Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Sebuah Kemuliaan yang Lebih Besar  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

 

SEBUAH KEMULIAAN YANG LEBIH BESAR

Kesaksian dari “Buku Kesaksian Sabah 2006”

 

SEBUAH COBAAN YANG BERAT

Leong Zhao Siong berumur sekitar tiga puluh tahun dan merupakan jemaat Gereja Kota Kinabalu, Sabah. Tidak lama setelah dibaptis, kerabat dan teman-temannya melepas Sdr. Leong dan istrinya untuk pergi berbulan madu ke Kanada. Sayangnya, pelepasan itu adalah ucapan selamat tinggal yang terakhir.

Di Kanada, Sdr. Leong mengalami kecelakaan mobil yang mematikan. Pengemudi kehilangan kendali mobil di salju musim dingin. Mobil terlempar ke sisi berlawanan dari jalan, berputar dan bertabrakan dengan sebuah mobil yang sedang melaju. Sdr. Leong meninggal seketika. Istrinya juga mengalami cedera berat.

Telepon jarak jauh dari Kanada menjadi seperti sambaran petir bagi ibu Sdr. Leong. Ia tidak bisa menerima kenyataan; Hal ini terlalu tiba-tiba. Ia nyaris pingsan.

Ketika saudara-saudari seiman mengunjungi keluarga untuk menawarkan bantuan dan memberi penghiburan, abu Sdr. Leong baru saja tiba dari Kanada. Keluarga Leong hanya mempunyai satu anak. Kematiannya datang begitu tiba-tiba, sehingga semua orang dapat memahami mengapa ibu Sdr. Leong menangis dan bersedih tak henti-hentinya. Namun tanpa diduga, akhir hidup manusia adalah awal kasih karunia Allah

 

“...Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka” (Why. 7:17).

 

PENGHIBURAN MELALUI PUJI-PUJIAN

Dihadapkan dengan rasa sakit dan kesedihan yang begitu besar, saudara-saudari seiman yang mengunjungi keluarga yang berduka pun tidak dapat menahan air mata mereka. Kata-kata tidak cukup untuk menghibur mereka. Pada akhirnya, para pembesuk menyanyikan tiga kidung bersama dengan keluarga: "Rindu Rumah di Surga (Think and Reflect)", "Surga Rumahku (Heaven Is My Home)" dan "Datang ke Tempat Nan Indah (In the Sweet By and By)". Semua pujian ini berhubungan dengan pengharapan orang percaya akan rumah surgawi. Ajaib, hati keluarga yang berduka merasakan damai sejahtera setelah mereka menyanyikan pujian-pujian ini. Hal ini menunjukkan bahwa pujian benar-benar menghibur hati yang luka. Pujian mirip dengan doayang membantu kita untuk mengungkapkan curahan hati kita yang terdalam dan menyampaikan kesedihan kita kepada Tuhan. Menyanyikan pujian juga dapat membantu kita memahami kehendak dan kasih Allah, dan mengangkat setiap beban berat atau tekanan dari hati kita. Oleh karena itu, setiap kali kita berada dalam kesedihan atau penderitaan, mari kita ingat untuk menyanyikan pujian untuk memuji Allah.

Pada malam Tuhan Yesus dikhianati, hati-Nya sangat sedih begitu sedih seakan sampai pada titik kematian. Jadi, Dia melakukan dua hal. Pertama, setelah makan malam Paskah dengan murid-murid-Nya, Dia menyanyikan pujian-pujian bersama mereka. Naskah kuno tertentu mengatakan bahwa mereka menyanyi sepanjang jalan ke Bukit Zaitun. Kedua, Dia berdoa di Taman Getsemani. Ketika Paulus dan Silas dilemparkan ke dalam penjara dan menghadapi sebuah keadaan yang buruk, mereka tidak lupa berdoa dan menyanyikan pujian untuk Tuhan. Sehingga mereka mampu menghadapi penderitaan yang terjadi dengan berani. Ini adalah peristiwa yang paling mengharukan. Oleh karena itu bumi bahkan berguncang dan pintu-pintu penjara terbuka.

 

“... Aku menguji engkau dalam dapur kesengsaraan.” (Yes. 48:10)

 

PERUBAHAN TERJADI PADA AYAH SDR. LEONG

Yang lebih tidak terduga adalah keputusan ayah Sdr. Leong untuk menerima baptisan dalam Tuhan. Beberapa orang mengira bahwa ia akan menolak iman dalam kesedihannya itu. Hal itu adalah reaksi alami manusia. Namun dia ingin dibaptis. Kemudian ketika ditanya tentang alasan keputusannya, ia hanya menjawab, "Tiga kidung." Ketiga kidung pujian itu telah menyentuh hatinya yang terdalam. Ia telah menerima inspirasi yang tak terkatakan dan penghiburan dari puji-pujian itu. Dengan rahmat Tuhan, mata rohaninya terbuka sehingga ia dapat melihat makna kehidupan yang sesungguhnya, dan melakukan perubahan besar pada landasan hidupnya. Dulu, ia hanya mencari ketenaran dan keuntungan di dunia ini dan sangat tidak menyukai gereja sejati. Karena itu, ia tidak pernah mau menerima Injil. Namun ketika anaknya meninggal, ia menghadapi kenyataan bahwa hidup ini terlalu rapuh. Banyak pertanyaan terus melayang dalam pikirannya, misalnya, "Apa arti sebenarnya dari hidup manusia di dunia?", "Apa yang harus dikejar seseorang dalam kehidupan ini?"

Semua pertanyaan ini akhirnya membuatnya menyadari bahwa Yesus adalah harta paling berharga di dunia dan satu-satunya harapan dan sandaran manusia dalam kehidupan yang fana ini.

 

Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air... (Mzm. 84:5-6).

 

Tuhan sungguh mengubah lembah air mata menjadi mata air bagi keluarga Sdr. Leong. Ia menggunakan kesedihan yang besar ini untuk membawa ayahnya, dan juga neneknya, untuk percaya kepada Kristus. Selain itu, Tuhan memulihkan kembali iman ibu Sdr. Leong. Sebelumnya ia tidak pernah rutin mengikuti kebaktian karena ketidakpercayaan suaminya. Tetapi setelah kematian anaknya, ia dan seluruh keluarganya menjadi giat. Mereka mulai rutin mengikuti kebaktian dan ikut dalam pelayanan. Kasih karunia Tuhan yang besar benar-benar melampaui harapan manusia.

 

“Yang menghibur kami dalam segala  penderitaan kami... (2Kor. 1:4)

 

PENGHIBURAN PRIBADI MELALUI PENGLIHATAN DARI TUHAN

Kematian Sdr. Leong yang tiba-tiba menyebabkan banyak air mata dan hati yang terluka, tidak hanya bagi keluarga kandungnya, tetapi juga di antara keluarga rohaninya di gereja. Tetapi Yesus dengan penuh kasih menghapus semua air mata.

Pada suatu kunjungan kepada keluarga yang berduka, seorang saudari mendapat penglihatan cahaya kemuliaan saat berdoa. Hatinya saat itu penuh dengan kesedihan, tetapi saat ia melihat penglihatan itu, ia dipenuhi dengan sukacita. Ketika ia membagikan penglihatan ini dengan keluarga Leong, mereka menerima penghiburan besar dan jaminan bahwa Tuhan menyertai mereka.

Kemudian, ibu Sdr. Leong juga mendapatkan penglihatan saat ia berdoa yang sungguh-sungguh menghiburnya. Dalam penglihatannya, ia tiangkat ke tempat yang sangat terang. Walaupun sangat terang, cahaya yang ia lihat sangat lembut. Ia kemudian diangkap ke langit yang cerah, melewati sebuah hutan dengan pohon-pohon yang hijau dan tiba di tempat yang sangat indah. Saat ia melihat pemandangan yang indah itu, hatinya segera penuh dengan sukacita, dan kabut gelap yang meliputi hatinya hilang sepenuhnya. Ia seperti telah diangkat dari jurang yang pedih ke dunia yang penuh sukacita. Ia merasa seperti masuk ke surga dan hatinya penuh dengan kedamaian, sukacita, dan ketenteraman yang tak terucapkan, suatu pengalaman yang belum pernah ia alami sebelumnya. Karena itu, ia berdoa dengan suara keras memuji nama Tuhan Yesus. Ketika ia menerima kembali penglihatan yang sama keduakalinya, ia begitu bersukacita hingga ia menyanyikan nyanyian roh dan tidak ingin berhenti berdoa. Seminggu kemudian, Allah memberikannya penglihatan lain. Kali ini, ia melihat banyak pintu di surga, dan semuanya memancarkan sinar terang.

Tuhan Yesus berfirman,

 

Jangan gelisah hatimu... Aku pergi ke sana untuk menyiapkan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. (Yoh. 14:1-3)

 

MAKSUD TUHAN ADALAH BAIK

Ibu Sdr. Leong hanya tahu sedikit tentang firman Allah, sehingga ia tidak dapat menemukan jawaban atas peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Namun Tuhan membantunya memahami bahwa kepedihan yang terjadi karena perpisahan dengan putranya pada akhirnya mencapai maksud Allah yang lebih besar, yaitu keselamatan seluruh keluarganya. Kejadian-kejadian ini menunjukkan padanya bahwa rumahnya bukan di dunia ini, tetapi di surga.

Kita hanyalah pendatang di dunia ini, sehingga tidak menginginkan kesukaan dan segala sesuatu dari dunia ini. Semua hal di dunia ini akan berlalu. Jadi kita harus menaruh pengharapan pada apa yang abadi, tempat yang lebih indah di surga, yang dibangun dan dipimpin oleh Allah dan dipersiapkan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Suatu hari, kita akan kembali ke tempat yang indah itu. Pada hari itu, saat kita dipersatukan dalam persekutuan dengan Tuhan di rumah Bapa surgawi kita, kita akhirnya akan memahami dan berkata: "Ya Tuhan! Semua maksud-Mu baik, karena mereka telah mencapai keselamatan hari ini untuk kami."

 

SUKACITA BESAR KARENA MEMAHAMI KEHENDAK ALLAH

Seringkali, Tuhan memberikan kita kesempatan untuk menemani saudara-saudari kita dalam Kristus melalui penderitaan fisik, perasaan dan rohani. Kita sendiri mungkin juga telah merasakan penderitaan tersebut. Di permukaan, tampaknya seolah-olah Allah tidak adil dan cukup kejam dengan membiarkan anak-anak-Nya menderita. Namun, maksud Allah adalah baik. Bahkan Ia tidak akan membiarkan anak-anak-Nya menderita sia-sia. Pasti ada maksud dari semuanya itu.

Selain itu, Ia akan berjalan menemani kita untuk melalui lembah kekelaman; Ia akan menghibur dan mendorong kita, memberikan kita rahmat dan akhirnya, mengizinkan kita memahami kehendak-Nya.

 

Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia. (Yes. 30:20)

 

Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang jauh melampaui mereka semua. (2Kor. 4:17).

 

Ya, jawabannya ada di sini, "mengerjakan bagi kami" kemuliaan kekal yang jauh melampaui mereka semua…

 

Manna 64

Warta Sejati 73