Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Satu Dasawarsa Dalam Pergumulan  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Satu Dasawarsa Dalam Pergumulan

Tahun 2008 ini, tanpa terasa telah genap dua dasawarsa saya dan istri hidup berumah tangga, dikaruniai dua orang putra yang saat ini berangkat dewasa; yang pertama sudah kuliah dan yang bungsu duduk di kelas 3 SMA. Bersyukur kepada Tuhan Yesus, saya dikaruniai seorang istri yang baik, yang mengasihi keluarga, sebagai pendamping suami di kala suka maupun duka.

Sesuai firman-Nya, manusia hidup menurut rancangan dan kehendak-Nya. Bagaikan dalam cerita, kita berjalan selangkah demi selangkah; kita tidak berkuasa menguasai hari esok, selangkah pun tidak. Begitu pula dengan kehidupan kami. Sepuluh tahun pertama pernikahan kami (1988-1997), hidup kami sepertinya sedang mendaki puncak gunung, menyongsong terbitnya sinar matahari yang hangat, begitu indah dan penuh harapan. Di kala usia baru menginjak 37 tahun dan memiliki keluarga yang harmonis dengan dua orang putra yang sehat dan sedang lucu-lucunya (anak pertama 7 tahun, anak kedua 5 tahun), dengan kondisi ekonomi yang cukup baik, saya bercita-cita akan mengembangkan usaha yang lebih besar lagi. Dalam kehidupan rohani pun, Tuhan Yesus memberikan berkat dan kesempatan yang baik kepada kami sekeluarga. Kami dipakai sebagai alat-Nya, baik di dalam pelayanan di gereja cabang tempat saya tinggal, maupun di gereja pusat.

Usaha saya diawali pada tahun 1991, jauh sebelum krisis 1997-1998 terjadi. Sesuai dengan bidang karir kerja saya selama ini di perusahaan distribusi kendaraan bermotor, saya membuka usaha penjualan mobil milik sendiri. Sebagai pemuda berusia 31 tahun yang energik, saya ingin berlari kencang dan punya cita-cita besar.

Dalam kurun 7 tahun, saya sudah memiliki dua tempat usaha penjualan mobil yang cukup berkembang, dan menurut rencana pada tahun 2000 akan menambah satu cabang lagi, sehingga saat berusia 40 tahun saya akan memiliki tiga cabang usaha penjualan mobil. Keberhasilan usaha yang saya rintis ini tak luput dari perhatian pihak bank, sehingga beberapa bank memberikan fasilitas pinjaman untuk pengembangan usaha. Prestasi penjualan kendaraan saat itu cukup baik, sebanyak lima puluh unit per bulan, termasuk beberapa kendaraan mewah keluaran terbaru yang dapat kami jual setiap bulannya. Saat itu, secara jasmani kami hidup berkecukupan; semua yang kami harapkan, telah kami terima dari Tuhan Yesus. Dengan usaha yang baik, keluarga yang bahagia, dan masa depan yang cerah serta berjalan di rel yang benar, kami memperkirakan ke depannya akan bisa menjadi lebih baik, lebih besar lagi.

Namun manusia tak dapat menduga perjalanan hidupnya, apalagi mengaturnya. Masa sulit yang melanda Indonesia pun tiba. Dimulai pada bulan Juli-Agustus 1997 dan berlangsung sampai tahun 1998, krisis menerjang sektor moneter, perbankan, keuangan, ekonomi, sosial, dan politik. Krisis multi dimensi, terasa begitu hebat menerjang sektor usaha dan kehidupan masyarakat umumnya, termasuk usaha saya.

Keadaan menjadi terbalik dibanding masa normal sebelumnya. Selama krisis, prestasi penjualan kami merosot tajam. Dari lima puluh unit per bulan terus merosot drastis hingga tinggal satu unit per bulan. Biaya melonjak tajam karena beban bunga dan kewajiban angsuran bank melonjak tajam. Bunga bank yang tadinya berkisar 13% per tahun naik pesat menjadi 70% per tahun. Biaya gaji karyawan sebanyak 67 orang yang harus terus dibayarkan dalam waktu yang panjang tanpa pemasukan yang memadai juga menyebabkan keadaan menjadi sangat sulit. Untuk bertahan – dengan harapan 5-7 bulan ke depan keadaan akan berangsur membaik – pun tidak mungkin, karena ternyata keadaan malah jadi semakin buruk. Akhirnya saya memutuskan menjual apa saja asset yang saya miliki berupa gedung usaha, mobil, rumah, dan sebagainya. Celakanya nilai asset-asset tersebut jatuh tajam. Saat itu masyarakat umum panik, kerusuhan terjadi di mana-mana, sehingga tidak ada orang yang peduli untuk membeli properti; kalaupun ada, nilai assetnya anjlok sampai 50%.

Akibat krisis yang berdampak begitu besar, keadaan keuangan kami dalam seketika menjadi terbalik 180 derajat. Kalau sebelum krisis berdasarkan penilaian bank asset yang saya miliki lebih besar daripada pinjaman, sehingga bilamana saya menjual asset dan membayar semua kewajiban pinjaman, saya akan punya kelebihan uang yang relatif cukup banyak, maka krisis yang berkepanjangan menyebabkan perkiraan jadi terbalik – kewajiban pinjaman saya lebih besar daripada asset.

Kesulitan di atas diperburuk lagi dengan adanya pelanggan yang tak mampu memenuhi kewajibannya membayar mobil yang dibelinya karena jatuh bangkrut. Keadaan ini berlangsung cukup lama, sehingga mengakibatkan kami sekeluarga hidup dalam keadaan panik dan tertekan, karena harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan kewajiban-kewajiban besar, baik kepada pihak bank maupun kepada para pemasok mobil, sedangkan pendapatan dari penjualan mobil adalah nihil.

Puncak dari segalanya, di bulan Desember 1999, saya harus meninggalkan rumah saya yang disita pihak bank. Saya pun harus mengontrak sebuah rumah yang kecil, sedangkan biaya kontraknya selama dua tahun sebesar tiga belas juta rupiah, tak mampu saya sediakan. Tetapi oleh campur tangan dan pertolongan Tuhan Yesus, semuanya dapat terjadi dan akhirnya dapat dibayarkan.

Pada Januari 2000 saat menghitung posisi keuangan saya, ternyata hasilnya sangat memprihatinkan. Begitu parahnya, saat itu saya layaknya seorang gembel, malah dapat dikatakan lebih parah dari seorang gembel. Tak ada sesuatu pun yang tersisa pada diri saya; tak punya rumah, tak punya kendaraan, tak punya uang, tak ada sumber penghasilan. Semuanya habis, dan tragisnya saya masih punya kewajiban membayar hutang sebesar satu milyar rupiah lebih. Kewajiban sebesar ini, bila dicicil sebesar lima juta rupiah per bulan, baru akan lunas dalam waktu tujuh belas tahun lebih.

Betapa memilukan dan menakutkan keadaan saat itu, semuanya habis tak bersisa. Tanpa uang sedikit pun, tak ada pula kemampuan untuk memulai usaha kembali, karena usaha penjualan mobil membutuhkan banyak persyaratan dan banyak modal. Ini satu kenyataan pahit yang memang harus kami telan, mengingat untuk membeli obat penyakit darah tinggi yang wajib saya konsumsi pun saya tak mampu. Seharusnya dalam keadaan krisis ini saya membutuhkan obat 2-3 kali lebih banyak dibandingkan saat normal. Tetapi nyatanya tiga tahun penuh saya tidak dapat meminum satu tablet obat pun karena tidak mampu. Sungguh, secara jasmani keadaan ini sangatlah berat untuk ditanggung dan dipikul.

Demikianlah, mulai awal tahun 2000 saya menapaki tahapan baru kehidupan saya – kehidupan yang penuh dengan kesulitan. Saat itu saya, istri, dan anak-anak, secara jasmani sangat terpukul, serasa hancur, dan berada dalam tingkat kekalutan yang sangat tinggi karena orang-orang yang punya piutang mulai menagih dan memaksa agar saya membayar hutang-hutang saya. Hampir setiap hari mereka menanyakan, menelepon, memaki-maki saya dan keluarga. Mereka umumnya mengetahui keadaan saya yang sudah jatuh dan hancur dan tak punya kemampuan sedikit pun, sehingga menjadi panik, takut uang mereka hilang dan tak dapat kembali.

Tetapi Allah kita, Yesus Kristus, adalah Allah yang maha pengasih dan maha penyayang. Tak sejenak pun Ia meninggalkan kita anak-anak-Nya, apalagi yang berada dalam keadaan berduka dan berbeban berat. Ia berjanji dalam firman-Nya bahwa setiap pencobaan yang diizinkan-Nya terjadi dalam kehidupan kita, tak akan melebihi kekuatan kita. Ia merasakan apa yang kita alami dan rasakan, dan Ia selalu dengan setia memberi kita jalan. Ia selalu setia mendengarkan tangisan dan keluhan jiwa saya sekeluarga; Ia selalu setia memberikan kekuatan, penghiburan, jalan, dan pemeliharaan-Nya.

Karya Tuhan Yesus adalah karya yang ajaib, yang menurut akal dan hikmat manusia sungguh mustahil. Seperti keajaiban yang dialami oleh seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan selama dua belas tahun, yang telah berupaya dan berobat ke mana pun tapi sama sekali tidak sembuh hingga kehilangan harapan akan tersembuhkannya penyakitnya, tetapi dengan menjamah jubah Tuhan Yesus, seketika penyakitnya sembuh – begitu pula halnya dengan saya.

Berbekal uang sebesar lima juta rupiah, uang pemberian Tuhan Yesus, saya mengontrak tempat dan memulai usaha bengkel kaki lima. Dengan alat-alat bengkel sisa-sisa asset yang sebagian besar sudah terjual, saya merintis usaha kembali. Saat itu saya dan istri selalu berdoa kepada Bapa di Surga agar memberikan kasih karunia-Nya dalam perintisan usaha baru ini. Pada minggu kedua, Tuhan Yesus mengirim satu unit kendaraan ke bengkel saya untuk pekerjaan besar yaitu turun mesin (E/G overhaul). Pembelian suku cadangnya memerlukan biaya sebesar Rp 650 ribu, tetapi uang sebanyak itu tidak saya miliki. Istri saya berkeliling dari satu toko ke toko lain di bilangan Kemayoran-Jakarta mencari hutangan suku cadang, tapi ternyata tidak mudah karena kami tidak mereka kenal. Akhirnya Tuhan Yesus membuka jalan; ada satu toko yang walaupun tidak mengenal kami, mau memberikan hutangan suku cadang. Haleluya.

Puji Tuhan, dari tahun 2002-2006, selama empat tahun saya diberi berkat tambahan berupa pekerjaan mengantar jemput anak-anak sekolah. Setiap pagi pada hari-hari sekolah, saya harus bangun pk. 3:30 pagi, bersiap diri, dan pk. 4:30 berangkat dari rumah. Banyak suka dan duka yang saya alami di masa itu. Sukanya adalah saya dapat sekalian mengantar-jemput kedua putra saya dan uang hasil antar-jemput ini dapat membiayai cicilan mobil jemputan tersebut. Sedangkan dukanya, bila musim hujan tiba, untuk menaik-turunkan anak-anak yang duduk di bagian belakang, saya harus membuka pintu belakang mobil tersebut, sehingga walaupun sudah memakai payung, hujan lebat tetap membasahi pakaian saya. Juga bila menemui orangtua murid yang galak dan tidak mau mengerti saat kami terlambat datang di sekolah karena hal-hal khusus (jalan tol macet, ada kecelakaan, dsb), sampai-sampai mengucapkan kata-kata kasar. Walaupun ia tahu saya adalah orangtua teman putrinya, ia tidak peduli, dianggapnya wajar saja berkata kasar kepada seorang supir.

Saat ini, satu dasawarsa (1998-2007) telah berlalu. Hidup di dalam pergumulan dan menyaksikan kasih dan kuasa yang nyata dari Tuhan Yesus, setahap demi setahap Tuhan Yesus memulihkan kehidupan saya sekeluarga. Dan sungguh heran, dengan usaha bengkel kaki lima, yang penghasilannya terasa sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup secara baik dan layak, ternyata Tuhan Yesus mencukupkan dan bahkan memberikan kelebihan. Usaha yang sederhana itu dapat memenuhi segala kebutuhan hidup kami sekeluarga, menguliahkan dan menyekolahkan anak-anak kami, dan ajaibnya, kami juga dapat mengangsur pembayaran hutang yang jumlahnya satu milyar rupiah lebih sampai tinggal kurang lebih enam puluh juta rupiah.

Ini mengingatkan kita akan firman-Nya – yang adalah janji Allah bagi umat yang percaya kepada-Nya; dituliskan ada seorang janda miskin yang berhutang besar, sehingga kedua anaknya akan diambil untuk dijadikan budak sebagai pengganti hutang. Tetapi Allah memberikan pertolongan. Melalui hamba-Nya, Elisa, Allah menolong dan memberikan jalan-Nya yang ajaib. Dengan sedikit minyak yang dimilikinya dalam sebuah buli-buli, setelah dituang terus-menerus, minyak yang sedikit itu dapat memenuhi banyak bejana, dan akhirnya janda miskin itu dapat melunasi semua hutangnya dan diberikan kecukupan oleh Allah.

Tuhan Yesus memberikan juga berkat dengan cara ajaib kepada kami sekeluarga. Beberapa tahun terakhir ini, selain mengelola usaha bengkel kecil, kami dipercaya sebagai pemasok kendaraan bagi beberapa perusahaan Korea di Bekasi dan Jakarta. Walau tidak ada tempat usaha yang layak, tidak ada ruang pamer, tidak punya satu pun stok mobil yang bisa dipamerkan, tetapi karya Tuhan Yesus terjadi. Perusahaan Korea tersebut percaya penuh kepada kami. Ini semua merupakan kasih dan setia Tuhan Yesus kepada kita semua. Haleluya, puji Tuhan Yesus.

Saat ini kami sekeluarga belajar untuk hidup merasa cukup, belajar untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal. Kami merasakan betapa hidup manusia hanya seperti sebutir pasir di hamparan laut yang luas. Bila ombak ganas menerjang, apalah arti sebutir pasir tersebut? Tidak ada arti dan kekuatan sedikit pun, sama sekali tak berdaya. Jika Tuhan Yesus tidak ada di dalam kehidupan kita, hidup manusia kosong adanya.

Kitab Yakobus 1:2-4 memberikan banyak penghiburan dan kekuatan bagi saya dan keluarga dalam menjalani pergumulan hidup selama ini. Ternyata banyaknya pencobaan, penderitaan, kesesakan, dan beban, bila kita lihat dari kacamata rohani, merupakan kasih karunia Tuhan Yesus kepada kita. Sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya, Bapa punya tujuan untuk mematangkan, menyempurnakan, dan mendewasakan iman kerohanian kita, sehingga pada akhirnya kita dapat dibenarkan oleh Bapa, dan dibawa kepada kehidupan yang kekal, Kerajaan Surga.

Biarlah segala sesuatu hanya untuk kemuliaan dan kebesaran Tuhan Yesus. Dari kesaksian ini, saya mengajak agar kita dapat lebih percaya pada Tuhan Yesus. Percaya secara bulat, jangan bimbang. Percaya bila kita belajar untuk menjadi benar sesuai dengan firman-Nya dan belajar setia di hadapan-Nya, maka segala sesuatunya akan indah pada waktu-Nya.

Barnabas Sunardi - Bekasi, Indonesia
Warta Sejati 60 - Kedisiplinan Rohani
untuk menyimpannya ke dalam media penyimpan, klik-kanan pada link di atas, dan pilih "save link as" (pada Mozilla Firefox) atau "save target as" (pada Microsoft Internet Explorer).