Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
GYS Fatmawati
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Allah yang Menyembunyikan Diri  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

 

ALLAH YANG MENYEMBUNYIKAN DIRI

Adaptasi dari khotbah, oleh H.H. Ko-Heidelberg, Jerman.

 

“Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau bersembunyi terus menerus, berkobar-kobar murka-Mu laksana api?” (Mzm. 89:47)

 

“Berapa lama lagi ya TUHAN? Kaulupakan aku terus menerus?  Berapa lama lagi, Kausembunyikan wajah-Mu terhadapku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?” (Mzm. 13:1-2)

 

Kata-kata di atas merupakan sebagian dari doa-doa Daud di masa kesusahan. Kita mungkin sudah mengenal doa-doanya. Dalam kesusahan, kita seringkali berseru kepada Allah dengan sikap yang sama, tetapi tampaknya kita tidak dapat melihat Allah. Sama dengan si pemazmur, kita mungkin bertanya-tanya mengapa Allah tidak menolong kita dalam kesusahan, atau mengapa Ia bersembunyi. Tetapi benarkah Allah menyembunyikan diri?

 

TIDAK TERLIHAT, NAMUN ADA

Kadangkala ketika kita menderita, kita mungkin benar-benar merasa Tuhan meninggalkan kita. Sebuah kisah Kristen yang inspiratif memberitahu kita: suatu ketika seseorang bermimpi, dan dalam mimpinya ia melihat kilas balik seluruh hidupnya. Dalam banyak kesempatan dalam hidupnya, ia melihat jejak kaki Allah berada di samping jejaknya. Tetapi di masa-masa paling sulit dalam hidupnya, selalu hanya ada sepasang jejak kaki. Karena itu, ia bertanya kepada Tuhan, “aku tidak mengerti, mengapa saat aku sangat membutuhkan-Mu, Engkau malah meninggalkanku.” Tuhan menjawab, “Anak-Ku, Aku mengasihimu dan tidak akan meninggalkanmu. Di masa-masa susah dan penderitaanmu, ketika engkau hanya melihat satu pasang jejak kaki, saat itu Aku sedang menggendongmu.”

          Kapan pun kita berasakan kepedihan dan kesengsaraan, Allah sesungguhnya menbawa kita tanpa kita ketahui. Bila demikian, mengapa Ia bersembunyi saat Ia menggendong kita?

 

PERCAYA DAN TAAT

 

“Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataaan hukum Taurat ini.” (Ul. 29:29)

 

Walaupun seringkali kita tidak dapat melihat kehadiran Allah di masa-masa pencobaan, tetapi kita harus senantiasa meletakkan iman dan percaya kita kepada-Nya. Allah mungkin tidak menyatakan kepada kita mengapa atau berapa lama kita harus menderita, namun Ia telah menyatakan apa yang perlu kita ketahui untuk mengikuti perintah-perintah-Nya. Sekarang apakah kita menaati apa yang kita ketahui atau tidak, pilihan itu bergantung pada kita, walaupun mungkin kita tidak selalu memahaminya.

Ketika Allah menyuruh Yesaya untuk bernubuat bahwa kerajaan Babel akan menghancurkan bangsa Israel dan menawan umat Allah, ia merasa bingung. Ia tidak dapat memahami mengapa Allah tega melakukan itu kepada umat-Nya sendiri. Karena itulah Yesaya mengucapkan keluhan dari lubuk hatinya, “Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juruselamat” (Yes. 45:15).

Walaupun tidak memahami perintah yang diembannya, Yesaya tetap menubuatkan apa yang diperintahkan Allah. Lebih lagi, ia mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Juruselamat bangsa Israel. Dengan begitu, ia menekankan kembali pesan Allah: “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain” (Yes. 45:18) yang kira-kira bermaksud, “walaupun engkau mungkin tidak mengerti mengapa Aku melakukan hal ini, Aku adalah Allah yang maha kuasa, dan Aku tahu apa yang terbaik bagimu, dan Aku ingin agar engkau percaya kepada-Ku.”

Dengan pesan ini, Allah tidak hanya bermaksud menunjukkan kemahakuasaan-Nya, tetapi lebih penting lagi, Ia meyakinkan kita akan hikmat dan kuasa-Nya, agar kita dapat percaya dan taat kepada-Nya.

 

MEMBUAT INDAH PADA WAKTUNYA

Di masa-masa kesusahan, kita tidak hanya mencari pertolongan Allah, tetapi seringkali, kita juga meminta jawaban dari-Nya: “Tuhan, mengapa ini terjadi kepadaku?” Seringkali kita tidak mendapatkan jawaban dari Allah, walaupun kita telah tekun berdoa memohon jawaban. Di dalam masa-masa seperti itu, kita tidak boleh patah arang. Sebaliknya, kita harus ingat bahwa Allah maha kuasa; Ia adalah Raja atas segala raja dan Pencipta segala sesuatu, yang berkuasa dengan hikmat dan kuasa yang absolut. Karena itu Ia tidak berkewajiban menjawab pertanyaan kita.

 

Karena Allah telah berkata kepadaku, “Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: Aku akan menjenguk dari tempat kediaman-Ku dengan tidak bergerak, seperti  hawa panas yang mendidih waktu  panas terik, seperti  kabut embun di panas musim menuai” (Yes. 18:4).

 

          Walaupun kelihatannya Allah diam-diam saja, ia senantiasa memperhatikan kita dan bekerja di balik layar. Cuaca yang baik berperan penting di masa panen. Dengan menyediakan sinar dan panas matahari, Allah memungkinkan para pemanen membawa hasil bumi mereka dan menyelesaikan pekerjaan mereka dengan lancar.

          Salomo juga memberitahukan kita bahwa Allah membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya menurut hikmat-Nya.

 

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktuNya, bahkan Ia memberian kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat mnenyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pkh. 3:11).

 

          Jadi, walaupun kita mungkin tidak memahami pekerjaan Allah, dan tidak mengerti mengapa kita menderita, kita harus terus memegang iman kita kepada Allah. Di masa-masa paling sulit dalam kehidupan kita, kiranya kita mengingat dan percaya dalam hikmat dan kasih Allah kepada kita. Kiranya kita berpegang kepada Allah, karena “kita tahu Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk  mendatangkan kebaikan bagi mereka yang terpanggil sesuai rencanaNya” (Rm. 8:28).

          Ada pasangan suami istri di gereja kita di Taiwan utara kehilangan kedua anak mereka dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Walaupun hati mereka sangat pedih, mereka terus berdoa kepada Allah, karena mereka tahu bahwa Allah adalah satu-satunya yang mengendalikan kehidupan. Jadi mereka mengangkat seluruh kepedihan dan air mata mereka dalam doa, dan tidak lama Allah menghibur mereka secara ajaib. Walaupun pasangan itu telah menjalani vasektomi dan tubektomi, si istri mengandung kembali dan akhirnya melahirkan bayi kembar. Sungguh, selama kita mengasihi Allah dan berpegang teguh pada kebenaran-Nya, Allah akan selalu mendengarkan doa-doa kita yang berasal dari lubuk hati. Ia akan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya.

 

AKUILAH DIA DALAM SEGALA LAKUMU

Paulus juga menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan dan kematian seluruhnya ada di tangan Allah, dan ia senantiasa mengakui Allah Allah di setiap kesempatan:

 

“Tetapi aku akan segera datang kepadamu, kalau Tuhan mengendakinya” (1Kor. 4:19).

 

“Aku harap dapat tinggal agak lama dengan kamu, jika diperkenankan Tuhan” (1Kor. 16:7).

 

          Saat Paulus menuliskan, “kalau Tuhan menghendakinya”, ia bukannya bersikap setengah hati atau ingin melarikan diri dari tanggung jawabnya. Sebaliknya, kata-katanya menunjukkan bahwa ia mengenal Allah dengan baik. Ia memahami bahwa hikmat Allah jauh melampaui pengertian manusia, dan rencana-Nya mungkin berbeda dengan rencana manusia. Dengan begitu ia tidak berani mengabaikan Allah saat ia membuat perencanaannya.

          Hari ini, apakah kita mengakui kekuasaan Allah di dalam hidup kita? Apakah kita mengakui Dia dalam segala perbuatan, dan mempercayakan seluruh hidup kita kepada-Nya?

 

….Sebenarnya kamu harus berkata. “ Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu” (Yak. 4:15).

 

KESIMPULAN

Walaupun seringkali Allah tampaknya menyembunyikan diri-Nya dari kita di saat-saat penderitaan kita, penderitaan adalah satu-satunya cara bagi kita agar pada akhirnya dapat menemukan dan melihat Allah.

 

“Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia” (Yes. 30:20).

 

          Di saat-saat penderitaan, iman kita mungkin tergoncang dan merasa patah arang. Tetapi kita harus terus berdoa kepada Allah, apa pun yang terjadi. Ketimbang mencari jawaban, lebih baik kita mencari wajah Allah.

 

“Aku tidak lagi menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, kalau Aku mencurahkan Roh-Ku ke atas kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH” (Yeh. 39:29).

 

          Ketika Roh Kudus memenuhi diri kita, pada akhirnya kita akan menemukan Allah. Saat damai sejahtera-Nya memenuhi hati kita dan kita merasakan penyertaan-Nya, kita akan melihat Tuhan. Melalui doa dalam Roh Kudus, Allah akan membuka mata rohani kita, seperti Ia membuka mata Ayub setelah penderitaan yang bertubi-tubi.

 

“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayb. 42:5).

 

          Setelah mengalami begitu banyak penderitaan, Ayub akhirnya melihat Allah. Ia masih tidak mengerti mengapa ia harus mengalami seluruh penderitaan itu. Tetapi ia melihat, dan mengakui kemanusiaannya dan juga kemahakuasaan Allah. Pada akhirnya, “TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu” (Ayb. 42:12).

          Mari kita mengakui kemahakuasaan Allah dan hikmat-Nya yang besar. Mari kita menyerahkan diri kita ke dalam tangan-Nya yang perkasa, dan percaya kepada-Nya sepenuhnya, karena Ia tentu tahu apa yang terbaik bagi kita.

 

“apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati” (Yer. 29:13).

 

Manna 64

Warta Sejati 74