Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Sekarang Mataku Sendiri Memandang Tuhan  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Sekarang Mataku Sendiri Memandang Tuhan
Olivier Djiann – Sung Shan, Taiwan

 

Hidup ini penuh dengan kejadian tak terduga. Lahir dan besar di Prancis, saya tidak pernah membayangkan suatu hari akan pindah ke Taiwan dan menikah dengan seseorang yang saya jumpai di sana. Lebih tak terbayangkan lagi untuk menjadi seorang Kristen dan jemaat Gereja Yesus Sejati.

 

Mengambil Langkah Pertama

Ayah saya orang Yahudi, dan ibu saya seorang Katolik, tetapi itu hanya agama KTP. Jadi ketika saya masih kecil, mereka memutuskan bahwa saya boleh memilih agama saya sendiri. Namun bagi saya agama adalah sesuatu yang jauh di awang-awang, dan saya tidak tertarik untuk mencari tahu.

Istri sayalah yang pertama-tama menjadi percaya dan dibaptis di Gereja Yesus Sejati. Ia berusaha membawa saya ke gereja tapi tidak berhasil sebab saya merasa tidak memerlukan agama.

Saya rasa bagus juga apabila ia senang dengan gereja itu, tapi saya ingin dia membiarkan saja saya tidak ikut-ikut. Maka istri saya beribadah di gereja Sung Shan tanpa saya.

Pada suatu Sabat setelah kelahiran putri kami, istri saya membutuhkan pertolongan untuk membawa kereta bayi dan keperluan-keperluan lainnya ke gereja. Saya bersedia membantu, tapi hanya sampai depan pintu; saya tidak mau masuk.

Tetapi begitu sampai di pintu gereja, saya lihat tidak mungkin dia bisa mengurus semuanya sendirian, jadi saya membantunya membawa kereta bayi menaiki tangga ke dalam gereja. Saya sengaja diam saja dan tidak bicara kepada siapa-siapa. Akan tetapi, Allah menyentuh saya melalui kelemahan saya: mata.

Saya adalah seorang fotografer profesional, dan saya senang mengamati dunia di sekeliling saya. Begitu berada di dalam gereja, saya bisa menutup rapat mulut saya, tidak peduli dengan kata-kata yang diucapkan di sekitar saya, tetapi saya tidak bisa berjalan dengan mata terpejam. Saya tersentuh melihat wajah-wajah bahagia para saudara-saudari, yang tampak begitu berbeda dengan wajah-wajah di dunia luar sana.

Saya bahkan melihat seraut wajah berbinar seperti milik malaikat dalam lukisan antik. Saya bertanya-tanya, “Bagaimana orang-orang ini bisa begitu gembira padahal hidup ini kadang begitu menyakitkan?” Saya tidak langsung percaya kepada Tuhan pada hari itu, tetapi satu retakan muncul pada tembok yang saya bangun di sekeliling hati saya. Allah sudah memperlemah tembok itu melalui pengalaman ini, dan retakan itu akan terus melebar pada bulan-bulan berikutnya.

 

Kunci Pertumbuhan Saya

Dari semua Gereja Yesus Sejati di Taiwan, mungkin gereja Sung Shan-lah yang paling banyak memiliki jemaat yang bisa berbahasa Prancis, atau pernah belajar di Prancis.

            Saya berkesempatan untuk bertemu dengan pendeta yang pernah belajar bahasa Prancis sewaktu kuliah, dan kami pun mengadakan acara Pemahaman Alkitab dalam bahasa Prancis di gereja Sung Shan. Saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar Alkitab, dan si pendeta bisa melatih bahasa Prancis sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

            Tetapi saya masih punya masalah karena saya tidak mau berlutut berdoa; saya tidak ingin merasa rendah di hadapan seorang tuan.

            Suatu malam, saya pergi kebaktian bersama istri dan duduk di barisan belakang seperti biasa, tidak banyak terlibat dalam apa pun.

            Saya mengamati dari tempat duduk saya selagi para saudara dan saudari berlutut berdoa di penghujung kebaktian. Tiba-tiba, Allah berbicara kepada saya untuk pertama kalinya. Kata-Nya, “Kau bisa menghabiskan seluruh hidupmu duduk di barisan belakang aula.” Dengan kata lain, suatu hari saya harus mengambil langkah pertama untuk membangun iman saya.

            Sejak saat itu, saya mulai merenungkan keadaan saya. Saya menanyai diri sendiri, “Mengapa Allah membawa seorang warga Paris ke Taiwan untuk tinggal di tempat berjarak sepuluh menit dari gereja sejati? Seandainya saya tetap tinggal di Prancis, saya tidak mungkin punya kesempatan untuk bertemu atau mengenal Allah.”

            Pada saat itulah saya mulai berdoa, walaupun tanpa banyak keyakinan. Beberapa minggu kemudian, saya memutuskan untuk pergi ke bagian depan aula untuk berdoa. Selama doa itu, saya merasakan hembusan angin di rambut saya, dan saya merasa sangat bersukacita serta ingin tertawa. Tetapi yang terutama, saya merasa berada di rumah.

            Saya menyadari bahwa Allah bukanlah seorang asing seperti yang selama ini saya yakini, melainkan Ia seperti seorang Sabahat yang sudah lama tidak saya jumpai karena saya tidak pernah mengundang-Nya, walaupun Ia tinggal dekat-dekat saja. Saya juga mendapat kesan bahwa hidup kita itu seperti kereta api yang melewati banyak stasiun, dan masalahnya adalah kita tidak tahu di stasiun mana kereta itu akan berhenti.

            Malam itu saya mendapat keyakinan bahwa Gereja Yesus Sejati adalah stasiun tempat saya harus berhenti, dan, yang terpenting, saya tahu bahwa saya harus bertekun dalam doa. Doa adalah kunci pertumbuhan saya.

 

Pintu Menuju Pemahaman

Suatu sore, saat sedang berada di rumah, saya mendengar Allah berbicara kepada saya, “Sekarang kau perlu memikirkan baptisan.” Itu saja kata-Nya. Jadi keesokan harinya saya pergi ke gereja dan mengatakan kepada saudara-saudari bahwa saya ingin dibaptis. Mereka bergembira mendengarnya dan menyelamati saya, tetapi seorang saudari mengajukan pertanyaan yang sangat jitu: “Mengapa?”

            Saya sangat terkejut mendengar pertanyaan ini karena saya cuma ingin dibaptis. Saya merasakan desakan untuk dibaptis, dan itulah alasan saya; saya tidak punya penjelasan yang logis. Di sisi lain, pertanyaan itu masuk akal karena baptisan adalah sakramen penting yang tidak boleh diangggap enteng. Saya merasa sedikit kecewa saat pulang ke rumah karena pertanyaan itu terus membayangi saya.

            Malam itu Allah memberikan jawaban yang sangat jelas atas pertanyaan saudari itu. Saat saya sedang tidur, Allah berkata kepada saya di dalam mimpi, “Dibaptislah. Baptisan adalah pintu, dan pada saat kau melewatinya, kau akan memahami segalanya.”

            Saya memutuskan untuk menerima baptisan air beberapa bulan kemudian saat KKR bulan Oktober 2003. Selama KKR, kembali saya datang ke depan untuk berdoa. Saya mendapat kesan kuat yang lain, sama menariknya seperti waktu pertama kali berdoa di depan dulu, tapi tidak sedamai waktu itu. Saya merasa seperti dikelilingi oleh kabut yang sangat tebal dan berjuang keras mendekati cahaya redup yang jauh di sana. Sulit sekali rasanya menahan kegelapan itu, dan saya ingin keluar dari sana.

            Setelah doa selesai, pendeta memberitahukan saya sudah menerima Roh Kudus. Pada awalnya saya sangat terkejut dan berkata pada diri sendiri, “Jadi begini rasanya menerima Roh Kudus.” Saya agak kecewa, karena kesan yang saya dengar dari orang-orang lain tentang menerima Roh Kudus sangatlah positif dan sangatlah sukacita. Tetapi saya akhirnya mengerti bahwa ini barulah awal pengalaman saya dengan Roh Kudus.

 

Disambut Allah

Dua hari setelah dibaptis, saya berkata pada diri sendiri, “Sekarang karena sudah dibaptis, kau harus membangun kebiasaan yang baik.” Jadi saya mulai berdoa setiap pagi sebelum pergi bekerja. Setelah berdoa, saya menyalakan komputer dan mendapat penglihatan – rasanya seperti bermimpi, tapi saya tidak tidur. Saya berada di rumah saya di Taipei, dan seseorang memencet bel pintu. Saya membuka pintu dan melihat seseorang berkulit putih berumur 40 tahunan berdiri di hadapan saya. Ia bertanya apakah ia boleh masuk ke rumah saya.

            Saya menyilakannya masuk, dan walaupun belum pernah bertemu dengannya, saya tahu dia adalah kakek saya dari pihak ayah. Walaupun Kakek sudah meninggal sebelum saya lahir, saya mengenalinya dari foto di kantor ayah saya.

            Setelah berbincang-bincang sebentar, ia berkata bahwa ia harus pergi. Saya bertanya kepadanya, “Bolehkah saya memelukmu?” Ia menjawab, “Tentu saja, anakku.” Saya pun menangis, dan saya melihat diri saya bertambah pendek, sementara Dia menjadi sangat tinggi. Ia memegang saya di tangan-Nya, dan saya merasakan damai sejahtera dan sukacita yang tak terkira.

            Bagi saya, Allah itu seperti kakek saya – penuh kasih sayang, dan sangat melindungi. Ia menyambut saya bukan hanya sebagai anak, tetapi juga sebagai domba yang tersesat.

            Sejak dibaptis di Gereja Yesus Sejati, saya merasa sudah mengalami Ayub 42:5 ini, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”

            Saya berharap bahwa semua orang bisa melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri dan merasakan Dia. Mengenal Allah dan mendekat kepada-Nya adalah petualangan terindah yang bisa dimiliki umat manusia. Saya bisa melihat bagaimana hidup saya sekarang lebih tenang dan terang. Segala kemuliaan dan puji syukur hanya bagi Allah.