Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Iman Yang Terbuka  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Iman Yang Terbuka

 

Kisah tentang Daniel dikenal oleh mayoritas kita yang telah mendengarnya sejak kecil. Tetapi, dengan semakin dewasa, kita mulai menghargai kisah ini melalui pengalaman-pengalaman kita, dan penghargaan kita kepada Daniel semakin bertambah. Kita dapat melihat bagaimana dia memiliki iman yang terbuka dan menjunjung tinggi iman Yahudinya, meskipun tinggal di tanah bukan Yahudi. Ini dapat dilihat di Daniel 6:1-4:


Darius menetapkan seratus dua puluh wakil raja untuk memerintah seluruh kerajaan; di antara tiga gubernur ini di mana Daniel adalah salah satunya, para pejabat ini bertanggung jawab kepada mereka, sehingga raja tidak mengalami kerugian. Kemudian, Daniel membedakan dirinya di antara gubernur dan wakil raja lainnya, karena Roh Tuhan yang ada di dalam dirinya; dan raja berpikir untuk menetapkan Daniel sebagai pejabat untuk seluruh kerajaan. Sehingga para gubernur dan wakil raja lainnya berusaha menemukan pelanggaran terhadap Daniel perihal kerajaan; tetapi mereka tidak dapat menemukan pelanggaran atau kesalahan, karena dia setia. 

 

Daniel adalah salah satu dari tiga gubernur yang mengawasi 120 wakil raja, dan akhirnya dipromosikan menjadi atasan terhadap gubernur lainnya. Dia menjadi orang kedua yang paling berkuasa di dalam kerajaan, bertanggungjawab hanya kepada raja. Tetapi meskipun dia memiliki posisi yang istimewa seperti ini, Daniel tidak menyembunyikan identitasnya sebagai orang Yahudi. Bahkan, karena kesetiannya kepada Tuhan, sehingga Raja Darius dengan senang menempatkan Daniel untuk memerintah seluruh kerajaan.

 

Sejak awal pembuangannya ke Babel, Daniel sangat terbuka tentang imannya. Ketika dia pertama kali dibawa ke hadapan Nebukadnezar, dia berkata kepada kepala sida-sida bahwa dia adalah seorang Yahudi, sehingga tidak akan mencemari dirinya dengan makanan raja (Dan 1:8). Kemudian, ketika dia dipanggil untuk mengartikan mimpi raja, Daniel memberikan segala kemuliaan bagi Tuhan (Dan 2). Dan ketika dia dipanggil ke hadapan raja terakhir Babel, Belsyazar, Daniel sekali lagi menyatakan kemuliaan kepada Allah, Yang Maha Tinggi (Dan 5:18). Raja Persia, Darius memahami iman Daniel kepada Tuhan. Ketika Daniel dilempar ke gua singa, Darius menghiburnya dengan kata-kata, “Allahmu yang kau sembah dengan tekun, Dialah kiranya yang akan melepaskan engkau” (Dan 6:16). Sekali lagi, Daniel menyatakan imannya kepada Allah esa yang sejati kepada orang-orang di sekitarnya.

 

Sebagai anak-anak Tuhan - yang hidup, bekerja atau sekolah di masyarakat – pertanyaan untuk kita hari ini, Apakah kita terbuka tentang iman kita seperti Daniel?

 

APAKAH IMAN YANG TERBUKA ITU?

Iman yang sejalan dengan perbuatan

Ada banyak alasan mengapa kita tidak terlalu berani menyatakan iman kita. Mungkin karena tingkah laku kita. Kita menyadari bahwa tingkah laku kita tidak seperti orang Kristen, dan jika kita menyatakan identitas kita, kita akan membuat nama Tuhan dipermalukan.

 

Dalam hidup, akan selalu ada orang-orang sekitar yang tidak menyenangkan. Mereka mungkin menghindari kerja keras atau tanggung jawab. Mereka mungkin bergosip, atau hanya memberikan komentar negatif. Atau mungkin mereka adalah orang egois yang hanya memikirkan kepentingan diri mereka sendiri. Di tempat kerja atau sekolah, kita berharap untuk menghindari orang-orang seperti ini. Tetapi apakah kita berpikir bahwa mungkin kita berada dalam kategori orang-orang seperti ini? Reputasi seperti apa yang kita miliki terhadap teman sekerja atau teman sekolah kita?

 

Daniel berada di negeri asing untuk melayani orang bukan Yahudi, dan ini bukan pilihannya. Tetapi sangat jelas bagi kita semua, bahwa dia memiliki roh yang luar biasa di dalam dirinya (Dan 6:3). Daniel tidak membiarkan tingkah lakunya bertentangan dengan identitas dirinya. Jika kita memiliki iman terbuka, kita juga harus mensejajarkan perbuatan kita dengan identitas kita sebagai orang Kristen.

 

Iman yang tidak berubah karena keadaan

Apapun keadaannya, Daniel tetap setia kepada Tuhan. Daniel melayani di bawah raja yang berbeda, dalam periode di mana kekuasaan sangat cepat berlalu dari satu kerajaan ke kerajaan lainnya, tetapi tingkah lakunya tetap menjadi contoh. Reputasinya karena memiliki roh yang luar biasa tetap mengikutinya.

 

Jika kita berada di suatu perusahaan cukup lama, kita akan melihat bagaimana perubahan dalam manajemen dapat mempengaruhi staf. Para pekerja mungkin dapat melakukan tindakan yang tidak etis dan mengkompromikan nilai-nilai hidup mereka untuk mencari perhatian atasan yang baru dan mengamankan posisi mereka di bawah manajemen yang baru. Sebagai orang Kristen, apakah kita akan melakukan hal yang sama?

 

Nebukadnezar adalah raja yang sombong, sementara Belsyazar adalah orang bodoh. Darius, sebaliknya sangat menyukai Daniel sejak awal. Tetapi di bawah ketiga raja ini, Daniel tidak mengubah sikapnya hanya untuk disukai; dia tetap beriman kepada Tuhan secara terbuka. Dan tentu saja, kesetiaannya tetap berlanjut di bawah kekuasaan raja terakhir yang dia layani, Koresh dari Persia (Dan 6:28)

 

Iman yang memiliki Integritas

Daniel memegang kekuasaan sebagai gubernur, bertanggungjawab langsung kepada raja. Kita tahu bagaimana kekuasaan dapat merusak, dan kekuasaan mutlak dapat merusak semuanya. Tetapi, hal ini tidak terjadi pada Daniel. Bagi mereka yang memiliki kekuasaan, harus mengambil keputusan yang berat, terkadang harus memilih yang mana akan menghasilkan hasil yang baik bagi semua orang. Tindakan penyeimbang ini dengan mudah dapat menyebabkan korupsi, di mana para elit yang berkuasa mengambil keuntungan dari hak istimewa mereka dan menuai keuntungan, sementara banyak orang menderita.

 

Meskipun Daniel memiliki kekuasaan yang besar, dia tetap setia kepada Tuhan dan tidak ada kesalahan yang dapat ditemukan darinya (Dan 6:1-5). Dia tidak mengambil keuntungan dari hak istimewanya ketika orang lain berkomplot untuk melawannya dan dia menghadapi ancaman eksekusi karena menjalankan agamanya (Dan 6:1-6). Akan lebih mudah dan lebih cerdas secara politik seandainya Daniel menyembunyikan imannya dan bertindak seperti orang bukan Yahudi, tetapi dia tidak melakukan hal ini. Hari ini, kita mungkin tidak menghadapi ancaman tekanan untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat secara langsung. Tetapi, apakah kita memiliki integritas untuk menyatakan iman kita secara terbuka dan memanifestasikan perbuatan seorang Kristen?

 

Iman yang tahan terhadap Serangan

Alasan lain mengapa kita sukar untuk menyatakan iman kita secara terbuka, karena kita takut hal ini akan digunakan untuk menyerang kita. Hal ini juga terjadi kepada Daniel:

 

Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan; tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia; dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya. Jadi orang-orang ini berkata, “kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadah kepada Allahnya!” (Dan 6:4-5)

 

Daniel jujur dalam segala hal yang dilakukannya, sehingga musuh-musuhnya tidak mempunyai pilihan kecuali menggunakan agamanya untuk menyerangnya. Para pejabat tinggi dan wakil raja ini menyakinkan raja untuk mengeluarkan suatu ketetapan bahwa barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa (Dan 6:6-9). Bagaimana Daniel merespon hal ini?


Sekarang ketika Daniel mengetahui bahwa ketetapan ini telah dikeluarkan, pergilah dia ke rumahnya. Dan di kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya. (Dan 6:10-11)

 

Strategi Daniel dalam melawan serangan ini adalah dengan secara terbuka menyembah Allahnya, berdoa kepada-Nya memohon kekuatan.

 

Kita mungkin tidak akan pernah menghadapi dilema seperti ini, tetapi bagaimana kita bereaksi jika kita menghadapinya? Mungkin kita akan memutuskan untuk menyembah Tuhan dalam roh dan dalam hati kita, dan hanya berdoa diam-diam. Mungkin kita akan membenarkan perbuatan kita, dengan berkata Tuhan akan mengerti; lagipula, hidup kita akan beresiko jika kita terus menyembah-Nya secara terbuka. Dan lagi, bukankah ini yang Yesus maksud ketika Dia berkata bahwa kita harus cerdik seperti ular? Apakah bijak bagi Daniel untuk tidak mematuhi ketetapan raja, dengan menyadari akibatnya? Lalu mengapa Daniel tetap melakukannya?

 

Daniel mungkin menyadari bahwa, apapun yang dilakukan untuk melindungi dirinya, musuh-musuhnya tidak akan berhenti sampai mereka dapat menjebaknya. Ketetapan ini sebenarnya ditujukan kepada dirinya; apa yang dapat dilakukan untuk menghentikan musuhnya memikirkan rencana jahat lainnya? Mereka dapat memikirkan ketetapan lainnya, menyatakan bahwa seluruh kerajaan hanya boleh makan makanan yang  dilarang oleh hukum Taurat – selama tiga puluh hari. Untuk menghindari kejar-kejaran seperti kucing dan tikus ini, Daniel secara terbuka menghadapi tantangan ini dan percaya kepada Tuhan. Dia terus menerapkan  imannya untuk dilihat semua orang, meskipun ada akibatnya.

 

Iman yang membawa orang lain untuk mengenal Tuhan

Mungkin memiliki sebuah iman adalah suatu kerugian, atau mungkin kita akan menghadapi prasangka buruk dan intimidasi karenanya. Tetapi dari teladan Daniel, kita melihat bahwa lebih baik jika kita menyatakan iman kita secara terbuka. Sementara beberapa orang akan menggunakan iman kita sebagai alasan untuk menyerang kita, orang lain akan melihat kebenaran kita dan mungkin membawa mereka untuk mengenal Tuhan.

 

Raja Darius, yang dengan ceroboh menandatangani ketetapan itu, menjadi terganggu pikirannya ketika dia menyadari bahwa Daniel akan dihukum. Dia menjadi “sangat sedih dengan dirinya sendiri”, dan mencari jalan untuk melepaskan Daniel (Dan 6:14b). Ketika dia diberitahu bahwa tidak mungkin untuk menarik kembali ketetapan itu, dia mencoba untuk menghibur Daniel: “Allahmu yang kau sembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau” (Dan 6:16b). Sementara Daniel berada di dalam gua singa, Darius tidak dapat tidur; dia berpuasa semalaman. Karena sangat khawatir, pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, dia buru-buru ke gua singa, untuk melihat apakah Daniel masih hidup (Dan 6:18-20).

 

Sangatlah jelas bahwa keterbukaan Daniel perihal keyakinannya telah membuat raja menjadi terpengaruh; Darius dua kali menyatakan kuasa dan belas kasih Allah yang hidup (Dan 6:16, 20). Meskipun dia tidak memiliki keyakinan sepenuhnya dalam pernyataannya ini, dia dapat dengan jelas menyaksikan kekuasaan Tuhan atas keselamatan Daniel.

 

Hari ini, jika kita tidak menyatakan iman kita kepada Tuhan, maka orang lain tidak akan memiliki kesempatan untuk melihat kuasa Tuhan. Ketika kita jujur tentang iman kepercayaan kita, akan ada banyak hal positif yang akan kita terima daripada negatifnya. Bagi Daniel, pengaruh positifnya tidak berakhir di sana. Nama Tuhan dimuliakan di antara orang-orang bukan Yahudi.

 

Kemudian raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang mendiami seluruh bumi, bunyinya: "Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu! Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir.

 

Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkeraman singa-singa." (Dan 6:25–27)

 

Dengan pernyataan ini, para penduduk di seluruh kerajaan Media dan Persia mengenal Allah yang hidup. Ini adalah hasil dari keterbukaan Daniel tentang iman dan penyembahan kepada Tuhan.

 

KESIMPULAN

Marilah kita kembali kepada pertanyaan: Apakah kita terbuka tentang iman kita kepada Tuhan sama seperti Daniel? Dalam Perjanjian Baru, Yesus berkata:

 

"Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Mat 5:14-16)


Sebagai umat Kristen di dunia, kita tidak boleh menyembunyikan identitas kita. Kita adalah terang dunia dan sama seperti tidak ada orang yang meletakkan pelita di bawah gantang, kita tidak boleh menyembunyikan terang kita. Terang yang harus kita pancarkan di hadapan orang-orang adalah pekerjaan baik dan perbuatan Kristen kita yang baik, sehingga orang-orang dapat melihat dan memuliakan Bapa di surga. Inilah yang dilakukan Daniel.

 

Dengan bertambah dewasa dan pengalaman tentang realita kehidupan sebagai orang Kristen, kita dapat menghargai apa yang Daniel lalui, dan integritas yang dia terapkan dalam imannya.

 

Apakah kita dapat terus melakukan kehendak Tuhan dan secara terbuka memanifestasikan iman kita, tidak perduli bagaimana pun keadaan berubah? Apakah kita memiliki kekuatan untuk tetap setia ketika situasi tampaknya tidak menguntungkan kita, atau ketika berada dalam resiko? Daniel tetap setia, dan diselamatkan oleh Tuhan. Keselamatan Tuhan mungkin tidak datang sesuai dengan yang kita harapkan, atau mungkin dalam kehidupan ini. Tetapi marilah kita tetap mempertahankan iman yang terbuka dan ketaatan kepada Tuhan, menyadari bahwa keselamatan-Nya melewati kehidupan jasmani ini.