Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Tuhan Yang Memberi, Tuhan Yang Mengambil  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Tuhan Yang Memberi, Tuhan Yang Mengambil

Dalam nama Tuhan Yesus saya menyampaikan kesaksian tentang pengalaman keluarga kami dalam kerusuhan yang melanda Jakarta, Mei 1998 yang lalu.

Rabu, 13 Mei 1998, Pk. 21.00
Suami saya mendapat telepon dari kakaknya bahwa di daerah Jembatan Dua dan Jembatan Lima sedang terjadi kerusuhan. Massa melempari rumah-rumah dengan batu. Kami disarankan untuk memantau situasi lewat siaran radio. Tidak lama kemudian terdengar kabar bahwa Jembatan Tiga juga sudah mulai diserang.

Saat itu saya sedang mengandung anak kedua kami dengan usia kehamilan sembilan bulan satu minggu. Menurut perkiraan dokter, anak kedua kami akan lahir pada tanggal 22 Mei 1998. Anak pertama kami berusia 2 tahun 7 bulan.

Keadaan di luar ruko kami (Mangga Dua Plaza, Blok D-16, Kompleks Agung Sedayu, Harco Mangga Dua) gelap sekali. Sama sekali tidak terlihat lampu jalan yang biasanya menerangi. Suami saya ingin keluar untuk memantau situasi. Tapi saya melarangnya, karena keadaan saat itu sungguh sangat gelap dan mencekam. Saya tidak tahu apa sebabnya, hanya saja perasaan saya mengatakan tidak boleh keluar.

Dengan penuh ketakutan karena tidak tahu apa yang sedang terjadi, kami berdua berlutut berdoa, bertanya kepada Tuhan apa yang seharusnya kami lakukan. Selesai berdoa, kami sama-sama merasa harus pergi dari rumah itu. Tapi saat itu anak saya sedang tidur, jadi kami memutuskan untuk menunggu sambil melihat apa yang akan terjadi. Saya mulai menyiapkan pakaian anak saya beberapa lembar, pakaian saya dua lembar, pakaian suami saya dua lembar, serta susu anak saya. Kami memutuskan akan langsung pergi jika terjadi sesuatu. Kalaupun tidak terjadi apa-apa, kami tetap harus pergi keesokan harinya.

Kami merasa seandainya terjadi sesuatu, entah mereka hendak merampok atau apa, tentu ruko yang kami tempati selama ini tidak akan menjadi sasaran, karena hanya berfungsi sebagai rumah tinggal saja, tidak dipakai untuk berdagang. Lagipula masih banyak toko-toko lain yang jauh lebih berharga dibanding ruko kami. Belum terhitung toko-toko yang ada di ITC Mangga Dua serta Pasar Pagi Mangga Dua. Jadi kami merasa ruko kami aman dari serbuan. Tapi berhubung Tuhan memerintahkan kami untuk pergi, maka kami harus pergi.

Kamis, 14 Mei 1998
Sekitar pukul 8 pagi, tanpa mandi ataupun makan, kami sekeluarga termasuk pembantu dan baby sitter, berangkat dengan bawaan dan penampilan ala kadarnya (bersandal jepit) ke rumah orang tua saya di Jl. Kartini. Ruko kami biarkan dalam keadaan kosong.

Saat itu saya tidak tahu apa yang akan terjadi atau apa yang sedang terjadi. Dari loteng rumah di Kartini, kami melihat bahwa di mana-mana terjadi kebakaran. Apinya lama sekali baru padam. Dan sebelum yang satu padam, sudah muncul dua atau tiga kobaran api yang lain. Begitu terus sampai sore. Sekitar pukul 4 sore sebuah kobaran api baru muncul dari arah lokasi ruko kami (Kartini dan Mangga Dua tidak terlalu jauh).

Saya sangat yakin bahwa api itu berasal dari kompleks ruko kami, sedangkan suami saya tidak yakin (entah dia hanya berusaha menenangkan saya atau sungguh-sungguh tidak yakin). Kami hanya dapat memantau situasi melalui siaran berita lokal tentang pembakaran dan penjarahan di mana-mana.

Jumat, 15 Mei 1998
Sekitar pukul 7 pagi, saya serta suami saya pergi menuju ruko kami untuk melihat keadaan. Sepanjang jalan saya sangat terpukul melihat ruko-ruko yang hancur dijarah ataupun dibakar. Pada saat itu saya masih punya sedikit harapan bahwa ruko kami dilindungi Tuhan dari penjarah dan perusak itu. Tapi begitu sampai di depan ruko kami, semua harapan saya habis tidak bersisa. Pintu ruko sudah dicongkel orang secara paksa. Saya tidak berani menemani suami naik ke atas untuk melihat keadaan karena kandungan saya sudah sangat besar. Setelah turun, dia mengatakan bahwa semua sudah habis, termasuk semua perhiasan dan permata saya yang kebetulan baru beberapa hari disimpan di ruko (karena mertua saya takut bank tempat kami menyimpan perhiasan itu ditutup pemerintah). Saat itu tidak ada lagi yang dapat kami lakukan. Kami berdua menangis, karena semua itu kami kumpulkan secara perlahan-lahan. Kami bekerja keras untuk mendapatkan semua itu. Mungkin para penjarah itu menganggap kami lebih kaya dibanding mereka. Tapi semua itu bukan jatuh dari langit. Semua itu kami dapatkan dengan tetesan keringat dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Pada saat itu, kami tidak tahu Tuhan ada di mana, mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi? Apakah Tuhan sedang tidur? Apakah kami punya kesalahan yang demikian beratnya, sehingga layak dihukum seberat itu? Kami menuntut Tuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi tidak ada jawaban sehingga kami sangat kecewa. Bahkan waktu seorang saudara seiman menelepon untuk mengetahui keadaan kami, tak ada yang dapat saya katakan kecuali menangis.

Semalaman kami tidak dapat memejamkan mata, hanya mampu membagi kepedihan kami berdua. Kami berdoa dengan uraian air mata yang tak bisa berhenti. Bahkan saat berdoa, saya tidak dapat berkata apa-apa lagi kecuali menangis karena tidak mampu menahan kepedihan. Tuhan tahu tangisan kami. Saya yakin Tuhan mengerti apa yang hendak saya sampaikan kepada-Nya.

Kemudian suami saya mengatakan bahwa apa yang kami alami ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang harus dijalani oleh Ayub. Dia menyarankan saya untuk membaca kitab Ayub. Saya mulai agak tenang.

Sabtu, 16 Mei 1998
Keadaan kami sudah mulai stabil. Kami sudah mampu melihat kenyataan walaupun masih sulit untuk menerima bahwa sekarang kami tidak dapat lagi menempati rumah yang selama ini kami tinggali itu. Dapat dikatakan kami tidak punya apa pun kecuali yang kami bawa waktu itu, bahkan mainan anak pun tak ada. Kami sangat sedih karena untuk ke gereja pun kami tidak punya sepatu atau pakaian yang layak untuk dikenakan.

Minggu, 17 Mei 1998
Pukul 04.35 perut saya sakit. Saya membangunkan suami saya dan walaupun mungkin kelahiran bayi kedua kami masih lama, dia memutuskan untuk langsung pergi ke rumah sakit karena takut kalau siang harinya terjadi kerusuhan lagi. Puji Tuhan, dokter yang akan menolong kelahiran bayi saya tidak ikut melarikan diri keluar negeri seperti yang saya kuatirkan. Ternyata dia menginap di rumah sakit beserta seluruh keluarganya.

Anak kami lahir dengan selamat pada pukul 21.35 malam itu, tidak kurang sesuatu apa pun. Puji Tuhan!

***

Saya keluar dari rumah sakit hari Selasa, 19 Mei 1998, dan langsung tinggal di rumah mertua. Beberapa hari kemudian pendeta datang menjenguk saya serta bayi saya sambil memberikan bantuan dari diakoni, walaupun akhirnya bantuan itu kami kembalikan karena kami masih punya sedikit tabungan. Jadi kami menyarankan uang itu diberikan kepada keluarga lain yang lebih membutuhkan.

Pada saat itu, kami sudah mulai bisa menerima kenyataan bahwa semua itu adalah jalan yang harus kami tempuh untuk mengingatkan kami bahwa semua yang ada di dunia ini adalah fana dan sia-sia, seperti yang difirmankan dalam 6:12.

Apalagi setelah mendengar apa yang terjadi di hari itu dari tetangga-tetangga kami. Sekitar pukul 9 pagi massa mulai memasuki kompleks dan mulai menjarahi ruko-ruko yang ada di sana. Massa yang ada diperkirakan berjumlah sekitar 4000 orang. Bahkan ada ruko yang dibakar berikut pemilik dan pembantu yang ada di dalamnya. Saya tidak berani membayangkan bagaimana nasib kami seandainya saat itu tidak pergi. Kami juga mendengar bahwa banyak yang dibunuh, dibakar, bahkan diperkosa. Tidak terhingga rasa syukur kami kepada Tuhan yang sudah memerintahkan kami untuk pergi malam itu. Kami akhirnya menyadari, jalan Tuhan terkadang sempit dan sulit untuk ditempuh, tapi Tuhan lebih tahu apa yang terbaik bagi anak-anak yang dikasihi-Nya, seperti yang tertulis dalam Ibr. 12:6.

Cobaan untuk kami ternyata tidak berhenti sampai di sana. Waktu anak kedua saya berusia 1 bulan 1 minggu, saya merasa terserang flu, tulang-belulang saya sakit semua. Empat hari kemudian memang sudah agak sembuh, tapi suami saya tetap menyarankan untuk periksa ke dokter karena suhu badan saya belum juga normal.

Dokter menyarankan untuk periksa darah, dan hasilnya menunjukkan bahwa saya terserang demam berdarah. Saya harus masuk rumah sakit saat itu juga meskipun cemas memikirkan anak-anak yang masih sangat kecil. Sempat juga terlintas pemikiran mengapa cobaan tidak pernah berhenti menghampiri kami. Tapi kali ini saya dapat melaluinya dengan lebih baik karena saya sudah mulai menyadari bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan saya. Tuhan mengindahkan setiap tetes air mata anak-Nya.

Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan (Ayb. 1:21b). Kalau mau dihitung secara materi, apa yang kami miliki sekarang ini bernilai dua kali lipat dari yang sudah diambil oleh para penjarah itu. Tapi berkat paling besar yang kami terima adalah pengajaran dari Tuhan bahwa kita harus berserah tanpa syarat. Dan juga bahwa materi adalah fana.

Demikianlah kesaksian saya, biarlah segala kemuliaan hanya bagi Tuhan, karena kita semua adalah manusia yang lemah dengan kemampuan yang terbatas. Amin.

Lie Ju Hui, Jakarta
Warta Sejati 34
untuk menyimpannya ke dalam media penyimpan, klik-kanan pada link di atas, dan pilih "save link as" (pada Mozilla Firefox) atau "save target as" (pada Microsoft Internet Explorer).