Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Menghadapi Pengujian dan Pencobaan (1)  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Menghadapi Pengujian dan Pencobaan (1)

 

Ujian dan pencobaan adalah dua istilah yang akrab di telinga orang Kristen. Sebuah pertanda akan pentingnya dua istilah ini dapat ditengok dari bagaimana Penatua Yakobus secara langsung membahasnya sejak permulaan suratnya. Ia memberikan beberapa konsep kunci untuk membantu kita menghadapi ujian dan pencobaan. Pertama-tama, kita melihat pada perbedaan dan juga hubungan antara dua istilah ini.

 

MEMBEDAKAN UJIAN DAN PENCOBAAN

Pertama-tama penatua mengajarkan kita bahwa kita harus membedakan pencobaan dari ujian (Ref. Yak. 1:3) dan bagaimana caranya. Ada tiga perbedaan mendasar.

 

Sumber

Ujian dan pencobaan berasal dari dua sumber yang berbeda. Ujian berasal dari Allah (Zak. 13:9), sementara pencobaan berasal dari Iblis. Iblis memulainya dengan mencobai Hawa, dan bahkan juga mencobai Yesus.

 

Sifatnya

Karena Allah baik dan yang memberikan ujian, tentu sifat ujian ini bermaksud baik. Dengan kata lain, ketika Allah memberikan ujian, ini berasal dari maksud-Nya yang baik; Ia tidak bersukacita melihat penderitaan manusia. Memahami hal ini dapat memampukan kita untuk menerima ujian-ujian-Nya dengan tenang.

 

Contohnya, apabila kita diberitahu bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidup kita adalah dengan menghadapi operasi yang menyakitkan dan membutuhkan banyak uang, kita tidak akan berdebat dengan dokter. Kita menjalani operasi dengan rela hati karena kita memahami pentingnya operasi itu. Kita mengetahui bahwa si dokter bukanlah penyiksa sadis yang menikmati kesakitan kita, tetapi berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan hidup kita.

 

Begitu juga saat Tuhan kita memberikan ujian. Walaupun untuk sementara waktu kita merasakan sakit, maksud Allah baik, karena Ia baik dan setiap keinginan-Nya adalah kebaikan. Sebaliknya, sifat pencobaan adalah jahat, karena pencobaan berasal dari Iblis. Ia menyembunyikan maksud jahat di balik upayanya mencobai manusia. Ia berusaha membuat manusia meragukan Allah, melanggar perintah-perintah-Nya, dan bahkan meninggalkan Allah.

 

Tujuan

Tujuan ujian dari Allah adalah agar iman kita semakin matang dan menjadi sempurna. Tetapi tujuan pencobaan dari Iblis adalah untuk menghancurkan iman kita. Iblis akan mendorong kita untuk melawan perintah-perintah Allah agar kita kehilangan kehidupan rohani dan menghadapi penghakiman Allah.

 

Karena itu, ketika kita menghadapi ujian dari Allah, kita harus taat kepada Allah dan bertahan. Namun ketika menghadapi pencobaan Iblis, kita harus menolak dan mengalahkannya.

 

HUBUNGAN ANTARA UJIAN DAN PENCOBAAN

Walaupun ujian dan pencobaan berbeda, tetapi keduanya berhubungan. Ketika Allah memberikan ujian kepada kita, Iblis dapat mengambilnya sebagai kesempatan untuk mencobai kita. Begitu juga, Allah juga dapat menggunakan pencobaan untuk menguji dan mengajar kita. Kita dapat melihat contoh hubungan ini dalam pencobaan Hawa dan Yesus.

 

1. Pencobaan Hawa – Iblis Menggunakan Ujian Sebagai Kesempatan Untuk Mencobai

 

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kej. 2:16-17)

 

Ayat ini memicu banyak pertanyaan dan kesangsian pada kebaikan Allah. Bagian berikut ini akan menjawab tiga pertanyaan yang paling umum, yang dapat mempengaruhi iman kita pada Allah dan firman-Nya:

·         Mengapa Allah menamakan pohon itu “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”?

·         Mengapa Allah melarang Adam dan Hawa memakan hanya buah pohon ini?

·         Apakah maksud mengetahui tentang yang baik dan yang jahat?

 

Bagaimanakah Pohon itu Dinamakan?

Orang umumnya meyakini pohon itu dinamakan demikian karena buahnya dapat memberikan kemampuan ilahi kepada manusia untuk membedakan antara baik dan jahat – “Tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kej. 3:5). Kelihatannya ini dipastikan, bahkan lebih diperluas lagi di ayat-ayat berikutnya. Tidak saja mamusia menerima pengetahuan baik dan jahat, tetapi ia juga menjadi berpengertian: “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” (Kej. 3:6)

 

Namun apabila kita membaca kedua ayat ini dengan hati-hati, Alkitab tidak menyebutkan bahwa buah pohon itu dapat memberikan pengetahuan. Perkataan di ayat 3:5 diucapkan oleh Iblis melalui ular. Iblis berusaha mencobai Adam dan Hawa agar mereka menjadi tidak taat dengan menyindir Allah melarang manusia memakan buah itu karena Ia tidak ingin mereka menjadi seperti Dia. Begitu juga, Kejadian 3:6 menjelaskan pandangan Hawa tentang pohon itu. Ia melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Walaupun pohon itu memang tampak elok dan baik dimakan seperti pohon-pohon lain di Taman Eden (Kej. 2:9), persepsi kemampuan buah yang dapat memberikan hikmat itu tidak berasal dari Allah!

 

Allah berkata, “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Ia menyatakan peringatan tegas untuk melindungi mereka dari maut. Tetapi Iblis memutarbalikkan firman Allah sehingga kelihatannya Allah tidak ingin manusia menjadi sebijaksana Dia. Kita tidak boleh mempercaya sedikit pun ucapan Iblis, karena ia adalah bapa segala dusta (Yoh. 8:44). Sayangnya, Hawa menelan seluruh penjelasan Iblis yang tidak mendasar. Konsep yang ia pegang tentang pohon itu dan firman Allah berubah. Pada akhirnya Hawa maupun Adam terperosok dalam pandangan bahwa Allah tidak ingin mereka sama seperti-Nya.

 

Ini adalah modus yang sering digunakan Iblis untuk mencobai manusia – dengan menebarkan benih keraguan dan menyebabkannya salah menafsirkan firman, sifat, dan maksud Allah. Jadi kita harus senantiasa waspada agar tidak tidak tertipu seperti ini. Dalam konteks khusus ini, kita tidak boleh terjatuh dalam perangkap pemikiran bahwa Allah melarang manusia untuk makan buah itu agar tidak berpengetahuan baik dan jahat dan menjadi berhikmat.

 

Mengapa Allah melarang Adam dan Hawa untuk memakan buah dari pohon ini saja?

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa Allah harus menaruh pohon itu di Taman Eden. Apabila Ia tidak ingin manusia memakan buahnya, mengapa Ia menaruhnya di sana?

 

Allah menetapkan peraturan tentang buah terlarang ini untuk menguji manusia, apakah mereka akan memelihara perintah-perintah-Nya. Semua perintah Allah itu baik, karena diberikan untuk memelihara hidup kita. Umat Allah harus memegang perintah-Nya dengan sukarela. Inilah sebabnya mengapa Musa bersusah-susah mengingatkan bangsa Israel untuk memegang seluruh perintah Allah (Ul. 6:1-2).

 

Allah hanya memberikan satu perintah kepada Adam dan Hawa di Taman Eden. Kita dapat berandai-andai Allah berkata, “Kau boleh makan buah dari semua pohon di Taman Eden, kecuali yang itu; apakah kau mau menuruti perintah-Ku? Saat kau memakan buahnya, kau akan mati. Percayakah kau?”

 

Apabila Adam dan Hawa percaya pada perintah dan firman Allah, mereka akan taat pada perintah-Nya untuk tidak memakan buah terlarang. Ketaatan mereka akan membenarkan mereka di mata Allah. Karena Allah baik, perintah-Nya juga baik. Memegang perintah Allah menunjukkan keberpihakan pada apa yang baik. Sebaliknya, orang yang menolak perintah Allah dengan memakan buah terlarang akan dipandang jahat oleh Allah. Memakan buah itu sama saja dengan mendengarkan perkataan si jahat, Iblis.

 

Karena itu, Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat-lah yang memisahkan antara baik dan jahat. Bukan buah pohon ini yang menyebabkan seseorang pengetahuan akan baik dan jahat. Sebaliknya, pilihan perbuatan untuk memakan-lah yang menentukan apakah seseorang itu baik atau jahat. Dengan memilih untuk makan, ia menyatakan ketidaktaatan kepada Allah, sehingga ia menjadi jahat. Begitu juga, memilih tidak memakannya karena secara sadar taat kepada Allah menempatkan seseorang baik di mata Allah.

 

Strategi Iblis: Menebarkan Keraguan dan Kebingungan

Seluruh peristiwa ini dimulai ketika Allah memberikan sebuah ujian kepada Adam dan Hawa; Ia memberikan perintah ini kepada mereka untuk mengetahui seberapa taatkah mereka, sehingga juga mengetahui apakah mereka baik atau jahat. Di tengah-tengah ujian inilah Iblis mencobai dan mengelabui mereka.

 

Firman Allah jelas dan langsung – sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati. Apabila kita percaya pada firman Allah dan mempunyai iman yang tak tergoyahkan pada kebaikan Allah yang tidak akan berubah, bagaimana pun orang lain menafsirkan firman-Nya, kita akan melihat firman Allah sebagai standar satu-satunya, dan tidak akan mempertimbangkan untuk memakan buah terlarang.

 

Sebaliknya, hanya ada kejahatan murni dalam hati Iblis. Ia memutarbalikkan firman Allah, dengan licik menebarkan keraguan, menanam konsep yang keliru, dan menyesatkan orang-orang. Pada akhirnya, dusta akan dilihat sebagai kebenaran; dan Allah yang baik dicurigai mempunyai maksud yang jahat. Inilah yang menyebabkan Adam dan Hawa mengikuti sudut pandang Iblis. Mereka mungkin berpikir, “Allah berusaha mengancam kita. Ia berkata bahwa kita akan mati saat memakan buah itu agar kita tidak berani memakannya, agar kita tidak mengetahui apa bedanya baik dengan jahat. Ia menginginkan kita tetap bodoh! Kita tidak menginginkan hal ini; dan tentunya kita tidak mau menyembah Allah yang kejam!”

 

Banyak orang di masa sekarang membiarkan diri mereka terkecoh dan meragukan kebaikan Allah yang absolut. Pada akhirnya, mereka bersikap skeptis ketika Allah berkata bahwa melakukan sesuatu akan menyebabkan kematian. Mereka bahkan menantang, apabila Allah menginginkan ketaatan absolut seperti itu, mereka lebih rela mati daripada menyembah Allah yang seperti itu!

 

Belajar Melihat Melampaui si Iblis

Apabila Adam dan Hawa berhenti sejenak untuk merenungkannya, mereka dapat melihat ketidakcocokan dalam pendapat-pendapat Iblis. Kalau Allah ingin menyembunyikan pengetahuan baik dan jahat agar hanya Dia saja yang mengetahuinya, mengapa Ia harus repot-repot menempatkan pohon itu di Taman Eden? Logikanya, Ia menyembunyikan pohon itu dan tidak menyebut-nyebut keberadaan pohon dengan “buah ajaib” itu. Sayangnya, Adam dan Hawa tidak berpikir cukup dalam. Setelah memakan buah pohon itu, mereka baru menyadari bahwa mereka telah tertipu, tetapi sudah terlambat. Mereka tidak menjadi serupa seperti Allah, tetapi menyadari dengan jelas bahwa mereka telah melakukan apa yang jahat di mata Allah. Kita dapat melihat kesadaran mereka ini dari dua perbuatan mereka.

 

Pertama, mereka merasa malu. Malu ini muncul karena rasa bersalah. Tidak ada orang yang merasa bersalah ketika ia melakukan sesuatu yang benar atau baik. Namun ketika kita melakukan sesuatu yang tidak benar, hati nurani kita akan terus menegur sampai kita merasa malu walaupun tidak ada orang yang mengetahui perbuatan kita. Sebelumnya Adam dan Hawa tidak merasa malu (Kej. 2:25). Namun setelah memakan buah itu, mereka sadar bahwa mereka telah berbuat salah. Untuk pertama kalinya mereka merasakan malu, sehingga mereka mengambil dedaunan untuk menutupi diri mereka (Kej. 3:7).

 

Kedua, mereka bersembunyi dari Allah saat mendengar-Nya berjalan di Taman Eden (Kej. 3:8). Tidak ada orang yang berbuat baik perlu atau ingin bersembunyi dari Allah. Kita menghindari Allah apabila kita telah melakukan sesuatu yang jahat dan tidak ingin Allah mengetahuinya.

 

Kesimpulannya, apabila kita mau menghindari jeratan kejahatan dan rasa malu, kita harus waspada dan meneliti segala hal. Kita harus percaya sepenuhnya dalam firman Allah dan memegangnya dengan teguh. Kita harus waspada dengan tipu daya Iblis dan menjauhi orang-orang yang memutarbalikkan firman Allah.

 

2. Pencobaan Yesus – Allah Menggunakan Pencobaan Iblis Sebagai Kesempatan Untuk Menguji

Secara umum, memang benar kita harus menjauhkan diri dari pencobaan. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kita untuk berdoa agar “tidak membawa kami ke dalam pencobaan”. Namun di Matius 4:1, kita membaca bahwa Yesus dibawa oleh Roh untuk dicobai oleh Iblis. Allah tidak mencobai manusia, jadi mengapa Ia membawa Yesus ke padang gurun untuk dicobai Iblis? Begitu juga dengan Ayub, mengapa Allah mengizinkan Iblis mencobainya? Walaupun Allah tidak mencobai manusia, Allah bisa memanfaatkan pencobaan yang dilakukan Iblis untuk menguji manusia.

 

Maka tampaknya ada sebuah simetri. Ketika kita menghadapi ujian, mungkin ada pencobaan dari Iblis; dan ketika kita dicobai oleh Iblis, pencobaan itu mungkin digunakan sebagai ujian oleh Allah. Namun beberapa orang menggunakan hubungan ini untuk mengklaim bahwa Allah dan Iblis bekerja sama! Ini salah, karena Allah tidak akan bekerja sama dengan Iblis.

 

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.” (Yak. 1:13)

 

Mengapa orang berkata bahwa mereka dicobai oleh Allah? Mereka melihat Allah membiarkan Iblis mencobai Ayub. Karena Allah mengizinkannya, Allah pasti berkomplot dengan Iblis. Namun Yakobus mengingatkan kita bahwa Allah tidak dapat dicobai Iblis dan bekerja bersamanya. Allah sendiri tidak mencobai siapa pun, atau pun Ia akan bersekongkol untuk mencobai seseorang.

 

Saat Allah membiarkan Iblis melakukan pekerjaan pencobaan, bukan berarti Ia bekerja sama dengan Iblis. Sebaliknya, Allah membiarkan pencobaan itu terjadi karena Allah ingin bekerja sama dengan umat-Nya untuk mengalahkan pencobaan Iblis. Allah ingin membantu anak-anak-Nya menghadapi pencobaan dan menjadi lebih matang. Inilah yang terjadi dengan Ayub. Sejak awal Ayub adalah orang benar. Namun dengan bekerja bersama-sama Allah di tengah serangan-serangan Iblis, melalui proses pencobaan itu Ayub menjadi lebih dewasa.

 

KESIMPULAN

Ujian berbeda dengan pencobaan. Namun ketika kita menghadapi ujian, mungkin ada pencobaan dari Iblis, dan ketika kita dicobai oleh Iblis, pencobaan ini dapat digunakan Allah sebagai ujian. Yang terpenting, melalui ujian maupun pencobaan, kita harus terus mempunyai iman yang tak bergeming dalam firman dan kasih Allah dan terus taat kepada-Nya.