muntah dan buang air besarnya sudah sembuh, hanya saja dia jadi tidak aktif dan cenderung tidur terus, tidak terganggu oleh suara sekeras apa pun, dan tangan kanannya semakin lemah tak bertenaga.

Tak dinyana pada hari Jumat, 15 Juni 2007, sepanjang malam Kenneth berkali-kali kejang sebelah lagi dengan durasi beberapa detik. Pada pemeriksaan rutin pagi harinya, kejang itu terulang kembali. Dokter mengatakan sumber penyakit yang sesungguhnya belum ditemukan. Jalan satu-satunya anak kami harus segera masuk ICU (NICU untuk anak) karena peralatannya lebih lengkap.

Sepanjang perjalanan menuju ruang NICU, Kenneth menggenggam tangan dan menatap mata saya. Melihat senyumnya, saya jadi bisa bertahan untuk tegar dan tidak menangis. Saya berkata dalam hati, “Kenneth, anak Mama yang baik. Tuhan akan menolongmu, jangan takut di ruang NICU sendirian, ada Tuhan yang menjagamu, Dia yang di surga akan mampu memberikan kekuatan untuk mengatasi segala kesakitan.”

Di depan pintu masuk, saya berdiri pasrah menatap Kenneth dibawa menjauh ke lorong ruang NICU. Saya benar-benar merasakan bahwa Tuhan-lah yang menjadi andalan. Di saat saya benar-benar sendiri, teringat berbagai mujizat yang pernah saya alami bersama Kenneth, ada keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kami.

Dua puluh menit kemudian saya diperkenankan masuk sebentar untuk melihatnya. Ini pertama kalinya saya masuk ruang NICU. Kenneth sedang tidur di sebuah tempat tidur kecil, selang dan kabel berseliweran dari dan ke hidung, sebagian besar tubuhnya, dan berbagai peralatan di sekelilingnya. Saya benar-benar tidak tega dan sedih dibuatnya. Di tengah keheningan saya terus menatap dan memegang tangannya. Tanpa terasa air mata meleleh membasahi pipi ketika saya harus keluar; berat rasanya meninggalkannya sendirian.

Pukul 14:00 saya pamit kepada suami untuk mengikuti kebaktian Sabat di Gereja Yesus Sejati Bandung. Di perjalanan saya dikabari bahwa Kenneth akan menjalani pemindaian otak dan MRI pukul 16:00, karena masih mengalami kejang beberapa kali.

Beberapa pujian pembuka kebaktian menghanyutkan saya dalam kesedihan yang mendalam, tapi sekaligus memberikan kekuatan dan penghiburan. Dalam doa, saya terus mencucurkan air mata, memohon Tuhan memberikan hikmat kepada dokter untuk menemukan penyakit yang diderita anak saya.

Pukul 16:00 saat saya berdoa di gereja, Kenneth dibawa ke ruang pindai otak. Sementara Kenneth di ruang pindai, suami saya terus berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik.

Pukul 19:00 dokter memberitahukan hasil foto thorax. Ada beberapa virus yang memenuhi saluran yang menuju otak kirinya. Karena saluran-saluran tersebut sudah menghitam/keruh oleh virus, sirkulasi darah dan oksigen menuju otak kirinya tersumbat, mengakibatkan tangan dan kaki kanannya lemah/lumpuh. Langkah penanggulangan langsung diambil, yakni melakukan tujuh macam penyuntikan untuk memasukkan virus yang sama supaya mereka saling mematikan, kemudian akan dilakukan EEG untuk memastikan gelombang dan fungsi kelainan otak. Namun sementara ini perkembangan Kenneth masih terus diobservasi.

Kami menunggui Kenneth siang malam di depan ruang NICU, hanya boleh melihatnya pada jam-jam besuk. Biasanya dia sedang tidur atau menangis. Pernah saat jam besuk usai, dia meronta ingin ikut keluar.

Pagi hari tanggal 18 Juni 2007 pada jam besuk, dokter memanggil kami. Saya terhenyak; apa gerangan yang terjadi dengan Kenneth? Dalam pergumulan doa dan iman, kami menemui dokter yang sedang berdiri dekat anak kami. Dokter menyalami kami sambil berkata, “Puji Tuhan, kondisi Kenneth sudah membaik. Ini mujizat, sebab jujur saya pusing memikirkan apa gerangan sumber penyakitnya. Sekarang dia sudah boleh dipindahkan ke ruang perawatan biasa.” Hati saya meluap-luap oleh sukacita dan ucapan syukur kepada Tuhan.

Beberapa hari kemudian Kenneth sudah boleh pulang. Tangan dan kaki kanannya sudah bisa digerakkan kembali, walau masih harus menjalani terapi. Hasil pemeriksaan EEG juga menggembirakan.

Sekarang ini keadaan Kenneth sangat baik; ia tumbuh normal, kembali aktif dan lucu dengan segala idenya, bahkan menunjukkan kemampuan yang melebihi teman-teman sebayanya.

Puji Tuhan, hari Sabtu tanggal 3 November 2007, Kenneth menerima baptisan air di Gereja Yesus Sejati Tasikmalaya dan menjadi anak Tuhan.

Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: “Ya TUHAN, luputkanlah kiranya aku!” TUHAN adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang. TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku. (Mzm. 116:4-6)

Masa 12 hari bergiliran mendampingi Kenneth di rumah sakit ini adalah masa-masa tersulit bagi kami, tetapi dalam ketidakberdayaan kami berseru kepada Tuhan dan Dia menolong serta menyelamatkan kami. Kami berlutut berdoa memohon pengampunan-Nya dan berharap supaya kehendak-Nya yang terjadi menurut waktu-Nya. Kami yakin dan percaya, segala sesuatu yang terjadi, Yesus punya tujuan yakni iman kami bisa seperti emas murni.

Kami juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada pendeta, diaken- diakenis, dan saudara-saudari seiman yang sudah mendoakan dan memberikan perhatian serta kasih kepada kami sekeluarga terutama Kenneth. Segala kemuliaan hanya bagi Yesus Kristus, Amin.

Milkha Priskila Laurentia – Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia

Sumber: Warta Sejati 57