Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Menerapkan Iman Kita di Tempat Kerja  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Menerapkan Iman Kita di Tempat Kerja

 

 

PENDAHULUAN

Kota Leicester, tempat di mana saya bekerja adalah tempat yang penuh keanekaragaman, Menurut sensus Inggris pada tahun 2011, gabungan komunitas etnis minoritas sekarang menghasilkan sebagian besar populasi lokal. Kota ini adalah rumah untuk orang dari berbagai latar belakang – orang bule, Asia Selatan, Afrika, Afrika – Karibia, Tionghoa, dan komunitas Eropa Timur, yang semua hidup berdampingan dengan damai, atau setidaknya lebih damai daripada kota-kota lain di Inggris, di mana ada ketegangan antar etnis. 

 

Keanekaragaman ini terbukti khususnya di tempat saya bekerja sebelumnya, di mana 12 dari 15 orang anggota di tim saya adalah dari orang kulit hitam, Asia, dan etnis minoritas lainnya, dan sembilan dari kami menganut agama – Islam, Kristen dan Hindu atau agama kepercayaan. Sesekali selama jeda waktu dalam kesibukan hari kerja, kami yang bertugas di kantor terkadang berdiskusi secara mendalam tentang kehidupan dan iman. Teman kerja yang beragama Islam akan melakukan sembahyang mereka di tempat yang tenang dan berpuasa selama bulan Ramadhan, sementara dengan tabah menyelesaikan komitmen pekerjaannya. Saya melihat ke belakang dengan kenangan yang indah, mengucap syukur bahwa kami telah berbagi waktu bersama dan cukup nyaman untuk mengekpresikan diri kami yang sebenarnya. 

 

Tetapi, meskipun dengan kebebasan yang kita nikmati di negara maju, ada banyak waktu di mana kita sebagai umat kristiani, merasa terhalang untuk menjunjung tinggi nama Yesus dan merasa menyesal menyatakan iman kita. Terkadang kita hanya ingin berbaur, mengecualikan masalah iman dari percakapan kita, dan menjalankan kepercayaan kita dalam keluarga kita sendiri atau di gereja di mana ada banyak orang memiliki pikiran yang sama. Tetapi, dengan melakukan hal ini akan membuat kita menjadi umat kristen yang berat sebelah; iman kita seharusnya menjadi bagian dari identitas dan tingkah laku kita, di mana pun kita berada.

 

MENJUNJUNG TINGGI IMAN KITA
Menyatakan Nama Yesus

Satu hal yang saya pelajari dari bekerja di kota Leicester adalah baik untuk menyatakan iman kita kepada orang lain. Iman kita adalah bagian terpenting dari diri kita, dan membuat orang lain mengetahuinya, membantu mereka untuk mengerti kita dan sikap kita terhadap masalah tertentu. Mungkin tidak selalu tepat untuk mengabarkan injil secara langsung kepada teman kerja atau klien, karena biasanya ada kebijakan atau peraturan di tempat kerja yang melarang hal ini, tetapi setidaknya kita bisa menyatakan bahwa kita adalah orang Kristen. Kita boleh menyatakan gereja yang kita hadiri dan mengangkat masalah yang mungkin masih berhubungan dengan pekerjaan kita. Jika orang-orang tertarik untuk mengetahui lebih jauh, maka kita dapat berbagi jika ada kesempatan.

 

Jika kita melakukan hal ini, teman kerja kita akan menyadari apa yang kita lakukan ketika kita menundukkan kepala untuk mengucap syukur pada saat makan siang, dan ketika kita menolak untuk bekerja atau berpartisipasi pada kegiatan sosial pada hari Sabat. Tidak masalah apakah mereka setuju atau tidak dengan apa yang kita lakukan, setidaknya mereka akan mengerti. Dengan bersembunyi dan diam-diam dalam hal ini, identitas kita akan terlihat aneh, seakan-akan kita malu dengan iman kita kepada Yesus.

 

Singkatnya, ketika memberitahu tentang iman kita, kita memperkenalkan Tuhan kepada orang-orang. Dan kita akan mengikuti jejak orang-orang kudus zaman dahulu – orang seperti Yusuf, Daniel, dan Nehemia, yang melayani orang bukan Yahudi sambil memancarkan terang Tuhan melalui tingkah laku mereka sehari-hari. Melihat dari sisi lain, jika kita malu akan iman kita kepada Yesus, akan sama dengan: “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus” (Luk 9:26).

 

Menguduskan Hari Sabat
Saya cukup beruntung, selama lebih dari 25 tahun bekerja, saya tidak pernah diminta untuk bekerja pada hari Sabat. Tetapi, beberapa hari belakangan ini, sebelum menandatangani kontrak untuk posisi baru, saya melihat surat penawaran kerja dan melihat bahwa ada permintaan untuk bekerja pada hari Sabtu sekali-kali. Ini pertama kali terjadi pada saya. Jadi, saya datang ke kantor bagian personalia untuk berbicara. Kemudian, orang ini pergi untuk berbicara dengan manajer saya, yang kemudian mengantar saya ke ruangan tertutup untuk berdiskusi. Dengan sopan dia menjelaskan bahwa dia perlu untuk mengklarifikasi sesuatu: Mengapa saya tidak dapat bekerja pada hari Sabtu? Apakah karena alasan agama? Saya kemudian menjelaskan tentang Sabat, dan terlihat jelas dia tertarik, bertanya apakah saya dari Gereja Advent Sabat Hari Ketujuh (dia mengetahui tentang kepercayaan mereka). Dia juga ingin mengetahui kapan dan bagaimana saya menguduskan hari Sabat. Puji Tuhan, setelah diskusi, manajer saya berkata bahwa dia akan menghormati permintaan saya atas dasar agama dan mencari jalan keluar lainnya, meskipun, salah satu kejadian besar akan terjadi pada hari Sabtu.

 

Melihat ke belakang, saya menyadari bahwa perusahaan saya harus mengikuti peraturan Inggris tentang persamaan yang mendukung hak pekerja untuk mengamalkan agamanya. Tetapi, saya juga mengucap syukur kepada Tuhan karena saya sudah mendapatkan pekerjaan itu, dan memiliki pilihan untuk menolak posisi yang baru ini jika harus bekerja pada hari Sabtu karena suatu kewajiban. Akan menjadi sebuah dilema jika saya tidak memiliki alternatif lainnya dan nafkah kehidupan keluarga kami bergantung pada saya. Hal ini akan menjadi ujian iman yang sebenarnya – yang saya bayangkan mungkin harus dialami orang lain.

 

Meskipun menguduskan hari Sabat adalah salah satu dari 10 hukum Tuhan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, tidak seorang pun dapat memaksa seseorang untuk tidak bekerja pada hari ini (Sabtu). Menguduskan hari Sabat harus dilakukan dari diri sendiri dan hati penuh kepercayaan pada berkat Tuhan. Pada masa Perjanjian Lama, Tuhan memaksakan orang-orang Israel untuk menguduskan hari Sabat secara ketat selama di padang gurun dan pada masa mereka menetap, seperti seorang bapa mengajarkan anaknya prinsip yang paling dasar. Pada musim menuai atau sebaliknya, Tuhan menginginkan umat pilihan untuk berhenti bekerja (Kel 34:21) dan menetapkan hukuman bagi orang yang melanggar (Kel 31:14). Pada zaman anugerah dan kedewasaan rohani, Tuhan mengukir hukum-Nya dalam hati kita, untuk memungkinkan kita memeliharanya di dalam hati (Yer 31:33). Oleh karena alasan inilah, tidak ada lagi kewajiban; motivasi dari Roh Kudus, jika kita memperhatikannya, seharusnya cukup (Yeh 36:26-27).

 

TERANG DUNIA

"Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi... Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Mat 5:14, 16)

 

Menghindari Gosip dan Fitnah

Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran. Seperti arang untuk bara menyala dan kayu untuk api, demikianlah orang yang suka bertengkar untuk panasnya perbantahan (Amsal 26:20-21)

 

Banyak orang akan setuju jika salah satu hal buruk yang ada dalam dunia kerja adalah politik kantor. Staff seringkali akan berbicara tentang sesama teman kerja dan manajer; siapa yang telah melakukan apa, dan siapa yang gagal melakukan apa. Hal ini menimbulkan sedikit drama yang mungkin dapat dikatakan hal yang membosankan dalam dunia kerja. Saya menyadari bahwa pada periode perubahan organisasi ada peningkatan dalam hal gosip dan komplain. Orang-orang sepertinya perlu melepaskan stress dan ketidakpastian. Saya harus mengakui bahwa terkadang saya ikut terlibat. Awalnya ada sesuatu yang melegakan dapat mencurahkan isi hati dan melakukan hal yang benar ketika engkau merasa tidak berdaya atau sedih. Tetapi, dari pengalaman pribadi saya, saya tidak merasa enak setelahnya; sebenarnya, saya merasa ternoda. Saya tidak ragu bahwa Roh Kuduslah yang telah mengetuk hati nurani saya. Bergosip dan memfitnah menyebabkan perasaan negatif dan perasaan memihak di tempat kerja; ikut berperan serta artinya kita mendukakan Roh Kudus, yang memiliki sifat damai, kebaikan, kemurahan, kesabaran dan penguasaan diri (Gal 5:22-23) – berlawanan dari apa yang biasanya kita terlibat.

 

Adalah baik jika ada suatu masalah yang tidak melibatkan kita dan kita tidak ikut berperan serta menemukan solusinya, jadi yang terbaik adalah tidak membicarakannya. Jika orang lain mau, kita seharusnya menyerahkannya kepada mereka, mengganti topik pembicaraan, atau bahkan menjauhkan diri kita, jika memungkinkan. Jika kita memiliki kuasa untuk berbuat sesuatu atas suatu masalah, maka kita harus melakukannya melalui prosedur yang benar – contohnya, dengan membicarakan masalahnya kepada orang yang terlibat langsung dengan cara yang membangun atau dengan atasan kita. Jika cara ini tidak efektif, dan tergantung pada keseriusan masalahnya, maka mungkin ini adalah saat yang tepat untuk meninjau kembali apakah kita berada di tempat yang benar.

 

Berperan serta dalam politik kantor dapat menimbulkan masalah dan mencemari karakter kita. Firman Tuhan menginstruksikan kita untuk melakukan sesuatu tanpa mengeluh dan berselisih, sehingga kita dapat bersinar dan tidak bercela.
 
Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia (Filipi 2:14-15).

 

Kesetiaan


Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. (Kolose 3:22-24)


Kita mungkin pernah bertemu dengan teman kerja tertentu yang bekerja sangat sedikit hanya untuk melewatkan waktu, mereka yang selalu melihat waktu, atau selalu mengeluh. Orang-orang seperti ini dapat melemahkan energi tim dan menghalangi kemajuan. Alkitab mengajarkan umat Kristen agar tidak seperti ini.

 

Melainkan, kita harus memiliki etika kerja yang baik dan menjadi pekerja yang setia. Kuncinya adalah memiliki sikap yang benar dan menyadari kepada siapa kita sebenarnya bertanggung jawab. Paulus berkata kita harus melakukan pekerjaan kita “seperti kepada Tuhan” dan mengetahui bahwa kita sebenarnya “melayani Tuhan.” Orang yang melakukannya dengan prinsip seperti ini adalah Yusuf. Dijual ke perbudakan, dia memiliki alasan untuk menjadi pekerja yang nakal di rumah Potifar, dan di dalam penjara tempat dia dibuang; lagipula, dia sulit memilih karir hidupnya. Tetapi, dia bangkit dari keadaannya untuk menjadi pekerja teladan. Dia melakukan pekerjaannya dengan benar sampai tuannya tidak perlu mengawasinya; mereka mempercayainya untuk terus bekerja, di mana dia dengan setia melakukannya (Kej 39:5-6, 21-23). Dan Tuhan, yang adalah Tuan yang sebenarnya, mengetahui pekerjaannya dan memberkati kehidupan kerjanya. Yang paling menonjol, adalah bukti “Bahwa TUHAN menyertainya dan TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya” (Kej 39:3). Singkatnya, etika kerja Yusuf menjadi kesaksian bagi tuannya yang bukan Yahudi bahwa ada Tuhan yang hidup dan benar.

 

Di tahun-tahun sebelumnya, saya tidak memiliki alasan untuk merenungkan perkataan Paulus di Kolose 3:22-24 – setidaknya, sampai saat ada suatu masalah yang terjadi di salah satu tempat kerja saya. Perubahan manajemen menyebabkan segala hal menjadi seperti tidak masuk akal, tidak adil dan otoriter pada kebanyakan kami di tim. Singkat kata, moral kami sangat rendah. Sebelumnya, saya selalu bekerja semaksimal mungkin, tetapi sekarang saya berpikir apa artinya: jika perusahaan tidak menghargai para karyawannya, mengapa berusaha semaksimal mungkin? Tetapi, pada saat istirahat, saya mengingat perkataan Paulus. Saya memutuskan, sementara saya menyerahkan pengunduran diri, saya akan tetap melakukan pekerjaan saya sebaik mungkin sampai pada hari terakhir saya bekerja – seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Sejak saat itu, saya merasa bebas: saya dapat melakukan pekerjaan saya dan merasa damai, mengetahui bahwa Tuhan berkenan. Hal ini jauh lebih baik daripada membuang waktu dan tenaga berkubang dalam kemarahan. Kegembiraan saya ini, membuat beberapa teman kerja saya bingung, salah satu dari mereka bertanya kepada saya secara langsung, “Mengapa kamu masih terus bekerja untuk mereka?” Pastinya dia mengharapkan saya untuk patah semangat, yang sangat menggoda. Pada masa-masa sulit itu, beberapa dari kami mengundurkan diri dari perusahaan secara berurutan. Secara pribadi, saya dapat meninggalkan perusahaan dengan hati nurani yang jelas, mengetahui bahwa Tuhan telah memberkati pekerjaan yang saya lakukan, tanpa meninggalkan hal yang tidak jelas. Kemudian saya terus mengalami bimbingan-Nya di pekerjaan saya yang selanjutnya.

 

Integritas
Orang-orang yang bekerja bersama kami di kantor memiliki karakter, latar belakang, ambisi, motivasi, dan bahkan tingkat moralitas yang berbeda. Sampai hari ini, apa yang dilakukan beberapa karyawan masih membuat saya takjub. Di tempat kerja, saya telah menyaksikan argumentasi, ketidakjujuran, laporan palsu, keterlambatan, pencurian, ketidakadilan dalam prosedur kerja dan intimidasi. Saya dapat meneruskan daftar ini. Yang lebih membingungkan adalah para manager juga terlibat dalam beberapa permasalahan ini. Kita mungkin bertanya, Apa yang telah terjadi dengan dunia ini?

 

Kenyataannya adalah, kita mungkin akan menyaksikan hal-hal yang tidak benar di tempat kerja. Tetapi kita tidak perlu terkejut. Ketika orang-orang tidak mengenal atau takut akan Tuhan, atau kekurangan hati nurani, mereka hanya akan melakukan apa yang benar di mata mereka, atau melakukan apa saja untuk mencapai tujuan mereka. Yang penting untuk kita adalah apakah kita dapat bersikap profesional dan dengan integritas meskipun orang-orang di sekeliling kita tidak. Dan yang lebih penting lagi, dapatkah kita lebih bersinar untuk Tuhan?

 

Penatua Petrus menasehati kita untuk menjaga perbuatan kita “baik di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi” (1 Petrus 2:12). Apa yang mereka lihat dari kita akan menjadi kesaksian pada penghakiman yang akan datang. Sehingga, di dalam kehidupan ini, kita seharusnya tidak memberikan orang alasan untuk membuat malu nama Yesus. Kita harus berjaga-jaga agar jujur setiap saat. Perkataan dan perbuatan kita harus sejalan dengan status kita sebagai anak-anak Tuhan. Ketika diperlukan, kita mungkin harus melawan tradisi. Contohnya, jika kita melihat teman sekerja kita dianiaya, kita dapat mencoba untuk mengubah budaya ini melalui perkataan dan perbuatan kita. Bagaimana kita memperlakukan orang lain dapat membantu mengubah dinamika tim, meninggalkan kesan, dan mudah-mudahan menyebabkan orang-orang sekitar kita untuk merenungkan perilaku mereka.

 

Selain itu, jika kita memiliki kuasa untuk melakukannya, kita harus menyoroti tingkah laku yang illegal dan tidak dapat diterima, melalui jalur yang benar. Ini adalah kewajiban profesional dan moral. Mungkin perlu berbicara dengan manajer yang bersangkutan atau manajer yang lebih tinggi, memberi mereka tanda untuk mengawasi dan melakukan perubahan. Jika tidak ada perubahan meskipun kita telah memberikan feedback, dan kita tidak dapat mentolerir status quo, maka kita memiliki hak untuk meminta kepada Bapa di surga untuk membimbing kita menemukan perusahaan yang lebih baik. Tetapi kita harus ingat bahwa dunia ini bukan tempat yang sempurna, dan saya ragu bahwa ada tempat kerja yang tidak memiliki masalah. Banyak sekali hal yang dapat dikatakan, tetapi, penatua Petrus menasehati, mengingatkan kita bahwa jika kita tidak dapat mengubah situasi yang negatif, kita mungkin perlu untuk mengubah diri kita sendiri:


Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. (1 Petrus 2:18-19)

 

Di sini Petrus memberitahu kita untuk bertahan terhadap tuan yang kasar dan yang tidak masuk akal - demi Tuhan. Sungguh, memberontak sangat tidak memuliakan Tuhan. Mungkin kita berpikir, lebih mudah mengatakan daripada melakukannya, tetapi ini bukanlah sesuatu yang mustahil, ketika kita merenungkan sikap Yesus. Sementara Dia tidak pernah lalai dalam memperjuangkan hal penting yang berhubungan dengan pekerjaan keselamatan-Nya – kebenaran dan hak dari orang-orang yang tertindas – Dia dengan lemah lembut menanggung derita disalahkan pada tingkat personal, terus-menerus, bahkan sampai mati di kayu salib. Ketika kita menimbang tingkat penderitaan yang harus Dia tanggung, masalah kita menjadi hal biasa. Dan kita mungkin menemukan bahwa masalah kita dapat dijelaskan kembali melalui sudut pandang yang berbeda dan meningkatkan  pertumbuhan rohani.

 

KESIMPULAN
Tempat kerja adalah satu tempat di mana kita perlu menunjukkan kehidupan Kekristenan kita, dan ini sangat penting karena sebagian besar waktu kita, kita habiskan di sana. Oleh karena itu, kita harus berusaha keras  untuk menyaksikan Tuhan melalui interaksi kita sehari-hari dengan orang-orang di sekitar kita. Standar Tuhan yang jauh lebih tinggi dari standar tempat kerja mana pun, menantang kita untuk menyatakan iman kita di hadapan orang lain, memegang perintah-Nya, berbuat baik dan berhati-hati dalam perkataan kita, bekerja sebagai pekerja yang setia, dan jujur. Dengan melakukan ini, kita dapat memancarkan terang Yesus Kristus dengan cara sederhana, namun penting.