Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Tuhan Yesus Mengabulkan Doaku  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Tuhan Yesus Mengabulkan Doaku

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yes. 29:11)

Saya dan suami, Rusmin Ali, menikah pada bulan Desember 1998. Ketika itu tidak terbersit sedikit pun dalam benak kami bahwa kami akan sulit memperoleh keturunan, sehingga sepakat untuk tidak usah buru-buru punya anak karena masih ingin konsentrasi bekerja.

Setelah lewat satu tahun, barulah saya serius berusaha untuk mengandung. Beberapa bulan berlalu tapi belum berhasil juga. Kami pun memutuskan untuk ke dokter. Mula-mula saya diberi program untuk hamil secara alami dengan sistem kalender dan bantuan obat hormon. Sampai badan saya jadi gemuk karena hormon selama enam bulan berusaha, tidak berhasil juga. Berikutnya dokter menyarankan untuk mencoba program yang kemungkinan berhasilnya lebih tinggi tetapi biayanya pun lebih mahal, yaitu inseminasi buatan. Kami dua kali mencoba inseminasi buatan dengan jarak beberapa bulan, tetapi tetap tidak berhasil. Hati saya mulai dihinggapi rasa takut – ternyata ingin punya anak itu tidak mudah.

Mulailah kami gonta-ganti dokter. Dalam kurun 5 tahun saya sudah menjalani 5 kali inseminasi buatan dan menelan, bahkan sampai disuntik, beraneka ragam obat hormon. Saya pikir, selama masih ada jalan, saya akan terus mencoba. Apalagi, menurut dokter, rahim saya tidak ada masalah. Suami pun tak luput menenggak bermacam ragam vitamin. Semua itu benar-benar menghabiskan tenaga dan biaya yang tak terhitung besarnya. Pengobatan tradisional pun tidak ketinggalan kami coba. Tiga kali ganti sinshe dalam waktu 1,5 tahun dengan biaya yang jauh lebih mahal daripada pengobatan modern.

Semuanya itu sungguh melelahkan. Hari-hari yang harus saya lewatkan dengan menunggu apakah hasilnya positif atau negatif, sungguh menyiksa. Sementara itu saya dan suami tak pernah lupa untuk senantiasa berdoa, setiap kali memohon agar program yang saya jalani bisa berhasil, dan memohon dengan sungguh-sungguh agar saya diberi kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Namun ternyata penantian kami masih panjang dan lama, sampai saya hampir putus asa.

Ketika saya sudah bosan, ada teman yang menyarankan untuk mencoba program bayi tabung, program tercanggih di dunia kedokteran saat ini. Biayanya sangat mahal sementara kemungkinan berhasilnya hanya 30%. Teman saya itu sudah mencobanya dan berhasil. Setelah berkonsultasi dengan tim dokter dan diberi penyuluhan tentang risiko dan akibatnya, apalagi hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa saluran telur saya dua-duanya tersumbat sehingga memang tidak mungkin hamil dengan cara lain, semakin mantaplah keputusan kami untuk mencobanya.

Awal 2003, program bayi tabung ini dimulai. Setiap hari, tak peduli ada di mana pun saya sebelumnya, saya harus buru-buru terbang ke rumah sakit agar tepat pada jam 1 siang sudah berada di sana, siap untuk disuntik. Tidak boleh telat sedikit pun, karena akan mempengaruhi hormon dalam rahim saya. Dengan tekun saya patuhi semua peraturan walau harus menanggung banyak kesakitan, sambil tak lupa berdoa memohon campur tangan Yesus.

Akhirnya tiba saatnya untuk melakukan transfer embrio. Tiga dari sembilan embrio yang sudah jadi akan dimasukkan ke dalam rahim. Setelah itu kami harus menunggu kira-kira 2 minggu untuk mengetahui apakah program berhasil atau tidak. Dalam masa penantian itu, yang saya lalui dengan harap-harap cemas, saya benar-benar memohon dengan sungguh hati kepada Tuhan agar keinginan kami dikabulkan. Semua kegiatan, termasuk kerja, saya hentikan, supaya bisa benar-benar istirahat di rumah.

Kira-kira 2 minggu kemudian, sebelum memeriksakan diri ke dokter, tiba-tiba saya melihat darah segar keluar. Kepanikan saya terbukti ketika dokter menyatakan bahwa program gagal. Tiga embrio yang sudah ditanam tidak berhasil menempel di rahim; saya tetap menstruasi seperti biasa.

Sedihnya luar biasa. Segala biaya, jerih lelah, dan rasa sakit yang saya tanggung ternyata sia-sia. Yang tersisa hanya penderitaan dan keputusasaan yang mendalam. Dalam isak tangis, saya mengatakan kepada Tuhan, kalau ini memang kehendak-Nya, saya akan tegar. Saya mencoba untuk tetap setia dan tidak kecewa kepada-Nya. Memang dalam lubuk hati yang terdalam ada perasaan bahwa Tuhan tidak memedulikan saya, tetapi bisikan si jahat ini tidak saya gubris. Saya pasrah sepenuhnya dan tetap mau percaya bahwa Tuhan punya rencana sendiri. Dan saya pun memutuskan untuk menghentikan usaha mendapatkan anak ini. Biarlah segalanya terjadi sesuai dengan kehendak-Nya saja.

Baru saja program bayi tabung ini selesai, papa mertua saya sakit keras sampai akhirnya meninggal pada pertengahan 2003. Seluruh perhatian kami pun tersita pada urusan perawatan yang begitu melelahkan seluruh anggota keluarga mertua saya, juga untuk memberitakan kebenaran dan secepatnya mengenalkan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kepada papa dan mama mertua. Hingga akhirnya, pada detik-detik terakhir sebelum papa mertua menjadi lumpuh, beliau dan mama mertua dibaptis.

Kami semua sangat terharu dan bersukacita karena satu pasang lagi domba yang hilang ditemukan. Alangkah baiknya Tuhan yang memberikan kesempatan dan kesaksian yang begitu indah buat keluarga mertua saya. Tuhan begitu lembut dan penuh kasih, karena mau menerima mereka tepat pada waktunya. Di tengah sekian banyak ujian, ternyata ada sinar mukjizat Tuhan yang meneguhkan iman kami berdua, bahkan seluruh keluarga. Saya jadi mengerti, mengapa Tuhan tidak mengizinkan saya hamil pada saat itu, yaitu agar saya bisa ikut merawat dan menginjili papa mertua.

Setengah tahun 2003 itu begitu melelahkan dan penuh tekanan, membuat saya ingin cuti panjang dari pekerjaan dan pergi berlibur ke Singapura sampai entah kapan, menginap di rumah teman sekolah yang juga saudari seiman. Ketika saya memberitahukan rencana ini kepada adik saya, ia langsung menyarankan agar saya memeriksakan diri ke rumah sakit pemerintah di Singapura. Sejujurnya, saya sudah muak dengan segala urusan ke dokter kandungan. Tapi saya pikir, toh saya memang mau check-up, tak ada salahnya sekalian periksa urusan kehamilan. Paling-paling komentarnya sama saja dengan dokter di sini. Lagipula, setelah program yang paling canggih pun gagal, saya sudah membuang semua harapan untuk hamil.

Tiba di Singapura awal Agustus 2003, pada hari ketiga saya menemui profesor dokter sambil membawa dokumen-dokument medis lengkap. Sangat mengejutkan, si profesor bilang hasil pemeriksaan terdahulu belum tentu benar. Saya jadi sedikit lega; artinya saluran telur saya mungkin tidak tersumbat dan saya masih bisa hamil kalau Tuhan mengizinkan. Setelah memeriksa saya, ia langsung memutuskan bahwa saya harus segera dioperasi karena ada endometriosis, infeksi di luar saluran rahim, yang selain tidak baik bagi kesehatan secara keseluruhan, juga menyebabkan kehamilan lebih sulit terjadi.

Setelah operasi, profesor itu mengatakan bahwa dalam waktu 3 bulan saya pasti bisa hamil secara alami. Kalau tidak hamil juga, saya disuruh kembali lagi pada bulan November 2003. Saya pribadi sudah tidak berani berharap lagi. Yang penting, penyakit itu sudah dibuang dan tubuh saya tentu jadi lebih sehat.

Tiga bulan berlalu, saya tidak terlalu memikirkan masalah kontrol ulang karena sibuk dengan masalah pindah rumah. Setelah 5 tahun tinggal di rumah kontrakan, Tuhan Yesus memberi kami rejeki untuk membangun rumah sendiri. Betapa indahnya kalau di rumah itu nanti ada seorang... ah, langsung saja saya kubur dalam-dalam pikiran itu. Lalu pada Januari 2004, seorang saudari seiman, yang juga teman baik saya, menganjurkan untuk mencoba adopsi saja.

Dengan begitu banyak kegagalan yang saya alami selama ini, masalah yang sebelumnya sama sekali tidak saya inginkan ini akhirnya benar-benar saya pertimbangkan. Suami dan orangtua saya juga mendukung. Dalam kebimbangan, saya berdoa kepada Tuhan. Akhirnya saya pun setuju untuk adopsi. Sejak semula, ibu dari calon bayi yang akan saya adopsi sudah menegaskan, bila yang lahir laki-laki, perjanjian batal, tetapi kalau perempuan, saya boleh mengambilnya.

Ketika saat melahirkan tiba, yang lahir bayi perempuan. Tapi entah bagaimana, tiba-tiba saja ibu itu berubah pikiran! Dia tidak tega memberikan anaknya kepada orang lain. Saya dan suami sempat bingung, mengapa ingin mengadopsi anak pun, Tuhan tidak mengizinkan? Di satu pihak saya lega karena tidak jadi adopsi, di sisi lain saya merasa takut, karena kelihatannya Tuhan benar-benar tidak mau memberi saya keturunan. Saya hanya bisa bertanya-tanya kepada Tuhan, apa maksud dari semua ini dan memohon agar diberi kekuatan dan kesabaran untuk menantikan rencana-Nya.

Pada bulan April 2004, saya dan suami mendapat liburan dari kantor, jalan-jalan ke Praha, Cekoslowakia, selama 10 hari. Bersama rekan-rekan seprofesi, kami bermain, berlari kian-kemari, berhujan-hujanan salju – hujan salju pertama yang kami rasakan. Setiap hari kami keluar main sampai letih sekali, tiba di hotel langsung berendam air panas dan tidur.

Usai liburan dari kantor, kami lanjutkan dengan jalan-jalan sendiri ke Jerman naik kereta selama 6 jam lalu disambung dengan bermobil selama 2 jam. Harus angkat-angkat sendiri koper yang beratnya minta ampun. Di Jerman kami menginap di rumah sahabat saya semasa SMP, yang juga saudari seiman, dan suaminya. Tiga malam di sana, setiap hari kami diajak jalan-jalan, dalam cuaca yang jauh lebih dingin daripada di Praha, sampai larut malam, jam 12 baru pulang. Capeknya luar biasa. Setelah itu kami pulang ke Indonesia.

Sebelum berangkat ke Eropa, saya sempat memeriksakan diri ke dokter kandungan karena sudah telat menstruasi sekitar sebulan. Dokter memberikan obat hormon, yang katanya setelah dikonsumsi selama 10 hari, akan membuat menstruasi keluar. Tapi 20 hari sudah lewat, sampai saya sudah balik lagi ke Indonesia dan obat juga sudah habis, saya belum juga mendapat haid. Saya jadi khawatir, apakah saya terkena penyakit lain? Saya memutuskan untuk ke dokter lagi.

Tetapi pagi-pagi sebelum ke dokter, iseng-iseng saya tes air seni walau dengan pikiran, mustahil saya hamil. Saya terkejut setengah mati melihat hasilnya: + (positif). Puji Tuhan! Saya sangat bersukacita, tapi hanya bisa berteriak di dalam hati. Saya dan suami langsung berlutut berdoa bersama-sama, memuji Tuhan sampai menitikkan air mata. Juga memohon agar hasil tes ini tidak salah.

Ketika hasil tes itu saya perlihatkan ke dokter, dia langsung memberi selamat. Melihat saya masih ragu, dokter melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Di layar, terlihatlah janin kecil seumur jagung tumbuh di dalam rahim saya. Dokter berkata, “Ibu, ini tandanya positif hamil, 99,9999%. Yakin, ya? Usianya sudah dua bulan.” Rasa bahagia saya sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata!

Kalau saya renungkan kembali, pengaturan waktu Tuhan memang benar-benar tepat. Rumah sudah tersedia, adopsi tidak jadi, kedua mertua sudah dibaptis menjadi anak-anak Tuhan. Tuhan memang punya rencana yang lebih baik daripada yang saya bayangkan. Dia ingin memberi saya anak dari rahim sendiri, setelah semua kehendak dan pekerjaan-Nya selesai. Dalam kondisi kelelahan akibat jalan-jalan ke luar negeri ditambah makan obat untuk mempercepat menstruasi, Tuhan menjaga kandungan saya. Kalau Tuhan sudah memberikan, dalam keadaan bagaimana pun, tetap saja bisa hamil. Dan selama 9 bulan kehamilan, saya tetap bekerja seperti biasa.

Akhirnya, setelah menunggu selama 5 tahun, pada tanggal 2 November 2004, lahirlah bayi perempuan pemberian Yesus yang sangat cantik dan sehat, Megan Isabelle Lifian, melalui operasi Caesar. Kebahagiaan saya sungguh meluap-luap. Sekarang Megan sudah berumur 8 bulan. Setelah dia besar nanti, saya akan menceritakan mukjizat yang takkan pernah saya lupakan ini kepadanya, agar dia tahu bagaimana Tuhan sangat mengasihi dia dan ibunya.

Terima kasih, Tuhan Yesus, Engkau sudah mengabulkan doaku. Hanya Engkau yang pantas disembah dan dipuji, karena hanya Engkaulah yang dapat memberikan segala sesuatu, yang dapat membuat yang mustahil jadi mungkin. Segala puji dan kemuliaan memang selayaknya hanya bagi nama-Mu. Amin.

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ia telah membuat segala sesuatu indah pada waktunya. (Pkh. 3:1,11)

Fifi Sofian - Sunter, Jakarta