Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Menyembah Tuhan Menurut Kehendak-Nya  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Menyembah Tuhan Menurut Kehendak-Nya

 

Dalam Perjanjian Lama, Bait Tuhan yang didirikan oleh Salomo berada di titik pusat iman bangsa Israel. Di sanalah hadirat Tuhan, yang diwakili oleh Tabut Perjanjian, bersemayam. Bangunannya memang didirikan oleh Salomo, tetapi rancangannya diperintahkan oleh Tuhan. Melalui wahyu dari Roh, Daud menerima rancangan terinci bangunan Bait Suci, yang ia teruskan kepada anaknya (1Taw. 28:18-19). Benarlah, Salomo menuruti rancangan ini tanpa melewatkan satu huruf pun, dan ketika pembangunan selesai, api pun turun dari langit memakan habis korban bakaran, dan kemuliaan Tuhan memenuhi Bait Suci (2Taw. 7:1). Perbuatan Tuhan ini menunjukkan bahwa Dia menerima Bait Suci tersebut.

Perjanjian Lama mencatat beberapa bangunan yang juga didirikan menurut rancangan Tuhan. Salah satunya adalah bahtera Nuh: karena Nuh mengikuti dengan teliti ukuran yang diberikan oleh Tuhan, bahtera itu dapat bertahan dari air bah (Kej. 6:14-22). Belakangan, Musa dan rakyat Israel juga bertindak seteliti itu dalam membangun Kemah Pertemuan dan Tabut Perjanjian menurut rancangan Tuhan (Kel. 25:9).

Sebagai anak-anak Tuhan, sangatlah penting bagi kita melakukan segala sesuatu menurut kehendak-Nya. Sebenarnya, di mata Tuhan, kita lebih dari sekadar anak. Dia menyebut kita “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1Ptr. 2:9a). Oleh karena itu, kita punya kewajiban khusus untuk mematuhi perintah-Nya.

Saat pentahbisan Bait Suci, Salomo memanjatkan doa untuk bangsa Israel. Setelah itu, Allah menampakkan diri untuk meyakinkan bahwa doa Salomo telah didengar, dan berjanji akan terus menyertai apabila Salomo tetap memegang perintah-Nya (1Raj. 9:1-9; 2Taw. 7:12-22). Tuhan berfirman:

 

Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini. (2Taw. 7:14-15)

 

Kata-kata ini menggarisbawahi sikap yang harus dimiliki umat pilihan Tuhan ketika mencari Dia: dengan rendah hati, mencari wajah-Nya melalui doa, dan menjauhkan diri dari kejahatan. Kita akan mempelajari ayat 14 lebih dalam lagi untuk mempelajari cara menyembah Tuhan menurut kehendak-Nya.

 

UMAT-KU YANG ATASNYA NAMA-KU DISEBUT

Dalam Perjanjian Lama, Allah memilih bangsa Israel untuk menanggung nama-Nya. Sebagai bagian dari hubungan istimewa ini, mereka akan mengenal Allah dan bersekutu dengan-Nya melalui penyembahan.

 

“Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu—bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa?—tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.” (Ul. 7:6-8)

 

Ayat-ayat ini mengungkapkan betapa Tuhan mengasihi umat-Nya, dan betapa berharganya mereka bagi-Nya. Sebagai “umat kesayangan-Nya,” mereka sangatlah berharga

Tetapi, Dia juga mengetahui kelemahan mereka. Mereka hanyalah bangsa kecil dibandingkan dengan bangsa lain. Tetapi yang lebih penting, mereka terus-menerus bersungut-sungut melawan-Nya, memandang rendah nabi-nabi yang diutus-Nya untuk memperingatkan mereka, dan meninggalkan Dia untuk menyembah berhala. Mereka tidak layak menerima kasih-Nya. Tetapi Tuhan adalah Tuhan maha pengasih yang memegang janji-Nya. Di sini, Ia mengingatkan bangsa Israel bahwa mereka mengalami kasih karunia sedemikian rupa oleh karena kasih dan kesetiaan-Nya.

Hari ini, kita juga merupakan kepunyaan Tuhan dan sangat berharga di mata-Nya. Ketika kita dibaptis, kita menjadi umat Israel rohani, keturunan Abraham dan pewaris janji Allah, tanpa memandang latar belakang suku atau budaya kita (Gal. 3:26-29). Oleh karena itu, Tuhan melihat kita sebagai orang-orang yang lebih dari semua orang lain di atas muka bumi ini. Ini bukan berarti kita bisa menyombongkan status kita sebagai anak-anak Tuhan; melainkan kita harus melihatnya sebagai berkat bersyarat, yakni harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Sebagai penyembah Tuhan yang sejati dan penerima kasih-Nya, kita juga harus mengulurkan kasih kita kepada mereka yang memerlukan. Dan kita harus menjaga diri tetap kudus dan terpisah dari dunia demi menjaga status mulia tersebut (Yak. 1:27).

Sebagai umat Tuhan, marilah kita menyadari status kita yang kudus dan mengetahui bahwa Tuhan Allah kita adalah satu-satunya Tuhan yang patut kita sembah. Janganlah kita menganggap hubungan istimewa dengan Tuhan ini hal yang sudah sewajarnya. Melainkan, marilah kita menanggapinya dengan rendah hati kepada Tuhan kita.

 

UMAT-KU AKAN MERENDAHKAN DIRI MEREKA

Untuk menyembah Tuhan menurut firman-Nya, kita harus rendah hati. Rendah hati di hadapan Tuhan dan manusia merupakan kebajikan yang harus dimiliki oleh semua anak Tuhan (Tit. 3:2; 1Ptr. 5:5). Meskipun kerendahhatian di hadapan manusia dapat dipalsukan, tidaklah mungkin untuk menyembah Tuhan dengan kerendahhatian yang palsu, karena Dia mengetahui isi hati kita. Oleh karena itu, kita harus mempersembahkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa rasa hormat dan kagum yang paling takzim, karena kita hanyalah debu di hadapan-Nya. Tahu akan kelemahan jasmani kita, Dia telah menyediakan banyak petunjuk dan peringatan untuk mencegah kita terjatuh ke dalam jerat Iblis. Sayangnya, sejarah Alkitab menunjukkan bahwa anak-anak Tuhan entah terlalu keras kepala untuk menyadari kebaikan Tuhan, atau menolak untuk tunduk pada kemahakuasaan Tuhan. Bagaimana dengan kita hari ini? Yesus berfirman:

 

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup." (Yoh. 5:24)

 

Sebagai anak-anak Tuhan, kita telah menerima anugerah yang luar biasa, karena melalui mendengar dan percaya akan firman-Nyalah kita dapat pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Tetapi mendengar dan percaya saja tidaklah cukup, kita juga harus mengerti dan menerapkan firman-Nya dalam hidup kita. Firman Tuhan—perintah, peringatan, dan pengajaran di dalam Alkitab—adalah firman yang hidup, yang tidur saat tertera di halaman kitab, tetapi menjadi hidup melalui tindakan nyata.

Tuhan adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia mahakuasa dan mahatahu. Sebaliknya, sebagai manusia, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita di menit berikutnya. Oleh karena itu, Petrus menulis: “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (1Ptr. 5:6). Sebelum membuat keputusan, kita harus berdoa memohon pimpinan Tuhan. Dan ketika kita menerima pimpinan-Nya, kita harus tunduk dengan rendah hati pada kehendak-Nya, meskipun tidak sesuai dengan keinginan kita. Jika kita berbuat demikian, Dia akan meninggikan kita pada waktunya dan memberkati apa pun yang kita lakukan.

Setiap jemaat harus memiliki kerendahhatian serupa ini, atau gereja akan menghadapi perpecahan dan keretakan akan terjadi sehingga Iblis mendapatkan keuntungan. Seandainya ada perbedaan pendapat dan ajaran sesat di gereja, kita harus menyelesaikannya dengan kasih, seperti kata Paulus:

 

“Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik. Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu, tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegurlah dia sebagai seorang saudara.” (2Tes. 3:13-15)

 

Kita mungkin mengalami penolakan dan perlawanan ketika berusaha menjadi penengah, tetapi kita harus “tidak jemu-jemu berbuat apa yang baik.” Gereja Tuhan terdiri dari orang-orang yang tidak sempurna. Perselisihan mungkin sulit diselesaikan, tetapi jawabannya adalah agar semua pihak dipimpin oleh kerendahhatian. Jika ada orang yang tidak mematuhi firman Tuhan, kita harus menegurnya dengan penuh kasih, dan tanggapannya mungkin akan lebih positif. Dan jika kita berada di sisi sebaliknya, sebagai orang yang ditegur oleh seorang saudara, maka kita harus menerimanya dengan pikiran yang rendah hati untuk menjaga ikatan damai sejahtera (Ef. 4:3). Apabila orang menolak untuk dikoreksi setelah berulang kali ditegur, sehingga perpecahan terus terjadi, harus diambil tindakan untuk mencegah semakin banyak orang disesatkan. Bahkan, ayat 14 berkata agar kita “jangan bergaul” dengan orang-orang seperti ini.

 

UMAT-KU AKAN BERDOA DAN MENCARI WAJAH-KU

Dalam kehidupan ibadah kita, doa adalah bentuk langsung penyembahan kepada Tuhan. Dalam doa, kita dapat memuji Tuhan dan memanjatkan permohonan kepada-Nya. Meskipun Dia sudah mengetahui isi hati kita, ketika kita berlutut berdoa, kita merendahkan diri di hadapan-Nya. Kita berbicara kepada Tuhan yang tak kasat mata, dan kita perlu iman untuk percaya bahwa Dia mendengarkan. Ini juga menunjukkan bahwa kita membutuhkan Tuhan. Dalam doa, kita merenungkan kehidupan kita, apakah kita telah berdosa terhadap Tuhan atau saudara-saudari kita. Kita juga merenungkan berkat-berkat yang telah kita terima dengan cuma-cuma, yang mengingatkan kita akan hadirat Tuhan dalam hidup kita. Singkatnya, doa membantu memupuk iman dan kebersandaran kita kepada Tuhan.

Terlebih lagi, Tuhan berkenan pada doa orang jujur (Ams. 15:8). Sebagai anak-anak-Nya, marilah kita berbicara kepada Tuhan dalam doa sesering mungkin, tetapi marilah kita juga berupaya untuk menjalani hidup dalam kebenaran. Dengan demikian, kita dapat berdoa sesuai dengan kehendak-Nya.

Akhirnya, Tuhan ingin agar kita mencari wajah-Nya. Mencari wajah-Nya adalah mengejar pemahaman yang lebih mendalam tentang Dia. Tetapi mengapa kita harus melakukannya?

 

Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus,

biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN!

Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya,

carilah wajah-Nya selalu!

Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya,

mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya.

(Mzm. 105:3-5)

 

Jika kita mencari wajah-Nya dan senantiasa mengingat perbuatan ajaib dan kuasa-Nya, kita dapat menerima kekuatan dari-Nya. Bagaimana kita mencari wajah-Nya? Dengan mematuhi perintah-Nya. Tetapi pada saat yang sama, kita juga membutuhkan kekuatan untuk melakukan perintah-Nya, untuk menolak godaan dan memadamkan panah api dari Iblis. Sebenarnya, tindakan tunduk pada kehendak Tuhan itu sendiri merupakan sumber kekuatan, yang memungkinkan kita untuk menolak rencana Iblis (Yak. 4:7). Dengan mencari wajah Tuhan, kita dengan sadar “berbalik dari jalan-jalan yang jahat” (2Taw. 7:14); kita berbalik dari kegelapan kepada terang, dan dari kuasa Iblis kepada Allah (Kis. 26:18). Hanya ketika kita sudah berbalik dari dosa, doa kita akan didengar dan kita dipulihkan dari dosa (2Taw. 7:14; Kis. 26:18). Tuhan tidak akan menerima ibadah kita jika kita terus berada di jalan yang sesat. Inilah sebabnya kita harus lebih jauh lagi mencari Tuhan dan kehendak-Nya.

Untuk mencari, atau meneliti, dibutuhkan waktu dan tenaga. Tidaklah cukup untuk hanya mengenal Tuhan dengan cara meneliti Alkitab. Kita tetap perlu mengalami Tuhan dalam hidup kita untuk memahami siapa Dia sebenarnya. Lihatlah Ayub, yang mengalami salah satu penderitaan terburuk dalam sejarah. Ujian yang dihadapinya sangatlah berat sehingga banyak orang yakin bahwa Ayub adalah mitos, atau bahwa cobaannya hanyalah kiasan. Sepanjang masa sengsaranya, Ayub berdiri teguh di hadapan Tuhan. Di matanya dia tidak bersalah, tetapi dia tahu bahwa Tuhan berhak melakukan apa pun yang diinginkan terhadapnya. Kekuatan Ayub untuk bertahan berasal dari pengetahuannya tentang Tuhan. Tetapi menjelang akhir penderitaannya, ketabahannya mulai goyah. Persis ketika dia hendak menyerah, Tuhan berbicara kepadanya melalui badai, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan retorika. Percakapan ini mengungkapkan kemahakuasaan Tuhan yang sejati (Ayub 38-41). Setelah ini, Ayub berkata: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayb. 42:5).

Sangatlah penting bagi kita untuk akrab dengan Alkitab, tetapi kita tidak bisa bersandar pada hal ini semata untuk mengenal Tuhan. Kita mungkin dapat mengutip ayat-ayat Alkitab dan tahu letak pasal-pasal tertentu di dalam Alkitab, tetapi jika kita tidak menerapkan ajaran-ajarannya, pengetahuan tersebut menjadi sia-sia.

Kita juga tidak bisa mengenal Tuhan melalui apa yang dikatakan orang kepada kita. Tanpa hubungan pribadi dengan Tuhan, iman kita tidak berarti apa-apa. Bagaimana kita dapat termotivasi untuk untuk menerapkan dengan segenap hati apa yang telah kita baca dan dengar jika kita tidak mengasihi Tuhan dan mengenal-Nya secara pribadi?

 

KESIMPULAN

Sejak zaman Perjanjian Lama, perintah Tuhan kepada umat-Nya tentang tata cara penyembahan dan pelayanan mereka sangatlah jelas. Tetapi, kita seringkali berada di bawah standar Tuhan dan status kita sebagai bangsa yang kudus. Oleh karena itu, marilah kita mencari kehendak Tuhan dengan senantiasa lebih mendekatkan diri kepada-Nya dalam doa kita sehari-hari, merenungkan firman-Nya siang dan malam, menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan menjauhkan diri dari dosa. Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus menyembah Dia menurut kehendak-Nya—dalam kerendahhatian, doa, dan mencari-Nya dalam kehidupan ibadah kita.