Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Pendidikan Agama adalah Perintah Allah  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Pendidikan Agama adalah Perintah Allah

 

PENDIDIKAN AGAMA: UNTUK SIAPA?

Hikmat Tiongkok tradisional memberitahukan kita bahwa ketika ada tiga orang berjalan bersama-sama, satu di antaranya adalah seorang guru (sān rén xíng, bì yŏu wŏ shī yān). Filsuf yang mengucapkan hal ini memahami bahwa guru ada di sekitar kita: kita cukup merendahkan hati untuk senantiasa belajar untuk dapat bertumbuh. Apabila kerendahan hati dan saling membangun diperlukan untuk mendapatkan hikmat duniawi, maka terlebih penting lagi untuk mempelajari Firman Allah yang hidup.

            Oleh karena itu, kita harus mengingatkan diri sendiri bahwa pendidikan agama bukan saja untuk yang muda, tetapi untuk setiap orang Kristen di segala usia. Allah berkata, “Seluruh bangsa itu berkumpul, laki-laki, perempuan dan anak-anak, dan orang asing yang diam di dalam tempatmu, supaya mereka mendengarnya dan belajar takut akan TUHAN, Allahmu, dan mereka melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini” (Ul. 31:12). Jadi tidak ada yang terlalu tua, terlalu berpendidikan, atau terlalu bijak untuk mempelajari firman Allah; Allah menghendaki agar setiap orang mempelajari kebenaran-Nya.

 

SIAPAKAH YANG HARUS MENYEDIAKAN PENDIDIKAN AGAMA?

Allah memanggil kita untuk menyembah-Nya dan mempelajari Firman-Nya sebagai satu keluarga dan satu tubuh. Ini adalah panggilan yang ditolak oleh beberapa orang, yang lebih memilih beribadah secara terpisah dari anak-anak Allah yang lain, menetapkan pelayanan yang sesuai dengan keinginan dan kenyamanan mereka sendiri. Perintah di Ulangan 12:5 tidak boleh dilupakan: “Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi.”

            Hari ini, Allah telah menetapkan gereja untuk menyandang nama-Nya. Karena gereja adalah tubuh Kristus, kita harus berkumpul di tempat pernaungan ini dan beribadah sebagai satu tubuh.

            Namun kita juga tidak boleh membatasi pengajaran kebenaran hanya pada lingkup bangunan gereja. Rumah juga merupakan tempat yang baik untuk membagikan dan mengajarkan Firman Allah. Ulangan 6:6-9 mengajarkan:

 

“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”

 

Ajaran yang ditujukan pada para orang tua ini menyebutkan pentingnya rumah sebagai lingkungan yang mendorong anak-anak untuk mempelajari Firman Allah. Ini karena di luar rumah anak-anak akan menghadapi keadaan dan tata nilai yang menentang dan menyerong iman mereka: perlunya mengejar kesuksesan duniawi, menghasilkan uang, mencapai kedudukan penting dalam masyarakat, dan tujuan-tujuan lain yang tak habis-habisnya.

            Pendidikan agama bukanlah perkara yang mudah. Untuk menerapkannya dengan berhasil, para orang tua, pelayan gereja, dan seluruh keluarga besar rohani harus bekerja bersama-sama. Baik itu di meja makan atau dalam ibadah di gereja, orang tua dan guru agama harus secara aktif mendorong anak-anak untuk mengenal perkara-perkara rohani.

 

MENGAPA INI PENTING?

Banyak orang melakukan kesalahan dengan menyangka bahwa pendidikan agama hanya berguna dalam sesi Pemahaman Alkitab atau untuk memahami pesan dan pengajaran penting yang disampaikan dari mimbar. Namun sesungguhnya, manfaat pendidikan agama jauh melampaui dua hal di atas:

 

Memelihara Kebenaran

Pertama, pendidikan agama adalah KUNCI untuk memelihara kebenaran Injil yang dipegang Gereja Yesus Sejati, untuk menjaga kebenaran dari penyimpangan yang dapat terjadi ketika generasi dan generasi terus berlanjut turun temurun.

            Babel, Persia, Yunani, Roma, Spanyol, Jerman: ini adalah tempat-tempat di mana orang-orang Yahudi menghadapi tekanan, penganiayaan, perbudakan, bahkan pemusnahan etnis. Namun bagaimanakah mereka menjaga budaya, tradisi, dan iman mereka sehingga tidak terpengaruh dengan asimilasi, diskriminasi sistemis dan pembunuhan massal? Rahasianya ada pada sistem pendidikan agama yang gencar dan seksama. Dengan sistem ini orang Yahudi tidak lupa dengan Allah mereka, dan Allah tidak melupakan umat-Nya. Kita akan senantiasa diingatkan oleh Firman Allah apabila firman itu ada sebagai “lambang di dahi”. Walaupun orang-orang Yahudi terus menerus berada di bawah penindasan bangsa lain silih berganti, hati mereka tetap berakar pada Kitab Suci. Ini adalah buah dari pendidikan agama yang berhasil.

            Apabila diterapkan dengan baik, pendidikan agama bermanfaat bagi anak-anak dan juga orang tua. Ayat di atas juga mengajarkan bahwa mengajarkan dan mewariskan kebenaran harus terus berlanjut, walaupun segala sesuatu yang lain berguguran. “Yang paling kecil dari segala bangsa” (Ul. 7:7)dapat bertahan hidup di tengah penganiayaan-penganiyaan hebat oleh karena kuasa Kitab Suci. Karena itu, cara terbaik untuk memelihara kebenaran adalah dengan pendidikan agama, baik di gereja maupun di rumah.

 

Iman yang Bijak

Kedua, melalui pendidikan agama, anak-anak belajar tentang pentingnya mempunyai iman yang independen dan bijak. Iman pribadi yang kuat berasal dari memeriksa diri sendiri dan terbuka dengan perbaikan. Sebaliknya, iman yang lemah bersifat pasif, bergantung pada orang lain seperti orang tua, teman, pendeta, dan cenderung menunggu disuapkan makanan rohani ketimbang mengejar pertumbuhan rohaninya sendiri.

            Yesus menuntun murid-murid-Nya untuk membangun iman mereka sendiri. Yesus bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?” (Luk. 9:18-20) Tak heran jawaban mereka beragam: “Yohanes Pembaptis, Elia, dan nabi di masa lalu yang bangkit kembali. Yesus kemudian memotong kebingungan ini dengan pertanyaan yang lebih nyata: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Petrus yang siap sedia segera menyampaikan jawaban yang tepat. Apakah kita akan menjawab dengan cara yang sama?

            Perlunya iman pribadi yang bijak bukanlah sesuatu yang disorot oleh Yesus sendiri. Jauh sebelumnya, Allah telah menetapkan hal ini di Perjanjian Lama. Ia menyuruh bangsa Israel untuk mempersiapkan anak-anak mereka untuk bertanya tentang adat istiadat dan sejarah bangsa Israel. Namun untuk menyampaikan pengetahuan ini, mereka sendiri harus menyadari kedalaman iman mereka. Di sinilah terletak dua pengajaran penting. Pertama, orang tua, guru agama, pelayan gereja, dan jemaat mempunyai tanggung jawab untuk memahami pesan Injil, setidaknya dengan pengetahuan yang mencukupi, agar dapat menyampaikan inti pengajaran Alkitab dengan baik. Kedua, Allah tidak menghendaki umat-Nya mempunyai iman yang sembrono dan tidak berpikir. Untuk menangani iman kita dengan serius, kita harus merenungkan Firman-Nya, untuk mencari pemecahan di setiap keraguan, dan lebih penting lagi, untuk bersikap jujur pada iman kita sendiri.

Hari ini kita mudah sekali tersesat dalam beragam informasi, pendapat, dan ide yang tersedia dalam satu klik di internet. Kita dapat menjadi seperti “anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran” (Ef. 4:14b). Untuk menghadapi hal ini, kita harus menerapkan semangat pendidikan agama yang benar: secara pribadi mendapatkan pemahaman yang jernih tentang mengapa Anda percaya pada apa yang Anda percayai.

            Pendidikan agama bekerja dengan mencetuskan rasa ingin tahu tentang perkara-perkara agama dan ketekunan dalam merenungkan Kitab Suci. Murid-murid harus diajarkan untuk mengajukan pertanyaan, mengusir keraguan, dan membangun iman mereka secara pribadi. Lebih lagi, di ruang kelas mereka mempelajari sudut-sudut pandang yang berbeda dan membagikan pengalaman pribadi, yang dapat bermanfaat untuk membangun iman yang bijak. Misalnya, ketika saudara-saudari seiman dari latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda membagikan pemahaman mereka tentang kebenaran Alkitab, semua pihak menerima manfaatnya setelah menyadari cakupan universal dan relevansi Firman Allah dalam hidup mereka sendiri. Ini membantu mereka untuk membangun iman secara pribadi yang dapat tetap teguh saat menghadapi tantangan dari pandangan dan keadaan duniawi.

 

Iman yang Teguh

Ketiga, pendidikan agama mempersiapkan orang Kristen, tua dan muda, untuk memikul salib mereka sendiri demi Kristus.

            Bagi orang Kristen, penderitaan bukanlah sebuah kemungkinan, tetapi sebuah kepastian. Karena itu, untuk mempersiapkan anak-anak kita menghadapi jalan berduri menuju keselamatan, kita harus mengajarkan mereka bahwa Allah memberikan damai sejahtera dan juga malapetaka (Yes. 45:7), dan kita harus menerima keduanya dengan sukarela, sembari menyadari bahwa oleh kasih karunia-Nya mereka dapat menang. Pendidikan agama mengajarkan mereka untuk bersikap tegar, mampu menghadapi penderitaan dan kesusahan, rayuan godaan dunia, dan kelelahan rohani. Selain dengan pengetahuan Alkitab, iman sejati harus dipelihara dengan nilai moral dan karakter.

            Di sinilah fungsi pendidikan agama. Anak-anak harus diajarkan pada realita penderitaan yang tidak kenal bulu. Alkitab penuh dengan kisah penderitaan manusia, dan menyediakan banyak penghiburan yang penuh kuasa dengan menunjukkan kemuliaan kasih karunia Allah. Kita harus membagikan pengajaran-pengajaran ini sejak belia, untuk mempersiapkan anak-anak kita menghadapi penderitaan dan permasalahan yang pasti akan mereka hadapi.

 

BEKERJA SAMA

Untuk menjadi efektif, pendidikan agama harus diterapkan pada anak-anak di setiap waktu. Membatasi pendidikan agama hanya pada satu jam kebaktian di kelas dalam gereja setiap sabat akan memudarkan manfaatnya. Apabila orang tua dan guru-guru agama dapat menunjukkan kuatnya pengajaran mereka melalui perbuatan, anak-anak akan diperlengkapi dengan lebih baik untuk menerapkan prinsip-prinsip Alkitab, karena mereka telah melihat sendiri bagaimana prinsip-prinsip ini dijalankan dalam hidup kita sehari-hari. Gereja dan seluruh jemaat harus bekerja bersama-sama untuk mendorong anak-anak kita mewariskan kebenaran, untuk membangun semangat ingin tahu dan dengan rendah hati menyelidiki diri sendiri dengan jujur, dan membangun iman yang teguh seperti yang dijelaskan Paulus:

 

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggal sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (2Kor. 4:8-10)

 

“Memerlukan satu desa untuk membesarkan seorang anak”, kata peribahasa Afrika tradisional. Namun untuk membesarkan seorang anak Allah, kita cukup memerlukan satu keluarga; dan kitalah keluarga itu.