Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Kesaksian > Tuhan Yesus menyelamatkan Anak Kami  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Tuhan Yesus Menyelamatkan Anak Kami

Sekitar bulan Juli tahun 2000, istri saya muntah-muntah dan kami mengira itu hanya sakit maag. Setelah hampir dua minggu tak juga membaik, kami pergi ke dokter internis. Dokter menyatakan istri saya tidak sakit maag melainkan hamil. Kami menerima kabar tersebut dengan rasa tak percaya sekaligus rasa syukur, mengingat setelah kematian anak pertama kami pada tahun 1998, karena ada kelainan pada ginjalnya, istri saya sulit mengandung.

Syukur pada Tuhan bahwa doa kami dijawab dan kesalahan-kesalahan kami diampuni. Ketika baru menikah kami berusaha menunda mempunyai anak karena merasa keadaan ekonomi belum stabil serta takut akan segala macam hal. Namun suatu hari firman Tuhan dalam Filipi 4:6-7 menegur dan membuka hati dan pikiran kami.

Pada tanggal 23 Agustus 2000 kami pergi ke dokter kandungan. Dokter memastikan bahwa istri saya hamil sekitar tujuh minggu dan menganjurkan agar istri saya tidak terlalu lelah, juga ia diharuskan menerima suntikan penguat kandungan seminggu sekali selama empat bulan pertama usia kandungan.

Selama kehamilan kami rajin kontrol ke dokter dan tetap berdoa agar ibu dan janin senantiasa dalam keadaan sehat serta nantinya lahir selamat. Tanggal 12 Februari 2001 saat kontrol, dokter menyatakan bahwa letak janin sudah di jalan lahir dan lehernya terlilit ari-ari namun tidak menguatirkan. Dokter menganjurkan agar istri saya tidak tegang, jangan terlalu capai dan stress. Tanggal 13 dan 14 Februari istri saya mengalami kontraksi sekali-sekali di kantor tapi sore harinya setelah dibawa istirahat kontraksi pun hilang. Tanggal 15 Februari, sejak bangun pagi kontraksi sudah terasa tapi istri saya tetap ke kantor. Sampai di kantor sakitnya makin terasa, karena itu ia menghubungi dokter. Dokter menyarankan agar hari ini istri saya beristirahat saja dan besok pagi baru pergi kontrol.

Hingga malam hari kontraksi itu tetap saja terasa, lalu kami berdoa bersama. Setelah berdoa istri saya dapat tidur. Keesokan paginya kami pergi ke rumah sakit. Karena rasa sakit makin menjadi, suster langsung memasukkan istri saya ke kamar bersalin dan segera memanggil dokter. Setelah memeriksa dan melihat grafik jantung janin, akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan operasi Caesar saat itu juga, walaupun usia kandungan baru 32 minggu (8 bulan).

Tepat pukul 8:30 pagi tanggal 16 Februari 2001 bayi laki-laki kami lahir dengan berat 2,2 kg dan panjang 45 cm. Dia kami beri nama Jonathan Immanuel karena kami percaya bahwa bayi ini adalah anugerah dari Tuhan dan Tuhan akan selalu menyertainya.

Tak lama kemudian dokter menyatakan bahwa bayi kami menderita sesak nafas karena ada pembesaran kelenjar timus dan segera dirawat di ruang ICU. Karena peralatan di sana kurang lengkap, disarankan untuk memindahkan Jonathan ke rumah sakit yang peralatannya lebih lengkap. Setelah rembukan dengan keluarga dan meminta pertimbangan dokter kandungan, akhirnya malam itu sekitar pukul 22.00 Jonathan kami pindahkan ke rumah sakit lain.

Di sana bayi kami ditangani oleh tim yang beranggotakan 7 orang dokter ahli di bidang bayi prematur. Pertolongan diberikan melalui infus serta tambah darah.

Selama beberapa hari bayi kami tidak diperbolehkan minum susu dahulu (dipuasakan). Hampir tiap hari darahnya diambil untuk memeriksa kadar oksigen, infeksi, dan lainnya. Selama itu pihak keluarga tidak diizinkan pulang karena Jonathan masih dalam keadaan kritis. Setelah seminggu dirawat, suster membawa berita yang mengagetkan yaitu Jonathan menderita hernia dan harus segera dioperasi (seluruh tubuhnya bengkak dan sulit buang air kecil). Kami langsung menghubungi pendeta untuk minta bantuan doa. Kami tetap terus berdoa dan hari itu ada tim besuk yang datang mendoakan. Puji Tuhan, sorenya suster mengatakan kalau Jonathan tidak perlu dioperasi, cukup diurut atau diganjal dengan plester.

Kondisi Jonathan mulai membaik, hanya saja ia masih belum dapat sepenuhnya bernafas sendiri sehingga masih harus dibantu dengan pompa. Tapi tak lama kemudian kami kembali dikejutkan dengan adanya pembekuan darah di kepala dengan kategori 2 (pembekuan tersebut dapat makin melebar atau mencair) serta pendarahan di lambungnya. Kami sedih mendengarnya. Syukurlah tim besuk dan pendeta tak jemu-jemunya datang untuk memberikan dukungan doa dan moral. Hampir di setiap jam besuk kami melantunkan pujian "Darah Tuhan Berkuasa" dan berdoa dalam bahasa Roh. Dua-tiga hari sekali Jonathan menerima transfusi darah dan HB.

Hal ini berlangsung terus sampai dua minggu lebih. Tubuh Jonathan yang kecil jadi makin kecil karena dipuasakan terus. Di balik ini semua, kami memohon agar Tuhan memperkenankan kami untuk mengasuh, membesarkan, dan memiliki Jonathan. Pada awal Maret pembekuan darah di kepala Jonathan dinyatakan sudah tak ada dan sedikit demi sedikit ia sudah dapat diberi susu/ASI.

Namun kami masih kuatir karena infeksi di tubuh Jonathan masih ada dan berbagai antibiotik yang digunakan belum juga dapat melawan infeksi tersebut. Akhirnya dilakukan kultur untuk mengetahui jenis infeksi dan hasilnya menunjukkan bahwa infeksi tersebut harus dilawan dengan sejenis antibiotik yang dikeluarkan pada tahun 70-an. Obat ini hanya boleh dipakai selama dua hari dan harus kami beli sendiri di apotik tertentu.

Setiap obat yang masuk ke tubuh Jonathan, kami doakan agar kuasa penyembuhan hadir di obat tersebut. Sungguh ajaib kuasa-Nya, hari demi hari kondisi Jonathan semakin membaik dan tepat ketika berusia 30 hari yaitu tanggal 17 Maret 2001 Jonathan dipindahkan ke level II (bagian yang tidak terlalu parah). Tim besuk dan pendeta silih berganti memberikan dukungan doa dan moril untuk kami sekeluarga.

Hari ke-40 perawatan, bantuan oksigen untuk Jonathan sudah dapat dilepas dan mulai dicoba pemberian susu melalui pipet. Kultur pun dilakukan sekali lagi untuk memastikan apakah masih ada infeksi ataukah sudah normal. Ternyata hasilnya negatif, artinya sudah tak ada lagi infeksi dalam tubuh Jonathan. Puji syukur kami panjatkan ke hadirat-Nya, di usia 43 hari Jonathan dipindahkan ke level I, yaitu level persiapan untuk pulang. Pada tahap ini Jonathan diajari minum susu dengan botol. Tak henti-hentinya kami menyanyikan lagu “Darah Tuhan Berkuasa”. Hari Minggu tanggal 8 April 2001 Jonathan keluar dari rumah sakit.

Keluar dari rumah sakit Jonathan tetap mendapat pengawasan dokter, kontrol dilakukan seminggu sekali. Saat kontrol diketahui bahwa hati Jonathan mengalami pembengkakan hingga tubuhnya kuning (walaupun sudah setiap hari dijemur tetap saja warna kuning itu tidak hilang). Kami pun berdoa mohon petunjuk agar dipertemukan dengan dokter yang dapat menangani penyakit Jonathan. Dokter ahli yang kami kunjungi meminta dilakukan USG, dan hasilnya tidak menunjukkan adanya pembengkakan hati. Hati Jonathan hanya lebih besar dari hati bayi lain, namun masih dalam ukuran normal.

Dengan terus berdoa, Jonathan menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Minum susunya makin banyak dan berat tubuhnya bertambah. Tetapi pada tanggal 16 Juni 2001 Jonathan kembali dirawat karena sesak nafas yang disebabkan banyaknya slem pada saluran pernafasan. Kali ini dilakukan terapi berupa penguapan dan penyedotan slem selama sepuluh hari. Dua minggu kemudian Jonathan kembali dirawat di rumah sakit dengan kasus yang sama.

Di tengah kebingungan, seorang saudara seiman menyarankan kami untuk mencoba pergi ke seorang dokter. Sebelum pergi ke dokter tersebut kami mohon petunjuk Tuhan. Hasil pemeriksaan dokter tersebut menunjukkan bahwa Jonathan tidak memiliki kelainan. Dia hanya alergi terhadap debu, bulu, karpet, serta dianjurkan minum susu kedelai.

Puji Tuhan sejak saat itu hingga hari ini Jonathan tumbuh menjadi anak yang sehat dan lincah. Kami tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas pemberian Tuhan pada kami sekeluarga. Terima kasih pada tim besuk baik di Samanhudi maupun di Sunter serta pendeta dan jemaat yang telah membantu doa untuk kami sekeluarga. Kejadian ini merupakan pelajaran yang amat berarti bagi kami.

"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:6-7)

Freddy Candra dan Dewiyana — Sunter, Indonesia

Sumber: Warta Sejati 38