Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Tuhan Menjamahku (1)  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

 (Manna 31: Many Nations - One Church)

Tuhan Menjamahku

Dalam nama Tuhan Yesus Kristus saya bersaksi. Saya lahir di Kamboja dan pada tahun 1981 saya berimigrasi ke Amerika Serikat. Saat itu saya berusia sembilan tahun. Dari tahun 1975 sampai 1979, terjadi pembantaian di Kamboja: dari 6 juta orang, 3,5 juta meninggal selama kurun waktu tersebut. Setiap hari, orang-orang meninggal karena kelaparan atau pembantaian, termasuk kerabat dan orang yang saya cintai. Saya selalu bertanya pada diri sendiri, Tuhan yang seperti apa menciptakan manusia, dan kemudian membiarkan mereka mati seperti itu? Bagaimana Tuhan ini dapat menjadi Tuhan yang baik? Apakah Dia tidak bisa melihat bahwa orang-orang ini sekarat?

Setelah saya tiba di Amerika Serikat, saya mulai mengalami mimpi buruk. Mimpi buruk yang sama setiap malamnya. Lima roh jahat memegang saya dengan sangat kuat: dua dari mereka mengikat tangan saya, dua lagi mengikat kaki saya, dan yang terakhir mencekik saya. Saya ketakutan dan tidak berani memenjamkan mata untuk tidur. Saat saya beranjak dewasa, dalam sehari saya mengambil dua atau tiga pekerjaan sekaligus karena saya tidak ingin tidur. Selama itu, saya sangat takut dan kesepian. Ketika saya membaca ajaran Buddha yang mengatakan bahwa dunia ini penuh dengan penderitaan, saya benar-benar mempercayai hal tersebut.

 

Tahun Penuh Gejolak

Saya telah mencari kebenaran dan mencari Tuhan sepanjang hidup saya, tapi saya masih merasa sangat kesepian dalam hati saya. Saya berkata pada diri sendiri, hidup harus lebih baik dari ini. Saat saya kuliah, saya pergi ke pesta di mana saya melihat orang menari, minum, dan bersenang-senang. Saya berkata, wow, inilah kebahagiaan ya? Jadi selama tahun pertama dan kedua saya di perguruan tinggi, saya berpesta-pora. Saat saya berpesta, saya akan naik ke atas panggung dan menari seperti orang gila. Orang-orang akan meneriakan nama saya, "Vuthy! Vuthy!" Namun saya tidak bisa menemukan kebahagiaan. Akhirnya, saya berkata pada diri sendiri, ini bukan jalannya.

Saya hampir gagal di tahun kedua kuliah saya. Ketika saya menyadari apa yang terjadi kepada saya, saya bertahan lebih lama di tahun pertama saya, tapi saya masih merasa begitu kesepian. Saya berpikir bahwa mungkin nanti saat saya menyelesaikan kuliah, mencari pekerjaan dan menghasilkan uang, hal itu dapat membuat saya bahagia.  Namun kenyataannya, saat saya lulus dan mendapat pekerjaan, hati saya masih hampa.

 

 

Mencari Kebenaran

Tanpa henti, saya masih terus mencari kebenaran selama ini, namun tidak berhasil. Beberapa saat lamanya saya pergi ke sebuah gereja Kristen. Di sanalah saya dibaptis untuk pertama kalinya. Tapi saya tidak merasakan kuasa Tuhan dan saya tidak merasakan Tuhan ada di gereja itu, jadi saya meninggalkan gereja tersebut.

Setelah itu, ibu saya membawa saya ke sebuah gereja Ortodoks Yunani di mana saya dibaptis untuk kedua kalinya. Tapi saya tertidur setiap kali saya berkebaktian di gereja tersebut karena mereka berbicara dalam Bahasa Yunani dan saya tidak mengerti apa yang mereka katakan.

Sesudah saya meninggalkan gereja kedua ini, saya berkata kepada diri saya sendiri, lupakanlah, Tuhan itu tidak ada. Saya kemudian hanya memfokuskan diri saya untuk bekerja di kantor saya. Salah satu perempuan yang bekerja di sana merupakan jemaat Gereja Yesus Sejati. Satu hari dia melihat Alkitab di meja saya dan dia mengajak saya untuk menghadiri sesi Pemahaman Alkitab (PA). Saya berpikir, kenapa tidak, toh saya tidak akan rugi. Pada akhir sesi PA tersebut, mereka berlutut dan berdoa dalam Bahasa Roh. Saya benar-benar ketakutan.

Salah satu dari saudari pastilah berdoa untuk saya, karena minggu berikutnya saya begitu antusias untuk mengikuti sesi PA. Di sesi tersebut, saya merasakan kuasa Tuhan. Saya mulai mengikuti sesi PA dan berkebaktian secara teratur. Saya merasa Tuhan hadir, walaupun kami hanya berkumpul di sebuah Pos Pelayanan. Saya mulai berdoa secara sungguh-sungguh setiap malam karena saya merasakan kuasa Tuhan. Setiap pengajaran Alkitab yang saya pelajari dan ikuti menjadi sesuatu yang nyata.

 

Tuhan Menjamah Saya

Suatu malam saat saya tidur, kuasa Tuhan menyelimuti saya dan berkata, “Vuthy, bangun dan berdoalah.” Saya berkata, “Baiklah.” Dan saya mulai berdoa.

Saya berkata, “Haleluyah.” Dan kuasa itu datang kepada saya, saya mulai berkata-kata dalam Bahasa Roh. Saya mulai menangis karena sukacita dan karena saya meraskaan kasih dan belas kasihan yang begitu besar dari Tuhan. Selama doa tersebut, Tuhan membuat saya menyadari orang seperti apa saya selama ini dan semua hal-hal penuh dosa yang saya perbuat selama masa sekolah dan kuliah saya.

Saat berdoa, Tuhan menggerakkan saya untuk mengatakan, "Buka 1Petrus." Saya bahkan tidak tahu di mana letak 1Petrus. Jadi saya bangun, menyalakan lampu, dan membuka 1Petrus pasal 1. Ketika saya sedang membaca, Firman Allah menjadi hidup, hampir seperti tiga-dimensi. Setiap kata muncul seperti hidup, dan hal ini benar-benar menyentuh saya.

 

Peperangan Rohani

Beberapa hari kemudian, mimpi buruk saya muncul kembali. Saya tidak mengalami mimpi itu beberapa tahun belakangan ini. Mimpi buruk saya masih sama, lima roh jahat yang sama dan kali ini mereka mencekik saya dengan sangat kuat. Saya tidak dapat bernafas, saya tidak dapat berteriak, saya tidak dapat menjerit. Tetapi saya berkata, “Dalam nama Tuhan Yesus Kristus,” dan mereka pergi.

Saya bertanya kepada saudara saudari di Gereja mengapa saya masih mengalami mimpi buruk meskipun telah menerima Roh Kudus. Mereka bertanya apakah saya punya berhala di rumah saya. Saya masih menyimpan patung kepala Buddha emas kecil, dan mereka mengatakan kepada saya bahwa saya harus membuangnya. Jadi dalam nama Tuhan Yesus Kristus, saya membuangnya ke toilet.

Malam berikutnya saya mengalami mimpi buruk lagi, tetapi kali ini hanya ada satu roh jahat. Roh besar dan hitam ini mencekik saya, namun saya tidak dapat melihat wajahnya. Hal ini sungguh menakutkan karena merupakan hal baru. Saya berkata, “Dalam nama Tuhan Yesus,” dan saya mulai balik mencekik roh itu. Saya membalikkan roh itu di atas tempat tidur saya, dan saya melihat bahwa wajahnya rusak dan penuh dengan cacing. Lalu tiba-tiba, roh itu menghilang.

Sekali lagi saya bertanya pada saudari di gereja mengapa saya masih mengalami mimpi buruk ini; saya tidak berpikir kalau saya menyimpan hal lain di rumah. Saudari itu mengatakan bahwa saya harus memeriksa lagi. Jadi saya mencari dan mencari, dan akhirnya menemukan patung kepala Buddha lain yang diberikan ibu saya sejak lama. Saya lupa kalau patung tersebut saya simpan di dalam kotak perhiasaan. Jadi sekali lagi dalam nama Tuhan Yesus Kristus, saya membuangnya ke toilet.

 

Praktek Ayah Saya

Setelah saya dibaptis di Gereja Yesus Sejati, saya mulai bercerita pada ayah saya tentang Tuhan. Ayah saya berumur tujuh puluh tiga tahun. Sejak ia masih muda di Kamboja, ia selalu berlatih sihir. Orang-orang di kotanya tahu bahwa tidak ada yang bisa membunuhnya dengan cara menembak atau menusuknya. Ketika saya masih kecil saya merasa bangga dengan hal ini, tapi saya tidak benar-benar percaya.

Ketika keluarga saya datang ke Amerika Serikat pada tahun 1981, kami dianiaya dengan amat sangat. Rumah kami dibakar dua kali. Pada saat kejadian yang kedua kali tersebut, ayah saya keluar dan berkelahi dengan pelaku pembakaran. Salah satu dari mereka mencoba memukul ayah saya dengan tongkat baseball, tetapi ayah saya mengangkat tangan dan tongkat itu pecah menjadi dua. Setelah kejadian itu, saya mulai percaya bahwa ayah saya benar-benar menggunakan ilmu sihir.

Pertama kali ayah saya pergi ke gereja Kristen setelah ia datang ke Amerika, ia menjadi sangat sakit sampai hampir mati. “Roh tuan” nya memperingati ayah saya kalau dia akan membunuhnya jika ayah saya terus pergi ke gereja. Jadi dari tahun 1981 sampai dengan tahun 1999,  ia tidak pernah pergi ke gereja

Pada bulan Juni 1999, saya pergi memancing dengan ayah saya. Pada saat itu, saya sudah berkebaktian secara rutin di Gereja Yesus Sejati. Saya benar-benar percaya bahwa Tuhan ada dan saya merasakan kasih-Nya. Jadi saya berkata pada diri saya sendiri, ini adalah kesempatan besar bagi saya untuk berbicara dengan ayah saya tentang Tuhan. Saya katakan kepadanya, "Saya tidak pernah meminta Ayah untuk melakukan sesuatu sepanjang hidup saya. Tapi saya sudah menemukan Tuhan, dan saya ingin Ayah datang ke Gereja hanya lima kali. Jika setelah lima kali Ayah tidak merasakan apa-apa, Ayah tidak perlu kembali lagi. "Dia setuju," Baiklah anakku, saya akan melakukannya untuk kamu. "

Di malam yang sama, keponakan saya berada di kamar ayah saya. Tiba-tiba, dia mulai berteriak, "Nenek, kakek, seseorang mencoba membunuhku!" Ayah saya melihat sekeliling namun tidak ada seorang pun di sana. Lalu ayah menyadari bahwa itu adalah roh tuannya lagi. Ia mengatakan kepada saya tentang hal itu hari berikutnya, tapi saya mengatakan kepada ayah untuk tidak khawatir karena Tuhan itu Mahakuasa, dan hanya Dia yang bisa mencabut nyawa seseorang.

 

Menghilangkan Yang Lama

Jumat berikutnya pada saat sesi PA, saya bertanya kepada saudara-saudari apa yang harus saya lakukan tentang semua perlengkapan Buddhisme di kamar ayah saya. Mereka menyarankan saya untuk berdoa dan membuangnya, tapi siapa yang berani masuk ke kamarnya dan membuang semua itu? Ayah saya tidak akan melakukannya, dan saya tidak mempunyai iman yang cukup besar untuk berani melakukannya sendiri. Jadi satu-satunya hal yang bisa kami lakukan adalah berdoa.

Puji Tuhan, ayah saya datang ke gereja hari Sabtu. Setelah berdoa, saya bertanya bagaimana perasaannya. Ayah berkata, "Ayah merasa dingin dan gemetaran." Saya berpikir sepertinya ada sesuatu yang salah. Benar saja, saya menemukan bahwa ia mengenakan kepala Buddha besar di sekitar lehernya. Jadi saya mengatakan kepadanya, "Itulah masalahnya, Ayah perlu menyingkirkan itu. Ayah harus menyingkirkan semua hal lain di ruangan Ayah juga, jika Ayah benar-benar ingin berdoa kepada Tuhan. "

Jadi dengan bantuan Tuhan, ayah saya membuang semua perlengkapan Buddhisme, termasuk kalung, dan dia mulai berdoa setiap malamnya.

 

Kehidupan Baru

Pada hari Sabat berikutnya, ayah saya datang ke Gereja dan berlutut untuk berdoa lagi. Saya tidak pernah menjelaskan kepadanya bagaimana rasanya mendapat Roh Kudus. Setelah berdoa, ayah saya mengatakan bahwa beliau merasa kesemutan sepanjang tubuhnya, dan rasanya benar-benar nyaman. Saya benar-benar bersyukur pada Tuhan.

Pada minggu yang sama, kaki kiri ayah saya mulai sakit begitu parahnya, bahkan untuk berjalan pun tidak bisa. Ayah saya tidak mengerti mengapa hal ini terjadi kepadanya. Dalam perjalanan ke gereja, ia berkata kepada saya, "Jika Tuhan kamu adalah Allah yang benar, biarkan Dia menyembuhkan kaki Ayah." Jadi saya berpikir, "Tuhan, kami sudah mendapat kesempatan ini.” Ayah saya adalah orang yang sangat berpegang pada kata-katanya. Saya tahu bahwa yang harus dilakukan adalah beriman dan berdoa, dan Tuhan akan menyembuhkannya.

Kakinya sakit selama seminggu, dan kemudian pada suatu malam ayah saya terbangun dan menangis karena kesakitan. Begitu ia bangun, ayah saya merasa kekuatan mengalir dari kaki sampai ke lututnya, dan ayah saya bisa berjalan. Ayah menelepon dan menceritakan hal ini kepada saya, dan saya sangat bersukacita. Saudara-saudari seiman pastilah sudah berdoa dengan amat sungguh-sungguh untuk ayah saya.

Dalam perjalanan ke gereja pada Sabat berikutnya, ayah saya berkata kepada saya, "Nak, Ayah akan mengikuti imanmu; Ayah telah memberitahu ibumu bahwa Ayah akan mengikuti imanmu dan mengikuti Tuhanmu." Saya benar-benar bersyukur kepada Tuhan. Ayah saya beragama Buddha sepanjang hidupnya, sama seperti kakek dan buyutnya. Bagi ayah saya untuk dapat percaya kepada Tuhan dan datang ke gereja adalah sebuah keajaiban.

Sekarang ayah, ibu dan saudara laki-laki saya berkebaktian Sabat secara rutin. Kasih dan belas kasihan Tuhan di luar daya imaginasi saya. Saat kita berdoa dengan ketulusan dan iman, semuanya adalah mungkin melalui Tuhan. Semua kemuliaan dan puji hanya untuk nama Tuhan Yesus.