Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Kehidupan Keluarga yang Berpusat pada Kristus  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Kehidupan Keluarga yang Berpusat pada Kristus

“Anak-anak memungut kayu bakar, bapa-bapa menyalakan api dan perempuan-perempuan meremas adonan untuk membuat penganan persembahan bagi ratu sorga, dan orang mempersembahkan korban curahan kepada allah lain dengan maksud menyakiti hati-Ku.” (Yer. 7:18a)

Ini adalah penjelasan nyata sebuah keluarga yang anggota-anggotanya berjalan bersama-sama dengan harmonis – sebuah impian yang ingin dicapai oleh kita semua. Dalam masyarakat modern, kegiatan yang dilakukan dalam gambaran Yeremia tidak lagi umum ditemukan, namun pandangan dasar tentang hidup keluarga tetaplah serupa. Orangtua memberikan panduan pada anak-anaknya, membagikan pengalaman mereka, bertindak sebagai teladan, dan melanjutkan nilai-nilai, kemampuan sosial, dan kadang juga kemampuan teknis, untuk mempersiapkan anak-anak hidup mandiri setelah mereka dewasa. Anak-anak taat dan belajar dari orangtua mereka, turut membantu pekerjaan rumah tangga. Kadang mereka juga bahkan membantu mencari nafkah keluarga. Orangtua maupun anak-anak mempunyai tujuan yang sama: peningkatan taraf hidup dan sosial keluarga secara keseluruhan.

            Karena orangtua menginginkan yang terbaik bagi anak-anak, mereka akan bekerja keras untuk membiayai pendidikan yang baik. Bagi sebagian orang tua, ini berarti menyekolahkan anak mereka ke sekolah swasta agar anak-anak mereka mempunyai peluang yang lebih baik untuk masuk universitas ternama. Agar karir mereka berhasil, tidak saja mereka harus berprestasi, tetapi juga harus mengikuti berbagai kegiatan tambahan seperti olahraga, musik, pidato, dan drama. Kegiatan-kegiatan ini membangun dan melengkapi mereka dengan kemampuan sosial dan kepemimpinan yang tepat.

            Namun, semuanya ini ada harganya – dan bukan hanya dalam hal keuangan. Ini semua membutuhkan waktu: orangtua harus mengantarkan anak-anak dari les ke les berikutnya, menunggu mereka selesai sebelum mengikuti pertemuan selanjutnya. Tanggal-tanggal penting ditandai di kalender: ujian musik, konser, pertandingan olahraga, kompetisi, dan sebagainya. Perseteruan waktu antara kehidupan keluarga, pekerjaan, dan gereja adalah perkara yang mendesak – berapa sering kita datang kebaktian terlambat, atau harus terburu-buru pergi karena adanya kegiatan anak-anak? Ya, kita menghibur diri sendiri: “hanya sesekali saja; Tuhan pasti memaklumi.” Namun sebagai orangtua, bukankah seharusnya kita melihat dari sudut yang lebih luas? Apakah prioritas hidup kita dan anak-anak kita?

            Apabila kita kembali kepada deskripsi keluarga harmonis di Kitab Yeremia, kita akan menemukan bahwa mereka bekerja bersama-sama untuk melayani; bukan kepada Allah, tetapi kepada sebuah berhala – ratu sorga! Apakah ini serupa dengan kita, yang hidup melayani allah-allah lain ketimbang bekerja demi harta warisan yang telah Allah persiapkan bagi kita?

 

MERAYAKAN KEBERHASILAN MEREKA, NAMUN DIAM-DIAM MERATAP

Kita tentu merasa bangga dengan pencapaian anak-anak; sungguh, Alkitab menjelaskan anak-anak sebagai “mahkota orang-orang tua” (Ams. 17:6). Anak-anak adalah dukungan dan kekuatan kita (Mzm. 127:3-5), dan kita mensyukuri hal-hal materi yang mereka berikan kepada kita. Renungkanlah hadiah-hadiah yang kita terima pada acara-acara khusus, diajak makan ke restoran yang mahal, dibayari tamasya, dan pemberian-pemberian gratis lainnya. Lihatlah contoh Alkitab dalam diri Ishak dan Esau. Ishak mengasihi Esau, karena Esau adalah pemburu yang handal dan membawa buruan yang ia sukai (Kej. 25:28). Ishak menikmati pemberian-pemberian ini dan mungkin merasa bangga dengan kehebatan Esau.

            Namun ketika anak-anak kita bertumbuh dewasa, mereka akan menjalani hidup yang mandiri, dan melakukan apa saja yang mereka anggap baik, seperti dalam hal Esau. Ketika berusia 40 tahun, Esau mengambil dua perempuan Het sebagai istri, dan tindakannya ini menjadi “kepedihan hati” bagi orangtuanya (Kej. 26:34-35). Atau lihatlah Simson, yang memaksa orangtuanya untuk merestui pernikahannya dengan gadis Filistin. Orangtuanya hanya dapat bertanya dengan takut-takut mengapa ia ingin menikahi seseorang dari iman yang berbeda (Hak. 14:2-3). Pernikahan Simson membawa celaka dan hidupnya berakhir dengan tragis (Hak. 14:20; 15:6).

            Anak-anak kita mungkin berhasil secara duniawi, namun kita telah gagal apabila mereka tidak berakar dalam iman dan hidup tidak sesuai dengan kebenaran. Pencapaian materi, kedudukan atau keberhasilan apa pun tidak akan menutupi kepedihan yang bangkit karena perbuatan mereka yang tidak saleh. Kita akan senantiasa dihantui oleh rasa bersalah, gundah, dan sedih, yang akan membebani kita hingga akhir hayat. Jadi, apakah yang harus kita lakukan untuk memastikan agar anak-anak tetap berdiri teguh dalam iman mereka?

 

HIDUP TANPA PENGETAHUAN DAN ALLAH

Yeremia menggambarkan sebuah kehidupan keluarga yang melawan Allah (Yer. 7:18). Tidak ada yang salah dengan mengumpulkan kayu, menyalakan api, atau membuat adonan kue. Namun mereka bersatu padu bekerja untuk menyembah allah palsu.

            Di masa sekarang, ilah zaman ini membutakan pikiran orang-orang tidak percaya (2Kor. 4:4). Banyak keluarga bekerja bersama-sama karena mereka mengejar dunia dan hal-hal di dalamnya, “ratu sorga” masa kini. Karena itu, Allah tidak ada dalam hidup mereka (1Yoh. 2:15).

            Anak-anak dibentuk dalam gambaran orangtua mereka. Anak-anak tak bersalah yang digambarkan Yeremia tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah; mereka hanya mengikuti perintah orangtua. Ketika mereka dewasa, mereka akan menikah dan menyuruh anak-anak mereka mengumpulkan kayu bakar dan mempersiapkan korban bagi allah palsu, sehingga meneruskan pelanggaran yang sama. Karena itu, penting bagi orangtua untuk menyediakan tuntunan rohani dan berjalan di jalan yang benar untuk menjadi teladan anak-anak mereka.

            Kemunduran rohani di masa Hakim-Hakim sebagian adalah karena kegagalan pendidikan agama dari orangtua. Generasi penerus tidak mengenal Allah dan pekerjaan yang telah Ia lakukan (Hak. 2:10). Secara alami, mereka mengikuti hawa nafsu mereka, dan melakukan apa yang jahat di mata Allah (Hak. 2:11). Ibu Mikha tidak menegurnya ketika ia mencuri uang; sebaliknya, ketika uang itu dikembalikan, ia menggunakan sebagian dari uang itu untuk membuat patung pahatan sebagai persembahan bagi Allah (Hak. 17:1-5). Mikha bahkan mengangkat salah satu anaknya menjadi imam berhala. Kisah menyedihkan ini menunjukkan bagaimana seorang ibu tidak mempunyai panduan moral dan rohani, dan hal ini diturunkan kepada anak dan cucu-cucunya.

            Setiap kali kita mengunjungi jemaat GYS yang tidak lagi datang, jawaban yang umum mereka berikan adalah: “Semua agama sama saja; semuanya mengajak orang melakukan kebaikan”, atau, “Semua gereja sama saja. Tidak perlu membesuk; lebih mudah saya pergi ke gereja lain yang dekat rumah saya.” Tidak mengherankan, pada akhirnya anak-anak mereka terpengaruh dengan keengganan ibadah mereka, dan juga kehilangan iman.

 

IMAN YANG HIDUP – MENDIDIK DENGAN TELADAN

Mungkin kita menghibur diri sendiri dan berkata bahwa kita telah melakukan bagian kita dengan membawa keluarga kita ke gereja secara rutin. Anak-anak diikutsertakan ke Sekolah Sabat atau Sekolah Minggu, dan mereka pasti akan berakar dalam iman setelah mereka dewasa nanti. Tanggung jawab pembangunan iman anak-anak kita tampaknya telah diberikan kepada guru-guru agama. Cukup sering kita melihat orangtua mengeluhkan perilaku anak kepada guru agama.

            Namun sebagai orangtua, kita belum menggenapi tanggung jawab kita apabila kita hanya sekadar membawa anak-anak ke gereja. Kita harus mencerminkan iman kita sendiri dan jalan hidup kita. Kita harus memiliki iman yang digenapi dalam hidup sehari-hari, sehingga keluarga dan orang-orang disekitar kita mendapatkan berkat.

            Alkitab memberitahukan kita untuk melatih dan mengajar anak-anak kita agar mereka tidak keliru berjalan ketika mereka dewasa (Ams. 22:6; Ul. 6:7). Ini adalah proses yang menyeluruh. Dimulai dengan bagaimana kita hidup – ketika kita berjalan, duduk, tidur, atau bangun, firman Allah harus senantiasa berada dalam hati kita (Ul. 6:6-7). Dan kasih Allah harus diwujudkan dari hati kita ke dalam segala yang kita lakukan (Ul. 6:5). Kita tidak hanya dapat sekadar berkata kepada anak-anak, “Lakukan apa yang papa/mama katakan, bukan apa yang papa/mama lakukan”. Yesus menyebut orang-orang Farisi sebagai orang-orang munafik karena mereka tidak melakukan apa yang mereka ajarkan (Mat. 23:2-3). Sebaliknya, Paulus tidak hanya memberitakan injil keselamatan dan membela ajaran kebenaran, tetapi juga menjalankan hidupnya seteladan dengan Kristus (1Kor. 11:1). Kita harus menerapkan rupa Kristus dalam hidup sehari-hari agar keluarga dan orang lain dapat melihat Yesus dalam diri kita. Perubahan ini harus berasal dari dalam (Rm. 12:2), sebuah perubahan karakter yang melampaui kesalehan palsu yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi (Mat. 6:, 5, 16).

            Penatua Petrus menasihati kita untuk menjawab orang-orang yang bertanya tentang alasan pengharapan kita dengan lemah lembut dan hormat. Bagaimana orang akan bertanya tentang pengharapan kita, apabila kita tidak menunjukkan pengharapan ini dalam perbuatan? Apabila kita bertindak, berperilaku, dan berbicara seperti orang tidak percaya, tidak ada orang yang akan melihat bahwa kita mempunyai pengharapan yang berbeda dengan orang lain.

            Dengan menyadari pengaruh kehidupan Kristiani dalam keluarga, kita harus menyusun ulang hidup kita, meluangkan ruangan hati kita bagi Allah dan memangkas hal-hal duniawi yang tidak perlu. Gereja menggalakkan gerakan mezbah keluarga selama bertahun-tahun. Beribadah kepada Allah tidak terpaku hanya pada beberapa jam seminggu di gereja; tetapi haruslah menjadi cara hidup kita. Berdoa setiap hari, membaca dan mempelajari Alkitab, dan membagikan pengalaman rohani yang didapat di kantor dan di gereja, adalah bagian penting dalam mezbah keluarga. Kita harus mengambil setiap kesempatan untuk memupuk cara hidup dan nilai-nilai Kristen dalam keluarga kita melalui komunikasi sehari-hari. Lebih lanjut, kita harus menciptakan kesempatan bagi keluarga kita untuk mengalami Allah dan menerima berkat-berkat-Nya.

 

MENCIPTAKAN KESEMPATAN BAGI KELUARGA UNTUK MENGALAMI ALLAH

Iman bukan sekadar mengakui kebenaran, tetapi dimulai dengan pengetahuan akan Allah, yang dapat diperoleh dengan belajar selama kebaktian, PA, pendidikan agama, dan kursus teologi. Namun iman tidak hanya didasarkan pada pengetahuan saja. Bagian lain adalah mempunyai hubungan pribadi dengan Allah. Pengertian kita tentang Dia dimulai dengan pengetahuan. Tetapi kita harus menyempurnakan pengetahuan kita dengan hikmat dan pengertian rohani ketika kita mengalami Allah dalam perjalanan iman kita. Kita dapat mengalami kemunduran rohani oleh karena kegagalan, tetapi dengan iman dan kesabaran pengetahuan kita tentang Allah perlahan-lahan akan berbentuk sembari berjalan dengan-Nya (Kol. 1:9-10). Inilah sebabnya mengapa kita harus memimpin anak-anak kita untuk tidak saja mengenal Allah, tetapi juga berjalan bersama-Nya dan membangun iman mereka yang pribadi.

            Yakub dibesarkan di tengah-tengah keluarga beriman, namun baginya Allah adalah Allah ayah dan kakeknya (Kej. 31:5; 32:9). Imannya pada akhirnya menjadi iman yang pribadi ketika ia bertemu dengan Allah, dan pada akhirnya, Allah menyelamatkannya (Kej. 32; 35; ref. Kej. 28:21). Ia menguduskan diri dan keluarganya, membuang semua allah-allah lain di sekeliling mereka (Kej. 35:2-4). Dan pada akhir hayatnya, ia mengenang kembali pengalamannya bersama Allah, mengakui Dia sebagai Allah yang memeliharanya di sepanjang hidupnya (Kej.48:15).

            Sebagai contoh positif bagaimana menciptakan kesempatan bagi keluarga untuk mengalami Allah, kita dapat menengok pada Abraham. Ibrani 11:11 mencatat Sarah sebagai orang beriman karena ia percaya bahwa ia dapat melahirkan anak walaupun masanya telah berlalu. Namun pada awalnya ia meragukan janji Allah (Kej. 18:13; 17:16, 19, 21). Hal ini terungkap ketika Abraham tanpa sadar menerima Allah (Kej. 18:1-2, 14). Keramahan Abraham dan perbuatan baiknya memungkinkan Sarah menemui Allah dan menghadapi kelemahannya. Dan melalui pengalaman ini, iman dan kepercayaannya dikuatkan.

            Tambah lagi, ketaatan dan iman Abraham kepada Tuhan mempunyai pengaruh pada Ishak, anaknya. Abraham mengikuti perintah Allah untuk mempersembahkan Ishak, dan ketika malaikat muncul, iman Abraham dinyatakan dan Ishak mengalami Allah secara pribadi (Kej. 22:11). Ishak menyaksikan kuasa, maksud, dan sifat Allah yang baik. Pada dua peristiwa ini, ketaatan, kebaikan, dan iman Abraham memungkinkan keluarganya untuk mengalami Allah secara pribadi, sehingga menguatkan iman mereka.

 

KESIMPULAN

Kita harus mengharapkan harta Allah yang tak terukur ketimbang mencapai kesuksesan duniawi. Ini berarti berusaha menjalani hidup yang layak dengan panggilan kita, dan dengan sedemikian rupa sehingga membawakan juga kesempatan bagi keluarga kita untuk mengalami Allah, dan membangun hubungan pribadi dengan-Nya. Seluruh keluarga bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama – melayani Allah dan mencerminkan rupa Kristus dalam hidup kita, sehingga keluarga dan teman-teman kita dapat mengalami Allah melalui kita. Dengan begitu, kita tidak akan mempunyai penyesalan di masa senja – hanya kenangan manis oleh berkat-berkat Allah di sepanjang hidup keluarga kita.