Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Di Garis Depan (2) Mengenal Musuh  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Di Garis Depan (2): Mengenal Musuh

 

IDENTITAS MUSUH TUA

Memperlakukan seseorang yang telah bersalah atau melukai kita sebagai musuh bebuyutan adalah sifat alami manusia. Orang juga dapat mempunyai pandangan pendapat yang sangat bertolak belakang sehingga mereka saling mendendam. Konflik seperti ini terjadi di tempat kerja, di antara keluarga, dan bahkan di gereja. Namun Paulus mendesak kita untuk tidak melihat saudara-saudari seiman sebagai musuh. Musuh kita yang sesungguhnya adalah mahluk yang tak kasat mata, yang tidak dapat dikalahkan dengan senjata dan cara-cara jasmani.

            Paulus memperingatkan jemaat di Efesus bahwa orang percaya tidak bertarung melawan darah dan daging, tetapi melawan “pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Ef. 6:12) Musuh kita yang kejam dan tak pernah menyerah itu adalah Iblis, penguasa kegelapan di zaman ini. Kita tidak boleh meremehkan intensitas peperangan yang kita hadapi melawan Iblis. Betapa pun kuatnya kita, tanpa Roh Allah kita tidak akan dapat bertahan melawan kekuatan Iblis.

            Selain mengenal identitas musuh, kita juga harus memahami sifatnya. Ini memungkinkan kita untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk menghadapinya.

 

SIFAT SI MUSUH TUA

 

Keangkuhan Iblis

Di ratapan Yehezkiel (Yeh. 28:12-15), Raja Tirus adalah gambaran Iblis. Dia, yang juga dikenal sebagai Lucifer, dijelaskan sebagai meterai kesempurnaan, penuh hikmat dan sangat indah. Ini sangat berbeda dengan penjelasan tentang malaikat-malaikat lain di Alkitab; penghulu malaikat bernama Mikhael dan malaikat Gabriel tidak dijelaskan dari penampilan mereka, tetapi lebih pada tugas-tugas mereka.

            Dalam diri Lucifer, Allah telah menciptakan kerub yang sempurna dan indah. Namun Allah memberikan kebebasan untuk memilih kepada semua ciptaan-Nya; Allah mengizinkan kita untuk berpikir dan memilih nasib kita sendiri. Lucifer menjadi Iblis ketika dosa yang berasal dari keangkuhannya ditemukan dalam dirinya.

 

“Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara.Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!” (Yes. 14:12-14)

 

            Tulisan Yesaya menunjukkan pemikiran dan motivasi Iblis. Kesemuanya ini berpusat pada dirinya sendiri, seperti dapat dilihat dari berapa kali ia menyebutkan “aku”. Pikiran Iblis juga menunjukkan kesombongannya – kekurangannya yang fatal sehingga mengakibatkan kejatuhannya. Dengan gegabah ia mengira dapat merebut kedudukan Allah yang maha tinggi. Maka Allah menunjukkan kekuasaan-Nya yang tak terbatas – Ia tahu betul apa pikiran Iblis dan mengambil tindakan tegas. Seperti yang dikatakan Yesus, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Luk. 10:18). Seperti kilat, Iblis jatuh dengan sangat cepat.

            Kejatuhan Iblis dari Anak Fajar menjadi Bapa Dusta, dari kerub yang diurapi menjadi yang jahat, mengajarkan dua hal tentang kesombongan kepada kita. Pertama, kesombongan akan menjatuhkan kita dengan sangat cepat. Kedua, kesombongan bekerja dari dalam. Seperti pendarahan dalam, kesombongan dapat membunuh kita sebelum kita bahkan menyadarinya. Karena itu, kita harus senantiasa waspada dengan kesombongan, agar tidak jatuh seperti Iblis. Paulus menyadari bahwa status dan kedudukan dapat mengalihkan perhatian orang. Karena itu ia menasihati Timotius bahwa seorang penilik “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.” (1Tim. 3:6)

            Sejarah, baik dalam alkitab maupun sejarah sekular, penuh dengan contoh-contoh kejatuhan yang disebabkan oleh keangkuhan. Namun mengapa kesombongan tetap lekat pada diri manusia? Ini karena manusia seringkali tidak dapat melihat kesalahannya sendiri, terutama kesombongan (Ref. Luk. 6:42; 18:11-12). Kita sering lengah dan tumpul pada peringatan-peringatan ini, dan menyangka peringatan itu hanya berlaku pada orang lain. Nebukadnezar sudah diperingatkan Allah melalui Daniel untuk tidak berbangga terlalu tinggi, tetapi masih saja jatuh dan menderita akibat kesombongan (Dan. 4). Karena itu, kita harus senantiasa memeriksa diri sendiri, dan segera mencerabut sekecil apa pun ilalang kesombongan dari kebun hati kita. Kecerdasan kita adalah karunia Allah, dan pengetahuan dicapai melalui kesempatan yang diberikan-Nya. Semuanya ini tidak diberikan untuk meninggikan diri sendiri. Semakin banyak pengetahuan kita, maka kita harus lebih waspada dengan kesombongan di hati kita (1Kor. 8:1). Ranting-ranting yang berbuah lebih banyak harus semakin merendah. Kita mungkin mengaku berbuah banyak, tetapi apabila ranting kita malah semakin menggantung ke atas, maka sebenarnya kita sama sekali tidak berbuah.

 

Tipu Daya Iblis

Penatua Yohanes memperingatkan kita bahwa ketika Iblis dibebaskan, ia akan menggunakan segenap kekuatannya untuk menipu daya manusia (Why. 12:9). Dan lagi, ia akan keluar ke empat penjuru bumi untuk membangkitkan pasukannya, Gog dan Magog, untuk memerangi balatentara Allah (Why. 20:7-8). Jadi sembari kita semakin mendekati hari-hari terakhir, kita harus berada di garis depan, siap berperang. Ketika hari itu tiba, tidak ada lagi waktu untuk mempersiapkan diri. Dan orang-orang yang belum siap akan terjerat dan hanyut.

            Apa saja senjata-senjata tipu daya Iblis?

 

Senjata #1: Menafsir-ulang Alkitab

Yesus menyebutkan bahwa Iblis adalah bapa segala dusta (Yoh. 8:44). Sejak semula di Taman Eden, kita dapat membaca betapa cerdasnya Iblis memutarbalikkan firman dan perintah Allah. Iblis menyuguhkan penafsiran lain dari firman Allah tanpa disadari manusia, dan potensi tipu daya ini ada pada rasionalisme dan keserupaan dengan ajaran Allah sendiri. Tipu daya Iblis sangat menyerupai pengajaran Allah sehingga sulit sekali membedakan antara benar dan salah, kecuali apabila kita mempunyai pandangan rohani yang baik.

            Misalnya, Alkitab dengan sangat jelas melarang homoseksualitas. Roma 1:26-32 menyebutkan tentang laki-laki yang berahi dengan laki-laki lain, dan perempuan yang berahi dengan perempuan lain, Jadi Alkitab telah menggariskan bahwa orientasi seks ini salah dan perbuatan yang akan menuai murka Allah. Namun orang-orang Kristen terus menerus dibujuk untuk menerima bahwa Allah yang maha pengasih mengasihi siapa pun, apa pun orientasi seksual mereka. Usulan implisitnya: apa pun yang dilakukan manusia “demi kasih” akan diterima oleh Allah Bapa. Ketika homoseksualitas menjadi semakin diterima secara sosial dan global, kita juga akan menjadi kabur menyikapi arus ini. Kita mungkin tidak menerimanya, tetapi kita tidak menolaknya dengan terang-terangan. Kita tidak boleh sampai tertipu dan masuk ke dalam “netralitas” seperti ini.

            Oleh karena kasih-Nya, Allah mengampuni dosa. Tetapi Allah yang kudus dan adil tidak menyatakan dosa sebagai kebenaran. Jadi walaupun kita harus terus mengasihi orang-orang di sekitar kita, kita harus menolak perbuatan dosa mereka dengan lantang. Apabila kita ditanya apakah praktik homoseksualitas diperbolehkan, prajurit Kristus yang baik harus siap maju ke garis depan dan berkata, “tidak!” Jangan tertipu oleh bisik-rayu Iblis, “Apakah kau yakin Allah tidak mengizinkan dua orang yang saling mengasihi untuk hidup bersama-sama?” Jawaban kita mungkin melukai orang-orang yang mendengarnya, atau pun menyebabkan kita dicap sebagai orang yang picik dan tidak punya kasih, tetapi kalau kita tidak bersikap tegas, kita akan mempertaruhkan keselamatan orang lain maupun diri kita sendiri (Rm. 1:32). Jadi jangan biarkan Iblis membujuk kita untuk menukarkan keselamatan surgawi demi perasaan atau hubungan antar-manusia.

 

Senjata #2: Menjunjung Netralitas

 

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kej. 3:1)

 

Iblis menggunakan ular untuk mencobai Hawa karena ular “ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah.” (Kej. 3:1). Si ular sebenarnya adalah pihak netral, tetapi ia membiarkan dirinya diperalat Iblis menjadi juru bicara untuk menipu Adam dan Hawa. Begitu juga kita, kita mungkin menerima segala sesuatu yang dikatakan kepada kita dengan pola pikir yang netral, tetapi ini membuka kesempatan bagi Iblis untuk menipu kita, sehingga kita digunakan untuk melawan saudara-saudari seiman kita sendiri di gereja, dan kita menjadi anak-anak Iblis. Karena itu, kapan pun kita mendengarkan khotbah di mimbar, yang walaupun disampaikan oleh hamba Tuhan yang diurapi, kita harus mengenali apabila pesan yang disampaikannya sesuai dengan Alkitab atau tidak. Kita tidak boleh mentah-mentah menerima ajaran apa pun yang menyangkut tentang Allah tanpa terlebih dahulu mencocokkannya dengan Alkitab. Kebenaran harus berlaku sebagai saringan rohani, menyaring apa pun yang kita dengar dari siapa saja, agar kita tidak mempertaruhkan hidup rohani kita sendiri.

 

Senjata #3: Menggugah keangkuhan kita

Iblis jatuh karena kesombongannya. Maka ia akan berusaha membuat kita sombong sehingga terjatuh.

 

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” (Kej. 3:4-6)

 

Ayat-ayat ini menunjukkan apakah yang mendorong Hawa untuk memakan buah terlarang dari pohon pengetahuan baik dan jahat. Buahnya baik untuk dimakan dan tampaknya sedap, tetapi tentunya ada banyak pohon lain di Taman Eden yang juga menawarkan buah-buah yang menarik hati dan juga nikmat dimakan. Ciri khas yang diiklankan Iblis sehingga Hawa terpikat adalah bahwa buah itu dapat membuat seseorang berhikmat; membujuk kesombongan dan harga dirinya. Kita juga melihat bahwa Iblis tidak hanya melancarkan satu serangan. Di Taman Eden, ia sudah memulai dengan menyiratkan bahwa ada makna lain di balik perintah Allah: “” (Kej. 3:1b) Ia kemudian mengaburkan pemisah antara benar dan salah: “” (Kej. 3:4a). Hawa tidak berdaya melawan serangan ganda Iblis yang menyesatkan Alkitab dan menggugah rasa harga diri manusia. Seperti Iblis, Hawa juga ingin menjadi seperti Allah. Ia memakan buah itu dan membujuk Adam untuk memakannya juga. Mereka pun diusir dari Taman Eden, dosa dan maut masuk ke dunia. Peristiwa ini haruslah senantiasa mengingatkan kita: begitu kita merasakan adanya kesombongan dalam hati kita, kita harus segera membuangnya, agar kita tidak jatuh dalam dosa dan mengalami hukuman yang sama seperti Iblis

 

MENGHADAPI MUSUH TUA

Sebagai tentara Kristus di garis depan, kita senantiasa menghadapi serangan dari musuh. Ia akan menggunakan berbagai macam senjata: tipu daya, kesombongan, dan cobaan. Dan apabila kita jatuh ke dalam perangkapnya, ia akan berusaha mengajak kita untuk mengikutinya. Karena itu, kita harus senantiasa berjaga-jaga melawan taktik Iblis. Pangeran Kegelapan ini adalah penipu yang ulung, maka kita harus menjaga hati dan pikiran kita. Kita melindungi hati kita dengan menghilangkan kesombongan. Dan kita melindungi pikiran kita dengan meneladani pikiran Kristus (1Kor.2:16) dan berpegang teguh pada ajaran yang sehat (2Tim. 1:13). Dengan demikian, Iblis tidak akan dapat menipu kita.