Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Pendidikan Agama – Menciptakan Dan Memelihara Lingkungan Bagi Pertumbuhan Rohani  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Pendidikan Agama – Menciptakan  Dan Memelihara Lingkungan Bagi Pertumbuhan Rohani

 

Sejak dahulu Pendidikan Agama telah diakui sebagai bagian penting bagi masa depan kerohanian gereja dan kesejahteraan rohani setiap jemaatAkan tetapi, siapakah yang bertanggung jawab menyediakan Pendidikan Agama bagi anak muda dan juga jemaat di sepanjang hidup mereka? Strategi, sistem, dan struktur apakah yang dibutuhkan gereja untuk menyampaikan Pendidikan Agama secara efektif?

 

Pendidikan Agama ADALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA

Kita semua menyadari bahwa pendidikan sekuler berlangsung seumur hidup kita, da­­n anak-anak mudah sekali belajar dari segala hal dan dari semua orang di sekitar mereka. Tetapi sejak dahulu Tuhan telah menentukan prinsip ini. Dalam Perjanjian Lama, Ia menetapkan peringatan pada Yakub dan Hukum Taurat pada bangsa Israel dan memerintahkan orang tua untuk mengajarkannya kepada setiap generasi (Mzm. 78:5-6). Prinsip ilahi ini tidak berubah—kaum tua di antara umat Tuhan hendaklah menyampaikan hukum dan perintah Tuhan dengan setia kepada generasi penerus. Pendidikan Agama bukan hanya berlangsung dalam batasan empat sisi dinding kelas Sekolah Sabat atau Sekolah Minggu di gereja. Tanggung jawab ini juga bukan hanya dipikul oleh guru-guru agama, melainkan merupakan tanggung jawab bersama setiap orangtua dan setiap pekerja gereja.

Tuhan juga telah menetapkan tujuan Pendidikan Agama secara jelas: untuk membentuk pola pikir yang saleh dan memperingatkan bahayanya hati yang terombang-ambing (Mzm. 78:7-8). Dengan mencapai tujuan-tujuan tersebut, umat-Nya akan mampu menjalani hidup yang berpusat pada Tuhan, bagaimana pun keadaannya. Jadi, bagaimanakah kita dapat membangun lingkungan yang memungkinkan untuk menyampaikan Firman Tuhan secara efektif kepada umat-Nya?

 

MEMBANGUN LINGKUNGAN YANG EFEKTIF UNTUK PENDIDIKAN AGAMA

 

Memperlengkapi Para Pengajar Rohani dengan Kebenaran

Pengaruh utama dalam setiap sistem pendidikan adalah kualitas orang-orang yang ditugaskan untuk memberikan pendidikan, yaitu para pengajarnya. Karena para pengajar rohani ini bekerja dalam sistem pendidikan rohani, maka kualitas kerohanian mereka sangatlah penting.

Agar dapat menunaikan tugas raksasa menanamkan firman Tuhan dengan tepat dan setia, semua orang yang mengajar harus diperlengkapi dengan kebenaran. Mereka harus mencari firman Tuhan dengan hati yang penuh doa, dan memiliki hasrat yang kuat untuk selalu mengejar pengetahuan akan firman Tuhan yang lebih mendalam. Firman, pimpinan, dan kehadiran-Nya bersama kita saling terkait dengan erat. Semakin dalam hubungan kita dengan Tuhan, semakin ingin kita mempelajari firman-Nya, dan karena itu semakin rapat kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Ketika kita dekat dengan Tuhan, pimpinan dan pertolongan-Nya dalam pelayanan kita akan menjadi akibat yang alami.

Pimpinan Tuhan sangatlah penting dalam pekerjaan Pendidikan Agama. Kita harus terlebih dahulu mengajar dan menyelamatkan diri sendiri sebelum melakukannya kepada orang lain. Setelah terbebas dari dosa dan diberi kemampuan untuk mengajar, kita harus menggunakan firman Tuhan untuk mengajarkan bagaimana kita harus hidup berkemenangan saat berhadapan dengan kefasikan dan tipu-muslihat. Menyelamatkan orang lain dan diri sendiri baru bisa menjadi kenyataan jika, dan hanya jika, kita berpegang pada pola kebenaran. Pola tersebut telah diberikan oleh Roh Kudus kepada gereja (ref. 2Tim. 1:13-14) dan membentuk dasar iman kita. Apabila kita menggeser atau mengubah dasar gereja, keseluruhan imannya akan roboh, serupa dengan gedung yang runtuh dan menimpa diri sendiri saat dihancurkan. Oleh karena itu, sangatlah penting agar pengajar dilatih dan berakar dalam ajaran firman Tuhan yang sehat. Ini memastikan agar intisari ajaran-ajaran iman kita diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian, dasar gereja akan tetap utuh.

 

Mendorong Para Pengajar Rohani untuk Melakukan Apa yang Mereka Ajarkan

“Perbuatan berbicara lebih nyaring daripada perkataan”—peribahasa ini sangatlah penting bagi Pendidikan Agama yang efektif. Pendidikan Agama bukanlah sekadar kata-kata, melainkan upaya untuk menanamkan kehidupan Kristus kepada murid-murid. Prinsip-prinsip Tuhan ditunjukkan secara nyata pada saat guru menjalani kehidupan yang layak bagi Kristus. Orang-orang yang mengajarkan prinsip-prinsip Tuhan haruslah menjadi teladan bagi gereja, terutama bagi anak-anak muda, dengan menjalani hidup yang takut akan Tuhan.

Memahami pengajaran Tuhan dan melakukannya dalam tindakan nyata tidaklah selalu mudah;bagi sebagian orang, ini merupakan hal yang abstrak. Akan tetapi, berjalan dalam prinsip-prinsip Tuhan merupakan upaya yang layak kita lakukan. Bukan hanya untuk memastikan keselamatan kita sendiri, upaya kita mengamalkan firman Tuhan dalam tindakan nyata juga akan membantu jemaat, baik tua maupun muda, untuk memahami cara menjalani hidup yang saleh. Perbuatan kita seringkali berdampak lebih besar daripada sekadar ucapan.

Tantangan besar bagi para pengajar rohani adalah kefasikan lingkungan sekuler tempat kita tinggal. Ada beberapa guru Pendidikan Agama yang berusaha memisahkan hidup mereka menjadi dua bagian—“pribadi” dan “beragama”—dan berusaha menjauhkan yang satu dari yang lain. Mereka berpendapat bahwa ruang dan perilaku pribadi merupakan hak yang tidak boleh diusik. Misalnya, mereka merasa berhak untuk berperilaku seperti teman-teman mereka yang tidak seiman saat berada di luar lingkungan gereja. Akan tetapi, apabila kita sudah menerima Pendidikan Agama yang kokoh dan berakar dalam iman, kita akan tetap saleh dalam segala aspek kehidupan,dengan siapa pun kita menghabiskan waktu. Artinya,dalam berbicara, bertindak, dan berpikir, kita lebih mengutamakan prinsip-prinsip Tuhan daripada hal-hal lain, di mana pun kita berada: di rumah atau di jalan, di dalam maupun di luar gereja.

Mereka yang menanamkan firman Tuhan harus menjadi mercusuar yang memancarkan terang di dunia yang gelap ini. Kita dapat bersinar asalkan Kristus menyertai kehidupan kita. Selagi kita hidup dan berjalan dalam firman Tuhan, Firman-Nya menyinari hidup kita. Begitulah cara kerjanya. Secara alami, tidak ada seorang pun yang dapat berbuat baik di mata Tuhan—sifat manusia membutuhkan perubahan yang konstan (ref. Rm. 12:2). Akan tetapi, ketika kita mengenakan sifat Tuhan (Kol. 3:10), melakukan kebaikan akan menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri kita (ref. Ef. 2:10). Kemampuan untuk berbuat baik secara alami itu dengan sendirinya akan menjadi teladan yang bersinar bagi semua orang.

 

Kembali ke Tempat yang Diinginkan Tuhan bagi Kita

Yesus pernah berkata bahwa Dia akan memberikan kuasa kepada murid-murid-Nya untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan yang jahat, sehingga tidak ada yang membahayakan mereka (Luk. 10:19). Ini adalah janji yang sangat meyakinkan dari Tuhan, namun banyak di antara anak-anak kita (dan jemaat dewasa) yang terbelenggu oleh kuasa si jahat. Sangat disayangkan, sebagian dari mereka memegang sikap-sikap non-Kristen dan bertingkah laku serupa dengan orang yang tidak percaya. Mereka menjalani kehidupan yang sama sekali terpisah dari kehidupan Kristus.

Salah satu penyebab penyimpangan iman ini adalah pengaruh Iblis pada keluarga Kristen hari ini. Strategi-strategi Iblis itu licik, halus, canggih, dan sangat sulit dikenali tanpa hikmat dari Tuhan. Alkitab memperingatkan kita agar tidak mendekati tempat-tempat yang merupakan perangkap rohani. Akan tetapi, masyarakat telah berkembang sedemikian rupa sehingga kita tidak perlu melangkah keluar rumah untuk menghadapi serangan dan pengaruh secara bertubi-tubi. Semakin majunya perangkat hiburan dan media dalam rumah membuat serangan rohani terhadap anak-anak Tuhan semakin gencar. Film, serial drama televisi, dan permainan maya (video game) mungkin tampak seperti hiburan yang tidak berbahaya, namun nilai-nilai dan perilaku yang dipaparkannya merupakan racun yang disuntikkan secara halus ke dalam kehidupan rohani kita. Hiburan-hiburan ini menumpulkan kepekaan kita terhadap dosa dan meningkatkan rasa haus kita akan kenikmatan dunia; dan apabila dibiarkan saja, hal ini akan menyebabkan kelemahan dan bahkan kematian rohani.

Terpisah dari kasih karunia Tuhan bukanlah sesuatu yang kadang-kadang terjadi pada satu atau dua keluarga saja. Ini adalah masalah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan skalanya sungguh tak terbayangkan. Kadangkala kita merasakan kekuatan rohani kita tersedot oleh hal-hal duniawi, terseret ke dalam kelesuan yang sulit terpulihkan. Efeknya adalah kemerosotan pesat dalam iman dan semangat untuk melayani dan menyembah Tuhan —suatu tanda bahaya adanya keruntuhan rohani yang tidak boleh diabaikan.

Dalam Kitab Wahyu, perempuan itu, yakni gereja, diberi dua sayap burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempat asalnya di padang gurun, di mana ia dipelihara (Why. 12:14). Pengaruh Iblis yang merusak pada orang percaya telah menuntun gereja mengembara jauh dari tempat pertama kali Tuhan mengambilnya: di padang gurun—tempat di mana ia dipelihara. Dengan kata lain, gereja telah bergeser dari tempat ia seharusnya berada. Jika gereja tidak kembali ke tempatnya semula, ia akan dihanyutkan oleh air sebesar sungai yang disemburkan oleh ular (Why. 12:15).

 

Bagaimana Gereja Dapat Kembali?

Menurut Penatua Yohanes, kedua sayap yang diberikan kepada perempuan itu (gereja) membuatnya dapat terbang kembali ke tempatnya yang layak. Dalam Kitab Keluaran, Tuhan mengibaratkan keselamatan bagi umat-Nya seperti sayap rajawali yang membawa mereka kembali kepada-Nya (Kel. 19:4). Demikian juga, gereja hari ini hanya dapat kembali melalui kemurahan dan kuasa Tuhan.

Akan tetapi, dunia mencengkeram erat-erat saudara-saudari kita dan Iblis tidak akan melepaskan cengkeraman ini begitu saja. Selagi Tuhan menawarkan sayap-sayap tersebut, kita harus menanggapinya dengan mengambil sayap tersebut untuk terbang dengan tekad yang besar.  Musa secara khusus memberitahukan syarat-syaratnya: umat pilihan harus berkumpul untuk mendengarkan firman Tuhan dan dengan taat melakukan perintah Tuhan seumur hidup mereka (Ul. 6:2-3). Hal ini akan membuat mereka mampu menarik garis batas yang jelas untuk melawan kebobrokan dan menjaga diri sendiri di dalam Tuhan.

Berikut ini adalah empat hal utama dalam perintah Musa yang harus ditanamkan dalam hati and pikiran umat pilihan:

1.      Tuhan adalah satu-satunya Allah yang benar (Ul. 6:4)—tidak boleh ada allah lain, yang terlihat maupun yang tidak terlihat, selain Tuhan Allah. Hadirat Tuhan tidak akan menyertai orang percaya apabila ada allah lain di tengah-tengah mereka (Mzm. 81:9).

2.      Kasihilah Tuhan dengan segenap hati (Ul. 6:5)—umat pilihan harus mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa mereka. Tuhan, Allah yang cemburu, tidak akan membiarkan ketidaksetiaan (Kel. 20:5; Ul. 4:24).

3.      Menyimpan perintah Tuhan di dalam hati (Ul. 6:6)—umat pilihan harus mengikuti perintah Tuhan. Agar dapat mengasihi Tuhan sepenuhnya, kita tidak boleh menyimpang dari jalan yang telah ditentukan. Tuhan diam bersama kita apabila kita melakukan firman-Nya sepenuhnya dengan konsisten dalam hidup kita (Yoh. 15:7).

4.      Mengajar umat pilihan secara menyeluruh (Ul. 6:7–8)—umat pilihan harus mendengarkan dan mengenal setiap aspek firman Tuhan. Hanya dengan mengenal dan memahami perintah-perintah-Nyalah mereka dapat dengan sungguh-sungguh menaatinya (Ul. 11:8-9; 12:1; 13:18). Apabila kita bergiat untuk mengenal dan menuruti pengajaran-Nya, berkat-berkat yang dijanjikan Tuhan akan menyertai (Ul. 11:27).

 

MENGHADAPI TANTANGAN-TANTANGAN BARU

Banyak dari kita yang pernah melayani sebagai pengajar tidaklah asing dengan fenomena kemunduran iman yang mendadak, misalnya, pemuda teladan yang tiba-tiba tidak datang lagi ke gereja atau murid yang selalu hadir dalam setiap kelas Pendidikan Agama, pendalaman Alkitab, dan KKR siswa, terjatuh dalam godaan menjelang ia dewasa. Tuhan mengingatkan kita bahwa satu ekor domba yang hilang pun merupakan kerugian yang besar (ref. Luk. 15:1-7). Oleh karena itu, gereja (para pendeta, guru Pendidikan Agama, dan orangtua) harus selalu waspada terhadap tanda-tanda kemunduran rohani murid-murid kita, seperti hilangnya minat dalam kegiatan gereja, meningkatnya sikap ragu pada kepercayaan-kepercayaan gereja, dan sebagainya. Selain itu, gereja juga harus memperhatikan segi kehidupan modern apa saja yang secara khusus membahayakan domba-domba kita.

Mungkin ada dua aspek yang cenderung diabaikan karena tampaknya tidak merusak. Yang pertama adalah teknologi ponsel (smartphone) yang tak terelakkan. Peralatan kecil yang tadinya hanya dapat menelepon dan sms, sekarang sudah menguasai setiap sudut kehidupan kita. Alarmnya membangunkan kita di pagi hari; kalender pintar di dalamnya mengingatkan agenda kegiatan kita pada hari itu; berbagai macam konektivitas media sosial memastikan agar kita dapat menghubungi dan dihubungi kapan saja dan di mana saja; jumlah aplikasi (app) yang tak terhitung jumlahnya menyediakan berbagai perkembangan dunia dan hiburan. Bagi sebagian orang, dunia seakan hanya berputar dalam lingkup dunia maya ponsel mereka, sehingga mereka buta dengan dunia jasmani. Salah satu faktor penyumbang fenomena ini adalah dominannya media sosial dalam kehidupan kaum muda pada umumnya.

Aspek kedua adalah rekreasi, yang mencakup sekadar menonton film hingga liburan di berbagai tempat. Bagi banyak orang di antara kita, ini adalah cara untuk melepaskan dari tekanan dan kekuatiran dalam hidup kita yang sibuk. Tetapi seperti kebanyakan hal lain, apabila dilakukan secara berlebihan, rekreasi semacam ini dapat menyerap terlalu banyak waktu dan perhatian sehingga kita teralihkan dari iman. Yang lebih parah lagi, kegiatan-kegiatan yang kita kejar selama berlibur, demikian pula nilai-nilai dan perilaku yang kita serap dari film, dapat membuat kita tidak mampu membedakan mana yang sekuler dan mana yang ilahi.

 

Menyediakan Panduan

Untuk membantu menciptakan lingkungan di mana firman Tuhan siap tersedia bagi umat-Nya (ref. Ul. 6:8), gereja (para pendeta, guru-guru Pendidikan Agama, dan majelis gereja setempat) mungkin dapat mempertimbangkan untuk mengadakan satu set panduan praktis yang dapat membantu murid-murid kita menghindari ketagihan smartphone dan mengejar hiburan. Berikut ini beberapa pertanyaan yang dapat membantu kita menyusun panduan tersebut:

 

Penggunaan Ponsel yang Bijak

·         Apakah waktu teduh untuk Tuhan atau sesi doa kita sering terganggu oleh notifikasi ponsel?

·         Apakah penggunaan ponsel Anda atau anak Anda pada malam hari mempengaruhi kemampuan keluarga Anda untuk mengadakan mezbah keluarga?

·         Apakah kita menggunakan ponsel untuk mengakses situs yang tidak baik?

 

Penggunaan Media Sosial yang Tepat

·         Apakah perilaku kita di media sosial mencerminkan status kita sebagai umat Kristen?

·         Apakah kita berkecimpung dalam obrolan ngalor-ngidul dan tidak sopan, bukannya menggunakan akun media sosial kita untuk saling menguatkan, membagikan kisah-kisah yang membangun, dan mengajak teman-teman ke gereja?

·         Apakah kita menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial sehingga kita hanya punya sedikit waktu untuk memperdalam hubungan kita dengan Tuhan dan lebih banyak melayani-Nya?

·         Apakah komentar-komentar dan posting yang kita bagikan dan sukai di media sosial merusak nama baik gereja dan/atau kehidupan rohani kita?

 

Rekreasi dengan Cara yang Benar

·         Jangan sampai dilelahkan oleh kegiatan: Apakah jalan-jalan menjadikan lebih tertekan ketimbang hari kerja biasa atau sehari di rumah?

·         Mengunjungi Gereja Yesus Sejati selayaknya: Ketika kita mengunjungi tempat-tempat yang ada Gereja Yesus Sejati, apakah kita menjadi beban atau merepotkan jemaat atau gereja yang kita kunjungi?

·         Tetap saleh: Apakah kita menganggap liburan sebagai surat izin untuk memanjakan diri dalam kegiatan yang memuaskan hawa nafsu atau penuh dosa? Apakah kita masih berusaha untuk memegang hari Sabat dan menguduskannya seperti kalau kita ada di rumah, misalnya mencari gereja di tempat liburan Anda atau memegang Sabat bersama anggota keluarga atau saudara-saudari seiman? Apakah kita menyadari bahwa sikap kita dalam liburan akan mempengaruhi anak-anak muda yang memperhatikan kita? Apakah perilaku kita tanpa sengaja menjadi batu sandungan bagi mereka?

 

Terus-Menerus Menekankan Doa

Untuk memastikan bahwa kita memiliki kekuatan dan hikmat untuk menghadapai tantangan-tantangan baru yang dilemparkan oleh dunia kepada kita, doa merupakan bagian yang teramat penting. Selain mendorong jemaat untuk memiliki kehidupan doa, gereja pun harus menciptakan lebih banyak kesempatan agar jemaat dapat berdoa, misalnya, berdoa selama lima belas menit sebelum atau sesudah kebaktian atau doa saat jeda waktu kebaktian Sabat. Ketika hubungan antara kita dan Tuhan aman, dipupuk dengan pembelajaran firman Tuhan dan doa yang teratur, gereja pasti akan berdiri kokoh menghadapi segala tantangan.

 

KESIMPULAN
Menanamkan firman Tuhan sepenuhnya dan secara akurat
sangatlah penting bagi sistem Pendidikan Agama yang berhasil. Tetapi, lebih dari itu, membantu murid-murid kita untuk berjalan dalam firman Tuhan juga tidak kalah pentingnya. Tugas ini akan semakin menantang karena kita semakin terhubung dengan dunia melalui teknologi. Oleh karena itu, gereja harus menerapkan panduan dan membagikannya dalam khotbah-khotbah dan kelas Pendidikan Agama. Dengan demikian, orangtua akan dapat menanamkan perilaku takut akan Tuhan dalam diri anak-anak mereka, dan baik jemaat dewasa maupun kaum muda akan terbangun. Jemaat dewasa harus terlebih dahulu memberikan teladan yang baik dengan menjalani kehidupan yang disiplin di rumah, dan hal ini pada gilirannya akan mendorong kaum muda untuk mengikuti jejak langkah yang baik ini. Kombinasi yang sehat antara Pendidikan Agama dan bersandar pada kemurahan dan kuasa Tuhan ini pasti akan membangun gereja yang kuat dan takut akan Tuhan.