Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Pelajaran Musim Panas  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Pelajaran Musim Panas

KEPUTUSAN UNTUK PULANG KE RUMAH
Di bulan Mei 2005 saya menyelesaikan pendidikan S1 (sarjana), dan sama seperti umumnya orang lain, saya merasa bingung dan tertekan untuk mencoba dan mengerti apa yang akan terjadi dengan hidup saya di masa mendatang. Hal ini disebabkan musim panas saya yang lalu sangat indah. Walaupun Tuhan tidak secara langsung menyatakan kepada saya apa yang harus saya perbuat, Dia memberikan kepada saya sesuatu yang lebih berharga yaitu damai sejahtera.

Sebelum mulai musim panas 2004, saya dengan cemas mencoba mencari sebuah pekerjaan yang sesuai dengan keahlian saya. Karena saya telah menyia-yiakan musim panas yang lalu, saya merasa bersalah pada orang tua yang telah bekerja keras untuk membayar pendidikan saya sementara saya selalu tidur sampai jam 1 atau 2 siang, dengan alasan inilah saya sudah sepatutnya mengejar waktu yang ada seperti sebuah semester yang sangat meletihkan.

Tetapi ternyata Tuhan mempunyai rencana yang berbeda untuk saya. Sebagai contohnya, walaupun saya memenuhi syarat untuk beberapa pekerjaan yang saya lamar, saya tetap tidak menerima sebuah panggilan atau wawancara. Sebaliknya orang-orang yang saya tahu melamar untuk pekerjaan yang sama tetapi kurang memenuhi syarat memperoleh panggilan untuk wawancara dan diterima bekerja. Ini terjadi sampai awal bulan Juni, setelah sekolah telah libur hampir selama sebulan.

Kemudian saya merasa putus asa dan memutuskan untuk kembali ke kota asal saya atau menunggu di New Jersey (NJ) untuk melihat apakah saya dapat memperoleh pekerjaan. Saya mendoakannya dan akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke rumah dan melihat keadaan keluarga saya, dan menghabiskan waktu bersama kakak saya sebelum dia ikut wajib militer. Paling tidak saya telah mencoba untuk mencari pekerjaan, dan tidak seperti sebelumnya, saya tidak merasa bersalah karena terlalu lama tidur.

Yang menarik adalah setelah saya membeli tiket pulang ke rumah, saya mendapat email dari grup riset yang bergengsi di kampus yang menyatakan saya telah diterima untuk progrom riset musim panas mereka. Tetapi tentu saja hal ini sudah terlambat, saya tetap pulang ke rumah dan menolak tawaran tersebut. Terima kasih kepada Tuhan karena mereka mengirimkan saya email setelah saya telah membeli tiket, jika tidak, saya mungkin akan segera menerima pekerjaan tersebut dan tidak akan mengalami beberapa peristiwa penting di musim panas ini.

Ikatan dengan Kakak saya
Setelah pulang ke rumah, rencana untuk musim panas ini secara berturut-turut adalah menghabiskan waktu bersama keluarga, membersihkan dan merenovasi rumah, belajar untuk GRE, mengikuti seminar Teologi Pemuda Nasional (National Youth Theological Seminar /NYTS), kembali ke NJ, menjadi konselor untuk KKR Siswa dan bersiap untuk sekolah.

Sebelum kakak tertua pergi untuk menjalani wajib militer, saya dan kedua kakak saya banyak menghabiskan waktu bersama. Begitu banyak hal yang dilakukan sebelum kakak saya pergi untuk menjalani latihan dasar. Tetapi, dari semua hal yang telah kami lakukan, peristiwa yang sungguh membuka mata saya adalah ketika saya dan kakak saya sama-sama mencukur rambut kami.

Sementara kami saling mencukur rambut, kami tidak dapat saling membantu tetapi hanya tertawa. Kami membuat foto-foto sebelum dan ssudah proses pencukuran tersebut dan ini menjadi ikatan antara kami. Tetapi keluhan yang sebenarnya adalah ketika kami melihat ke cermin bersama-sama dan melihat rupa kami. Untuk yang pertama kalinya kami tertawa sangat keras secara bersama sampai menangis. Walaupun kami tertawa sampai menangis, di dalam hati saya menangis sedih.

Saya merasa sedih karena ironisnya saya menyadari betapa saya akan merindukan kakak saya dan betapa kesepiannya dia. Ini seperti yang dicatat dalam Yakobus 4:9: "Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah, hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita." Inilah awal rencana Tuhan yang harus saya pelajari, hal yang paling penting adalah Tuhan menyertai saya ke mana pun saya pergi.

Setelah kakak saya pergi, saya bekerja di rumah selama sisa musim panas sampai Seminar Teologi Pemuda Nasional (NYTS) mulai.

SEMINAR TEOLOGI PEMUDA NASIONAL (NYTS)
Seminar Teologi 2004 adalah tahun saya lulus dari seminar. Terima Kasih kepada Tuhan karena selama dua minggu dari pelatihan itu, saya belajar banyak dan saya sungguh-sungguh merasakan kuasa Tuhan. Seringkali sambil mendengarkan kelas seminar, saya merasa seolah-olah Tuhan yang berbicara langsung kepada saya. Ketika saya mempunyai pertanyaan akan hidup saya, pembicara dapat segera menjawabnya.

Ketika kami belajar Kitab Hakim-Hakim, saya dapat melihat lingkaran dosa dalam hidup saya, sama seperti orang Israel yang mengalami kemunduran dan pembebasan moral. Tetapi walaupun mereka berdosa, Allah sangat bermurah hati dan pengasih, selalu menunggu agar orang Israel berbalik kepadaNya.

Kekuatan dari Berpuasa
Tiga hari berpuasa bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Ini membutuhkan lebih dari hanya ketrampilan fisik. Anda harus mempunyai tujuan dan motivasi, jika tidak, anda akan merasa tersiksa karena tidak mempunyai alasan yang jelas. Sebelum saya memulai puasa3 hari, saya berpuasa sehari dan setengah hari untuk meminta agar Tuhan memberikan kekuatan kepada saya untuk berpuasa selama tiga hari.

Alasan utama saya berpuasa adalah karena saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan untuk masa depan saya. Alasan lain adalah karena nubuat dalam Kitab Wahyu bahwa sepertiga dari orang percaya akan jatuh pada akhir zaman. Saya mempunyai dua kakak, dan saya tidak mau salah satu dari kami jatuh.

Di hari pertama saya berpuasa, segala sesuatu berjalan dengan lancar. Saya sama sekali tidak merasa lapar atau haus. Walaupun ketika saya melihat anggota grup sedang makan makanan dan minumannya, saya tidak merasa terganggu atau tergoda. Tetapi di hari kedua sangat berbeda. Saya mulai merasa lemah dan letih dan kerongkongan saya terasa kering. Ditambah lagi saya bertugas sebagai penerjemah dan segalanya terasa sangat menyiksa.

Menjelang makan malam saya merasa seolah-olah terbakar dan dehidrasi. Karena saya merasa sangat panas, saya mandi air dingin pada waktu makan malam untuk menyegarkan diri. Terima Kasih Tuhan, ada beberapa saudara yang mengetahui apa yang sedang saya jalani dan mereka berdoa untuk saya dan memberi semangat. Saya sungguh berterima kasih akan kasih mereka.

Malam harinya saya tidur dengan nyenyak dan di hari ketiga puasa, saya merasa lebih segar. Tetapi yang lebih penting, saya merasa damai dan saya belajar untuk membuang semua keinginan saya. Saya merasa saya tidak perlu melanjutkan lagi karena Tuhan telah menjawab doa saya dengan memberikan kedamaian. Walaupun Dia tidak berkata agar saya menyelesaikan kuliah atau mencari pekerjaan, saya merasa damai dan saya merasa Tuhan bersama saya. Tetapi saya melanjutkan puasa untuk menunjukkan kesetiaan saya kepada Tuhan, hanya karena saya telah menerima dari Tuhan bukan berarti saya akan menyimpang dan pergi meninggalkanNya seperti sembilan dari sepuluh orang kusta yang telah disembuhkan oleh Yesus.

Malam itu, saya berbicara dengan seorang saudara yang juga telah puasa selama tiga hari. Kebetulan sekali, dia berpuasa pada saat yang sama dengan saya, dan saya mengatakan kepadanya bahwa keesokan paginya, ketika puasa kami telah berakhir, kami akan sarapan bersama-sama dengan Yesus. Keesokan harinya ketika bel pertama berbunyi pada waktu puasa pagi hari, menunjukkan bahwa waktunya sarapan untuk yang membutuhkan, saya bangun dan pergi ke ruang makan. Saya menunggu saudara tersebut di luar, dan ketika mata kami bertemu, kami tertawa dan tersenyum.

Selama tiga hari itu, saya sungguh-sungguh kehilangan hasrat jasmani karena secara rohani saya sangat puas. Ini seperti sebuah sumber keran bagi saya yang memancarkan air dan terus mengalir. Tetapi pada saat yang sama saya menyadari betapa lemah dan tidak berkuasanya saya sebagai seorang manusia, dan saya sungguh mengerti makna ayat, 'roh memang penurut tetapi daging lemah.' Tidak ada cara lain yang dapat saya selesaikan sesuai dengan harapan saya jika Tuhan tidak bersama saya. Akan tetapi, selama tiga hari tersebut, setiap kali saya berlutut untuk berdoa saya segera ada dalam tingkatan doa yang lebih tinggi. Ini mengherankan.

Melalui puasa itu, saya mengerti apa yang dimaksud pendeta ketika dia berkata bahwa ada dua tingkatan doa yaitu mencari kuasa dan berkat Tuhan, dan mencari diri Tuhan sendiri. Setelah merenungkannya kembali sekarang, saya mengerti mengapa, di nafas terakhirNya, Yesus harus menggenapi seluruh kebenaran dan berkata ''Aku haus''. Walaupun Dia menderita baik secara jasmani, rohani maupun emosi, Dia tetap menyelesaikan pekerjaan Allah.

Saya juga mengerti mengapa Yeremia adalah nabi yang sering menangis. Dengan iman Dia melayani Tuhan walaupun dia dicemooh dan tidak seorang pun mendengarkan dia. Tetapi dia tetap mempertahankan imannya kepada Allah. Dan saya sungguh mengerti bahwa, untuk melayani Tuhan, kita harus menderita kerugian tetapi kita tidak dapat berhenti ; seperti Yehezkiel tetap bekerja untuk Allah setelah Allah mengambil istrinya sehari sebelumnya (Yeh 24 :16-18).

Salah satu hal penting di NYTS adalah bahwa ada lebih dari 150 siswa yang berdoa, menyanyi dan belajar bersama anda. Mereka datang dari seluruh dunia dan dapat bercerita dengan anda banyak pengalaman yang berbeda dan sangat mudah diingatkan oleh kesaksian mereka. Tetapi salah satu hal yang terpenting adalah bahwa semua orang saling mendoakan. Tidak ada pikiran dalam benak saya bahwa musim panas yang saya habiskan dengan mengikuti beberapa seminar yang diadakan oleh gereja adalah yang paling bermakna.

Di suatu musim panas, saya memutuskan untuk mengambil kelas musim panas daripada menghabiskan waktu untuk mengikuti NYTS, dan saya dapat berkata bahwa saya menyesalinya di akhir musim tersebut. Saya membenarkan tindakan saya dengan berpikir bahwa jika saya mempunyai beban yang lebih ringan pada waktu sekolah maka saya dapat lebih berfokus pada pengembangan kerohanian setiap hari, mungkin ini lebih penting daripada peristiiwa dua minggu ini.

Tetapi tahun ini merupakan hal yang spesial bagi saya secara rohani karena, di satu sisi, saya merasa saya ditinggalkan ketika setiap orang kembali dari NYTS dan memiliki pengalaman ini untuk berbagi, dan saya tidak merasa bahwa saya merupakan bagian dari mereka. Dan yang kedua karena saya harus belajar pelajaran yang menurut saya sangat berat dalam dua minggu tersebut. Sangatlah sulit untuk mengatakan kepada keluarga anda bahwa anda tidak dapat memperoleh profesi yang baik karena anda ingin mengikuti kegiatan gereja, dan sangatlah susah ketika melihat semua teman anda menjadi seorang profesional yang baik sedangkan anda tidak. Tetapi yang berharga adalah, jika Tuhan memiliki anugerah ekstra untuk anda seperti yang Dia miliki pada banyak hal sebelumnya, anda dapat memiliki keduanya.

Tanpa ragu saya dapat berkata bahwa pengalaman dan pemikiran saya pada NYTS ini lebih baik daripada sebelumnya karena saya sungguh-sungguh merasakan Tuhan. Saya merasa Dia mengampuni dosa-dosa saya, saya merasakan kuasa, penderitaan, dan kasihNya yang besar. Dan saya malu. Tetapi Tuhan masih mempunyai lebih banyak hal yang harus saya pelajari.

KKR SISWA
Setelah NYTS selesai, saya dan kakak saya pergi ke NJ, dan oleh anugerah Tuhan kami berdua melayani sebagai konselor selama KKR Siswa pada bulan Agustus. Dlm KKR ini saya melihat sebuah gambar yang besar, rencana besar yang Tuhan sediakan untuk saya selama selama musim panas ini.

Di NYTS di mana ada lebih dari 150 orang yang berdoa dan bernyanyi bersama-sama, saya terbiasa dengan suara keras. Saya terbiasa untuk merasakan kuasa Tuhan dalam doa dan saya terbiasa dengan tempat tersebut. Tetapi di KKR Siswa hanya ada sekitar 50 orang lebih dan sejak doa pertama, semuanya terasa sangat tenang.

Suara mereka sangat pelan dan dalam doa saya tidak dapat merasakan Tuhan seperti ketika saya di NYTS. Saya mulai bertobat dan saya pikir mungkin sebagai konselor kami kurang berdoa pada masa persiapannya. Saya takut para siswa tidak memperoleh banyak hal dari KKR tersebut dan ini adalah kesalahan kami. Karena saya sangat terganggu dengan hal ini, saya menulis ini di dalam buku catatan saya sebagai hal yang perlu diperhatikan di kelas:

Tuhan, apa yang salah? Saya tidak mengerti, mengapa kami begitu lemah ? Tuhan tolonglah kami, kami memerlukan Engkau.

Segala sesuatu berjalan normal selama beberapa hari kemudian. Selama sesi kesaksian, saya tersentuh dengan kesaksian seorang saudari dan Tuhan membuka mata saya. Saya sangat terharu sehingga untuk pertama kalinya di dalam hidup saya menuliskanya di buku harian:

Aduh, saya bodoh. Ampuni saya Tuhan. Engkau selalu berada di sini tetapi saya tidak dapat melihat Engkau. Saya tidak dapat melihat pekerjaanMu karena saya tidak dapat mendengar suaraMu yang tenang. Sampai akhirnya saya menyadari keberadaanMu melalui kesaksian seorang anak berumur 11 tahun. Saya terbiasa melihat kuasaMu melalui mata dan mendengar dengan telinga, tetapi saya tidak pernah mempertimbangkan bahwa Engkau tidak ada di antara mereka. Tetapi sekarang saya mendengarnya dengan hati saya, bisikan suaraMu. Saya telah bertemu dengan Tuhan dan kapan secara pasti saya tidak tahu. Iman yang dapat memindahkan gunung-gunung. Iman yang sangat sederhana dan murni, tetapi begitu dalam. Ampuni saya Tuhan, saya adalah seorang yang berdosa. Tahirkan saya dan hapus kesalahan saya. KekudusanMu sangatlah mengagumkan. Amin

Tuhan telah bekerja sepanjang masa! Tetapi saya tidak dapat melihat pekerjaanMu karena saya tidak mendengar suaraNya yang tenang. Saya mencari kuasa Tuhan tetapi tidak mencari diri Tuhan sendiri. Ini terjadi setelah saya melihat bagaimana Tuhan telah menggerakkan begitu banyak siswa selama KKR itu. Beberapa orang berkata ini adalah hal yang terbaik karena mereka sungguh-sungguh merasakan Tuhan dan dapat berbicara kepadaNya.

Saya belajar bahwa ketenangan yang merupakan ciri dari KKR ini adalah damai sejahtera yang sesungguhnya dari Tuhan. Bahkan para siswa berkata betapa damainya KKR ini dibandingkan pertemuan sebelumnya. Anda tidak akan melihat para siswa berlari berkeliling, saling mengejar satu sama lain. Mereka berdoa, membaca Alkitab, makan dan tidur.


Akhirnya saya menyadari apa yang Tuhan rencanakan untuk saya pelajari di musim panas ini. Ini adalah sebuah proses yang panjang tetapi yang jelas pastilah sangat berharga. Saya belajar bahwa kemana pun saya pergi, hal yang terpenting adalah Tuhan selalu menyertai saya dan mendengar suaraNya. Karena semakin saya memikirkannya, saya semakin menyadari bahwa proses yang saya jalani sama dengan proses yang dijalani Elia.

Melalui kemenangannya di gunung Karmel melawan nabi--nabi Baal, mulai dari melarikan diri ke padang belantara, berpikir bahwa dia sendirian, mencari kuasa Tuhan di gunung Horeb, dan akhirnya bertemu dengan Tuhan ketika dia mendengar suaraNya yang tenang, menyadari bahwa dirinya tidak sendiri, dan terus bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan baginya. Ini sama halnya yang terjadi pada saya.

Saya melihat kuasa Tuhan di NYTS dan kemenanganNya atas Setan. Saya terbiasa berpikir bahwa saya hanya sendiri saja. Tetapi di NYTS saya melihat Tuhan telah menyediakan banyak pekerjaNya yang lebih beriman dan lebih bersemangat daripada saya. Dengan mata sendiri saya melihat Tuhan selalu meningkatkan iman dari anak-anakNya. Dalam KKR itu Tuhan maju satu langkah, bukan hanya untuk mencari kuasa dan berkatNya tetapi untuk mencari Tuhan sendiri, mendengar suaraNya yang tenang dan membawaNya kemana pun saya pergi.

Ketika saya seorang mahasiswa, saya sungguh-sungguh dapat melihat bahwa semua keputusan yang saya ambil sungguh-sungguh mencerminkan ke mana arah hidup saya.

Sebenarnya ada hal terakhir yang saya pelajari di NYTS tentang dua kata Henokh yang disebut dalam kitab Kejadian. Yang satu berasal dari keturunan Kain,di mana Kain mendirikan sebuah kota yang dinamakan Henokh dan dia melambangkan popularitas dan keberuntungan. Yang lain berasal dari keturunan Set, dia berjalan bersama Tuhan. Jadi saya menghadapi sebuah pilihan, apa yang akan saya lakukan setelah lulus kuliah? Sekarang saya memiliki pilihan di mana saya dapat memperoleh damai sejahtera jika saya memilih berjalan bersama Tuhan.

Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.(Yes 30:15).

Enoch Chang - Houston, Texas, Amerika Serikat
Manna 46 - Spreading the Gospel
untuk menyimpannya ke dalam media penyimpan, klik-kanan pada link di atas, dan pilih "save link as" (pada Mozilla Firefox) atau "save target as" (pada Microsoft Internet Explorer).