Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Teman Orang Berdosa  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

 

Teman Orang Berdosa

Lee Gan Wah – Singapore

 

Sebagai orang yang berkebiasaan buruk dan bersifat jelek, saya sering memberitahu orang-orang Kristen yang berusaha menginjili saya bahwa saya ini tak terjangkau keselamatan. Akan tetapi, Tuhan adalah Bapa yang sungguh benar dan sabar, dan kasih-Nya melampaui pengertian manusia. Kenyataan bahwa saya masih hidup sampai hari ini membuktikan kasih-Nya yang tanpa syarat.

 

PENCARIAN MAKNA HIDUP

Saya berasal dari keluarga yang menganut agama kepercayaan. Saya anak bungsu dari enam bersaudara. Ayah saya meninggal ketika saya berumur sebelas tahun dan ibu saya meninggal tujuh tahun kemudian. Karena beberapa alasan, setelah meninggalnya ibu saya, saya jadi sangat tertarik pada penyembahan nenek moyang dan penyembahan Dewi Kemurahan. Saya menyimpan papan nama orangtua saya di rumah, yang menurut tradisi Tionghoa tidak lumrah dilakukan oleh anak perempuan.

Walaupun saat itu saya baru berumur delapan belas tahun, saya memperingati semua perayaan, melakukan ritual-ritual, dan memberikan persembahan dengan tekun. Salah satu kakak lelaki saya pun pernah terpaksa menyantap makanan yang dipersembahkan kepada mendiang ibu saya pada hari peringatan kematiannya, untuk mematuhi saya.

Terlepas dari ketekunan beragama saya, hidup tampaknya tidak terlalu berarti bagi saya. Saya merasa putus asa dan bersikap sinis. Saya sering berpesta untuk menghilangkan rasa jenuh, tetapi tetap tidak punya tujuan hidup. Saya bahkan membeli buku berisikan 1000 hinaan untuk saya gunakan pada orang yang tidak saya sukai.

Bagi banyak orang, termasuk anggota keluarga saya, saya tampak seperti orang yang menikmati hidup padahal kenyataannya saya merasa kosong di dalam. Sebelum mencapai umur dua puluh, saya mencoba bunuh diri untuk pertama kalinya, tapi gagal. Saya tetap hidup, bukan dengan rasa lega, melainkan kecewa.

Selama empat setengah tahun kemudian, saya menyeret diri dalam kehidupan. Tetapi hidup ini tetap saja terasa sangat tidak berarti, sehingga saya memutuskan untuk mengakhirinya lagi. Saya memastikan bahwa kali ini akan berhasil. Setelah memilih gedung tertinggi di dekat rumah, saya menulis surat bunuh diri. Lalu tiba-tiba muncul masalah keluarga yang harus saya selesaikan, dan saya terpaksa menunda rencana bunuh diri itu.

 

CAHAYA DI UJUNG TEROWONGAN

Tanpa saya sadari, Allah sudah mulai bekerja dengan cara-Nya yang misterius. Setelah bunuh diri tertunda, saya berkenalan dengan seseorang yang berkebaktian di Gereja Yesus Sejati sebagai pengamat. Kami merasa cocok.

Dia meminta nasihat saya tentang rencananya melanjutkan sekolah ke London. Lalu saya ganti mengundang dia berpesta bersama teman-teman saya. Di tengah-tengah pesta, dia pamit pulang, karena sudah berjanji pada kakaknya, seorang jemaat Gereja Yesus Sejati, untuk mengikuti kebaktian Jumat malam. Supaya dia tidak pergi, saya setuju untuk mengikuti kebaktian berikutnya bersamanya kalau dia membolos kebaktian malam itu. Seperti diketahui, kebaktian berikutnya adalah keesokan harinya, yaitu kebaktian Sabat.

Besoknya, seperti kebiasaan saya di pagi hari, saya menyalakan dupa di meja sembahyang keluarga dan dua meja sembahyang lain. Kemudian saya pergi menemui kenalan baru saya di tengah kota, mengira kami akan mengunjungi gereja di dekat-dekat situ. Saya jadi jengkel ketika tahu bahwa kami harus pergi jauh ke timur di hari Sabtu siang yang panas!

Sewaktu diberitahu bahwa nama gerejanya adalah “Gereja Yesus Sejati”, saya jadi makin jengkel. Walaupun saya bukan umat Kristen, saya merasa nama itu terkesan sombong.

Reaksi kenalan saya cukup tenang menanggapi kejengkelan saya, dengan lembut menjelaskan bahwa Allah mewahyukan nama tersebut pada pekerja awal gereja itu. Kalau dikilas balik, saya rasa Roh Kudus pasti membimbing jawabannya. Setelah itu kami membisu nyaris di sepanjang perjalanan ke gereja.

 

HEMBUSAN DAMAI SEJAHTERA, MATA AIR SUKACITA

Sesampainya di gereja, persis sebelum turun dari kendaraan, saya berkata kepada teman saya, “Ini pertama kali, tetapi juga bakal jadi terakhir kalinya aku datang ke gereja ini, jadi jangan pernah ajak aku lagi!” Tetapi ajaibnya, begitu saya menginjakkan kaki di aula, saya merasakan hembusan nyaman angin semilir yang menenangkan saya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan damai.

Saya tidak begitu memahami lagu pujiannya ataupun khotbah Mandarinnya walaupun diterjemahkan ke bahasa Inggris. Keseluruhan suasananya terasa asing bagi saya. Dan ketika mereka mulai berdoa, saya terpaku melihat perilaku seorang wanita di bangku depan saya. Ia berdoa dengan rasa hormat yang begitu mendalam sekaligus sangat pribadi, seolah-olah ia bicara bertatap muka dengan Tuhan.

          Tiba-tiba, keinginan untuk menjadi orang Kristen meluap-luap dalam diri saya. Saya langsung menegur dan mengingatkan diri sendiri akan kekurangan-kekurangan yang membuat saya tidak patut menjadi orang Kristen.

Lalu saya mendengar suara lembut pria yang berkata bahwa saya bisa menjadi Kristen kalau saya mau. Saya menengok ke belakang, berusaha melihat siapa yang bicara, tetapi semua yang berdoa di sekitar saya adalah wanita! Tatkala saya meneruskan pergumulan batin tentang kemustahilan menjadi umat Kristen, suara yang sama berbicara lagi. Dia bilang saya bisa menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk saya secara bertahap, dan langkah pertama adalah berhenti merokok. Saya sangat terkesima – saya belum membuka tas sejak memasuki gereja, jadi bagaimana mungkin ada orang yang tahu saya merokok? Saya langsung menyetujui saran suara itu.

Setelah kebaktian, saya pergi menepati janji makan malam dengan seorang teman. Saya menceritakan perasaan damai yang saya dapatkan saat mengikuti kebaktian di Gereja Yesus Sejati. Ia mendorong saya untuk terus datang ke sana, tetapi saya bilang tidak bisa sampai saya menghentikan kebiasaan merokok yang sudah berlangsung sepuluh tahun.

Malam itu, sebagaimana biasanya, saya ingin merokok sebelum tidur. Namun sungguh mengerikan, rasanya pahit dan menjijikkan! Tampaknya ini adalah pertanda dari Allah untuk mengingatkan saya akan janji saya di gereja untuk berhenti merokok. Suatu kekuatan besar meliputi saya dan saya membuang rokok sebungkus itu. Ajaib, sejak saat itu saya tidak pernah merokok lagi.

Hari berikutnya, saya menelepon kenalan saya untuk bilang saya ingin pergi ke gereja. Ia memberitahukan kebaktian berikutnya diadakan pada hari Rabu malam. Saya menghadirinya dan terus menghadiri kebaktian-kebaktian lain. Setiap kali, saya merasakan sukacita baru dari Allah. Rasanya seperti ada mata air yang ditanamkan di dalam hati saya, dengan air sukacita yang memancar keluar. Sungguh perasaan yang luar biasa!

 

KEHIDUPAN YANG BARU DAN BERARTI

Beberapa minggu setelah mengikuti kebaktian di Gereja Yesus Sejati, salah satu saudara saya minta diantar ke kuil yang biasa saya kunjungi. Ia ingin mendapatkan jimat untuk anaknya. Dulu, setiap kali saya mengajaknya ke kuil untuk sembahyang dan membaca doa, ia selalu menolak. Anehnya, kali ini ia sangat bersemangat. Saya menolak permintaannya dan dia marah. Saat ia terus membujuk, ada sesuatu di dalam diri saya yang terus mendesak saya supaya menjaga hubungan baik dengannya, jadi akhirnya saya mengiyakan ajakannya.

          Ketika kami bertemu di kuil, saya mengarahkannya ke ruangan jimat dan bilang saya akan menunggu di luar. Saya memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kuil dan melihat-lihat patung-patung yang dulu saya sembah. Pada saat saya sampai di patung yang paling besar, tiba-tiba saya mendapat pencerahan. Dewa-dewa ini punya mata yang tidak bisa melihat, mulut yang tidak bisa bicara, dan telinga yang tidak bisa mendengar seruan minta tolong saya. Bahkan baju-baju mereka pun dibuat oleh tangan-tangan manusia. Mengapa dulu saya menyembah mereka?

          Lalu kebenaran pun terbit ke atas saya – Allah ada di Gereja Yesus Sejati. Pada saat itu juga di kuil itu, saya menyerahkan hati saya sepenuhnya kepada Yesus dan dengan ajaib saya beralih kepercayaan. Saya bertekad untuk dibaptis. Oleh kasih karunia Allah, saya dibaptis tiga bulan setelah mempelajari kebenaran. Setelah dibaptis, saya merasa sudah diberi lembaran kehidupan yang baru, kehidupan yang sekarang dipenuhi dengan harapan dan arti.

          Sejak itu saya sudah menikmati berkat yang tak terhitung dari Allah yang memanggil dan menerima saya dengan begitu penuh kasih. Saya yakin sekali bahwa Dia hidup dan penuh belas kasih kepada semua orang. Ia menunggu-nunggu untuk memberikan karunia keselamatan-Nya. Karena itu janganlah kita ragu untuk mendekat kepada-Nya dan menikmati kasih karunia-Nya yang ajaib.

Semua kemuliaan hanya bagi nama-Nya. Amin.