Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Roh-Nya Menuntunku  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

ROH-NYA MENUNTUNKU

Saya dibesarkan dalam keluarga yang menganut agama leluhur. Kemudian saya merantau ke Kalimantan Timur, dan pada tahun 1984 dibaptis di salah satu gereja di sana. Tahun 1985 saya kembali ke Makasar karena Papa sakit diabetes yang berkomplikasi dengan kerusakan ginjal. Penyakitnya makin lama makin parah, sampai memutuskan untuk berobat ke Belanda, tetapi tidak sembuh juga.

Karena merasa penyakitnya sudah tidak tertolong lagi, Papa minta dicarikan pendeta untuk didoakan. Seorang pendeta datang mendoakan, dan tak lama kemudian papa dibaptis dengan baptisan percik. Kira-kira seminggu kemudian Papa meninggal, pemakamannya dilayani oleh gereja itu, karena pendetanya adalah suami sepupu saya. Sejak itu saya sering beribadah di gereja itu.

Tetapi sejak sering beribadah, saya merasa kehidupan saya bertambah berat; anak-anak saya yang lima orang sakit bergantian. Sampai akhirnya untuk membeli beras pun harus dibantu oleh kakak ipar. Saya jadi jarang kebaktian. Mula-mula sebulan 2-3 kali saja, lalu menjadi sebulan sekali, akhirnya tidak kebaktian sama sekali.

Setelah tidak kebaktian, ekonomi mulai membaik. Saat itulah saya memutuskan tidak akan beribadah lagi, bahkan istri pun, yang sejak kecil aktif di gereja lainnya, saya larang beribadah. Tetapi secara sembunyi-sembunyi dia masih suka pergi beribadah, sehingga saya memarahinya dengan kata-kata yang cukup kasar. Tetapi istri saya tetap saja rajin beribadah dan selalu mendoakan saya.

Sepuluh tahun tidak beribadah, keadaan ekonomi terus membaik. Tetapi pada tahun 1995 saya mendapat penyakit; perut saya terasa sakit sekali, kalau buang air besar keluar darah segar. Setahun lebih berobat ke mana-mana - dokter, sinshe, bahkan dukun - tidak ada perubahan. Akhirnya pergi ke dokter spesialis penyakit dalam. Setelah menunggu selama hampir 2 jam, tibalah giliran saya diperiksa.

Setelah memeriksa cukup lama, dokter (masih termasuk famili) berkata, "Kamu gila, tidak sakit apa-apa mau ke dokter." Saya tersinggung dan menjawab, "Dokter yang gila, kalau tidak sakit, buat apa menunggu sampai hampir 2 jam! Saya ke sini tidak gratis, tahu!"

Tapi dokter tetap menyatakan tidak ada kelainan atau tanda-tanda adanya penyakit pada diri saya, sementara keluhan yang saya rasakan masih terus berlanjut. Saya jadi sering berandai-andai: coba kalau punya uang, tentu bisa pergi ke Singapura atau RRC untuk berobat, pasti bisa sembuh. Tengah malam, kalau memperhatikan anak-anak yang sedang tidur, hati saya merasa sedih sekali; kalau saya mati, hidup mereka pasti sengsara.

Lalu seorang famili menganjurkan untuk berdoa kepada Tuhan setiap tengah malam. Dia memberi ayat referensi dari Kitab Yohanes 15:7. Walaupun tidak pernah membaca Alkitab, saya menuruti sarannya. Setiap tengah malam, saya bangun untuk berdoa. Minggu ketiga berdoa, ada gangguan: ada raksasa yang ingin mencekik saya, tetapi saya mengelak ke belakang. Malam berikutnya, ada suara orang mengedor-gedor pintu, tetapi begitu pintu dibuka, tidak ada siapa-siapa.

Suatu malam saya bermimpi: saya sedang berdoa, lalu ada seseorang yang menghampiri dan berkata, "Berdoa jangan seperti itu; lihat saya!" Orang itu lalu berlutut dengan kedua tangan tertangkup rapat. (Selama ini saya berdoa dengan posisi bersila atau duduk di atas pembaringan dengan kedua telapak tangan terbuka.) Setelah terbangun, saya mencoba berdoa berlutut dengan kedua tangan tertangkup. Ternyata rasanya lebih nyaman. (Belakangan, ketika pertama kali datang ke Gereja Yesus Sejati, saya melihat jemaat berdoa dengan cara yang sama seperti yang diajarkan kepada saya dalam mimpi itu).

Setelah berdoa 40 hari, sekali lagi saya mendapat mimpi: tiba-tiba seorang yang berpakaian putih datang menghampiri. Saya tidak dapat membedakan apakah dia perempuan atau laki-laki. Dia memegang perut bagian kanan saya yang sakit. Mula-mula tangannya terasa dingin, lalu berubah jadi hangat. Lalu dia menusuk dan membedah perut saya; isi perut saya diambil lalu diperasnya. Rasanya sakit sekali sampai saya terbangun dari tidur. Begitu terbangun, saya langsung bersorak, “Aku sembuh! Aku sembuh!” Dan semua obat-obatan dari dokter, sinshe, maupun dukun, saya buang. Sejak itu penyakit saya memang tidak pernah kambuh lagi, tapi saya tetap tidak pergi beribadah ke gereja.

Sekian lama tidak ke gereja, saya tidak pernah berpikir bisa beribadah lagi. Bahkan pernah, selama satu bulan lamanya saya sering mendengar suara panggilan sembahyang pada jam-jam yang aneh; bukan pada jam sembahyang, malah pernah pada pukul 3 pagi. Suaranya merdu sekali, sungguh menggetarkan hati. Salah satu saudara mama sampai berkata, "Saya sendiri belum pernah mendengarnya. Tuhan memanggilmu masuk agama saya." Saya memang sempat mempertimbangkannya.

Lalu suatu hari seorang tetangga memperkenalkan saya pada seorang jemaat Gereja Yesus Sejati. Saudara itu kemudian sering datang menginjili saya dan bercerita tentang Roh Kudus. Bersama seorang saudara lain, dia sering datang untuk bincang-bincang dan mengajarkan tentang Alkitab dan cara berdoa. Katanya, berdoa itu harus dalam nama Tuhan Yesus, dengan sepenuh hati memohon Roh Kudus. Cukup mengulang-ulang kata "Haleluya". Saat menerima Roh Kudus, badan akan bergetar dan lidah akan terus berputar. Saya bertanya, "Apa seperti kesurupan?" Mereka bilang, "Tidak, kita tetap sadar sepenuhnya."

Karena itu saya penasaran juga. Suatu malam saya mencobanya. Setelah 20 menit mengucapkan "Haleluya", tiba-tiba lidah saya seperti hidup sendiri, bergetar tanpa henti, bibir seperti kena sengat listrik, persis seperti cerita mereka.

Setelah itu terjadi perubahan pada diri saya. Saya jadi senang membaca Alkitab, sehari bisa 3-4 kali, walau saya melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, takut kalau dipergoki oleh istri yang selama ini saya larang ke gereja. Kemudian saya pergi menemui pendeta ke Gereja Yesus Sejati untuk memastikan apakah saya memang sudah menerima Roh Kudus. Ternyata memang sudah, tetapi karena saya berdoa dengan mulut tertutup sesuai dengan kebiasaan di rumah (sebab takut terdengar oleh istri), beliau mengajari saya berdoa dengan suara keras.

Puji Tuhan, akhirnya pada tanggal 20 Juni 2000 saya bersama Mama dan tiga orang anak saya menerima sakramen baptisan. Lalu pada tanggal 30 September 2000, sepupu saya juga menerima baptisan, dan dua anak saya yang lain menerima baptisan pada tanggal 24 Februari 2001, sementara istri saya dibaptis pada tanggal 25 Juni 2005.

Haleluya! Saya bersyukur atas kemurahan Tuhan yang telah memilih saya menjadi umat-Nya. Saya berusaha menjadi anak Tuhan yang baik dan giat dalam pekerjaan Tuhan. Kiranya kesaksian ini bisa memuliakan nama-Nya. Amin.

Hengki Lisal - Makasar