Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
GYS Fatmawati
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Kepemimpinan Musa  

Gereja Yesus Sejati Indonesia
Kepemimpinan Musa

Kepemimpinan Musa

Anda bisa menjadi seorang pemimpin! Pernyataan ini mungkin bagi sebagian orang yang telah memimpin bukanlah sesuatu yang mengejutkan, tapi bagaimana dengan kita yang belum pernah menjadi seorang pemimpin? Pernyataan ini mungkin menakutkan, atau Anda anggap tidak masuk akal. Mungkin juga ada sebagian pemimpin yang tidak sependapat dengan pernyataan ini. Sebagian orang berpendapat bahwa kepemimpinan menuntut bakat alam, bahwa itu memang sudah dari “sana”nya, sehingga orang yang dianggap tidak berbakat pasti hanya menjadi bawahan, pengikut, dan penggembira saja. Ternyata riset memberikan hasil yang berbeda; setiap lingkungan akan menghasilkan karakter kepemimpinan yang berbeda, dan kepemimpinan diyakini sebagai proses yang berlangsung dalam suatu kelompok.

Sekarang kita akan menyelidiki kehidupan seorang pemimpin besar yang diakui oleh 3 agama: Yahudi, Kristen, dan Islam. Kita akan mengetahui bahwa sesungguhnya kebesaran Musa adalah hasil proses pembentukan yang dilakukan Tuhan. Tuhan mempunyai suatu nubuat yang ingin digenapi dalam kehidupan Saudara. Mari kita simak ayat Alkitab ini:

“TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia” (Ul. 28:13).

Bandingkan dengan terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari:

TUHAN Allahmu akan menjadikan kamu pemimpin di antara bangsa-bangsa, dan bukan pengikut...

Dalam bahasa Ibrani, “kepala” adalah ”ro’sh” (baca: roshe), mengandung arti: ketua, pemimpin, penguasa, yang pertama, atau puncak. Jelaslah bahwa Tuhan pun memiliki kehendak supaya setiap umat-Nya dapat menjadi pemimpin.

Profil Musa sebelum menjadi pemimpin besar:

  1. Seorang yang bertindak dengan emosi yang tak terkendali dan sembrono (Kel. 2:11-12; Kis. 7:24-25)
  2. Seorang yang lari dari tanggung jawab atas perbuatannya dan menghindari masalah (Kel. 2:15; Kis. 7:29)
  3. Seorang yang rendah diri dan menolak panggilan Tuhan (Kel. 3-4).

Pengendalian diri, tanggung jawab, dan kepercayaan diri merupakan 3 hal yang diperlukan bagi seseorang untuk menjadi pemimpin, tapi itu semua tidak dimiliki oleh Musa. Bagaimana Tuhan membentuk Musa menjadi seorang pemimpin besar? Mari kita selidiki bersama!

Proses pembentukan Musa menjadi seorang pemimpin:

  1. Tuhan mengatur agar Musa mendapatkan pendidikan Mesir
    Pada saat Musa lahir, Firaun telah beberapa waktu lamanya mengeluarkan peraturan untuk membatasi pertambahan jiwa bangsa Israel. Setiap bayi laki-laki Israel yang lahir harus dibunuh atau dilemparkan ke Sungai Nil (Kel. 1:16,22). Pengaturan Tuhan sungguh ajaib, dari keadaan yang terjepit ini Tuhan telah melihat jauh ke masa depan, mempersiapkan seorang pemimpin. Musa menjadi anak angkat putri Firaun dan dididik dalam pengetahuan Mesir yang tergolong maju di zaman itu (Kel. 2:10-11).

    Musa mendapatkan pengetahuan modern Mesir karena setiap anak Firaun (baik dari permaisuri atau maupun selir) dididik oleh guru khusus. Kurikulum pendidikan Mesir meliputi membaca dan menulis hieroglif dan tulisan kudus, menyalin naskah-naskah sastra kuno, kaidah menulis surat, dan tata administrasi. Selain itu juga memanah dan ketrampilan jasmani lainnya. Setiap anak Firaun juga diberi pekerjaan dan tanggung jawab untuk mengawasi proyek-proyek raksasa, angkatan bersenjata, atau mengurus tanah milik istana; dengan demikian mereka juga dididik bagaimana mengorganisir suatu pekerjaan (Ensiklopedia Masa Kini, hal. 102-103).

  2. Tuhan melatih mental Musa di padang gurun Midian
    Setelah perbuatannya diketahui oleh Firaun, Musa melarikan diri ke tanah Midian (Kel. 2:15; Kis. 7:29-30)). Tanah Midian merupakan daerah padang gurun dan ini merupakan tempat yang ideal untuk membentuk mental seseorang, sebagaimana seringkali disebutkan dalam Alkitab. Misalnya, ketika bangsa Israel berada di padang gurun 40 tahun lamanya, Tuhan berkata: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir. Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir.” “Pelatihan mental padang gurun” adalah cara yang dipakai Tuhan untuk mempersiapkan mental bangsa Israel untuk menghadapi tantangan di negeri Kanaan. Contoh lainnya, sebelum Tuhan Yesus melakukan tugas penginjilan dan penggembalaan, Ia berpuasa 40 hari dan setelah itu Roh Kudus membawa-Nya ke padang gurun. Markus mencatat bahwa di padang gurun Ia tinggal di antara binatang-binatang liar dan menghadapi cobaan iblis (Mrk. 1:12-13). Teriknya matahari siang dan dinginnya udara malam di padang gurun dipakai untuk membentuk mereka menjadi manusia-manusia yang bermental baja dan tahan menghadapi tekanan.

    Sampai di sini kita melihat bahwa secara jasmani Musa telah memiliki bekal yang luar biasa untuk menjadi pemimpin. Tetapi kita tahu bahwa ia masih belum siap mengemban amanat Tuhan. Ketika Tuhan memanggilnya, ia sangat tidak percaya diri dan merasa tidak mampu untuk menerima tugas itu.

    Dari Keluaran pasal 3 dan 4, kita dapat menganalisa kondisi mental Musa saat itu. Ia berkata, “Siapakah aku ini?” (3:11) dan, “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkanku?” (4:1). Kekuatiran yang menguasai jiwanya begitu besar. Ia takut sekali lagi ditolak oleh bangsa Israel. Mari kita lihat pengalaman masa lalunya di Mesir. Kis. 7:25-29 menceritakan hancurnya keyakinan diri Musa akan panggilan Tuhan atas dirinya. Penolakan inilah yang membuatnya tidak berani menerima panggilan Tuhan sebab orang Israel itu bukan hanya menolak dia, tapi juga mencela perbuatannya membunuh orang Mesir itu (ayat 28).

    Agaknya bekal Musa untuk menjadi pemimpin besar bagi bangsa pilihan Tuhan belum cukup. Maka Tuhan membentuk satu bagian lagi dari kehidupan Musa yang sangat penting, yaitu IMAN.

  3. Tuhan membangun iman Musa.
    Bagaimana Tuhan membangun iman Musa? Ada banyak catatan Alkitab yang boleh kita simak, yang menyatakan cara Allah membangun imannya.

    Pernyataan Tuhan
    Nyala api pada semak duri (Kel. 3:1-6):
    • Semak duri tidak terbakar
    • Jangan dekat-dekat, tanggalkan kasutmu
    • Allah Abraham, Ishak, dan Yakub
    • AKU adalah AKU (14)
    Pembentukan Iman Musa
    Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan
    Menghormati kekudusan Tuhan
    Mengenal Allah yang setia
    Pengenalan awal tentang jati diri TUHAN
    Tongkat menjadi ular (Kel. 4:2-5):
    Memegang ular dan berubah kembali menjadi tongkat.
    Tanda penyertaan Tuhan atas dirinya
    Tangan berkusta dipulihkan (Kel. 4:6-9)
    Tuhan adalah Allah yang menyembuhkan (Yehova Rapha)
    Air sungai Nil menjadi darah (Kel. 4:9)
    Tuhan berkuasa atas alam semesta dan ciptaan-Nya
    AKU yang menciptakan lidah manusia (Kel. 4:10-12)
    Tuhan adalah sumber hikmat
    Murka Tuhan atas kelalaian Musa menyunat anaknya (Kel. 4:24-26)
    Harus taat kepada hukum Tuhan


Dengan berbagai cara Tuhan membentuk iman Musa dalam 3 pokok penting:

  1. Sikap takut dan hormat kepada Tuhan
  2. Pengenalan akan keberadaan Tuhan dan kuasa-Nya
  3. Karya dan campur tangan Tuhan dalam hidup manusia

Profil Musa setelah dibentuk Tuhan:

  1. Seorang yang gagah berani menghadapi Firaun (Kel.14:13-14)
  2. Seorang yang lembut hatinya (Bil. 12:3)
  3. Seorang yang sangat mengandalkan Tuhan (Kel. 33:14-16)

Saudara yang terkasih! Tuhan ingin membentuk kita menjadi satu pribadi yang memiliki KARAKTER PEMIMPIN. Setiap bagian dalam kehidupan kita membutuhkan keberadaan kita sebagai seorang pemimpin yang baik. Jika Anda seorang yang telah berumah tangga, keluarga Anda membutuhkan kehadiran Anda sebagai seorang pemimpin. Sebagai pria dalam keluarga, Anda harus menjadi kepala rumah tangga. Sebagai wanita dalam keluarga, Anda harus menjadi pembimbing anak-anak. Dalam gereja, keberadaan Anda sebagai pemimpin dibutuhkan tatkala Anda dipanggil dan dipercaya menjadi pengurus atau panitia kegiatan rohani. Saudara seiman yang baru dibaptis membutuhkan kehadiran Saudara sebagai pembimbing pertumbuhan rohaninya. Di tengah masyarakat, dunia menuntut suatu karakter yang khusus dari kehidupan kita sebagai seorang Kristen, bukan seorang yang terbawa arus dunia. Renungkanlah kata-kata Tuhan, “Kamu adalah terang dunia!” Sebagai seorang pribadi, Anda harus dapat mengarahkan (memimpin) diri sendiri kepada satu tujuan hidup yang benar dan rohani, sehingga dengan sendirinya menyadari hal-hal apa yang seharusnya dilakukan untuk mencapai tujuan, sebagaimana halnya Paulus mengarahkan dirinya kepada satu tujuan, yaitu panggilan surgawi (Flp. 3:14-16).

Mari, biarkanlah Tuhan membentuk kita menjadi seorang umat Tuhan yang memiliki KARAKTER PEMIMPIN! Pengetahuan yang kita miliki harus ditambahkan dengan sikap mental yang kokoh dan disempurnakan dengan iman yang tulus di hadapan Tuhan. Sekali lagi ingatlah, ”ANDA SANGGUP MENJADI SEORANG PEMIMPIN!” Amin.

Kefas
Warta Sejati 33
untuk menyimpannya ke dalam media penyimpan, klik-kanan pada link di atas, dan pilih "save link as" (pada Mozilla Firefox) atau "save target as" (pada Microsoft Internet Explorer).