Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Mereka Pergi Setelah Menerima Berkat, dan Melupakan Aku  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

MEREKA PERGI SETELAH MENERIMA BERKAT, dan MELUPAKAN AKU

 

Saya pernah membaca sebuah artikel tentang seperangkat kemasan mebel dari sebuah peritel terkenal yang dijuluki “Pembuat Perceraian”[1]. Seorang penasihat pernikahan terkenal di Amerika mengaku bahwa merakit kemasan mebel ini bersama pasangan Anda adalah ujian besar bagi hubungan Anda berdua. Sebagai bagian dari sesi terapi pasangan, penasihat ini meminta klien-nya untuk merakit mebel itu bersama-sama, untuk melihat bagaimana mereka bekerja sebagai satu tim. Dalam sesi itu, pasangan seringkali bertengkar, dan beberapa bahkan memikirkan untuk bercerai. Gagasan di balik sesi ini, adalah apabila pernikahan Anda dapat bertahan merakit mebel itu, pernikahan Anda dapat bertahan melalui apa pun.

            Tentu saja, merakit mebel bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan hubungan suami-istri yang sehat. Ada banyak sekali rintangan dalam memelihara pernikahan yang baik. Dan bahkan lebih banyak lagi apabila kita memikirkan tentang hubungan rohani kita dengan Allah, yang disebutkan Alkitab sebagai hubungan suami dan istri (Hos. 2:16-20).

            Nabi Hosea melayani di masa pemerintahan Raja Yerobeam II di kerajaan Israel utara. Di masa itu, hubungan antara Allah dengan umat-Nya merenggang – sebegitu rupa sehingga Allah mengancam akan menceraikan istri-Nya (Hos. 2:2) dan memisahkan diri-Nya dari umat-Nya (Hos. 1:8). Mengapa Allah ingin melakukannya? Apakah yang menyebabkan perpecahan hubungan yang istimewa ini? Setelah kita mempelajari dan merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini, kita dapat memahami bagaimana memelihara dan melanggengkan hubungan yang dekat dengan Allah.

 

ALLAH TELAH MEMBERIKAN IDENTITAS DAN STATUS ISTIMEWA KEPADA KITA

Di masa sejarah Israel ini, setelah berlalunya pemerintahan Salomo yang makmur (Hos. 1:1) dan sebelum jatuhnya kerajaan utara (Hos. 10:5, 6) – bangsa Israel hidup dalam masa yang relatif nyaman dengan perekonomian yang maju pesat (Hos. 2:5; 4:7). Namun di tengah kemajuan ini, tampaknya bangsa Israel melupakan Allah mereka. Allah melihat bahwa umat-Nya telah melupakan status istimewa mereka sebagai umat pilihan-Nya:

 

“Adukanlah ibumu, adukanlah, sebab dia bukan isteri-Ku, dan Aku ini bukan suaminya; biarlah dijauhkannya sundalnya dari mukanya, dan zinahnya dari antara buah dadanya,  supaya jangan Aku menanggalkan pakaiannya sampai dia telanjang, dan membiarkan dia seperti pada hari dia dilahirkan, membuat dia seperti padang gurun, dan membuat dia seperti tanah kering, lalu membiarkan dia mati kehausan.” (Hos. 2:2-3)

 

Allah menyatakan bahwa Ia bukan lagi suami Israel dan umat-Nya bukan lagi istrinya. Israel telah berlaku seperti perempuan sundal dengan allah-allah lain dan melupakan statusnya sebagai bangsa kudus Allah. Allah murka karena umat-Nya telah melupakan hubungan istimewa mereka dan malah mengejar-ngejar allah-allah lain di wilayah itu.

            Di dunia sekitar kita, ada banyak hal yang dapat membentuk identitas kita, dan ada banyak sisi yang dapat kita adopsi. Orang suka terlihat sebagai murid atau orang tua yang baik, atau pakar dalam profesinya. Dan banyak orang berusaha mencapai standar tinggi dalam kecantikan, kesehatan, dan status sosial. Seringkali kita meluangkan banyak waktu dan sumber daya untuk membangun identitas-identitas ini. Pelajar menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar sebelum ujian. Beberapa profesional menimbun buku-buku teks itu saat mereka mempersiapkan sertifikasi atau mengejar karir. Orang tua bekerja habis-habisan untuk mencari nafkah bagi anak-anak, namun tetap merasa bersalah karena tidak meluangkan cukup waktu bagi mereka. Dan wirausahawan berjuang keras memisahkan pekerjaan dari waktu pribadi mereka. Membagi-bagi prioritas dan waktu yang saling bersaing tampaknya merupakan bagian yang terus berlangsung dan integral dalam hidup kita hari ini.

            Dalam hal identitas Kristiani, kita dapat melakukan kesalahan dengan memandangnya seperti identitas-identitas kita yang lain. Sebagian orang mungkin berpikir identitas ini memakan terlalu banyak usaha. Namun sesungguhnya, status kita dalam Kristus tidak bergantung pada usaha atau perbuatan kita. Sebaliknya, Allah telah memberikan identitas baru ini kepada kita (Rm. 3:23-26). Yesus mati di kayu salib, mengambil identitas kita sebagai orang berdosa, dan memberikan identitas-Nya sendiri kepada kita. Yang sekarang perlu kita lakukan adalah hidup oleh Roh, dengan memelihara status kita yang kudus (Rm. 8:13).

            Kita harus mensyukuri identitas kita sebagai anak Allah, status yang sangat berharga, yang kita capai bukan karena usaha kita sendiri. Walaupun kita tidak layak, Allah menyelamatkan kita karena kasih karunia-Nya.

            Dengan menyerahkan hidup kita kepada Roh, identitas kita dalam Kristus melampaui identitas-identitas kita yang lain yang bersifat duniawi. Kita adalah anak-anak Allah. Sisanya – pendidikan, karir, kekayaan, dan status sosial – adalah nomor dua. Inilah yang dilupakan oleh bangsa Israel. Mereka malah berfokus pada allah-allah lain di daerah itu dan meninggalkan hubungan mereka dengan Allah.

            Jadi sikap seperti apakah yang kita miliki apabila kita mensyukuri status kita sebagai anak-anak Allah yang dikasihi-Nya? Salah satu yang disampaikan Kitab Hosea adalah sikap kita pada berkat-berkat dalam hidup kita.

 

ALLAH ADALAH SUMBER SEGALA BERKAT DALAM HIDUP KITA

Bangsa Israel secara keliru menghubungkan berkat-berkat mereka pada allah-allah lain di daerah itu:

 

“Tentang anak-anaknya, Aku tidak menyayangi mereka, sebab mereka adalah anak-anak sundal. Sebab ibu mereka telah menjadi sundal; dia yang mengandung mereka telah berlaku tidak senonoh. Sebab dia berkata: Aku mau mengikuti para kekasihku, yang memberi roti dan air minumku, bulu domba dan kain lenanku, minyak dan minumanku.” (Hos. 2:4-5)

 

            Israel mengira allah-allah daerah itu menyediakan segala kebutuhan dan berkat bagi mereka. Dengan kata lain, mereka mengira semua berkat-berkat mereka datang dari Baal. Mereka tidak melihat Allah sebagai sumber berkat-berkat mereka yang sungguhnya.

            Hari ini, kita mudah sekali jatuh ke dalam perangkap yang sama, menghubungkan keberhasilan atau berkat kita dengan sumber-sumber lain selain Allah. Misalnya, kita dapat mengira:

1.                  Usaha saya berhasil karena lokasi yang strategis.

2.                  Karir saya terus berhasil karena atasan saya mempunyai hati untuk membangun kemampuan saya melalui berbagai pelatihan.

3.                  Pengharapan hidup kita satu-satunya ada pada intervensi politik dan pemerintahan, dengan menetapkan kebijakan-kebijakan baru yang melindungi kesejahteraan dan pelayanan sosial, menyokong usahawan, memelihara pendidikan anak-anak dan kesehatan warga negara.

4.                  Keberhasilan saya adalah karena kerja keras dan ambisi – saya mencapai ini semua karena kegigihan saya.

            Sebagai orang Kristen, kita harus menyadari bahwa keberhasilan dan kekayaan berasal dari Allah. Allah-lah yang menyediakan kesempatan dan memberikan jalan untuk menerima berkat-berkat itu. Pemikiran selain itu akan menyeret kita untuk percaya pada kemampuan diri sendiri dan kesempatan yang diberikan masyarakat. Ini menyebabkan pola pikir yang mengkhianati Allah. Apabila kita menghubungkan keberhasilan kita pada hal-hal selain Allah, kita akan mengangkat hal-hal itu untuk menjadi allah kita dan sumber berkat. Inilah kejatuhan Israel, ketika mereka lupa dengan Allah mereka yang benar (Hos. 2:13). Mereka hidup seolah-oleh Allah tidak ada. Pandangan mereka kepada Baal mendorong mereka hidup serong.

            Apabila kita ingin memelihara hubungan yang kuat dengan Allah, sikap yang sehat adalah dengan melihat Allah sebagai satu-satunya Pemelihara agung dalam hidup kita:

1.                  Ketika usaha kita sehat dan menguntungkan, kita mensyukuri Allah telah memberikan kita kuasa untuk menghasilkan untung (Ul. 8:18).

2.                  Ketika kita menerima hasil ujian yang baik, kita menyadari bahwa Allah telah memberkati kita dengan pengetahuan dan kemampuan untuk belajar (Dan. 1:17).

3.                  Ketika kita melihat kehidupan kita yang nyaman dan sejahtera, kita tahu bahwa Allah telah memberkati kita dengan kesempatan dan keadaan yang baik untuk membangun kehidupan – sekolah yang tepat, pemerintahan yang baik.

            Dengan mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya sumber berkat, kita akan didorong untuk menyembah-Nya dan memanjatkan puji syukur dengan hati yang berterima kasih.

 

ALLAH ADALAH BERKAT YANG TERUTAMA

Dengan jelas Allah memperingatkan agar umat pilihan-Nya tidak berzinah dengan allah-allah lain. Ia akan kembali untuk mencabut berkat-berkat dan pemeliharaan-Nya (Hos. 2:9), menyingkapkan kesalahan-kesalahan mereka (ay. 10), sehingga semua kesenangan mereka hilang (ay. 11), menghancurkan pohon anggur mereka (ay. 12), dan menghukum mereka karena perzinahan mereka dengan Baal (ay. 13). Penghakiman yang keras ini terjadi “karena hari-hari ketika dia membakar korban untuk para Baal, berhias dengan anting-antingnya dan kalungnya, dan mengikuti para kekasihnya dan melupakan Aku.” (Hos. 2:13).

            Israel sebenarnya tidak benar-benar tertarik dengan Allah, tetapi dengan makanan dan kekayaan. Apabila Baal dapat menyediakannya, Israel akan pergi kepada Baal. Tetapi apabila ia menganggap TUHAN dapat memberikan berkat lebih banyak, ia akan pergi kepada TUHAN: “Aku akan pulang kembali kepada suamiku yang pertama, sebab waktu itu aku lebih berbahagia dari pada sekarang.” (Hos. 2:7b) Israel tidak mencari Allah, tetapi hanya mencari berkat-berkat-Nya saja.

            Allah menghendaki agar kita melihat melampaui berkat-berkat-Nya. Orang-orang percaya yang memelihara hubungan yang sehat dengan Allah adalah mereka yang terus menyembah-Nya di waktu suka maupun duka. Seperti pernikahan, ada janji untuk saling mensyukuri di masa suka maupun duka, bagaimana pun keadaan kita.

            Hal yang terutama, Allah adalah berkat kita. Ia ingin agar kita mencari Dia, bukan berkat-berkat-Nya saja.

 

KESIMPULAN

Pesan Hosea masih berlaku bagi kita hari ini. Di dunia yang kompetitif, ketika fokus kita banyak tersedot pada tempat kita dalam masyarakat, kita harus merenungkan apakah kita telah melupakan status yang diberikan Allah. Kita dibeli dan dimuliakan dengan darah Kristus. Kita harus menaruh fokus kita pada keselamatan yang diberikan Allah kepada kita. Ini adalah satu-satunya hal yang tidak dapat kita peroleh dengan usaha kita sendiri. Inilah sebabnya kita harus mensyukuri status kita yang berharga dalam Kristus dan mengejar hubungan yang lebih kuat dengan Allah.

            Kita harus menyadari bahwa sebagai umat pilihan Allah, kita dilimpahi berkat-berkat-Nya. Mari kita mengakui dan memuji Allah sebagai sumber segala berkat dan keberhasilan kita. Dan kiranya kita berusaha melihat melampaui berkat-berkat itu dan mencari Allah semata-mata, yang adalah berkat kita yang terbesar, dalam suka maupun duka. Dengan pola pikir seperti ini, hubungan kita dengan Allah akan tetap kuat, apa pun yang terjadi di jalan hidup kita.

 

[1] http://www.express.co.uk/life-style/life/572720/know-your-relationship-will-work-Try-IKEA-rage-test