Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Menjaga Domba  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Menjaga Domba

 

PERINTAH

Satu tema yang berjalan di sepanjang Kitab Suci adalah “berjaga-jaga”. Salah satu alasan pentingnya berjaga-jaga adalah kecenderungan manusia untuk jatuh ke dalam dosa. Setelah dua manusia pertama diciptakan, mereka diberitahukan untuk tidak memakan pohon pengetahuan baik dan jahat. Allah telah memperingatkan bahwa apabila mereka melanggarnya, mereka akan mati (Kej. 2:17). Perintah ilahi bersifat mutlak dan tidak dapat dibatalkan. Adam dan Hawa menikmati berkat yang berlimpah ketika mereka masih taat. Namun setelah mereka melanggar perintah ini, tidak saja menderita akibat tragis terpisah dari Allah, mereka juga membawa celaka bagi seluruh keturunan mereka – kita semua – ke dalam maut. Oleh karena belas kasihan, Allah tidak sampai hati melihat umat manusia terpisah dari anugerah dan kasih karunia-Nya. Berulang kali Ia membangkitkan penyelamat, seperti nabi, hakim, raja, untuk menyelamatkan mereka dari penderitaan. Walaupun keselamatan Allah tidak hentinya campur tangan dalam sejarah manusia, perjuangan untuk tetap diam di dalam Tuhan merupakan tantangan berat bagi umat percaya di setiap angkatan.

            Alasan kedua pentingnya berjaga-jaga adalah bangkitnya guru-guru palsu. Kita telah melihat hal ini berulang kali muncul di sepanjang sejarah umat pilihan. Tidak hanya menyebabkan umat Allah tersesat, tetapi orang-orang yang seharusnya menjaga domba-domba Allah, mereka sendiri terserong dari jalan Tuhan. Di Perjanjian Lama mereka adalah para nabi, imam, dan raja (Zef. 3:3-4). Begitu pula di Perjanjian Baru, guru-guru dan nabi-nabi palsu bermunculan dari dalam komunitas iman sendiri (Kis. 20:28; 2Ptr. 2:1-2). Karena gembala-gembala palsu ini sudah berada di tengah-tengah domba, mereka mengakibatkan celaka yang besar bagi domba-domba yang seharusnya mereka jaga dan selamatkan. Apabila tidak diwaspadai, saudara-saudara palsu ini dapat menyebabkan kerusakan besar pada gereja, melumpuhkan dan menggagalkan tugas penyelamatan Allah.

            Kristus sudah memperingatkan hal ini pada para pengikut-Nya. Ada tanda-tanda yang jelas pada semakin banyaknya kepalsuan (Mat. 24:5, 11, 24). Ini adalah ujian terberat yang harus dihadapi jemaat sejati Allah. Tipu muslihat Iblis akan datang dari dalam gereja Allah sendiri. Begitu memikatnya tipu daya pangeran kegelapan, sehingga ia bisa saja mengakibatkan tidak ada orang yang dapat diselamatkan. Jadi demi umat-Nya inilah, Kristus akan memperpendek hari-hari kesesatan itu (Mat. 24:23-24).

 

UJIAN DARI ALLAH – MENJAGA DIRI SENDIRI

Sebagian orang mungkin heran mengapa Allah membiarkan hal ini terjadi pada umat pilihan-Nya sendiri. Perjuangan melawan kesesatan di tengah-tengah gereja adalah ujian dari Allah untuk membuktikan siapakah diri kita (Ul. 13:3). Peperangan demi kebenaran juga akan menjadi pernyataan yang menunjukkan apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Allah. Kasih kepada Allah yang murni senantiasa tercermin dalam kemauan untuk berjalan dalam jalan-Nya dengan sepenuh hati, apa pun harganya (Ul. 13:4). Berpegang teguh pada doktrin keselamatan yang diberikan kepada kita oleh Allah melalui gereja-Nya, dan menolak ajaran dan pengaruh manusia adalah penggenapan kasih dan iman kita kepada-Nya.

            Ketika ajaran palsu muncul di dalam gereja, sudah barang tentu akan ada jemaat yang terpengaruh. Ini dikarenakan sebagai gembala mereka ada pada posisi yang dapat dengan mudah mempengaruhi jemaat. Melalui kecakapan dan pengajaran yang kharismatik, sebagian jemaat mulai mempertaruhkan iman mereka pada gembala-gembala palsu ini, ketimbang kepada Allah. Tidak seperti jemaat di Berea, mereka tidak menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui apakah ajaran yang mereka terima benar apa tidak (Ref. Kis. 17:11). Domba yang lalai ini berada dalam bahaya karena mereka tidak dapat membedakan kebenaran dengan ajaran palsu. Oleh karena itu, untuk menjaga gereja, jemaat harus mempelajari dan menyelidiki Firman Allah. Setiap jemaat harus berusaha berakar dalam dasar-dasar kepercayaan gereja Allah.

            Sebagai manusia, kita rentan dengan segala hal yang kita lihat, baca, dan dengar setiap hari. Jadi kita harus menjauhi tulisan-tulisan guru-guru palsu dan mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah pakar dalam memutarbalikkan fakta untuk menggalakkan tujuan mereka. Paulus mengajarkan Timotius untuk menolak tahayul dan dongeng (1Tim. 4:7) agar tidak terpengaruh. Begitu juga, kita terancam kehilangan kesalehan apabila kita membiarkan ajaran-ajaran palsu dan mendengarkannya. Tambah lagi, ajaran palsu menyebabkan perpecahan di antara jemaat dan merusak pertumbuhan gereja (1Tim. 1:3-4), sehingga si jahat semakin leluasa menebarkan kekecewaan dan kemurtadan di antara jemaat yang imannya lemah.

 

MENJAGA GEREJA

Tentunya guru-guru palsu mampu mencapai tingkat pengaruh yang merusak ini karena mereka dapat menyembunyikan maksud mereka yang sesungguhnya dan menggunakan tipu daya untuk mencapainya (Ref. Ef. 4:14). Karena itu, selain memperlengkapi jemaat dengan Firman Allah, gereja mempunyai tanggung jawab untuk menerapkan upaya-upaya pencegahan untuk menghadapi guru-guru palsu.

 

Membeberkan Nabi Palsu

Ada bagian panjang lebar dalam Hukum Musa yang diperuntukan pada ketentuan untuk berjaga-jaga melawan kesesatan (Ul. 13). Di dalamnya terdapat pesan penting untuk membeberkan nabi palsu, yang disebut sebagai yang jahat di tengah-tengah umat (Ul. 13:5). Alasannya sederhana: ia dapat mempengaruhi jemaat untuk menjauhi TUHAN, tidak berjalan di jalan yang telah Ia perintahkan. Pengaruh si jahat ini dapat menular karena ia datang dengan tanda-tanda ajaib, yang membuat ajaran-ajarannya tampak benar.

            Sebagian orang menganggap pembeberan ini berlebihan, bahkan kejam. Mereka merasa hal ini tidak perlu dilakukan karena pertimbangan perlunya menunjukkan pengertian pada mereka dan keluarga mereka. Namun Hukum Musa secara tegas menjelaskan: “maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya, tetapi bunuhlah dia! Pertama-tama tanganmu sendirilah yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat” (Ul. 13:8-9).

            Orang-orang yang rohaninya waspada harus siap mengambil tindakan yang tegas untuk membeberkan guru-guru palsu dan tipu daya mereka (Ul. 13:8). Ini dilakukan agar komunitas iman dapat tetap murni. Semakin lama guru palsu dibiarkan, semakin besar kerusakan yang mereka akibatkan pada gereja. Apabila tindakan tidak segera dilakukan dengan iman kepada Allah, Firman Allah akan menjadi semakin kabur dan serong sehingga tidak ada lagi yang dapat mengetahuinya (Ref. Why. 2:20). Pola firman keselamatan akan ditutupi dan diputarbalikkan untuk menolak apa yang telah Allah lakukan bagi gereja. Orang-orang yang mata rohaninya tajam haruslah menghancurkan tiang-tiang pengajaran palsu yang diajarkan guru-guru palsu ini.

            Pesan di balik kerasnya peringatan Musa adalah apabila kita mendengar orang-orang menyebarkan ajaran yang berlawanan dengan Firman Allah, kita harus menyelidikinya (Ul. 13:14) dan menemukan orang-orang yang mengajarkannya. Bagi sebagian orang mungkin ini tampak seperti tuduh menuduh. Namun Alkitab sendiri menunjukkan alasan mengapa kita harus membeberkan guru-guru palsu. Menyelidiki dan membuang semua sumber kesesatan adalah perbuatan untuk memelihara dan menjaga rumah tangga Allah.

 

Berdiri Menentang Guru-Guru Palsu

Untuk menyeret orang-orang untuk mencapai tujuan mereka, guru-guru palsu mempengaruhi perasaan jemaat dan menggunakan contoh-contoh perkara hubungan manusia. Mereka menggunakan pertikaian sebagai tabir untuk menutupi jejak pengajaran palsu mereka. Mereka selalu menunjukkan diri mereka sebagai korban yang menderita demi Kristus. Begitu jemaat menunjukkan rasa kasihan kepada mereka, kemampuan mereka untuk membedakan kebenaran akan menjadi kabur. Apabila gereja ingin menjaga kesatuan iman, ia harus membantu jemaat untuk membedakan dengan jelas antara doktrin palsu dan masalah hubungan antar manusia. Tubuh Kristus juga harus menggunakan Firman Allah untuk memperbaiki hubungan yang rusak sembari terus memerangi pengajaran palsu. Guru-guru palsu selalu berusaha memecah gereja di setiap kesempatan, mencetus pertikaian untuk mendukung keyakinan mereka yang serong.

            Pentingnya kesatuan dalam iman harus ditekankan. Sesungguhnya, Alkitab mengajarkan kita untuk berusaha mencapai kesatuan gereja dalam ikatan damai sejahtera (Ef. 4:3). Ini berarti mengedepankan kepentingan gereja di atas kepentingan kita sendiri, dan melakukan segala sesuatu untuk kebaikan rumah tangga Allah. Sebaliknya, nabi-nabi palsu berusaha mengedepankan kepentingan mereka sendiri dan siap menghancurkan gereja dengan menyatakan bahwa Gereja Yesus Sejati sudah bukan lagi satu-satunya gereja sejati yang diselamatkan. Namun Nabi Yehezkiel menyatakan bahwa setiap orang yang berkata bahwa Yehuda – sebuah kiasan Bukit Sion dan gereja (Ref. Mzm. 78:68) – sama saja dengan bangsa-bangsa lain, akan menerima segenap penghakiman Allah (Yeh. 25:8, 11). Walaupun gereja sejati masih belum sempurna, orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi gereja akan berusaha membangunnya, bukan menghancurkannya.

 

Mendidik Ulang Guru-Guru Agama

Untuk menjaga gereja, kita harus saling memperhatikan kesehatan rohani kita. Satu bagian yang harus diperhatikan gereja secara khusus adalah Pendidikan Agama. Sebagai anak-anak, mereka belum cukup dewasa untuk mengenali kebenaran. Mereka sangat rentan dan pikiran mereka dapat dengan mudah dikeruhkan dengan pengajaran yang tidak benar. Sejarah sekular penuh dengan contoh-contoh anak-anak yang terpengaruh untuk berbalik melawan orang tua mereka, bahkan juga dilatih untuk melakukan berbagai tindakan terorisme. Karena guru agama adalah jalan utama bagi anak-anak domba untuk menerima Firman Allah, guru agama harus mempunyai pemahaman kebenaran yang baik agar mereka jangan sampai membawa anak-anak menjauhi kebenaran. Apabila kita mengetahui ada guru agama yang telah terpengaruh dengan ajaran palsu, mereka harus menerima kembali pendidikan Firman Allah.

 

Pemecatan

Pada akhirnya, nabi palsu yang tetap memberontak tidak lagi berada di dalam kebenaran. Pertanda pemberontakan mereka dapat dilihat dari usaha terus-menerus untuk melawan dasar-dasar kebenaran gereja. Satu contohnya adalah doktrin Roh Kudus. Ini sangat berbahaya karena penyesatan atau penyerongan ajaran tentang Roh Kudus akan mengakibatkan jalan hidup gereja terputus. Kitab Suci dengan jelas memerintahkan agar pemberontak yang terus melawan harus diusir dari kumpulan orang percaya (Ref. Ul. 13:9 – dihukum mati).

            Menurut Paulus, tidak ada kebenaran yang keluar dari mulut orang-orang yang rusak imannya; mereka hanya dapat bertumbuh semakin rusak, menipu lebih banyak orang (2Tim. 3:8, 13). Pendekatan Paulus dalam hal ini sangat tegas: sesaat pun ia tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka (Gal. 2:4-5). Begitu juga, nabi-nabi palsu yang hanya terus melawan ketika gereja berusaha menyadarkan mereka, merupakan ancaman bagi gereja. Dalam keadaan seperti itu, satu-satunya pilihan gereja adalah untuk memecat mereka dari keanggotaan. Ini dilakukan bukan dengan dukacita, bukan kebencian; karena hal ini harus dilakukan, bukan pembalasan. Pengusiran ini adalah usaha untuk menjaga domba-domba Allah dengan memisahkan gereja dari orang-orang murtad, pengajaran Allah dari ajaran-ajaran palsu, dan perbuatan Allah dari perbuatan mereka. Pembedaan ini akan menunjukkan siapakah yang menyebabkan perpecahan dalam gereja – karena mereka tidak mempunyai penyertaan Roh Kudus (Yud. 19).

 

CONTOH-CONTOH ALKITAB

Di Galatia, ada orang-orang yang mengajarkan injil lain dari yang diajarkan oleh para rasul. Apa yang mereka ajarkan serupa dengan menyangkal khasiat keselamatan pengorbanan Kristus di kayu salib. Mereka menimbulkan kebingungan di antara jemaat dalam hal cara memperoleh keselamatan. Paulus memberitahukan jemaat di Galatia bahwa guru-guru palsu itu terkutuk (Gal. 1:8, 9). Kata asli yang digunakan untuk “terkutuk” ini adalah anathema, yang secara harfiah berarti “memotong”. Ini berarti dipisahkan dari Kristus, yang artinya mereka tidak lagi menjadi bagian dari Kristus (yang secara resmi dilakukan dengan memecat mereka dari keanggotaan gereja). Paulus tidak hanya melakukan ini sekali saja. Ia pernah juga melakukan hal ini sebelumnya (Gal. 1:9), dengan menunjukkan seriusnya perkara itu. Sesungguhnya, Paulus berulang kali mengutuk orang-orang yang berusaha menyesatkan gereja (Gal. 5:10, 12). Mereka harus menanggung penghakiman yang telah disediakan bagi mereka.

            Dalam konteks kita pada hari ini, menyatakan bahwa Gereja Yesus Sejati bukan satu-satunya gereja sejati, sama saja dengan berkata bahwa Allah mendirikan gereja-Nya tanpa sebab-akibat. Nabi-nabi palsu bersalah karena menajiskan darah perjanjian yang dicurahkan Yesus (Ibr. 10:29-30). Mereka telah mengecap kebaikan Allah namun dengan sengaja melawan apa yang telah membesarkannya. Hal ini bukan saja perihal melawan manusia, namun sesungguhnya melawan pekerjaan keselamatan itu sendiri, yang telah Yesus tetapkan di kayu salib. Ini berarti melawan Allah. Pelanggaran ini adalah pelanggaran yang sangat berat. Jadi gereja harus menggunakan kuasa yang diberikan Allah untuk memotong mereka dari tubuh Kristus. Ini sesuai dengan ajaran para rasul.

            Contoh lain adalah Himeneus dan Aleksander (1Tim. 1:19-20). Mereka berdua menolak kepercayaan yang dahulu mereka pegang. Mereka adalah para penghujat. Konsep “hujat” di sini digunakan bersamaan dalam konteks penentangan dan pembantahan (Kis. 13:45). Catatan para rasul menunjukkan perbuatan para penghujat ini (Ref. 2Ptr. 2:2). Mereka mencemooh, mengecilkan, dan berusaha menghancurkan iman yang diajarkan para rasul. Menurut Paulus, mereka telah menyatakan diri sendiri tidak layak untuk memperoleh hidup kekal (Kis. 13:46). Di catatan lain, reaksi Paulus pada mereka bahkan lebih tegas – menyatakan bahwa darah mereka tertumpah atas kepala mereka sendiri (Kis. 18:6). Ini berarti mereka akan menghadapi maut. Ingatlah! Dua catatan para rasul ini adalah mengenai orang-orang yang tidak percaya pada Yesus. Betapa lebih parahnya penghakiman yang disediakan bagi seorang penginjil yang menghujat kepercayaannya sendiri.

            Untuk menghentikan mereka agar tidak lebih jauh lagi menghujat gereja dan Firman, Paulus menyerahkan Himeneus dan Aleksander kepada Iblis. Ini berarti mengusir mereka dari gereja, karena “menjadi milik Iblis” tak pelak lagi berarti dipisahkan dari tubuh Kristus. Keputusan ini harus dilakukan agar penyesatan mereka tidak menyebar (Ref. 2Tim. 2:17-18). Sekali lagi, pemecatan memberikan pembedaan antara kepercayaan yang dipegang oleh gereja dengan yang dipegang oleh guru-guru palsu. Sangat penting bagi gereja untuk tidak mempunyai dua keyakinan yang saling bertolak belakang. Pengusiran, atau pemecatan dari keanggotaan dilakukan untuk memelihara kemurnian iman kepercayaan gereja (Ref. 2Kor. 11:2).

 

KESIMPULAN

Untuk menjaga gereja dan diri sendiri, dasar kepercayaan gereja harus dipegang teguh. Ini adalah ajaran yang sehat, yang Allah berikan kepada gereja untuk terus dipelihara (Rm. 6:17-18). Peringatan harus diberikan kepada orang-orang yang mengajarkan injil lain. Gereja mempunyai kewajiban untuk menolak dan membuang setiap ajaran palsu yang muncul di dalam gereja, dan memastikan agar ajaran-ajaran ini tidak tertanam dalam hati jemaat. Praktik ini umum dilakukan di gereja para rasul. Orang-orang yang mengikuti ajaran palsu diselidiki dan diumumkan di tengah-tengah jemaat (Ref. 2Tes. 3:14).

            Pencemooh akan bermunculan di akhir zaman (2Ptr. 3:3). Ancaman mereka sangat serius karena mereka bukanlah orang dari luar. Sebaliknya, mereka adalah bagian dari gereja yang perlahan-lahan mengajarkan ajaran palsu untuk membawa jemaat menjadi pengikut mereka sendiri. Ajaran-ajaran mereka membingungkan pikiran dan mengganggu hati orang-orang mendengarnya. Mereka congkak dan berjalan dalam hawa nafsu mereka, menolak nasihat dan teguran. Tidak saja menolak peringatan gereja, mereka balik menyerang, bahkan menghujat. Dalam keadaan seperti ini, pilihan terakhir yang tersedia bagi gereja adalah memecat mereka agar domba-domba Tuhan yang sejati dapat diselamatkan.