Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Pengampunan-Mu Pulihkanku  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Pengampunan-Mu Pulihkanku

Beberapa waktu yang lalu saya pernah membawakan kesaksian ini kepada teman-teman non- gereja. Seminggu setelah itu, mereka menjauhi saya. Ternyata orangtua mereka melarang mereka bergaul dengan saya. Ini sungguh membuat saya merasa dikucilkan. Dan sempat membuat saya trauma untuk membagikan lagi kesaksian ini. Tetapi sekarang saya tidak takut, karena saya percaya bahwa Tuhan pasti membuka jalan bagi setiap orang yang mau mengabarkan kasih Tuhan atas hidup manusia yang mau percaya kepada-Nya.

SALAH MEMILIH DALAM BERGAUL
Saya anak pertama dari empat bersaudara. Sejak kecil saya aktif di Gereja Yesus Sejati Tangerang, begitu juga kedua orangtua saya adalah aktivis gereja. Kira-kira kelas 3 SMP, pergaulan saya mulai meluas, terutama karena kebebasan memilih teman yang saya miliki dan karakter saya yang supel dan mudah sekali berteman.

Suatu hari saya ditegur orangtua karena sering pulang malam, terutama pada malam minggu - harinya pergi ke tempat balap motor bersama teman-teman. Sebagai anak pertama yang manja, saya tersinggung ditegur begitu. Saat itu kebetulan ada teman yang mau pergi ke tempat disko. Langsung saja saya ikut dia sebagai tanda protes pada orangtua. Dan ternyata saya menyukai kehidupan seperti itu. Sejak itu, saya tidak pernah melewatkan acara pesta ulang tahun tujuh-belasan, yang begitu usai pasti saya lanjutkan ke diskotik terdekat.

Begitu senangnya saya menjalani kehidupan malam, sampai-sampai saya mencari-cari cara untuk dapat terus berada di tempat seperti itu. Saya kursus DJ (Disc Jockey) di Jakarta, kemudian menjadi karyawan tidak tetap di salah satu diskotik di Jakarta, tanpa sepengetahuan orangtua. Di situlah saya mengenal narkoba jenis ekstasi. Bentuknya bulat, berwarna, rasanya sangat pahit. Tapi jika diminum, membuat kita merasa sangat senang dan seluruh badan terasa ringan, enak sekali diajak disko. Untuk pemula, biasanya minum ½ butir saja sudah cukup. Saya sempat mencapai dosis 5 butir semalam. Efek samping dari obat itu adalah, pemakai jadi sangat sensitif, pemarah, tidak doyan makan, tidak dapat tidur, pelupa, otak lamban. Siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Begitulah kehidupan saya sebagai seorang DJ. Tidak pernah punya waktu untuk ke gereja; bahkan bertemu dengan orangtua saja jarang.

Dari waktu ke waktu pergaulan saya semakin jauh. Saya pun mengenal narkoba jenis lain, yaitu putau (sebutan lain untuk heroin). Warnanya putih, berbentuk bubuk halus seperti bedak, rasanya sangat pahit. Ada dua cara pemakaian yang dikenal pemakai pada umumnya. Yang pertama dengan cara suntik. Serbuk putau diberi beberapa tetes air, dimasukkan ke jarum suntik, kemudian disuntikkan pada urat tubuh, biasanya tangan karena mudah dijangkau. Yang kedua dengan cara dibakar di atas kertas timah, lalu dihisap. Serbuk ini punya efek samping yang sangat berbahaya, seperti kehilangan daya tahan tubuh, daya ingat berkurang, pemalas, egois, tidak doyan makan, menyukai minuman dingin.

Sedikit tambahan informasi tentang putau. Bila seseorang menggunakannya, dia akan merasa fly dan hampir seluruh tubuhnya, terutama hidung, terasa gatal sehingga akan terasa sangat nyaman kalau digaruk. Hari pertama sampai kelima, pengguna akan merasa sangat nikmat dan keinginan untuk memakainya lagi semakin besar. Hari berikutnya, jika tidak atau terlambat memakai obat itu, ia akan merasakan sakau (gejala putus obat/withdrawal), yang amat menyakitkan. Sumsum tulang terasa sakit luar biasa seperti ditusuk pakai jarum, ngilu, dingin, mual, demam.

Awalnya saya hanya mencoba, ingin tahu seperti apa rasanya. Ternyata enak sekali, begitu enaknya hingga rasanya tidak ada orang yang dapat mengatur hidup saya. Tapi saya tidak tahu tentang sakau ini. Semalaman penuh saya gelisah dan merasa ngilu. Tulang serasa ditusuk oleh ribuan jarum, urat-urat serasa ditarik sekuat-kuatnya, ulu hati terasa sangat nyeri, dingin di sekujur tubuh, tidak ada nyali untuk mandi.

Ketika saya tanyakan, teman mengatakan bahwa saya harus menggunakan obat itu lagi bila mau sembuh dari sakau. Sesuai dengan anjurannya, saya pun membelinya. Setelah saya pakai, ternyata benar sakaunya hilang. Sejak saat itu saya pun rutin memakai ‘barang’ itu. Waktu itu satu paket kecil yang hanya cukup untuk sekali pakai harganya Rp. 20.000,-. Empat bulan pertama, sehari saya cukup memakai 1 paket. Pada bulan kelima, dosis segitu saya rasakan kurang. Satu paket tidak cukup untuk sekadar meredakan sakau. Jadi saya tambah menjadi 2 paket. Setelah 2 tahun, dosis saya mencapai 4 sampai 5 paket sehari. Demikianlah, sekitar 4 tahun lamanya saya berhubungan akrab dengan serbuk dan jarum suntik. Coba Anda hitung sendiri berapa banyak sudah uang yang melayang selama itu!

Saya pernah 3 kali kelebihan dosis sehingga tidak sadarkan diri. Tiba-tiba saja tidak merasakan apa-apa. Tahu-tahu sudah ada di rumah sakit. Pernah pula 1 kali dikejar polisi pada hari ulang tahun saya, selagi naik motor bersama seorang bandar putau yang sedang dicari polisi. Saya tidak tahu-menahu tentang hal itu sebelumnya. Polisi sempat memberikan tembakan peringatan ke atas. Untung tidak ditembakkan kepada saya untuk menghentikan laju motor. Sekarang saya baru menyadari bahwa kasih Tuhan begitu besar kepada saya. Tetapi pada saat itu sama sekali tidak pernah terpikirkan bahwa semua itu adalah teguran dari Tuhan. Saya tetap saja menyentuh serbuk itu.

Sebenarnya saya pun sudah lelah dan malu, karena hidup saya begitu diatur oleh serbuk itu. Saya dijauhi teman, selalu dicurigai oleh orang lain, tidak dipercaya oleh keluarga. Contohnya, tidak ada yang berani meminjami saya motor, karena takut dijual atau digadaikan oleh saya. Tapi betapapun inginnya, saya tidak dapat melepaskan diri dari serbuk itu.

Pernah saya mencoba untuk berhenti. Saya kabur dari rumah agar tidak bisa mendapatkan uang, apalagi putau. Saya pergi ke tempat saudara dan minta diizinkan tinggal sementara di sana. Saya mencoba menahan sakau tanpa obat dari dokter. Hari pertama rasa sakitnya belum seberapa parah. Hanya merasa gelisah sewaktu tidur, selalu memikirkan obat itu, dan merasa ngilu di sekujur tubuh terutama pinggang, seperti ditindih pakai sekarung beras seberat 30 kg.

Hari kedua tidak nafsu makan karena mual dan resah, dan ada dorongan untuk mencoba kabur. Saya sangat beruntung punya saudara dan Nenek yang begitu menyayangi. Saya selalu diawasi, dibelikan air kelapa yang menurut dokter sangat berguna untuk melancarkan buang air sehingga dapat mempercepat pembersihan obat dari dalam tubuh. Malamnya sama sekali tidak bisa tidur karena merasa sakit yang begitu luar biasa, seperti kita tidur di lantari lalu diinjak oleh seekor gajah. Sungguh menderita.

Hari ketiga adalah puncak sakau. Dari pagi sampai malam tidak bisa makan. Keadaan tubuh yang lemas karena kurang tidur dan tidak makan sangatlah menyiksa. Rasa ngilu yang menyerang begitu luar biasa, tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Malam harinya saya benar-benar tidak dapat mengontrol diri. Saya membanting diri ke lantai dan membenturkan kepala ke tembok, juga menyiram tubuh dengan air dingin, mandi dan berendam di tengah malam. Setelah mandi tubuh terasa lebih enak, tapi hanya bertahan sekitar setengah jam sebelum rasa ngilu itu muncul lagi. Saya pun mandi lagi. Begitu terus-menerus sepanjang malam. Paginya saya tertidur juga walaupun hanya 3 jam.

Di hari keempat saya sudah mulai bisa makan. Walaupun rasa sakit masih ada, saya sudah mau bangun dari tempat tidur dan ngobrol. Tapi tetap tidak dapat tidur. Hari kesepuluh baru bisa dibilang pulih walaupun masih lemas.

Tapi perang yang sesungguhnya baru dimulai setelah sakau tidak lagi menyerang. Timbullah sugesti (keinginan kuat untuk memakai "barang" itu lagi, tidak akan tenang sebelum berhasil, sehingga orang terus saja mencoba mendapatkan obat itu). Tidak sampai 4 bulan, saya terjerumus kembali. Kedua orangtua saya sampai tidak tahu lagi harus bagaimana. Segala cara sudah diupayakan. Cara halus dengan tukar pikiran sampai cara kasar dengan mengurung di rumah dan bahkan sampai memukul karena begitu sayangnya, tidak ingin kehilangan anak. Tetap saja saya kabur dan tidak menghargai kasih sayang orangtua kepada saya.

Dalam keputusasaan, mereka bertanya, apa sebenarnya mau saya. Dan saya pun menjawab saya juga ingin berhenti. Saya sudah begitu lelah dan malu, tapi tidak dapat. Saya sudah terikat erat pada obat itu, mencintainya lebih dari segalanya, bahkan melebihi cinta kepada kedua orangtua. Itulah salah satu efek terjahat obat itu. Membuat orang tidak punya rasa sayang terhadap orang lain. Yang dipikirkan hanya diri sendiri dan bagaimana cara mendapatkan obat itu.

KUASA TUHAN BEKERJA
Dalam hati saya berkata, "Ya Tuhan, kenapa aku jadi seperti ini? Kembalikanlah kehidupanku seperti semula... aku sudah lelah." Saat itulah kuasa Tuhan bekerja. Keuangan keluarga saya tiba-tiba saja menurun sehingga saya kesulitan mendapatkan uang untuk membeli putau. Saya jadi brutal. Segala jenis narkoba saya coba untuk meredakan sakau, tapi tidak berhasil. Sakau hanya akan hilang dengan memakai putau.

Suatu hari saya meminjam uang dari teman, lalu semuanya saya belikan obat itu, dan saya pakai, tapi kelebihan dosis. Dalam keadaan tidak sadar, saya diantar pulang oleh teman. Telapak kaki saya sampai melepuh terbakar karena menginjak knalpot motor dan kepala benjol hampir sebesar jeruk karena menurut teman, saya terjatuh ke belakang sewaktu dibonceng. Sesampainya di rumah saya, teman saya mengetuk pintu lalu langsung pergi, meninggalkan saya di depan pintu.

Saat itu Papa sedang keluar kota, di rumah tidak ada kendaraan. Jadi saya dibawa ke rumah sakit pakai becak. Di perjalanan, adik saya memukuli saya agar saya sadar, tapi sia-sia. Diberi susu beruang, juga sia-sia. Kuku jari saya dipencet sampai biru, tetap tidak sadar juga.

Di rumah sakit, dokter hanya berkata "Terlambat!" Cuma kuasa Tuhan yang dapat menolong saya. Mama langsung menelepon Papa dan saudara yang lain agar membantu doa, karena mereka percaya bahwa tidak ada kata terlambat bagi Tuhan.

MENDAPATKAN KESEMPATAN SEKALI LAGI
Selama dua hari saya koma, Mama, Papa dan semua saudara berdoa agar Tuhan memberikan kesempatan sekali lagi kepada saya. Doa itu pun dikabulkan. Pada hari ketiga, saya sadar. Tapi kira-kira seminggu lamanya saya mengalami lupa ingatan ringan karena benturan yang terjadi pada bagian belakang kepala saya. Dalam sehari saya bisa 20 kali menanyakan jam dan tanggal kepada Mama.

Setelah agak pulih, saya berdoa, "Ya Tuhan, ampuni aku. Ajaklah aku kembali ke jalan-Mu. Amin." Selesai berdoa, saya punya keyakinan bahwa saya akan sembuh.

Kesembuhannya datang secara bertahap. Saya dijaga ketat oleh Mama, tidak boleh keluar rumah. Empat bulan pertama saya menurut, tetapi pada bulan kelima saya merasakan sugesti atau keinginan yang begitu kuat untuk memakai 'barang' itu. Di mana pun, kapan pun, jika sugesti itu sudah muncul, saya merasa harus mendapatkan 'barang' itu, apa dan bagaimaana pun caranya, dan memang selalu berhasil. Tetapi sejak saat itu, setiap kali saya ingin memakai obat itu lagi, pasti ada saja kendalanya.

Anda tahu, kenapa saya masih merasakan sugesti? Karena pada saat itu saya belum berserah dengan sepenuh hati kepada Tuhan. Sedikit demi sedikit saya mengatur jadwal doa dengan dukungan dari Mama, Papa dan saudara, agar semakin dekat dengan Tuhan.

Hari ini saya sudah membuktikan bahwa kuasa Tuhan begitu besar dalam kehidupan saya. Pengampunan Tuhan memulihkan saya. Tanpa obat maupun rehabilitasi, saya sembuh. Hari-hari saya selalu dipenuhi kuasa Tuhan. Sekarang saya sudah punya pekerjaan tetap di bagian pemasaran. Saya tidak punya keahlian dalam menawarkan produk, tapi dengan selalu berdoa sebelum memulai segala sesuatu, segala pekerjaan saya lancar-lancar saja sampai sekarang. Saya juga merasakan pengaturan Tuhan atas jalan hidup saya. Tuhan mendorong saya untuk mengikuti Kursus Guru Agama. Jadi sekarang saya sudah dapat melayani Tuhan.

Dari pengalaman ini, saya ingin memberikan beberapa saran untuk mereka yang sudah terjerat narkoba dan ingin lepas darinya:

  1. Jauhi lingkungan tempat kita mengenal obat itu, sejauh-jauhnya.
  2. Dekatkan diri kepada Tuhan dengan cara selalu berdoa dan mengadakan persekutuan di rumah.
  3. Cari teman yang dapat dan mau membantu kita menjauhkan diri dari obat itu.
  4. Perkenalkan teman-teman baru kita kepada orangtua, agar kegiatan kita bisa dipantau.

Kita para pemakai narkoba, walaupun merasa dikucilkan dari dunia ini, sebenarnya tidaklah demikian. Kita hanya perlu memberanikan diri untuk curhat kepada orangtua. Dengan doa yang terus-menerus, kita pasti dapat melawan sakau dan sugesti. Saya jamin Tuhan pasti membukakan jalan bagi siapa saja yang mau bertobat. Juga ingatlah selalu bahwa nasihat dan pukulan dari orangtua pasti mempunyai maksud yang baik, karena mereka masih sayang. Bila mereka sudah tidak sayang lagi kepada kita, mereka tentu tidak mau mengurusi kita lagi. Jangan sampai mereka tidak mau lagi menasihati dan memukul kita di saat kita melakukan kesalahan.

Saya juga memberanikan diri untuk memberikan sedikit saran kepada para orangtua: pantaulah selalu pergaulan anak Anda; usahakan agar Anda mengenal baik teman-teman anak Anda satu per satu. Mintalah agar anak Anda segera memperkenalkan setiap teman baru mereka, jangan sampai terlambat, untuk penjagaan ekstra. Jika anak Anda seorang pemakai, atasilah dengan kepala dingin, jangan dengan kekerasan, karena seorang pemakai akan semakin memberontak jika diperlakukan dengan keras. Ajak anak Anda bertukar pikiran dan tanyakan, sudah seberapa parah ia kecanduan. Lalu ajak dia ke dokter untuk periksa. Juga mintalah agar Tuhan menyertai kita, karena Tuhanlah Dokter di atas segala dokter.

Dan saran saya untuk mereka yang belum pernah mengenal narkoba: jangan pernah mau kenal, apalagi mencintainya. Jauhkan diri saja darinya. Itu sudah cukup. Ingatlah selalu 1 Korintus 15:33: "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik"

Semoga kesaksian saya ini bisa menambah wawasan sidang pembaca tentang narkoba dan membawa berkat bagi kita yang mau percaya kepada Tuhan.

Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih dari lubuk hati saya yang paling dalam kepada Tuhan yang mau terus-menerus menjaga dan menegur saya, serta memberikan kesempatan kepada saya untuk memperbaiki diri. Aku bangga punya Allah seperti Engkau.

Juga kepada seluruh keluarga, baik yang di Bandung maupun yang di Tangerang, terutama Nenek yang sampai sekarang masih mau menasihati saya. Kalian sungguh baik mau memberikan yang terbaik buatku. Kepada Mama dan Papa, sedikit pukulan dan omelan yang kalian berikan sangatlah berarti bagiku. Kalian orangtua yang patut kubanggakan. Kepada adik-adik, terima kasih karena mau mengawasi, terima kasih atas nasihat yang kalian berikan. Kepada teman-teman dan saudara-saudari seiman, terima kasih atas dukungan, doa, saran, dan jerih lelah kalian yang membuahkan hasil bagiku, terutama di mata Tuhan. Sekali lagi terima kasih, Tuhan memberkati kalian semua.

Akhir kata, penyesalan dan kesedihan bukanlah jalan keluar. Jalan keluar ada pada doa dan kemauan untuk memperbaiki diri dengan senantiasa memohon bimbingan Tuhan. Amin.

Charlie Antonius - Tangerang, Indonesia

Sumber: Warta Sejati 45
untuk menyimpannya ke dalam media penyimpan, klik-kanan pada link di atas, dan pilih "save link as" (pada Mozilla Firefox) atau "save target as" (pada Microsoft Internet Explorer).