Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Di Garis Depan (3) Mengenal dan Melayani Pemimpin Kita  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Di Garis Depan (III): Mengenal dan Melayani Pemimpin Kita


Adalah beberapa syarat yang harus kita miliki untuk berperang secara efektif di garis depan. Pertama, kita harus mengerti dan membangun identitas kita sebagai bala tentara Yesus Kristus dengan jelas. Kedua, kita perlu mengetahui musuh yang kita hadapi. Yang terakhir, kita harus fokus untuk lebih mengenal dan melayani Pemimpin kita.

 

BUKAN DENGAN KEPERKASAAN ATAU KEKUATAN

Alur cerita di banyak film action adalah bagaimana seorang pahlawan yang perkasa dan pemberani pada akhirnya mengalahkan berbagai musuh dan rintangan, yang dengan sendirinya menyelamatkan bangsa dan negaranya. Hanya saja, di dunia nyata tidak bisa berjalan seperti itu. Melewati rintangan sulit dan memenangkan pertarungan seringkali adalah hasil kerjasama banyak orang. Terlebih lagi, ketika kita bertarung di garis depan peperangan rohani, kita bukanlah “... melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah,  melawan  penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12), dan bergantung kepada diri sendiri akan berakibat fatal dan kematian. Semangat juang manusia, berapa pun besarnya, tidaklah cukup; kita harus dipenuhi Roh Allah.

            Namun walaupun kita sudah berusaha, Iblis bekerja tak kenal lelah untuk menipu tentara-tentara Kristus. Untuk melindungi diri dari tipu dayanya, kita harus mempunyai pola pikir Kristus. Dan begitu pun kita berusaha mempunyai pola pikir Kristus, menetapkan tekad untuk lebih dekat kepada Allah, Iblis akan berusaha lebih keras untuk merintangi kita. Ia akan mencobai kita dengan pikatan-pikatan sekular, memenuhi pikiran kita sehingga tampaknya kita tidak lagi punya waktu untuk Allah. Misalnya, begitu sebuah KKR atau Retreat usai, saat rohani kita merasa diperbarui dan segar-bugar, dengan bersemangat kita menetapkan target untuk bangun lebih pagi dan berdoa selama sejam. Namun, ketika kita sungguh-sungguh ingin menjalankannya, kita menemukan hal-hal yang merintangi. Entah kita bangun kesiangan, atau ditelpon teman untuk ketemuan. Lalu lama kelamaan, tekad awal untuk berkomunikasi dengan Allah lebih dalam menjadi semakin layu dan memudar.

 

MEMAHAMI ALLAH DARI SUDUT PANDANG MANUSIA TIDAKLAH MUNGKIN

Kelemahan manusia lainnya yang dimanfaatkan Iblis adalah keinginan manusia untuk mempelajari Allah dan memahami jati diri-Nya dengan cara-cara kita yang terbatas. Ini sama seperti mencoba menyeret Allah turun dari surga. Pendekatan rasionalisme seperti ini berisiko menjatuhkan iman kita apabila kita tidak berhasil memahami-Nya.

Alkitab adalah wahyu dari Allah sendiri, dan Kitab Suci ini menjelaskan sifat dan kasih Allah. Namun apabila kita hanya mengandalkan logika dan keingintahuan alami manusia, kita dapat menemukan banyak pertanyaan tentang Allah yang tampaknya tidak dapat dijawab. Kitab Suci mengingatkan kita, “hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.” (Ul. 29:29) Ini berarti ada hal-hal tentang Allah yang tidak akan dapat kita mengerti karena keterbatasan pikiran manusia. Renungkanlah: apabila kita sungguh-sungguh mampu memahami segala sesuatu tentang Allah, bukankah itu berarti kita lebih tinggi daripada Allah, atau paling tidak sejajar dengan-Nya?

Kesimpulannya, Allah bukanlah sebuah spesimen yang dapat kita taruh di bawah mikroskop dan dipahami dengan pola pikir manusia. Misalnya, Alkitab memuat, “mata Tuhan tertuju kepada mereka” (Mzm. 33:18), atau “menyesallah Tuhan” (Kej. 6:6). Kita tidak dapat menafsirkan yang pertama secara harfiah bahwa mata Allah berfungsi seperti layaknya mata kita. Begitu pula, kita tidak dapat mengandai-andai atau menebak-nebak seperti apakah penampakan mata Allah. Di contoh yang kedua, kita tidak dapat berkesimpulan dari penyesalan Allah bahwa Ia dapat melakukan kesalahan, sehingga tidak bersifat sempurna. Contoh lainnya, Allah menyebut diri-Nya sebagai Allah yang cemburu (Kel. 20:5; 34:14). Kecemburuan Allah tidak sama dengan rasa kecemburuan manusia yang bersifat merusak.

Intinya, kita harus mempunyai iman sederhana yang kuat sebagai dasar. Kita harus sepenuhnya memahami dasar-dasar kepercayaan dan apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh keselamatan. Berakal budi dan kritis dalam doktrin-doktrin dasar dan mendalami Alkitab adalah kebiasaan yang baik. Lagi pula, firman Allah adalah pedang bermata dua (Ibr. 4:12), yang dapat membantu kita dalam peperangan penginjilan di garis depan. Namun jangan sampai kita jatuh ke dalam pencobaan Iblis dengan melihat Allah dengan mata manusia.

 

MEMAHAMI PEMIMPIN KITA SEPERTI YANG IA KEHENDAKI

Ada beberapa hal yang Allah kehendaki untuk kita mengerti tentang diri-Nya.

 

Ia adalah Allah yang Agung, yang Ada di Atas Segala Sesuatu

 

Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.” (Yes. 6:1)

 

Ayat ini menunjukkan dua raja yang bertolak belakang. Yang satu adalah Raja Uzia, raja duniawi yang sudah mati. Satunya lagi, adalah TUHAN, raja yang mulia, yang hidup kekal. Ini adalah Allah yang kita sembah dan muliakan pada hari ini. Ia adalah Pencipta langit dan bumi, yang tahtanya tinggi jauh melampaui manusia. Namun Ia bersedia menunjukkan diri-Nya kepada kita (Yoh. 14:9) dan mengasihi kita terlebih dahulu. Kita sungguh diberkati.

            Apabila kita ingin tahu lebih banyak tentang Dia, kita harus melewati pintu yang Ia bukakan (Why. 4:1-2). Ada empat kali Penatua Yohanes bersama-sama Roh Allah di Kitab Wahyu. Karena itu, cara terbaik untuk mengenal Allah adalah berada di dalam Roh, yaitu dengan berdoa dan membaca firman-Nya.

            Penatua Yohanes juga melihat suatu tahta di surga, Dia duduk di sana, yaitu tahta penghakiman. Ini adalah pengingat bagi kita untuk tetap berhati-hati dan senantiasa taat kepada Allah kita yang maha kuasa. Lebih penting lagi, saat kita melayani-Nya di gereja, kita tidak meninggikan diri kita sendiri ke tahta itu. Hanya boleh ada Satu yang duduk di atas tahta, dan Satu itu adalah Tuhan Yesus Kristus.

 

Ia adalah Allah yang Kudus dan Adil

Banyak orang meyakini bahwa Allah adalah kasih, dan Ia akan menyelamatkan setiap orang. Sayangnya, mereka mengabaikan sisi lain sifat Allah, khususnya, sifat-Nya yang kudus dan adil. Apabila Allah tidak adil, Ia dapat saja segera mengampuni Adam dan Hawa saat mereka berdosa. Namun karena Ia adil, apabila manusia ingin diampuni, ia harus ditebus.

            Oleh karena kasih-Nya, Ia menjadi korban pengampunan bagi dosa-dosa kita. Namun untuk menjawab inisiatif Allah, kita harus menunjukkan perbuatan iman, melalui kerelaan kita untuk dbaptis demi pengampunan dosa, dan tekad kita untuk hidup kudus. Hari ini banyak orang Kristen memegang pemahaman yang keliru bahwa Allah adalah kasih dan semua orang akan diselamatkan. Mereka tidak melihat, atau juga tidak mau melihat sisi lain Allah – keadilan-Nya.

            Dalam penglihatannya, Penatua Yohanes melihat Allah duduk di Tahta Penghakiman. Tetapi juga ada pelangi di sekitar tahta (Why. 4:3); sebuah lambang kasih karunia, belas kasihan, dan kasih (Kej. 9:13-16). Tuhan kita penuh kasih dan berbelas kasihan, tetapi juga adil. Jangan dikira kita dapat terus melakukan dosa karena Bapa akan senantiasa mengampuni kita tanpa batas; kita pasti harus mempertanggungjawabkan dosa-dosa kita!

            Apabila kita bersalah dan dihukum, kita harus bersukacita dan memuji Allah karena Ia menegur orang-orang yang Ia kasihi. Tetapi apabila hal-hal buruk tidak terjadi pada kita, mungkin saja Allah sudah menyerah dengan kita dan sengaja membiarkan kita untuk terus berkubang dalam dosa. Allah mengampuni Daud setelah ia berdosa, tetapi Ia juga menghukumnya. Empat anak Daud mati, kerajaannya terbelah, dan ia tidak mempunyai damai sejahtera sampai masa tuanya. Apabila kita bersalah, kiranya kita segera berdoa memohon pengampunan dan berbalik ke jalan yang benar.

 

MENJADI TENTARA YANG ALLAH INGINKAN

 

Lalu aku mendengar suara Allah berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “ini aku, utuslah aku!” (Yes. 6:8)

 

            Prajurit yang baik harus berjuang untuk menjadi prajurit yang cakap dalam penugasan komandannya. Nabi Yesaya sudah masuk dalam pelayanan kepada Allah. Tetapi pertanyaan yang diajukan Allah kepadanya menunjukkan bahwa Yesaya masih belum menjadi prajurit yang Allah kehendaki. Jadi apakah yang masih kurang dari pelayanan dan sikap pelayanannya? Apakah yang harus diperbaiki?

 

Menyadari bahwa Pelayanan kepada Tuhan Bersifat Kekal

Di Yesaya 6:1, Yesaya menunjukkan perbedaan antara Allah dengan raja-raja duniawi. Di satu sisi itu adalah Raja Uzia, raja dunia yang sudah mati. Di sisi lainnya adalah Tuhan – raja surgawi, dan Allah yang maha kuasa yang tidak akan mati. Melayani tuan-tuan dunia mungkin menghasilkan penghargaan dan keuntungan. Namun ketika individu atau organisasi sekular ini berlalu, begitu pula keuntungan kita; semua kemuliaan dari pencapaian akademis maupun karir yang kita nikmati hari ini juga bersifat sementara.

            Sebaliknya, Allah kekal. Kemuliaan-Nya memenuhi langit dan bumi (Yes. 6:1; Hab. 3). Tidak saja melayani Dia adalah sebuah kehormatan besar, pelayanan yang terkecil sekali pun mempunyai nilai kekal. Dalam kesibukan hidup di dunia ini, kita harus senantiasa ingat siapakah Tuan kita sesungguhnya yang layak kita sembah dan patut diprioritaskan. Hal ini akan mendesak kita untuk merelakan diri maju ke garis depan.

 

Didorong oleh Kasih Allah

Menyadari bahwa dipanggil untuk melayani Tuhan Allah adalah sebuah kehormatan besar merupakan langkah pertama. Namun tak kalah pentingnya, kita harus memelihara api semangat ini agar tetap menyala. Dalam peperangan, beberapa prajurit dapat kehilangan dorongan; mereka akhirnya meninggalkan tugas. Memahami bagaimana Juruselamat sangat mengasihi kita akan mendorong kita untuk berperang dengan berani, dan tetap setia kepada-Nya di garis depan. Malah semangat yang menyala-nyala melayani Dia akan memberikan keberanian yang besar.

            Setelah Allah memberikan Sepuluh Perintah kepada umat pilihan-Nya, Ia juga memberikan hukum yang mengatur para hamba. Seorang hamba Ibrani yang dibeli harus melayani selama enam tahun; lalu tuannya harus membebaskannya di tahun ke-7 (Kel. 21:2). Namun hamba ini mempunyai pilihan untuk tetap melayani tuannya (Kel. 21:5) apabila ia merasa betapa baiknya tuannya ini.

            Hamba Perjanjian Lama yang memilih untuk tetap melayani tuannya harus memegang komitmen yang bersifat permanen. Telinganya ditusuk sebagai tanda perjanjian antara ia dengan tuannya (Kel. 21:6). Dalam hal ini, Tuhan Yesus memberikan contoh yang sempurna. Menyadari bahwa ketaatan lebih menyenangkan Bapa daripada korban bakaran, Yesus bertekad melakukan kehendak Bapa dan memegang hukum-Nya di dalam hati-Nya (Mzm. 40:6-8; Luk. 2:49; Yoh. 4:34; 6:38).

            Ketika kita dibaptis, kita membuat sebuah perjanjian dengan Tuhan Yesus. Kita menusuk hati kita dan membuat komitmen untuk melayani Dia seumur hidup kita. Kita bersedia mengambil komitmen ini karena kita tahu bahwa Dia-lah yang pertama-tama mengasihi kita (2Kor. 5:14-15). Walaupun Dia adalah Pencipta yang maha kuasa dan kita jauh lebih rendah daripada-Nya, Ia mengasihi kita sedemikian rupa sehingga Ia mau turun ke dunia, menderita, dan mati demi kita. Hal ini akan senantiasa mendorong kita untuk terus mengasihi Dia dan memberikan kekuatan untuk terus berperang di garis depan. Apabila kita berusaha melayani Allah tanpa sungguh-sungguh mengasihi-Nya, kita tidak akan mempunyai cukup kekuatan untuk bertahan di dalam penderitaan.

 

Meneladani Serafim

 

“Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutup kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.” (Yes. 6:2)

 

Menutupi Muka

Sebagai manusia, kita senang mendengar pujian, khususnya apabila kita telah berusaha keras. Karena itu kadang-kadang ketika kita bekerja keras bagi Allah, kita mungkin tergoda untuk menginginkan agar orang lain mengetahui usaha kita. Di saat-saat seperti itu, kita harus meneladani serafim. Wajah mereka tentu sangat mulia dan indah. Namun demikian, mereka menutupi muka mereka. Mereka tidak memamerkan diri maupun pekerjaan mereka. Pelayanan mereka sepenuhnya berpusat pada Allah.

            Iblis menyajikan contoh yang sebaliknya (Yeh. 28:11-13). Ia sangat indah, bahkan Allah berkata bahwa ia sempurna. Namun Iblis tidak menutupi mukanya. Kata “aku” berulang kali dinyatakan dalam keberadaan dan perbuatannya; kesombongannya dalam keindahan dan pencapaiannya pada akhirnya menjatuhkan dirinya sendiri (Yes. 14:12-15).

            Sebagai hamba Allah, kita harus berhati-hati agar tidak membiarkan penyertaan Allah menjadikan kita sombong. Bayangkanlah apabila kita melakukan tanda mujizat seperti Petrus dan Paulus –saputangan yang kita gunakan, bahkan bayangan kita, dapat menyembuhkan orang sakit. Bayangkan juga apabila, seperti Elia, doa kita menurunkan api dari surga. Apakah kita dapat menghindari perasaan puas dengan apa yang telah kita lakukan? Sebagai pekerja kudus, ketika kita menumpangkan tangan dan orang-orang memperoleh Roh Kudus, apakah kita tergoda untuk merasa dibenarkan karena Allah telah memilih kita untuk menyatakan pekerjaan-Nya? Apakah penglihatan-penglihatan yang kita alami membuat kita merasa sebagai kelompok khusus yang diberikan karunia dan wahyu istimewa dari Allah?

            Untuk menghindari kesalahan dan nasib Iblis, kita harus mempunyai pikiran Kristus (Flp. 2:7-10). Yesus adalah Allah sendiri. Tetapi Ia memilih menjadi manusia yang lemah dan rendahan. Walaupun telah menjadi manusia, Ia mengalahkan pencobaan Iblis; hawa nafsu mata, hawa nafsu daging, dan keangkuhan hidup. Khususnya, Ia merendahkan diri hingga rela mati di kayu salib.

            Sebelum kita maju ke garis depan dan bahkan saat kita berperang di situ, tutupilah muka kita.

 

Menutupi Kaki

Serafim menutupi kaki mereka dengan dua sayap. Sebenarnya, malaikat tidak mempunyai kaki (juga wajah) karena mereka adalah roh. Namun Allah ingin menunjukkan kepada Yesaya apakah yang Ia inginkan dari hamba-hamba-Nya.

            Kaki meninggalkan jejak. Hamba yang baik melayani tanpa banyak suara dan tidak meninggalkan bekas keberadaan mereka (Luk. 17:7-10). Paulus cakap dalam banyak bidang dan bekerja tanpa lelah sejak ia dipanggil untuk melayani Tuhan, tetapi marilah kita baca apakah yang ia katakan tentang dirinya sendiri.

 

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Flp. 3:12-14)

 

            Walaupun telah melanglang buana demi Injil, mendirikan gereja dan melatih para pekerja, ia tidak merasa puas. Ia terus bertekad untuk terus maju untuk mendapatkan mahkota kebenaran.

            Bagi kita-kita yang telah lama percaya dan melayani Allah, tentu saja kita telah banyak meninggalkan jejak di belakang kita. Mari kita menutupinya dan melihat setiap hari sebagai hari yang baru. Kita adalah hamba yang tidak berguna, yang dikasihi Tuan kita. Kita mengasihi karena Ia terlebih dahulu mengasihi kita. Kita melayani karena Ia memberikan kesempatan itu kepada kita. Apabila kita telah menjadi hamba yang baik dan setia, dan telah melakukan banyak hal demi Tuhan Yesus Kristus, biarlah itu semua disimpan di surga.

            Apabila kita terus melihat ke belakang dan mengagumi jejak-jejak kita sendiri, kita tidak akan menyadari bahaya yang ada di depan kita. Dan apabila kita telah melayani Allah dengan setia selama tiga puluh tahun, tetapi jatuh di tahun ke-31, semua jerih lelah kita yang sudah-sudah akan menjadi sia-sia. Akhir sesuatu lebih baik daripada awalnya (Pkh. 7:8). Jadi, mari kita menutupi kaki dan menghapus jejak kita.

            Menutupi kaki tidak saja berlaku pada hal-hal baik yang kita lakukan, tetapi juga yang buruk. Di KKR, kita mudah berpikir secara rohani, karena KKR atau sejenisnya memberikan kesempatan yang baik bagi kita untuk bertobat kepada Allah. Tanpa akses media, internet, musik duniawi, hati dan pikiran kita menjadi jernih dan sepenuhnya terpusat kepada Allah dan firman-Nya. Namun ketika kita kembali ke dalam hidup sehari-hari di dunia, kita menghadapi serangan bertubi-tubi dan pengaruhnya yang buruk. Karena itu kita harus memastikan agar semua perbuatan-perbuatan buruk yang kita buang saat KKR, tetap berada di tempat sampah.

            Setiap hari kita masih hidup, berarti peperangan bagi Tuhan kita bertambah satu hari lagi. Kita harus menjaga langkah-langkah kita dengan hati-hati. Kaki kita dapat meninggalkan banyak jejak yang dalam. Apabila jejak ini adalah perbuatan baik, kiranya kita tidak merasa puas, lengah, dan menjadi sombong. Apabila jejak itu perbuatan yang buruk, segeralah bertobat. Jangan terus berdosa sampai kita tidak lagi dapat terus berjalan.

            Alasan lain mengapa kita jatuh dalam kesombongan adalah karena kecenderungan kita membanding-bandingkan diri kita dengan hal-hal dan orang-orang dunia. Kita merasa rohani kita baik karena orang lain tampaknya lebih buruk dari kita. Namun tanpa kita sadari, kita jatuh ke dalam perangkap kesombongan orang Farisi dan membenarkan diri sendiri (Luk. 18:9-14). Namun apabila kita membandingkan diri kita dengan figur-figur seperti Musa di Perjanjian Lama dan Paulus di Perjanjian Baru, yang merasa diri mereka bukanlah apa-apa dibandingkan dengan Allah yang maha kuasa, terlebih lagi betapa tidak layaknya kita!

            Allah memilih Musa untuk memimpin dua juta orang. Oleh tangannya, Allah melakukan tanda-tanda ajaib. Musa bisa saja membiarkan mujizat-mujizat itu membuatnya merasa hebat. Namun tidak. Sebaliknya, cukup sering kita membaca ia merendahkan dirinya ke tanah, bahkan ketika sekelompok orang berbicara melawannya (Bil. 16:4). Maka tidak mengherankan apabila Allah memujinya bahwa ia adalah orang yang paling rendah hati di muka bumi. Oleh karena kerendahan hatinya, Musa menjadi prajurit yang berhasil di garis depan. Ia menutupi muka dan kakinya. Ia sepenuhnya memahami bahwa ia bukanlah apa-apa di hadapan Allah.

 

Melayang-Layang

Selain rendah hati dan terus berusaha mencapai garis akhir, penting bagi tentara Allah untuk mempunyai sayap agar dapat terbang. Ini berarti pikiran kita harus tertuju ke surga. Dan secara rohani, kita harus senantiasa berada di atas hal-hal duniawi.

            Yesaya melihat serafim menggunakan dua sayapnya untuk terbang. Imbuhnya, ia mendengar serafim itu berkata, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” (Yes. 6:3). Mendengar pernyataan ini, Yesaya berseru, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam.” (Yes. 6:5)

            Alkitab menyebutkan “kudus” sampai tiga kali. Ini menunjukkan arti penting yang sangat kuat. Sifat utama Allah adalah kekudusan-Nya, dan Ia menghendaki agar umat, hamba, dan prajurit-Nya, juga kudus (Im. 11:44; 19:2; 1Ptr. 1:13-16). Untuk berperang di garis depan dan disertai oleh Allah, kain linen kita harus putih bersih.

            Ketika Yesaya melihat serafim menutupi wajahnya, ia memikirkan wajahnya sendiri dan menyadari betapa kotor bibirnya. Lalu ia melihat serafim menutupi kakinya. Nabi itu melihat kakinya sendiri dan menyadari bahwa selama ini ia tinggal di tengah orang-orang yang berdosa melawan Allah. Walaupun tampaknya kita lebih suci dari orang-orang di sekitar kita, apabila kita sungguh-sungguh meneliti hidup kita, kita akan menyadari betapa kotornya diri kita di hadapan Allah.

            Di era modern ini, bersumpah serapah atau mengenakan pakaian-pakaian yang tidak pantas sudah menjadi hal yang lazim. Kalau kita angkat bicara menentang hal-hal ini, kita akan menjadi bahan tertawaan dan dicap sebagai orang zaman purba. Namun ini adalah hal-hal kecil yang harus kita usahakan untuk mengikuti standar kekudusan Allah. Kita adalah umat pilihan Allah. Kita harus hidup kudus. Walaupun kita tinggal di tengah orang-orang yang melakukan praktik-praktik menyimpang, kita harus tetap kudus.

            Setelah Yesaya melihat serafim, ia membuka matanya dan melihat kemuliaan Tuhan. Ini juga harus kita lakukan. Di gereja Tuhan, Ia ada di atas segalanya. Kita hanyalah hamba yang tidak berhak menjadi tuan atas saudara-saudari seiman kita. Apabila kita membanggakan diri dan menganggap pelayanan dan status kita membuat derajat kita lebih tinggi dari yang lain, berarti kita tidak menggunakan sayap kita untuk terbang. Kita tidak melihat kemuliaan Allah.

 

Dimurnikan dengan Api

 

“Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” (Yes. 6:6-7)

 

            “Serafim” berarti “yang membakar” atau “yang menyala-nyala”. Apabila ini benar secara harfiah, mengapa salah satu serafim harus mengambil bara dengan sepit? Ini karena api dari bara itu adalah api yang menghanguskan, yaitu Roh Allah. Dengan kata lain, apabila kita menyadari bahwa kita tidak kudus, kita harus berdoa kepada Allah, dan memohon kepada-Nya untuk memenuhi diri kita dengan Roh-Nya. Melihat Yesaya segera bertobat, Allah mengutus serafim untuk membakar dan menguduskan bibirnya. Mungkin kita belum sempurna dan memenuhi standar Allah, namun apabila kita mau, menyadari kelemahan sendiri, dan siap disucikan, Allah dapat menggunakan kita.

 

KESIMPULAN

Allah sudah memberitahukan kita bahwa kita adalah balatentara surgawi. Mengingat peran penting untuk membela negara, seorang prajurit tidak dapat tinggal diam. Mereka bertarung dalam sebuah peperangan yang penting dan gencar.

            Apabila kita ingin agar Allah menggunakan kita di garis depan, kita harus mempersiapkan diri dan diperlengkapi untuk melayani. Seperti Yesaya dibakar oleh serafim, kita juga harus mengizinkan hati kita dibakar. Kita harus merasakan dan didorong oleh kasih Allah. Karena itu, dengan meneladani jawaban Yesaya pada panggilan Allah, kita juga harus menjawab dengan penuh semangat dan pertobatan: “Ini aku! Utuslah aku!” Namun dorongan dan motivasi ini harus berasal dari keinginan kita untuk membalas kasih Allah, karena kasih Allah-lah yang memberikan kekuatan untuk hidup, yang dapat kita bawa bersama-sama kita dan digunakan untuk bertahan di garis depan.

            Serafim, yang menyala-nyala, selalu terbakar oleh semangat, namun ada enam sayap yang selalu ada pada diri mereka. Mereka tahu betapa pentingnya enam sayap ini bagi mereka. Selain bersemangat dengan hati yang menyala-nyala untuk melayani Allah, kita harus menutupi muka kita, menutupi kaki kita, dan terbang ke atas, dan senantiasa kudus. Jadi ketika Allah berkata, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”, kita dapat menjawab-Nya, “ini aku, utuslah aku!”