Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Para Pekerja dalam Kisah Para Rasul  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Para Pekerja dalam Kisah Para Rasul

 

Ketika kita membaca kitab Kisah Para Rasul, kita melihat semangat luar biasa para pekerja Tuhan. Pelayanan mereka dijabarkan dengan keberanian, keyakinan, dan kekuatan mereka dalam Roh Kudus, dan juga dengan kerendahan hati dan kemauan mereka untuk belajar. Semangat yang dimiliki gereja para rasul dalam melayani Tuhan merupakan pedoman bagi pelayanan kita hari ini. Dalam artikel ini, kita akan melihat sikap tiga pekerja awal, Petrus, Paulus, dan Apolos, yang patut kita teladani.

 

KEBERANIAN UNTUK MENGATAKAN KEBENARAN

Setelah kematian Yesus, Petrus berada di antara murid-murid yang bersembunyi di balik pintu yang tertutup karena takut pada orang-orang Yahudi. Namun, setelah dia melihat Kristus yang bangkit dari kematian, menyaksikan kenaikan-Nya, dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan (Luk. 24:50-53, Yoh. 20:19, Kis. 2:1-4), hatinya berubah. Dia menerima hati yang penuh keberanian, yang memampukannya untuk keluar dan memberitakan kebenaran ke seluruh dunia.

Setelah menerima karunia Roh Kudus, Petrus langsung mulai berkhotbah tentang Yesus di Yerusalem. Dengan berani Dia berdiri bersama kesebelas murid yang lain dan berkhotbah kepada orang-orang Yahudi yang berkumpul dari seluruh negeri di kolong langit (Kis. 2:14). Dalam khotbahnya, Petrus dengan percaya diri mengatakan kepada mereka bahwa Yesus, yang telah mereka bunuh “tidak sesuai hukum”, adalah Kristus yang selama ini mereka nanti-nantikan (Kis. 2:22-23).

Dengan segenap hati nurani yang baik, Petrus secara terus terang memberitakan apa yang telah ia saksikan bersama murid-murid lainnya, bahwa Yesus yang telah mereka bunuh,sungguh-sungguh telah bangkit kembali. Dia memberitahukan mereka, "Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi" (Kis. 2:32). Anda dapat merasakan kebenaran mengalir melalui diri Petrus ketika dia menceritakan kenaikan Yesus, tanpa menutupi apa pun (Kis. 2:33).

Kemudian Petrus, yang dipenuhi dengan hikmat dan keyakinan melalui Roh Kudus, bersaksi bahwa Yesus yang ditinggikan ini adalah Dia yang mencurahkan Roh Kudus ke atas mereka, membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Kristus. Itu adalah penggenapan dari apa yang Tuhan telah firmankan melalui Nabi Yoel: “Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia.” (Kis 2:17) Orang Yahudi tidak dapat menyangkal kebenaran ini, karena mereka percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Tuhan itu esa (Ul. 6:4); sehingga hati mereka sangat terharu. Hal ini terjadi karena Roh Tuhan mengilhamkan Petrus untuk memberitakan Injil dengan berani (Mat. 10:20; Luk. 12:12).

Pada akhir zaman, Gereja Yesus Sejati memerlukan jemaat, khususnya pemuda, yang lebih dari sekadar mengenal beberapa ayat Alkitab yang menjelaskan dasar kepercayaan. Kita memerlukan lebih banyak orang yang berakar kuat dalam iman, yang dengan penuh keyakinan dan keberanian membagikan kebenaran. Karena hanya pada saat kebenaran diberitakan dengan berani, barulah orang akan mendapat kesempatan untuk mendengar dan memutuskan untuk mengikuti kebenaran demi keselamatannya. Jadi, jika Anda tidak tahu, bertanyalah.Jika Anda hanya tahu sedikit, tambahkan, dan bagikanlah. Semakin  banyak yang Anda ketahui, semakin lebar cakupan orang-orang yang dapat Anda bagikan kebenaran. Oleh karena itu, marilah kita belajar dari semangat keyakinan Petrus dan melengkapi diri kita dengan pengetahuan yang lebih dalam akan kebenaran sehingga kita juga mampu memberitakan injil dengan berani.

 

TAK HENTI-HENTINYA MAJU DAN TERUS MAJU

Tidak seperti Petrus, Paulus sejak awal adalah orang yang pemberani. Maka, sebagai seorang yang baru bertobat, dia menjalani imannya  yang baru dengan penuh semangat: dengan segera ia memberitakan Kristus di rumah ibadat, bahwa Dia adalah anak Allah. (Kis. 9:20).

Dia tidak malu-malu memberitahu semua orang bahwa dia telah keliru dan bahwa Yesus adalah Kristus (Kis. 9:22). Bahkan ketika berhadapan dengan ancaman kematian, Paulus tetap berbicara dengan berani dan berdebat dengan orang-orang yang memegang keyakinan keliru layaknya dia dahulu sebelum bertobat (Kis. 9:29). Dalam pelayanannya, Paulus banyak mengalami kesukaran: dia diusir dari sebuah kota (Kis. 13:50-51), dilempari batu dan ditinggalkan begitu saja (Kis. 14:19), bahkan berhadapan dengan perselisihan di dalam gereja (Kis. 15:1-5). Tetapi dia tidak pernah menyerah; dia terus dengan berani pergi ke mana pun Yesus mengutusnya, dibekali dengan misi yang diberikan Yesus kepadanya, seperti yang telah Yesus katakan: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” (Kis. 9:15-16) Selain itu, Yesus secara pribadi memberitahukan Paulus, “Pergilah, sebab Aku akan mengutus engkau jauh dari sini kepada bangsa-bangsa lain.” (Kis. 22:21) Jadi, meskipun harus menghadapi laut yang bergelora dan dipagut ular berbisa, Paulus terus memberitakan Injil, bahkan sampai ke Roma (Kis. 28:14-16).

Kehidupan Paulus menunjukkan semangat yang harus dimiliki jika kita ingin menyelesaikan misi kita di akhir zaman: kita harus memiliki dorongan yang tidak henti-hentinya seperti Paulus untuk memenuhi kehendak Tuhan! Hari ini banyak saudara-saudari dalam gereja kita yang telah berkorban untuk bergabung dalam misi pemberitaan Injil. Bermitra dengan para pendeta dan relawan lainnya, mereka menghadapi tantangan yang sebenarnya dapat mereka hindari jika mereka memilih bertahan dalam kenyamanan rumah mereka. Namun mereka tetap pergi ke negeri yang jauh, menantang kesukaran dan memberikan apa yang mereka miliki kepada mereka yang haus akan Injil sejati. Kesaksian mereka merupakan teladan yang harus kita ikuti dan menjadi pendorong bagi kita.

Kita semua harus memiliki visi bahwa Gereja Yesus Sejati tidak dibatasi oleh batas gereja lokal kita. Gereja kita sama seperti sebuah anggota dari seluruh tubuh Kristus. Tubuh Kristus dibentuk dari anggota dan jemaat di seluruh dunia. Beberapa wilayah memiliki banyak pekerja untuk memelihara gereja di sana. Gereja-gereja di wilayah lain membutuhkan pekerja yang lebih banyak lagi untuk pergi lebih jauh demi pelayanan mereka, sehingga suatu saat mereka bisa berdiri sendiri, menjadi mandiri, mengenal kebenaran dan meneruskannya. Mengapa tidak berdoa agar hati tergerak? Mengapa tidak membiarkan kasih Tuhan mendorong kita untuk bergerak melampaui zona nyaman? Mengapa tidak bersandar pada Tuhan dan biarkan Dia menunjukkan kasih karunia-Nya bekerja pada mereka yang kita layani?

 

MAU DINASIHATI, NAMUN SEMAKIN TEGAR

Pekerja lain yang dicatat dalam Kisah Para Rasul adalah Apolos; dia bukanlah orang Yahudi biasa dan memiliki kualitas yang sangat diinginkan banyak orang. Dia pandai bicara dan mahir akan Kitab Suci, yang berarti dia memiliki pemahaman lebih mengenai Alkitab. Dia dibesarkan di jalan Tuhan, yang berarti dia telah mengabdikan banyak waktu untuk mempelajari kebenaran. Ia tentu telah mempunyai kesadaran mengenai apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Kristus dan bagaimana nubuat itu digenapi. Tidak ada orang yang dapat meragukan kredibilitas Apolos sebagai pemberita firman Tuhan. Dia tidak berbicara tanpa persiapan, namun memastikan agar apa yang dikatakannya benar (Kis. 18:25). Meskipun dia adalah seorang pemula, “Dia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat.” (Kis. 18:26a) Apabila orang berbicara dengan berani, tentunya dia yakin bahwa pengetahuannya benar dan sempurna.

Bayangkan jika Anda adalah Apolos. Anda memiliki semangat yang berkobar-kobar (Kis. 18:25), namun kemudian Priskila dan Akwila, pasangan yang pekerjaannya tukang kemah (Kis. 18:3), mendengar Anda berkhotbah dan menarik Anda untuk menunjukkan kekeliruan Anda (Kis. 18:26b). Bagaimanakah perasaan Anda? Apolos bisa saja merasa dipermalukan hingga tidak mau berbicara lagi karena takut salah. Atau bisa saja dia menjadi marah karena harga dirinya terinjak, dan mengacuhkan niat baik pasangan tersebut, serta terus menyebarkan ajaran keselamatan yang tidak sempurna. Namun bukannya bersikap pasrah dan pesimis, sebaliknya Apolos mau dinasihati dan semakin tegar: “Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya ... dia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya; Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.” (Kis. 18:27-28)

Di akhir zaman, pilar masa depan gereja harus maju untuk menghadapi tantangan yang ada di depan. Memiliki hati dan ketekunan merupakan awal yang baik. Mempelajari Alkitab dan melengkapi diri dengan Firman Tuhan dan pemahaman rohani amatlah penting. Namun kesan mendesak itu harus disertai pula dengan kerendahan hati dan kemauan untuk menerima nasihat. Menerima nasihat merupakan bagian dari pelayanan kita kepada Tuhan. Petrus, Paulus, Yeremia, dan Musa pernah dinasihati. Menerima teguran atau koreksi tidak mudah. Namun apabila hati kita tulus kepada Tuhan, kita tidak akan menghiraukan perasaan tidak enak saat dinasihati, dan menggenggam nilainya yang indah untuk keberlangsungan pelayanan kita kepada Tuhan dan untuk generasi-generasi selanjutnya.

 

KESIMPULAN

Marilah kita belajar dari tiga pekerja dalam Kisah Para Rasul: Petrus, Paulus, dan Apolos. Semoga kita bisa mengikuti jejak mereka untuk memiliki keyakinan untuk membagikan kebenaran, untuk terus membawa kebenaran sampai ke luar daerah dalam menghadapi  tantangan, bersikap jujur dan terbuka ketika dinasihati sehingga Tuhan dapat memakai kita. Amin.