Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Mempersiapkan Anak-anak untuk Melayani Sejak Belia  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Mempersiapkan Anak-anak untuk Melayani Sejak Belia

 

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. (1Tim 4:12)

 

Anak-anak adalah warisan dari Allah (Mzm. 127:3), dan Ia berharap agar orang tua menjadi pelayan yang dapat diandalkan bagi anak-anak-Nya. Untuk memastikan mereka tumbuh menjadi orang Kristen yang saleh, orang tua harus tekun mengejar berbagai tujuan positif dalam membesarkan mereka. Mendidik anak-anak untuk melayani di gereja adalah salah satu tujuan-tujuan utama ini. Allah memperingatkan para orang tua untuk menyiapkan dan mengajar anak-anak mereka untuk melayani-Nya dengan cara yang saleh dan untuk peduli dengan sesama (1Ptr. 4:10). Pelayanan harus menjadi bagian dari perjalanan iman seorang anak. Iman harus senantiasa disertai dengan perbuatan.

 

APAKAH ARTI MELAYANI

 

Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. (Mrk. 10:45a)

 

Melibatkan anak-anak dalam pekerjaan gereja membantu mereka untuk belajar hidup sebagai seorang hamba, sama seperti yang dilakukan Yesus (Mrk. 10:45a). Ini juga akan membantu mereka untuk memiliki sifat-sifat yang mulia seperti kerendahan hati, disiplin, tanggung jawab, ketaatan, rasa percaya diri, dan toleransi.

Dengan pengertian seperti ini, orang tua harus mengajar anak-anak mereka untuk berpikir dan melihat di luar diri mereka sendiri, agar mengurangi fokus pada pribadi mereka dan lebih pada orang lain. Melayani akan mendorong rasa sukacita dalam membantu orang lain, yang memungkinkan mereka menunjukkan kasih melalui perbuatan-perbuatan baik dan pelayanan, karena mereka rela memberi untuk mencapai apa yang baik bagi orang lain dan memuliakan Allah.

Selain itu, komitmen untuk melayani juga merupakan tindakan menghormati Allah yang merupakan pusat iman Kristen kita. Ajarkanlah anak-anak Anda bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk melayani dan memperhatikan jemaat di gereja dan juga yang di luar gereja. Libatkanlah anak-anak dalam bagian pekerjaan gereja yang berbeda. Untuk anak-anak yang lebih besar, doronglah mereka untuk terlibat dalam kegiatan besuk, terutama membesuk anak-anak. Nasihatilah mereka untuk melayani jemaat-jemaat tua yang kesepian dan membutuhkan pertolongan. Doronglah mereka untuk belajar berkhotbah di antara teman-teman sebayanya. Jadilah guru dan sahabat mereka. Anda juga dapat memberikan tugas seperti memimpin pujian atau doa dan memainkan musik. Untuk anak-anak yang lebih kecil, biarkanlah mereka melakukan hal-hal kecil dahulu, seperti merapikan ruang kelas setelah Sekolah Sabat atau Minggu, dan mendoakan teman dan keluarga. Doronglah mereka untuk saling berbagi dan menjadi sahabat bagi orang-orang yang membutuhkan perhatian. Hal-hal ini akan mengajarkan mereka dan memupuk rasa tanggung jawab.

 

MELAYANI SEJAK KECIL

Kapankah sebaiknya kita mulai melatih anak-anak untuk melayani? Hana ibu Samuel membawanya ke rumah Allah di Silo ketika ia masih sangat belia (1Sam. 1:24). Ia menyerahkan anaknya kepada Tuhan dan meninggalkannya di bawah pengawasan dan perlindungan Allah, di mana Samuel dengan taat belajar untuk melayani. Begitu juga, kita dapat melatih anak-anak untuk melayani sejak kecil.

 

PEKERJAAN AWAL

Orang tua dan guru-guru agama memainkan peranan penting dalam memupuk hati anak-anak untuk melayani. Tentu saja ini membutuhkan motivasi dan kesabaran. Ketika anak-anak melayani Allah, mereka belajar untuk menyadari kasih karunia Allah dalam hidup sehari-hari dan membalas kasih-Nya (Mzm. 116:12). Orang tua dan guru agama yang menuntun anak-anak menjalani jalan ini dapat bekerja sama untuk menaruh dasar yang baik, mempersiapkan anak-anak mereka untuk melayani. Seperti hal-hal lainnya, komitmen kedua belah pihak untuk berdoa memohon tuntunan Roh Kudus dalam melakukan hal ini sangatlah penting.

 

PERKATAAN YANG DISERTAI DENGAN PERBUATAN

 

“Dalam segala hal jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.” (Tit. 2:7a)

 

Secara pribadi, saya percaya bahwa orang tua pertama-tama harus mengajar dengan melalui teladan, karena mereka adalah panutan anak-anak (1Ptr. 5:3). Anak-anak cenderung mencontoh perilaku orang tua mereka. Karena itu sebagai orang tua, kita harus bercermin. Apakah kita melayani di gereja? Apakah yang dapat dipelajari anak-anak dari kita tentang melayani Allah. Apabila kita sendiri menjalani sikap “ada boleh, tak ada tak apa-apa” dalam hal melayani, kemungkinan besar anak kita akan mengikuti sikap yang negatif ini. Kita dapat berusaha mengajak dan mendorong mereka untuk melayani, tetapi kecuali mereka melihat kita sendiri melakukannya, perkataan kita tidak mempunyai bobot apa pun. Marilah kita menjadi teladan dalam pelayanan, karena perbuatan lebih berpengaruh daripada perkataan.

 

MELAYANI SEBAGAI SATU KELUARGA

 

“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.” (Yos. 24:15b)

 

Di sini Yosua menyatakan imannya dengan berani: ia dan seluruh keluarganya melayani Tuhan dan hidup dengan iman dalam Tuhan. Begitu juga, orang tua harus berdiri teguh pada perkataan yang diucapkan Yosua ini. Menjadi pemimpin rohani adalah tanggung jawab mereka. Lebih lagi, setiap anggota keluarga harus terlibat dalam pelayanan di gereja. Melayani sebagai satu keluarga menyatukan komitmen seluruh anggota keluarga kepada Allah sembari mereka mengejar tujuan bersama untuk memuliakan dan menghormati Allah.

 

MENGENALI KARUNIA DAN KEMAMPUAN

 

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” (1Ptr. 4:10)

 

Allah telah memberkati setiap anak dengan talenta dan kemampuan masing-masing. Yang satu mungkin lebih berbakat dari yang lain dan didorong ke depan. Namun ini bukan berarti anak-anak lain yang kurang berbakat dapat ditinggalkan. Anak-anak kita harus memahami bahwa tidak ada yang kurang penting di gereja, dan pelayanan setiap orang sama pentingnya di mata Allah. Allah mengindahkan dan menghargai pelayanan yang jujur dan tulus (betapa pun sepele kelihatannya di mata manusia).

            Orang tua dan guru agama bertanggung jawab untuk mengajarkan anak-anak untuk menggunakan talenta mereka untuk melayani dan memuliakan Allah, dan juga membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Bantulah anak-anak kita untuk mengenali talenta yang telah Allah berikan kepada mereka. Libatkanlah mereka di bidang-bidang yang mereka bakati dan tekuni agar mereka dapat mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Misalnya, ada anak yang suka menulis atau menunjukkan bakat menulis. Kita dapat memupuknya untuk menggunakan talenta ini untuk melayani di bidang literatur. Doronglah mereka untuk mempersembahkan artikel di publikasi gereja setempat. Guru-guru juga dapat menyerahkan pekerjaan tulisan mereka di mading Sekolah Sabat atau Minggu. Dengan begitu, anak-anak dapat mempunyai rasa percaya diri dan membangun sikap yang positif dalam menulis artikel rohani untuk memberitakan kebenaran. Mereka belajar untuk menggunakan talenta karunia Allah untuk tujuan hidup yang lebih bernilai dan bukan sebagai ajang memamerkan kemampuan.

 

MELAYANI DENGAN SIKAP YANG BENAR

 

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hambaNya.” (Kol. 3:23-24)

 

Selalu ingatkanlah anak-anak kita untuk melayani dengan sikap yang benar. Dengan begitu barulah usaha mereka dapat berbuah dan efektif. Ajarkanlah mereka untuk menyelidiki hati mereka masing-masing dan meneliti motivasi untuk melayani. Apakah motivasi mereka untuk melayani adalah semangat rohani, harga diri, rasa syukur kepada Allah, atau ambisi pribadi? Yang Allah inginkan adalah pelayanan yang setia, yang berpusat pada Allah, dan hati yang sungguh-sungguh berusaha untuk melayani Dia, bukan untuk memenangkan pujian manusia (Ef. 6:7). Barulah pelayanan mereka memuliakan Allah dan menguntungkan gereja. Sebaliknya, apabila tujuan mereka adalah untuk memperoleh pujian manusia, pelayanan mereka tidak tulus dan sia-sia. Pekerja Allah yang tekun dan setia harus membangun sikap yang serupa dengan Kristus, yang dicirikan dengan kerendahan hati dan ketaatan.

 

MENGATASI KESULITAN

Anak-anak, terutama remaja, seringkali ragu melayani di gereja. Mereka mencari-cari alasan seperti tidak punya waktu. Generasi muda sekarang memang hidup di dunia yang penuh tuntutan. Di beberapa negara, kegiatan mereka di sekolah sangat padat, dan jadwal yang menumpuk itu seringkali turut menyita waktu mereka seusai sekolah. Sisa-sisa waktu yang ada seringkali mereka gunakan untuk menggunakan media sosial. Karena mengetahui kesibukan anak-anak mereka, beberapa orang tua merasa tidak tega menyuruh mereka untuk melayani atau membantu orang lain. Tetapi kalau kita tidak melibatkan mereka dalam pelayanan, komitmen dan kemampuan mereka untuk melayani tidak akan berkembang. Jangan biarkan anak-anak kita beralasan tidak punya waktu. Orang tua harus memupuk rasa pentingnya pelayanan. Mari kita mengajarkan anak-anak bahwa Allah menaruh mereka di dunia untuk suatu tujuan – yaitu melayani Dia dan orang lain.

            Alasan lain keenganan mereka dapat berasal dari kurangnya rasa percaya diri atau rasa tidak mampu. Ini terjadi apabila kita suka membanding-bandingkan anak-anak yang melayani di bidang yang sama. Ketimbang begitu, orang tua dan guru agama harus senantiasa meyakinkan dan mendorong mereka untuk berdoa dan percaya sepenuhnya kepada Allah untuk mengalahkan rasa takut dan kegelisahan mereka. Titik awal yang baik untuk melayani adalah dengan melayani bersama-sama dan menjadi pelatih mereka. Berdoalah bersama-sama dan saling berbagi usul tentang bagaimana melayani dan mengembangkan talenta yang telah Allah berikan.Tanamkanlah pemahaman bahwa pelayanan yang disertai dengan ketulusan akan diperkenan oleh Allah. Setelah anak-anak mempunyai rasa “pe-de” yang cukup, mereka akan dapat melayani dengan nyaman.

 

HIDUP MELAYANI

Membesarkan anak-anak untuk menjadi pelayan yang baik, dimulai di rumah. Bersama dengan guru-guru agama dan pekerja-pekerja gereja, orang tua harus berusaha bersama-sama melatih anak-anak untuk melayani sejak kecil dan membangun kasih dan sukacita dalam pelayanan untuk memastikan agar mereka diperlengkapi dengan baik untuk melayani seumur hidup mereka. Anak-anak yang melayani sejak kecil mungkin sekali akan terus melayani setelah mereka dewasa. Anak-anak di gereja saat ini akan menjadi generasi penerus pekerja-pekerja Allah, yang akan memberikan hasil usaha pelayanan seumur hidup bagi Allah dan bagi manusia – pelayanan yang tentunya akan Allah banggakan.