Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Tersesat dalam Idealisme Duniawi  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Tersesat dalam Idealisme Duniawi

Elizabeth Yao-Nanjing, Cina

Saya dibaptis ke dalam Gereja Yesus Sejati (TJC) di Queens, New York, pada tanggal 23 Agustus, 2003 ketika saya berumur tujuh belas tahun. Selama tujuh tahun berikutnya, saya hanya dua kali menghadiri Seminar Teologi Pemuda Nasional dan pergi ke kebaktian Sabat secara tidak teratur. Ada banyak alasan penyebab hal ini, beberapa di antaranya, tapi tidak semuanya berada di luar kendali saya.

Orang tua saya dibaptis di sekitar waktu yang sama dengan saya dan, sebagai orang percaya baru, kami tidak membuat keputusan berdasarkan kepentingan rohani. Saya memilih untuk pergi ke universitas yang tidak ada gereja disekitarnya, dan kepercayaan saya akhirnya menurun semata-mata menjadi hikmat dunia. Pada saat itu, saya tidak tahu bahwa saya berada didalam dunia, ketika saya seharusnya berada di dalam Kristus. Bahkan, saya tidak tahu apa-apa tentang apa artinya hidup untuk Tuhan, dan betapa menakjubkannya hidup seperti itu.

Doa saya mencerminkan kerohanian saya yang lemah. Saya berdoa hanya ketika saya membutuhkan sesuatu dari Tuhan. Ketika Dia menjawab, saya akan sangat berterima kasih, tetapi kemudian akan melupakan semua hal yang telah saya janjikan kepada-Nya dalam doa. Dan ketika hidup menjadi hampa dan tak tertahankan, karena saya keras kepala mengikuti kemauan saya sendiri, saya akan sekali lagi berlutut dan tanpa malu-malu mengatakan: "Tuhan, saya tidak tahan lagi. Saya menyerah! "Lalu, doa yang tidak dijawab akan mendorong saya untuk mencari hiburan di tempat lain.

Ada saat-saat ketika saya mencoba untuk kembali menjalin hubungan dengan Tuhan dan meningkatkan iman saya, tapi saya merasakan jurang yang besar antara saya dan anggota gereja lainnya. Saya merasa bahwa entah bagaimana mereka dapat mencapai "standar" yang berarti Tuhan akan selalu ada untuk mereka; Saya bukan bagian dari dunia itu, dan saya ragu jika Tuhan bahkan masih cinta kepada saya.

 

KEKACAUAN MENTAL DAN FISIK

Pada bulan Juni 2011, saya berada di New York untuk mempersiapkan diri menghadapi kelas musim panas. Pada saat itu, hidup saya tanpa Allah dan saya berada di tingkat kerohanian yang terendah. Kehidupan rohani saya tidak sehat meskipun kehidupan sehari-hari saya berjalan seperti biasa. Kemudian, suatu hari, tiba-tiba, bagian bawah punggung saya mulai sakit. Rasa sakit meningkat setiap hari dan akan menyerang saraf kaki setiap kali saya bergerak. Saya khawatir bahwa saya mungkin akan kehilangan kemampuan untuk berjalan. Dua minggu kemudian, saya menelepon orang tua saya di Cina. Karena saya tidak memiliki asuransi kesehatan dan tidak ada yang merawat saya, saya harus meninggalkan semuanya dan pulang.

Kembali di Nanjing, Cina, saya mengunjungi berbagai dokter setidaknya di tiga rumah sakit yang berbeda. Selama tiga bulan pertama, saya menjalani pemeriksaan medis, kesalahan diagnosa, suntikan antibiotik, dan mengalami banyak malam menyakitkan dan tanpa bisa tidur. Rasa sakit membuat saya tidak bisa bergerak. Dan kondisi saya tetap tidak dapat didiagnosis.

Seiring waktu, minggu-minggu pun berubah menjadi bulan-bulan, saya ditelan oleh kekacauan hati dan seringkali menangis pada hal-hal sepele. Meskipun awalnya khawatir, orang tua saya bahkan mulai berpikir bahwa rasa sakit dan segala sesuatunya yang lain adalah murni imajinasi saya. Bagi mereka, saya hanya bermalas-malasan di rumah dan bermuram durja.

Saya berbalik kepada Allah, tapi dalam doa, saya berjuang dalam kemarahan, keraguan, sedih, dan pertanyaan tanpa tujuan. Saya menyesal atas masa lalu saya, dan memohon Tuhan untuk penyembuhan spiritual dan fisik. Tapi saya ingin Tuhan untuk memberikan saya ini segera; Saya tidak ingin berusaha terlalu banyak. Tidak mengherankan, doa-doa saya diabaikan olehNya.

 

INTROSPEKSI DIRI DALAM DOA

Dengan tidak adanya pilihan lain yang tersisa, saya terus berdoa. Saya ingat saat saya menerima Roh Kudus, dan saat-saat iman saya paling kuat. Saya memeriksa hati saya dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri saya menuju pertobatan sejati. Saya mengakui kesalahan dan kekurangan saya di masa lalu, dan menerima konsekuensi dari tindakan saya. Saya menyadari pengalaman ini tidak hanya pengingat yang tegas dari Allah untuk mengubah cara hidup saya yang dahulu, tetapi juga tanda dari seberapa jauh diri saya dari-Nya. Saya merasa dorongan untuk membuang jauh-jauh segala dosa saya, seperti sampah yang akan dibuang. Oleh karena itu, bukan hanya menuntut penyembuhan, doa-doa saya menjadi: "Bantu saya Tuhan untuk belajar dari masa lalu saya, dan ajarkan saya untuk berubah. Saya mengerti ada alasan untuk kesakitan yang saya alami. Tolong beri saya kekuatan dalam hati agar saya tahu bagaimana cara saya berdoa. Jagalah saya satu hari lagi."

Setiap saya berdoa, saya merasa menjadi baru. Menghadiri gereja di Nanjing TJC lebih teratur juga membantu untuk menguatkan firman Allah dalam hati saya. Seiring kekuatan Tuhan mengalir ke dalam diri saya, saya merasa diperkuat dan lebih bersedia untuk menyerahkan kehendak saya kepada-Nya. Seperti desakan Allah:

            “Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel? Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!"(Yeh 18: 31-32)

 

PERKEMBANGAN

Semakin saya membiarkan Roh Allah untuk menguatkan saya, semakin saya bisa mengosongkan diri saya dari kesalahan masa lalu. Semakin sedikit saya berfokus pada diri sendiri dan kemauan diri, saya merasa lebih dekat kepada-Nya. Aku tahu aku memerlukan kekuatan-Nya untuk mengatasi rasa takut saya pada pikiran bahwa punggung saya mungkin tidak akan pernah sembuh.

Proses introspeksi diri memaksa saya untuk mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan penting seperti apakah aku akan tergoda untuk meninggalkan Tuhan jika Dia tidak menyembuhkan saya. Saya merefleksikan diri pada kehidupan saya sejak saya dibaptis. Saya berpikir tentang hal-hal yang saya cintai dalam hidup, percaya bahwa hal ini akan mendatangkan kebahagiaan untuk saya, dan saya menyadari bahwa saya telah mencari di tempat yang salah. Pada saat itu, semua kilau dan glamor yang Setan gunakan untuk menghiasi kesenangan dari dunia ini tiba-tiba berubah menjadi debu. Seiring Roh Allah menyinarkan kebenaran-Nya ke dalam hati saya, saya tahu bahwa saya membutuhkan Tuhan dalam hidup saya apa pun yang terjadi.

Memahami hal ini menyebabkan perkembangan baru dalam cara saya berdoa dan memandang hidup saya. Kekuatan yang membantu saya untuk melakukan hal ini tidak berasal dari dunia atau diri saya sendiri. Tuhan memberikan saya petunjuk langkah-demi-langkah apa artinya untuk mengandalkan-Nya. Roh Allah diam di dalam diri kita, memperkuat batin kita, adalah kuat tak terukur (Ef 3:16). Kuasa dan kebenaran Tuhan bekerja di dalam kita melalui firman-Nya. Semakin kita mendekat pada Roh, semakin kita bisa menyingkirkan beban, kelemahan, dan ketakutan kita.

Seiring Roh Allah menggerakkan saya, saya belajar untuk menjadi lebih berpusat pada Tuhan dan lebih sedikit berpusat pada diri saya sendiri dalam doa. Saya mencari kehendak-Nya. Saya menjadi lebih sabar dan tenang, karakter yang tidak akan dianggap orang banyak ada didalam saya. Masih ada hari-hari ketika saya merasa putus asa-ketika saya akan berlutut untuk berdoa berkali-kali, tapi tidak bisa menemukan posisi yang tidak terasa sakit. Hal ini membuat saya menyadari kelemahan manusia dengan cara yang belum pernah dikenal sebelumnya, dan mengingatkan saya tentang menempatkan kehendak Tuhan diatas kehendak saya.

 

MEMAHAMI KEHENDAK-NYA

Suatu hari, seorang anggota keluarga menyarankan agar saya melakukan scan pada tulang. Sampai saat itu, hanya organ internal saya yang telah diperiksa. Sebuah MRI scan pada seluruh badan saya, mengungkapkan sendi yang telah mengalami keretakan di tulang belakang saya. Ini merupakan berita buruk, tapi hati saya sudah tak tahan untuk memuji Tuhan. Ketika saya tiba di rumah, saya berlutut di hadapan Tuhan dan mencurahkan rasa terima kasih. Tiga bulan saya habiskan menunggu dan belajar untuk mempercayai-Nya telah ditegaskan oleh tanda ini bahwa Dia telah mendengar saya; Dia membimbing saya untuk hubungan yang lebih dalam dengan-Nya, untuk memahami kehendak-Nya, dan takut akan kekuatan maha agung-Nya.

Mengenali masalah punggung saya memungkinkan saya untuk mulai mencari pengobatan. Meskipun saya masih bersemangat untuk kembali ke kehidupan normal, saya tidak cemas lagi. Allah telah mengajarkan saya melalui tiga bulan tersebut tentang bagaimana untuk percaya pada kekuatan dan cinta-Nya, bagaimana berdoa dengan sabar dan menunggu kehendak-Nya untuk terjadi, dan juga, bagaimana caranya bersyukur. Bahkan, penyembuhan yang terjadi pada batin saya, perubahan dalam hati saya, mulai sebelum tanda-tanda harapan yang jelas. Seperti Paulus berkata:

            Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.. (2 Kor 4: 7-9)

HIDUP DARI KEKUATAN DAN PETUNJUK ALLAH

Pada pertengahan September tahun 2011, saya mulai mencoba akupunktur, yang harus dilakukan selama satu bulan atau lebih agar efektif. Saya heran bagaimana saya bertahan menghadapi hari-hari tersebut. Akupunktur menumpulkan rasa sakit, yang memungkinkan saya untuk berjalan  dan beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari, hal ini penting karena saya mulai bekerja sebagai guru. Namun, rasa sakit, meskipun intensitasnya sudah berkurang, selalu setia mengikuti. Selain itu, tiga kali seminggu, ayah saya akan mengantar saya ke ahli akupunktur, yang akan menusuk jarum ke dalam tubuh saya dan mengalirkan arus listrik melalui mereka. Saya sangat takut akan sesi ini. Hanya dengan bergantung pada Tuhan membuat saya dapat melalui masa-masa ini.

Pada akhir Desember, orang tua saya membawa saya ke dokter di Changzhou, tiga jam dari kota asal saya. Dokter ini dikenal telah "menyembuhkan" banyak pasien lainnya yang menderita masalah turun bero dengan metode khusus yang melibatkan menyuntikkan nutrisi ke tulang belakang, pijat medis, pengobatan chiropractic manual, serta latihan fisik setiap hari.

Pada awalnya, rasa sakit meningkat karena pengobatan mengaktifkan saraf di punggung saya yang telah mati rasa dengan akupunktur. Tapi setelah perawatan selesai, dokter mengucapkan bahwa punggung saya sembuh. Ia menyebutkan syarat bahwa setidaknya butuh waktu satu sampai tiga tahun untuk sepenuhnya sembuh dan menyarankan saya untuk tidak melakukan perjalanan lewat udara selama setidaknya satu tahun.

Aku benar-benar bersyukur dan mengarahkan sisa kekhawatiran saya menjadi doa. Meskipun penyembuhan akan memakan waktu dan nyeri pada punggung saya tetap ada, saya telah belajar bagaimana untuk mempercayai bahwa kehendak Allah akan nyata sesuai dengan waktu-Nya.

KETERGANTUNGAN PENUH

Setelah tugas mengajar saya telah selesai, saya mulai berencana untuk kembali ke perguruan tinggi di New York pada musim semi. Tingkat kepercayaan saya pada Tuhan menuntun saya untuk melakukan sesuatu yang dianggap gila oleh kebanyakan orang. Kuliah semesteran akan dimulai pada akhir Januari 2012 dan saya tidak ingin tinggal diam di Nanjing. Saya merasa bahwa jika Tuhan bersama saya, tidak ada alasan untuk menggantungkan hidup saya karena rasa takut atau logika manusia. Namun, saya tidak ingin mencobai Allah dengan menentang nasihat medis jadi saya banyak berdoa tentang hal ini. Sesuatu di dalam hati saya mengatakan kepada saya untuk mengabaikan dokter dan mempercayai Tuhan.

Lalu saya mengambil penerbangan ke New York. Saya telah diperingatkan bahwa perubahan tekanan selama lepas landas bisa menyebabkan sendi saya kembali retak. Punggung saya sakit selama penerbangan dan tetap sakit bahkan setelah mengistirahatkan pungung saya malamnya di New York. Jadi saya berdoa dan mengatakan Allah: "Aku sangat mengasihi Engkau. Saya telah belajar banyak dalam bulan-bulan belakangan ini dan saya sangat bersyukur atas bimbingan, kasih karunia, dan kekuatan dariMu. Engkau telah membimbing saya dan menjaga saya sampai hari ini. Inilah saya. Saya sepenuhnya percaya pada Mu. Saya sendiri di sini dan akan tinggal sendiri untuk sisa masa tahun saya sekolah – Saya tidak tahu apakah saya bisa bertahan dalam penerbangan pulang, atau jika sendi saya akan retak kembali. Saya hanya memiliki Engkau, dan Engkau berkuasa melampaui batas. Aku tahu Engkau bisa menyembuhkan saya jika Engkau mau, tapi kalau itu bukan kehendakMu, saya akan menerimanya. Karena tidak peduli apapun yang terjadi, saya akan mengikuti Engkau sepanjang hari-hari hidup saya, selama Engkau bersama dengan saya. "

Hari Sabtu keesokan harinya, saya berdoa sebelum saya pergi untuk menghadiri kebaktian sabat  di rumah doa Brooklyn. Saya tidak menjelaskan mengapa tapi saya punya firasat bahwa Allah akan menyembuhkan saya segera setelah saya sampai di sana. Selama 20 menit naik taksi, punggung saya sakit, tapi saya merasakan kedamaian yang tak terlukiskan. Dan saat saya melangkah ke dalam tempat ibadah, rasa sakit menghilang. Saya berlutut, dan pada titik ini, saya tahu bagaimana berdoa. Saya menangis. Saya bersyukur kepada Tuhan. Itu adalah doa penuh kebahagiaan dari seseorang yang telah disembuhkan secara fisik. Tapi, lebih dari itu, doa di mana saya merasa jiwa saya telah benar-benar dihidupkan kembali oleh kasih karunia Allah yang mengagumkan.

KEMBALI KEDALAM PELUKAN BAPA

Selama empat tahun terakhir saya telah menyaksikan bagaimana Allah menggunakan masa-masa dalam hidup saya tersebut sebagai awal dari perjalanan rohani saya untuk kembali kepada-Nya. Masa-masa tersebut dipenuhi oleh perjuangan, tapi setiap kali saya putus asa atau ragu, setiap kali saya tersesat tanpa ada jalan untuk kembali, kekuatan dan ketekunan yang telah saya peroleh selama enam bulan tersebut telah menjadi sangat penting dalam membantu saya menahan gelombang hidup saya yang lama. Dia selalu membawa saya kembali ke pelukan-Nya.

Pada tahun 2011 yang lalu, saya adalah anak buta yang hilang yang berharap untuk merangkak kembali ke rumah Bapa-nya. Tuhan tidak berdiri saja tapi hadir di sana untuk saya disetiap langkah sepanjang jalan berbatu. Dia menunjukkan bahwa:

            Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. (2 Kor 4: 17-18)

Saya sekarang memiliki harapan yang melampaui penderitaan duniawi, dan saya tahu pasti bahwa Dia telah menyaksikan, dan akan selalu mengawasi saya. Amin.