Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Menghadapi Pengujian dan Pencobaan (2)  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Menghadapi Pengujian dan Pencobaan (2): Sukacita dalam Pengujian

 

Dalam perjalanan iman mereka, umat Kristen harus menghadapi ujian dan pencobaan. Pada bagian pertama kita telah mempelajari petunjuk Penatua Yakobus tentang cara membedakan ujian dan pencobaan. Pada bagian kedua ini, kita belajar tentang sukacita yang dianggap aneh oleh dunia, yaitu sukacita dalam pengujian.

 

SUKACITA DALAM UJIAN

Surat Yakobus secara khusus ditujukan kepada dua belas suku bangsa Israel yang terserak keluar (Yak. 1:1). Dari sudut pandang gereja, mereka digolongkan dalam dua kelompok: yang percaya kepada Kristus, dan yang menentang-Nya. Di antara ke-dua belas suku, hanya sebagian kecil yang percaya, yang mengalami penganiayaan dari mayoritas suku yang anti-Kristen. Dahulu Rasul Paulus adalah salah satu penganiaya yang paling giat mengancam dan memenjarakan orang-orang Kristen. Oleh kasih karunia Allah yang ajaib, anti-Kristen yang keras ini menjadi orang percaya.

            Walaupun orang Farisi yang berpengaruh ini menjadi percaya, orang-orang percaya masih terus dianiaya. Keputusan untuk percaya kepada Kristus mengakibatkan hilangnya kedamaian dalam hidup mereka dan kesusahan mereka bertambah-tambah. Maka dapat dimaklumi apabila orang-orang Kristen berkeluh kesah dalam keadaan seperti itu. Orang jahat tidak dapat memilih selain menerima penderitaan sebagai upah kejahatan mereka. Namun orang yang menghadapi berbagai pengujian karena memilih untuk percaya mungkin dapat merasa kecewa.

            Maka Yakobus menulis surat untuk menghibur mereka dan menasihati pandangan mereka tentang pengujian. Ia berkata kepada mereka bahwa mereka harus melihat pengujian bukan sebagai ketidakberuntungan, tetapi sebagai suatu kebahagiaan (Yak. 1:2) Beberapa orang menyimpulkan bahwa Yakobus sedang menipu diri sendiri atau mengelabui. Namun ini bukanlah upaya untuk menghibur diri, tetapi semangat iman yang akan membantu kita melalui pengujian.

            Rasul Petrus juga memberikan penjelasan semangat iman yang sama (1Ptr. 4:12-16). Kita tidak perlu gelisah dengan pengujian, sebaliknya, kita harus bersukacita karena pengujian itu memungkinkan kita untuk mempunyai bagian dalam penderitaan Kristus. Ketika Kristus datang, kita akan bersukacita bersama-Nya. Bagi manusia, penderitaan kita adalah sebuah bencana dan aib, tetapi bagi Allah, ujian adalah berkat dan kemuliaan. Orang-orang yang mencemooh kita karena nama Kristus (1Ptr. 4:14) tidak mempunyai semangat iman ini. Karena itulah yang dapat mereka lihat hanyalah kemalangan dan penderitaan. Mereka tidak dapat melihat Roh Allah menyertai orang-orang yang menderita.

            Kesimpulannya, dua rasul ini mengajarkan konsep iman yang benar kepada kita. Yakobus mengajarkan kita untuk melihat berbagai pengujian sebagai kebahagiaan karena Roh Tuhan menyertai kita dan kita ambil bagian dalam penderitaan Kristus. Petrus menguatkan hal ini dengan membedakan penderitaan orang jahat dengan orang Kristen. Orang jahat menerima penderitaan mereka sebagai akibat pelanggaran, tetapi orang Kristen tidak sedang dihukum, melainkan akan menuai sukacita dan kemuliaan kekal karena kerelaan mereka untuk menderita bersama Kristus.

 

MEMAHAMI MANFAAT UJIAN

Pengujian Membuktikan Iman

Setiap orang Kristen mengetahui pentingnya memiliki iman. Tetapi bagaimanakah kita memperoleh iman yang murni? Sama seperti emas dimurnikan dengan api, dan medali emas dimenangkan melalui latihan keras dan sungguh-sungguh, iman yang murni diperoleh melalui kesabaran dalam menanggung berbagai pencobaan (1Ptr. 1:6–7).

Para pahlawan iman di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memahami hal ini. Ayub rela menerima dan mengalahkan ujian terbesarnya (Ayb. 23:10) karena dia tahu bahwa dia sedang dimurnikan. Para rasul menasihati orang percaya untuk bergembira dalam pengujian karena pengujian itu akan membuktikan kemurnian iman mereka. Sesungguhnya, iman yang dimurnikan melalui ujian bahkan jauh lebih berharga daripada emas.

Mereka yang menjadi Kristen walaupun ditentang oleh keluarga mungkin merasa bahwa ini membuktikan ketulusan iman mereka. Mereka mungkin tidak mau lagi menerima penderitaan dan ujian yang lebih banyak lagi. Namun proses pemurnian emas bukan hanya untuk memastikan keasliannya, tetapi juga untuk memurnikannya. Pemurnian ini penting karena tingkat kemurnian emas menentukan besar nilainya.

Dalam proses pemurnian, emas dipanaskan hingga titik didih dan dicairkan. Kotoran-kotoran dalam emas itu muncul di permukaan dan kemudian dibuang. Proses ini diulangi sehingga lebih banyak kotoran yang muncul dan dapat dibuang. Umumnya emas harus dimurnikan tujuh kali sebelum dianggap sebagai emas murni. Pemurnian perak juga melalui proses yang sama (Mzm. 12:6).

Demikian juga, kita mungkin mempunyai iman, tetapi apakah iman kita murni? Awalnya Ayub tampak mempunyai iman yang sangat murni karena ia takut akan Allah lebih daripada orang-orang di sekitarnya. Namun Allah mengetahui masih ada kotoran dalam iman Ayub. Maka Ia membiarkan Ayub diuji.

Allah mengetahui bahwa kita beriman kepada-Nya, tetapi mungkin iman kita masih belum murni. Satu-satunya cara untuk membuang kotoran-kotoran ini adalah melalui pemurnian dalam pengujian. Maka Allah menguji kita sampai kita menjadi sempurna dan tidak bercacat cela. Ketika Allah berkata, “sudah selesai”, Ia-lah yang pertama-tama akan bersukacita atas tingkat kemurnian iman kita.

 

Pengujian Menghasilkan Kesabaran

Pengujian iman menghasilkan kesabaran (Yak. 1:3), tetapi ini bukanlah kesabaran biasa. Umumnya, orang yang sifatnya aslinya sabar dapat bertahan lebih lama daripada orang-orang yang dilahirkan sebagai orang yang tidak sabaran. Namun, kesabaran alami ini masih belum dapat bertahan dalam pengujian atau penderitaan yang keras atau berjangka waktu lama. Sebaliknya, kesabaran yang dihasilkan pengujian iman adalah kesabaran yang dapat bertahan, pantang mundur, tidak berkompromi, dan tidak menyerah. Kesabaran ini ditunjukkan dengan sikap tidak mau menyerah. Kesabaran seperti ini tidak akan terkikis oleh ujian-ujian yang terus bertambah berat. Orang percaya yang mempunyai kesabaran ini akan terus bertahan hingga akhir dan ia sempurna (Yak. 1:4).

            Mendapatkan tingkatan kesabaran ini sangat penting. Sebuah perlombaan yang hanya diikuti setengah jalan tidak menghasilkan apa-apa bagi si pelari. Begitu juga, semua usaha, waktu, dan jerih lelah yang telah dilalui akan percuma apabila orang percaya menyerah di tengah jalan saat menghadapi pengujian. Tidak ada keuntungan atau upah bagi hidup maupun imannya. Maka pengujian diperlukan untuk memastikan agar kita memperoleh kesabaran ini yang akan bertahan hingga akhir.

            Sebuah alasan mengapa kita tidak mampu melatih kesabaran ini walaupun kita menginginkannya, adalah karena kita tidak mau melalui pengujian di dalam keadaan normal. Ketika kita menghadapi masalah, kita mengeluh. Setiap kali mendapatkan halangan, kita menyerah. Yesus berbicara tentang orang-orang seperti ini:

 

Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. (Mat. 13:20–21)

 

Beberapa orang langsung menerima firman Tuhan dengan sukacita karena mengetahui bahwa firman ini dapat menyelamatkan jiwa mereka. Tetapi ketika timbul kesengsaraan dan penganiayaan, mereka berguguran. Mereka hanya menyukai awal dan akhir perjalanan iman mereka, tetapi tidak mau mengalami ujian apapun di dalam prosesnya. Dengan mudahnya mereka menyerah, dengan mengira semua pengujian itu akan hilang. Iman yang sejati dan murni hanya dapat dibentuk melalui pengujian. Pendeknya, tidak ada hasil tanpa usaha.

 

Bertahan Dalam Pengujian Membawa Berkat

Penatua Yakobus mengatakan bahwa orang yang bertahan dalam pencobaan mendapat berkat (Yak. 1:12). Tetapi kata Yunani untuk “pencobaan” (peirasmon) dalam bahasa aslinya berarti “pengujian” (lih. Yak. 1:2). Dengan kata lain, orang yang bertahan dalam pengujian mendapatkan berkat.

Tidak seorang pun mau menderita dengan sia-sia. Kemauan untuk menjalani penderitaan tergantung pada ada tidaknya berkat di akhir penderitaan itu, dan apakah berkat itu setimpal dengan penderitaan yang harus dijalani. Yakobus meyakinkan kita bahwa upah bertahan dalam pengujian iman bukanlah berkat biasa; tetapi adalah mahkota kehidupan.

Apakah mahkota kehidupan? Mahkota melambangkan kemuliaan. Jadi di manakah kemuliaan hidup? Ada banyak orang-orang sukses yang mendapatkan kemuliaan bagi keluarga dan pribadi dari kesuksesan mereka. Tetapi sampai kapankah kemuliaan ini bertahan? Dan apakah kekayaan mereka akhirnya menjadi pusat kekuatiran?

Kitab Suci memberitahukan kita bahwa Yudas mengkhianati Tuhan, dan Demas meninggalkan-Nya karena mengasihi dunia. Walaupun mereka mendapatkan kekayaan yang fana, tetapi mereka menuai cemooh dan hujatan orang-orang Kristen dari berbagai generasi. Namun sebaliknya, sebutkanlah nama Petrus atau Paulus kepada orang Kristen, dan umumnya jawaban mereka adalah rasa hormat. Walaupun kedua rasul ini telah mengalami penderitaan jasmani yang sangat hebat, tetapi mereka telah mendapatkan kemuliaan sejati yang besar. Mereka menerima hormat baik dari orang-orang percaya maupun Tuhan oleh karena pengorbanan mereka.

Salah satu pesan di Kitab Wahyu ditujukan kepada gereja di Smirna. Orang-orang Kristen di Smirna telah mengalami begitu banyak kesusahan begitu lama sehingga mereka mulai lemah dan dijangkiti rasa takut. Pada waktu itu Tuhan menghibur mereka, “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!” (Why. 2:10a) Namun ini dapat dilihat sebagai penghiburan yang dingin karena Tuhan memperingatkan mereka bahwa sebagian dari mereka akan ditangkap, dan bahkan kesusahan mereka akan berlangsung selama sepuluh hari. Dengan kata lain, penderitaan mereka tidak akan segera berakhir!

Pandangan perihal waktu bersifat subyektif. Waktu sepertinya berjalan dengan cepat ketika kita bergembira atau menikmati sesuatu, tetapi saat menderita, waktu berjalan sangat lambat. Bagi jemaat di Smirna yang berusaha bertahan melalui penganiayaan dengan sabar demi Tuhan, siapakah yang dapat menyalahkan mereka apabila mereka bertanya-tanya mengapa Allah harus memperpanjang penderitaan mereka sampai sepuluh hari?

Kemudian, Tuhan mendesak mereka untuk tetap setia sampai mati. Apakah tujuan bertahan dan terus bertahan apabila mereka tetap saja akan mati? Pada saat seperti itu orang biasa akan putus asa. Namun jemaat di Smirna sangat terhibur karena mereka melihat upah yang dijanjikan: mereka akan menerima mahkota kehidupan.

Gereja di Smirna juga mendapatkan penghiburan dari teladan para pendahulu mereka, yaitu para rasul. Mereka bertahan karena mengetahui bahwa penderitaan mereka sementara, dan setelah itu mereka akan menikmati kemuliaan kekal. Mereka mengingat perumpamaan yang Yesus ajarkan mengenai orang kaya dan Lazarus. Mereka terhibur karena suatu hari mereka juga akan duduk di pangkuan Abraham. Bagi orang-orang yang bersabar dalam jerih lelah mereka dengan setia, kematian bukanlah jurang yang menakutkan, tetapi sebuah istirahat yang penuh berkat, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka (Why. 14:13).

Apabila kita memahami kemuliaan mahkota kehidupan dan berkat-berkat yang akan kita terima, maka kita tidak akan takut ketika menjalani penderitaan dan pengujian. Rasa takut timbul dari keraguan kita dengan mengira Yesus telah meninggalkan kita. Kita menjadi lemah karena tampaknya Ia tidak lagi menyertai kita dan bahkan membiarkan musuh menginjak-injak kita. Kita bertanya-tanya mengapa Ia membiarkan kita menderita dan dipermalukan apabila Ia mengasihi kita.

Kita seringkali mendengar dan menyatakan bahwa Allah Bapa menyertai kita. Tetapi ketika kita melihat kasih karunia-Nya pada orang lain, sementara tampaknya Ia tidak peduli dengan penderitaan kita, kita dapat secara keliru menyimpulkan bahwa Ia hanya menghargai orang-orang tertentu. Dalam kasus seperti ini, Allah menyediakan penghiburan lain bagi kita, yang dinyatakan melalui mulut Nabi Yesaya.

Sion – yang merupakan anak Allah – menyimpulkan bahwa Tuhan telah meninggalkannya karena Ia membiarkan kehancuran Bait Suci dan Yerusalem (Yes. 49:14). Namun jawaban Allah bersifat empatik. Bahkan apabila ada seorang ibu lupa menyusui anak bayinya, Ia tidak akan melupakan bangsa Israel karena mereka adalah harta-Nya yang paling berharga (Yes. 49:15-16). Kita tidak saja digendong, tetapi dituliskan di telapak tangan-Nya. Yesus tidak akan pernah meninggalkan kita karena Ia sungguh-sungguh mengasihi kita. Kelahiran, penderitaan, dan kematian-Nya, semuanya adalah demi kita. Kita dapat mengasihi-Nya semata-mata karena Ia telah lebih dahulu mengasihi kita.

Ketika Allah membiarkan kita menderita pengujian, tampaknya seakan-akan Ia tidak lagi memegang tangan kita. Tetapi itu bukan berarti Ia meninggalkan kita. Walaupun Ia tidak memegangi kita, mata-Nya masih terus mengawasi kita. Orang tua paling tahu dengan kebenaran ini. Mereka memulai dengan memegang tangan balita yang masih belajar berjalan, tetapi pada akhirnya mereka melepaskan pegangan tangan mereka agar anaknya dapat berjalan sendiri. Dan walaupun mereka tidak memegangi tangan anaknya, mata mereka terus mengawasi keselamatan anaknya. Begitu si anak tersandung, orang tua segera meraih anaknya untuk membantu.

Begitu juga, Bapa kita di surga membiarkan kita berjalan sendiri. Ini adalah sebuah pengujian untuk belajar bertumbuh menjadi dewasa. Tetapi Allah terus-menerus mengawasi kita. Namun kadang-kadang kita melihat ke arah lain. Seperti Petrus, kita merasa takut karena kita hanya dapat melihat awan-awan gelap dan ombak bergelora. Pada saat seperti itu, kita harus mengarahkan mata kita kepada Yesus, dan Ia akan mengulurkan tangan-Nya untuk menolong kita (Mat. 14:28-31).

 

Mahkota Perjanjian Setelah Pengujian

Seorang petani menghadapi berbagai macam cuaca untuk menabur, lalu menunggu panen dengan sabar. Ia mau melakukannya karena ia tahu bahwa panen yang ia nantikan sangatlah berharga. Keyakinan pada janji berkat-berkat Allah membuat kita bertahan dalam pengujian. Namun banyak orang-orang Kristen meragukan janji-janji ini di tengah pengujian dan penderitaan. Mereka mulai bertanya-tanya apakah Injil sungguh membawa keselamatan dan apakah gereja benar-benar memegang penafsiran Injil yang benar.

            Mengapa kita merasa yakin bahwa semua janji-janji-Nya akan digenapi? Untuk memperoleh jawabannya, kita dapat menemui Paulus. Sebelum menjadi Kristen, Paulus adalah seorang penganiaya yang sangat ditakuti dan menghukum mati banyak orang Kristen. Ia meninggalkan segalanya demi menjalani pengujian dan penderitaan (2Kor. 11:23-27). Ia melakukan ini semua tanpa berpikir dua kali karena ia tahu bahwa semua janji Allah adalah benar (2Kor. 1:20).

            Paulus memberitahukan kita bahwa kita dapat yakin pada janji Allah karena Roh Kudus dan kebenaran. Dua ribu tahun yang lalu, janji Roh Kudus digenapi dalam gereja para rasul, dan setelah menerima Roh Kudus, orang-orang percaya berbicara dalam bahasa roh dan memberitakan pesan Yesus. Dua ribu tahun kemudian di masa kita sekarang, Roh Kudus yang sama turun kembali. Oleh tuntunan Roh Kudus (Yoh. 16:13), kebenaran yang dahulu hilang kembali muncul di gereja sejati. Apa yang diberitakan gereja sejati pada hari ini sungguh adalah pesan yang diberitakan oleh para rasul. Ada banyak orang Kristen tidak percaya bahwa menerima Roh Kudus diperlukan untuk keselamatan, dan dibuktikan dengan berbahasa roh. Namun sayangnya pengajaran yang keliru ini juga menyebar ke dalam gereja sejati di saat sekarang, sehingga beberapa orang mengecilkan peran Roh Kudus. Kita tidak boleh berkompromi dalam prinsip iman yang sangat penting ini.

            Roh Kudus yang diterima di Gereja Yesus Sejati dan dibuktikan dengan berbahasa roh, membuktikan bahwa Ia adalah Roh Kudus yang sama, yang Allah curahkan ke atas para rasul. Ia adalah Saksi yang tidak dapat dibantah, bersaksi pada kebangkitan Yesus, dan memastikan bahwa apa yang diberitakan di gereja sejati adalah kebenaran. Ia adalah Roh yang memeteraikan kita dan bertindak sebagai jaminan bahwa semua janji Tuhan itu benar dan akan digenapi. Karena itu, kita harus bertahan hingga akhir.

            Ada alasan lain yang lebih bersifat teologis dalam hal janji Allah. Di Ibrani 6:13, disebutkan bahwa Allah bersumpah demi diri-Nya sendiri. Orang yang bersumpah demi diri sendiri bukanlah orang yang dapat dipercaya karena manusia dapat berubah-ubah dan tidak dapat diandalkan. Tetapi Allah bersifat kekal dan mempunyai kuasa, kekuasaan, dan pertanggung-jawaban yang terbesar. Sumpah-Nya demi diri-Nya sendiri adalah jaminan terbesar atas janji-janji-Nya.

 

Bersabar dalam Kasih

Mahkota kehidupan dijanjikan kepada orang-orang yang mengasihi Allah (Yak. 1:12). Di tengah pengujian, apakah kita akan terus mengasihi Tuhan? Apabila penderitaan yang kita lalui tidak terlalu berat, banyak orang masih dapat terus mengasihi Tuhan. Contohnya adalah istri Ayub. Ia masih tegar ketika Ayub kehilangan hartanya. Ia tetap tenang bahkan ketika semua anak-anaknya tewas. Tetapi ketika borok menjangkiti tubuh Ayub, ia tumbang. Ia berkata kepada Ayub, “Kutukilah Allah dan matilah!” (Ayb. 2:9b) Ia merasa tidak ada untungnya lagi untuk terus berpegang pada iman dan mengasihi Allah yang membiarkan berondongan pengujian tak henti-hentinya menimpa mereka. Ketidaksabarannya menyebabkan ia tidak memperoleh janji Tuhan.

            Janji Tuhan diberikan kepada mereka yang setia dalam kasih mereka kepada-Nya walaupun telah melalui pengujian yang paling berat. Bagi sebagian orang, menjalani penderitaan tak henti-hentinya terlalu sulit, bahkan tidak adil. Namun bombardir pengujian inilah yang akan membedakan orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dari jemaat-jemaat yang hanya percaya apabila langit tidak mendung, yang ingin menerima berkat tetapi tidak mau menderita bersama-Nya.

            Yohanes pasal 20 memberitahukan kita tentang peristiwa setelah penyaliban dan penguburan Yesus. Ketika Maria Magdalena pergi ke kubur dan menemukannya kosong, ia segera memberitahukan murid-murid. Mereka berlari untuk melihat; kain kafan yang membungkus Yesus ada di situ, tetapi jasad-Nya tidak ada. Tampaknya tidak ada lagi yang perlu dilihat, jadi mereka kembali ke rumah masing-masing. Namun Maria tetap tinggal dan melihat ke dalam kubur (Yoh. 20:11).

            Di masa pelayanan Yesus, ada banyak orang-orang Yahudi yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Sebagian percaya, tetapi kemudian meninggalkan-Nya; yang lain tetap tinggal lebih lama, tetapi kemudian meninggalkan-Nya ketika Ia mati. Namun Maria tetap tinggal. Dan walaupun kubur itu kosong, ia masih ingin melihat ke dalamnya. Mengapa? Mengapa menatap kubur kosong? Maria bukan sekadar menatap kosong. Kubur itu kosong tetapi kasihnya kepada Tuhan tetap hidup, dan Tuhan mengetahui bahwa Maria mengasihi-Nya.

            Kasih murid-murid yang lain kepada Tuhan mulai layu, tetapi kasih Maria tetap kuat. Ia menangis saat ia mengintip ke dalam kubur karena ia sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Usahanya ini diberkati ketika Tuhan yang telah bangkit muncul ke hadapannya. Bukan Petrus yang memegang kunci kerajaan surga. Bukan Yohanes, murid yang Ia kasihi. Bukan juga ibu-Nya sendiri. Orang pertama yang Ia temui setelah Ia bangkit adalah Maria Magdalena karena kasihnya yang besar kepada-Nya – kasih yang tidak berubah walaupun kesedihannya atas kematian-Nya.

            Beberapa orang mengaku mengasihi Yesus, tetapi pilih-pilih hukum mana yang mau mereka taati. Apabila kita sungguh-sungguh mengasihi-Nya, kita akan menuruti semua hukum-hukum-Nya, dan tidak meragukan satu pun perintah-Nya (Yoh. 14:21). Maka ketika Tuhan Yesus datang kembali, kita akan menjadi seperti Maria, dipenuhi dengan sukacita dan kejutan yang menyenangkan. Tetapi apabila kita berubah atau suam-suam kuku, kita akan menjadi seperti Yudas, penuh dengan rasa takut dan malu.

 

KESIMPULAN - MEMPEROLEH MANFAAT DALAM PENGUJIAN

Marilah kita belajar dari teladan Ayub, Maria Magdalena, dan Paulus. Kita harus memahami hati Bapa dan percaya pada kehendak-Nya. Pemurnian melalui berbagai pengujian membersihkan kita dari pikiran-pikiran yang tidak kudus, dan membantu kita menjadi seperti Kristus. Maka kita sungguh-sungguh adalah anak-anak Tuhan yang mendapatkan bagian dalam kemuliaan-Nya. Bagaimana pun penderitaan yang menyerang iman kita, kita tidak boleh meninggalkan atau berhenti mengasihi Tuhan. Sebaliknya, barangsiapa mengasihi-Nya, pegang teguhlah janji Tuhan Yesus. Janji-janji-Nya itu benar karena Ia adalah Tuhan yang benar. Biarlah kasih kita kepada-Nya sungguh adalah kasih.