Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Mengatasi Pengujian dan Pencobaan (3)  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Mengatasi Pengujian dan Pencobaan (3): Jerat Pencobaan

 

Sebagai bagian perjalanan imannya, orang Kristen harus menghadapi pengujian dan juga pencobaan. Bagian pertama seri ini menelaah petunjuk Penatua Yakobus tentang bagaimana membedakan antara pengujian dan pencobaan; bagian kedua mempelajari tentang sukacita dari pengujian. Pada bagian terakhir ini, kita akan membahas bagaimana cara menghindari jerat pencobaan.

 

SUMBER PENCOBAAN

Pembenaran dan Dalih Manusia

Manusia cenderung mencari-cari sesuatu atau orang lain untuk disalahkan ketika mereka berbuat kesalahan. Banyak orang yang jatuh ke dalam pencobaan malah menyalahkan Tuhan, Iblis, bahkan keduanya!

Kita merasa bahwa kita adalah korban; dan menyalahkan Tuhan karena membiarkan Iblis untuk menyakiti manusia. Bahkan kita membenarkan dosa nenek moyang kita! Kita beralasan, jika di Taman Eden tidak ada buah terlarang, Adam dan Hawa tidak akan terpikat oleh dosa. Dan bahkan kalau pun buah terlarang itu ada di sana, Adam dan Hawa tidak akan menyentuhnya jika bukan karena ada ular yang bermulut manis.

 

ASAL USUL PENCOBAAN

Terpikat oleh Keinginan Sendiri

 

Alasan yang biasanya digunakan:

 

“Jika Tuhan tidak membiarkan Iblis mencobai kita, kita tidak akan jatuh ke dalam dosa.”

 

“Tuhan tahu si Iblis memang ingin mencobai dan menghancurkan manusia. Mengapa Tuhan tidak segera memusnahkan Iblis? Tuhan-lah yang membiarkan Iblis bertahan dan terus mencobai dan membunuh manusia. Tidak seharusnya saya disalahkan karena saya berbuat dosa; semua adalah salah Tuhan karena membiarkan makhluk berhati dengki ini untuk melakukan tugasnya yang mengerikan!”

 

Penatua Yakobus mengingatkan kita bahwa alasan di atas ini salah. Manusia dicobai dan dipikat oleh keinginannya sendiri (Yak. 1:14-15). Asal-usul dosa dan hubungan antara dosa dengan manusia berasal dari manusia itu sendiri, bukan Iblis. Pencobaan tidak muncul karena adanya buah terlarang, tetapi dari keinginan yang ada dalam diri kita. Menurut Rasul Paulus, dosa masuk ke dunia melalui satu manusia, dan kematian masuk melalui dosa (Rm. 5:12). Paulus tidak berkata dosa dan maut masuk ke dalam dunia melalui Iblis. Pendeknya, para rasul konsisten dengan pengajaran mereka, bahwa orang berdosa seharusnya tidak menyalahkan buah terlarang atau Iblis.

Beberapa orang bersikukuh bahwa pencobaan tidak akan muncul jika tidak ada buah terlarang, atau Iblis tidak ada di situ. Alasan ini dengan sengaja atau tidak mengabaikan kenyataan bahwa setiap manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Buah itu tergantung di pohon, tetapi manusia mempunyai beberapa pilihan saat itu: berjalan menuju pohon, menyentuh buahnya, memetik dan memakan buah itu.

Melihat dan menyentuh buah itu tidak dosa. Tetapi dengan melakukannya, kita membawa diri kita ke tepi batas yang berbahaya. Perbuatan meraih, memetik, dan memakannya akan mendorong kita melewati batasan menuju ketidaktaatan melawan Allah, yaitu jatuh dalam dosa. Tentunya perbuatan ini adalah karena keinginan diri kita sendiri. Kita tidak dapat menyalahkan orang lain.

Pertanyaan utama yang harus kita renungkan adalah mengapa kita memilih untuk jatuh ke dalam hawa nafsu.

 

Tidak Mengekang Hawa Nafsu

Beberapa orang yang melakukan pemerkosaan menyalahkan korban mereka. Mereka mengaku bahwa si korban terlalu cantik atau berbusana secara provokatif. Tentunya tidak ada hakim yang berpikiran jernih dapat menerima alasan ini. Kita tidak dapat menghentikan burung-burung terbang di atas kepala kita, tetapi tentunya kita dapat mencegah mereka untuk tidak bersarang di atas rambut kita. Begitu juga, kita tidak dapat mencegah seorang wanita cantik berjalan melewati kita, tetapi kita dapat menahan diri untuk tidak memandanginya (Ayb. 31:1)

Daud adalah seorang prajurit yang hebat, yang pada masa mudanya mengalahkan Goliat, orang Filistin yang tinggi besar. Tetapi sebagai raja, ia dikalahkan oleh hawa nafsu yang tidak ia kekang. Pemandangan Batsyeba yang cantik di pemandian menbawanya ke dalam pikiran yang tidak senonoh dan akhirnya jatuh dalam dosa.

Ini sering terjadi kepada kita. Pertama kalinya kita melihat hal-hal yang tidak patut, misalnya pornografi, mungkin tidak disengaja. Tetapi karena kita membiarkan pikiran kita terpaut pada gambar-gambar itu, hawa nafsu kita pun bangkit. Bahkan ketika ada yang mengingatkan, kita mengabaikan mereka, bahkan menuding mereka kepo, paranoid, dan tidak sopan. Kita tidak mau sadar dan berusaha mengekang keinginan kita dan menghindari kesempatan untuk berbuat dosa. Akhirnya dan fatalnya, kita melewati batas, dan jatuh ke dalam dosa.

Daud memiliki ribuan cara untuk membenarkan tindakannya mengundang Batsyeba datang ke istana setelah awalnya melihat tanpa sengaja: Ia adalah tetanggaku yang harus aku jamu. Ia adalah istri prajurit setiaku, aku harus menunjukkan rasa terima kasih padanya. Nafsu dan keinginan Daud terus bertambah, sampai akhirnya mereka berdua berzinah.

Oleh karena itu, latihan rohani yang terpenting adalah berlatih mengendalikan keinginan hati kita; untuk mencegah keinginan untuk berbuat dosa yang terus bertumbuh dan membawa kita menuju sebuah pilihan yang bertentangan dengan kehendak dan perintah Tuhan. Saat Yesus Kristus datang kembali untuk menghakimi umat manusia, Ia akan menghakimi berdasarkan perbuatan setiap orang. (1Ptr. 1:13-17). Saat itu sia-sia saja menyalahkan Iblis atau orang lain.

 

CARA-CARA IBLIS MENCOBAI MANUSIA

Namun tak dapat dipungkiri bahwa Iblis tidak pernah lelah mencobai manusia (1Ptr. 5:8). Umumnya ada dua pendekatan yang ia lakukan.

            Pertama, ia membuat keadaan yang sangat merugikan bagi manusia untuk tetap setia kepada Allah. Ini dapat menggunakan bentuk keadaan yang sangat sulit. Misalnya, Ayub dan istrinya ditempatkan ke dalam penderitaan yang sangat berat. Walaupun Ayub dapat bertahan, istrinya meninggalkan imannya kepada Allah.

            Kedua, Iblis menghasut manusia untuk melawan Firman Allah. Pendekatan ini lebih mendalam dan berbahaya, dan banyak orang yang telah jatuh oleh strategi ini. Bahkan Iblis tiga kali menggunakan pendekatan ini untuk mencobai Tuhan Yesus melawan Allah!

 

Pencobaan Pertama: Mempertanyakan Identitas Kita

 

“Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat. 4:3-4)

 

Pencobaan pertama ini adalah tantangan untuk membuktikan identitas kita. Iblis bukan sekadar menguji kemampuan Yesus dalam melakukan mukjizat. Apakah maksud Iblis yang sebenarnya?

Tuhan Yesus dibawa ke padang gurun oleh Roh segera setelah Ia dibaptis. Ketika Yesus keluar dari air, Bapa di surga menyatakan bahwa Yesus adalah Anak-Nya, dan mengutus Roh Kudus-Nya sebagai buktinya (Mat. 3:16-17). Dengan menantang Yesus melakukan mujizat, Iblis menyiratkan bahwa pernyataan identitas Yesus oleh Bapa di surga belum cukup; Iblis menghendaki agar Yesus membuktikan identitas-Nya sendiri dengan menunjukkan kuasa-Nya.

Iblis mengetahui bahwa Yesus lapar karena telah berpuasa selama empat puluh hari. Jadi Iblis berusaha mengadu-domba Yesus dengan Bapa-Nya dengan mengusulkan bahwa caranya lebih baik daripada cara Bapa di surga. Dengan mengubah batu menjadi roti, Yesus tidak saja membuktikan identitas-Nya, tetapi juga memberi-Nya makanan.

Ini adalah tipu daya Iblis. Ia menawarkan suatu keuntungan apabila Yesus melawan firman Allah; ia menantang Yesus melakukan mujizat untuk menunjukkan bahwa Ia adalah Anak Allah, dan juga memecahkan masalah kelaparan-Nya. Sebagai manusia, kita akan melihat alasan Iblis masuk akal dan menguntungkan. Apabila Yesus sungguh adalah Anak Allah, Allah tidak akan membiarkan, atau menginginkan-Nya kelaparan. Melakukan mujizat menghasilkan makanan selain juga membuktikan kuasa dan status ilahi Yesus. Iblis akan terdiam.

Namun Yesus segera menolak cobaan ini dengan berkata, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat. 4:4b) Dengan mengatakan hal ini, Yesus menekankan bahwa Ia lebih memilih mengabaikan mujizat dan kelaparan daripada meragukan pernyataan Bapa-Nya. Yesus lebih mementingkan keyakinan dan ketaatan pada firman Bapa-Nya.

Apabila Tuhan Yesus jatuh ke dalam dorongan alami manusia dan melakukan mujizat untuk menyelam sambil minum air, Ia akan mengikuti perintah Iblis ketimbang Bapa-Nya. Ia akan menyangkal hikmat dan cara Bapa dan kesaksian Roh Kudus.

Kita juga dapat menemukan cobaan serupa di masa sekarang. Allah menggunakan kebenaran dan Roh Kudus untuk bersaksi bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kebenaran yang menyelamatkan kita mengajarkan bahwa baptisan di dalam nama Yesus menghapus dosa-dosa kita, sehingga kita menjadi anak-anak Allah. Lalu ketika kita berdoa memohon Roh Kudus dan mendapatkan-Nya, Roh ini menjadi jaminan atas status kita sebagai anak Allah (Gal. 4:6). Namun, dalam penderitaan kita (seperti kemiskinan, masa pengangguran, penyakit), Iblis mencobai kita dengan sindiran bahwa Allah telah meninggalkan kita: “Sungguhkah kamu anak Allah? Lalu kenapa kamu lapar? Mengapa kamu sakit? Kalau kamu benar-benar anak yang dikasihi Allah, kamu harus berdoa dan meminta Allah melakukan mujizat, untuk memecahkan semua masalahmu, menyembuhkan penyakitmu! Kalau Allah mendengar permintaanmu, kamu telah membuktikan bahwa kamu sungguh anak Allah!” Konsekuensi wajar yang tidak diucapkannya, “Tapi kalau Allah tidak menyembuhkan, benarkah kamu anak Alah? Apakah Allah benar-benar mengasihimu? Mungkin Ia bukan Allah yang tepat untukmu…”

Walaupun hal ini kedengaran mengada-ada saat iman kita kuat, banyak orang Kristen jatuh dalam keraguan; banyak yang meninggalkan iman dan mengikuti keyakinan lain yang dapat memberikan “berkat” yang lebih nyata (2Tim. 4:10). Kebenaran yang mereka ketahui, seperti baptisan penghapusan dosa, kesaksian Roh Kudus, mereka kesampingkan. Orang-orang ini membutuhkan mujizat untuk membuktikan bahwa mereka adalah anak-anak Allah. Mujizat telah menggantikan kebenaran dan Roh Kudus sebagai kesaksian utama.

Karena itu, kita harus waspada dengan pikatan Iblis. Lawanlah Iblis seperti yang dilakukan Yesus: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Kita percaya dan meyakini apa pun yang dikatakan Allah dan cara apa pun yang Ia gunakan. Kita tidak goyah dengan tidak adanya mujizat, atau makanan, atau menghadapi kematian. Bapa di surga telah memberikan kebenaran dan Roh Kudus kepada kita untuk menyatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah dan kita telah diselamatkan – ini sudah cukup.

 

Pencobaan Kedua: Menantang Keselamatan Jasmani Kita

 

“Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" “ (Mat. 4:5-7)

 

Iblis menggoda Yesus dengan berkata bahwa “Tuhan akan melindungi-Mu”. Referensi Mazmur 91:11-12 menunjukkan bahwa Iblis tidak salah mengutip Kitab Suci. Namun Ia menafsirkan dan menggunakannya dengan keliru. Kutipan lengkap Mazmur 91:11: “Sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.” Kata “di segala jalanmu” menunjukkan jalan-jalan yang sesuai dengan firman Allah. Tentu saja ini mengecualikan keadaan ketika kita memilih untuk melawan firman Allah. Apabila kita berjalan sesuai dengan firman Allah dan berjalan di dalam jalan-Nya, Ia akan melindungi kita. Namun apabila dengan sengaja kita melawan Dia dengan berjalan di jalan yang salah, bagaimana bisa kita menuntut perlindungan Allah?

Iblis menyiratkan bahwa Anak Allah berhak memperoleh perlindungan Allah dalam hal apa pun, bahkan walaupun Yesus dengan sengaja menjatuhkan diri-Nya dari atas bubungan Bait Suci – karena telah dicatat di Kitab Suci bahwa Allah akan melindungi-Nya. Tetapi ini keliru. Membahayakan diri kita sendiri demi mendesak Allah untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita berarti mencobai Allah: Apabila Allah tidak melindungi kita, Ia akan dituduh melanggar janji; tetapi apabila Ia menolong kita, kita telah memperlakukan-Nya sebagai hamba yang harus menggenapi setiap permintaan kita untuk memuaskan keinginan yang bodoh untuk menyangkal cobaan Iblis. Namun Yesus dapat melihat manipulasi Iblis dan menolaknya dengan berkata, “Ada tertulis, ‘Janganlah mencobai Tuhan Allahmu.’ ”

Hari ini, kita mungkin tanpa sadar jatuh ke dalam perangkap Iblis. Misalkan, seseorang menantang kita untuk mendoakan orang yang sangat sakit, dengan kata-kata, “kalau dia sembuh, saya percaya, karena itu membuktikan bahwa Allah menyertaimu.” Karena ingin membuktikan bahwa Allah kita adalah Allah yang benar, kita dengan segera menerima tantangan itu, dan lalu menggalang doa puasa. Dalam doa, kita beralasan bahwa ini adalah kesempatan penginjilan dan menyuruh Pencipta untuk memberikan mujizat penyembuhan. Dan ketika setelah berulang kali pengumuman dan sesi doa orang sakit itu tidak juga sembuh dan pergi untuk bergabung dengan agama atau denominasi lain, apakah kita tergoda untuk diam-diam menegur Allah? Apakah kita tergoda untuk menuntut agar Allah menolong kita untuk mengejar gereja-gereja lain yang pendetanya tampak melakukan banyak mujizat yang menarik ribuan jemaat baru? Tuhan Yesus memang menjanjikan bahwa tanda mujiat dan perbuatan ajaib akan menyertai penginjilan kita (Mrk. 16:15-18), namun semuanya ini dilakukan sesuai dengan kehendak Allah; bukan untuk menjawab tantangan Iblis.

 

Pencobaan Ketiga: Membeli Kesetiaan Kita

 

“Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!".” (Mat. 4:8-10)

 

            Pencobaan ketiga ini adalah upaya untuk membeli kesetiaan. Iblis mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah; ia berusaha menyuap-Nya dengan harga paling tinggi. Iblis tidak sekadar menawarkan bilyun atau trilyun, tapi seluruh kerajaan di bumi dan kemuliaannya – pendeknya, seluruh dunia. Namun Yesus segera menjawab, “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

            Melalui orang-orang di dunia, Iblis akan berusaha menyuap kita dengan menawarkan dunia dan segala kenikmatannya. Dapatkah kita menolak hadiah-hadiah bergelimang ini seperti Yesus? Yesus menolak tawaran Iblis tanpa pikir panjang karena Ia mengetahui bahwa hanya ada satu yang layak disembah. Begitu juga, kemampuan kita untuk menolak penawaran seperti itu pada akhirnya bergantung pada siapa atau apa yang kita izinkan untuk berkuasa atas diri kita.

            Secara logika, kekuasaan atas segala kehidupan, yaitu kekuasaan mutlak, ada di tangan Allah, karena Dia-lah Pencipta manusia dan sumber segala sesuatu yang dimiliki manusia. Namun Allah yang pengasih memberikan kemerdekaan untuk memilih bagi manusia. Karena itu kita dapat memilih kepada siapakah kita menyembah dan memberikan kendali atas hidup kita. Iblis akan berusaha membujuk kita untuk tidak menyembah Allah dengan memperingatkan bahwa mengikuti Kristus berarti harus memikul salib. Ia akan mengingatkan kita pada perkataan Yesus, bahwa orang-orang yang percaya kepada-Nya akan dicemooh oleh karena nama-Nya; dianiaya, ditangkap, bahkan dibunuh (Yoh. 15:18-21; Mat. 24:9). Membutuhkan keinginan yang kuat untuk memilih jalan sempit Yesus ketika Iblis menawarkan jalan pintas yang lebar dan mulus di hadapan kita. Tampaknya hanya orang gila yang menolak kemuliaan, hormat, dan harta kekayaan demi mengejar penganiayaan dan kematian.

            Taktik andalan Iblis lainnya adalah dengan menguatkan penawarannya dengan daya pikat penampilan. Ketika Iblis berusaha membeli kesetiaan Yesus, ketimbang hanya menjelaskan penawarannya, Iblis membawa Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi dan menunjukkan seluruh kerajaan dunia dan kekayaannya. Di atas sana, Yesus dapat melihat seluruh kemuliaan dan kekayaan dunia. Tetapi Yesus juga melihat melampaui itu semua. Yesus melihat dunia yang pada akhirnya akan dihancurkan ketika kerajaan Allah datang. Maka Ia dapat menolak pencobaan itu.

            Cara yang dapat membantu kita menolak suap Iblis adalah dengan melihat kehancuran dunia yang akan terjadi, betapa pun menariknya penampilan dunia pada saat ini. Kerajaan surga seringkali tampak abstrak dan konsep yang samar ketimbang realita nyata hidup sehari-hari. Inilah yang berusaha diyakinkan Iblis kepada kita: menukarkan surga yang kekal namun tidak terlihat, dengan keuntungan materi yang di depan mata. Jadi kita harus melihat lebih jauh ke depan dan memandang hal yang paling berharga; kita harus melihat melampaui tipu daya Iblis. Kita membutuhkan Roh Kudus untuk membantu kita percaya pada kemuliaan kekal yang ditawarkan Allah. Dalam kerajaan-Nya yang tidak akan hancur, kita dapat menikmati hidup kekal. Jadi Allah adalah satu-satunya yang layak kita berikan kuasa atas hidup kita (Ef. 1:18).

 

KESIMPULAN

Untuk mengalahkan jerat pencobaan, mengetahui firman Allah tidaklah cukup. Kita harus percaya dan berpegang pada firman Tuhan Yesus. Kita juga harus waspada terhadap upaya Iblis yang menaburkan benih-benih keraguan atas janji-janji Allah dalam diri kita. Kita tidak boleh menyerah pada tuntutan Iblis untuk membuktikan identitas kita, mengamankan kesejahteraan jasmani kita, atau mendapatkan dunia dan melepaskan Juruselamat kita.

            Dalam kelemahan, kita kadang dapat berjalan meninggalkan jalan Tuhan. Namun kita tidak boleh membiarkan diri kita terperosok dalam kelemahan ini, atau pun menyalahkan kesalahan kita pada orang lain. Sebaliknya kita harus segera menyadari kesalahan kita, memohon pengampunan Allah untuk menolong kita berjalan sekali lagi di jalan yang benar, dan tidak lagi terjatuh dalam pencobaan dan dosa.