Skip to main content
Gereja Yesus Sejati Indonesia

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Search
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Gereja Kita
GYS Cianjur
  
Gereja Yesus Sejati Indonesia > Santapan Rohani > Sungguh Besar Engkau Tuhan  

Gereja Yesus Sejati Indonesia

 

Sungguh Besar Engkau Tuhan

 

MEMAHAMI KEBESARAN TUHAN

 

Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah. (Mzm. 86:10)

 

            Kata-kata ini ditulis oleh Daud dan berasal dari lubuk hatinya yang terdalam, karena selama hidupnya, ia merasakan sendiri kebesaran Tuhan. Pengalaman-pengalaman tersebut membantunya memahami bahwa Tuhanlah yang menuntunnya selama ini. Kalau bukan karena pertolongan Tuhan, ia pasti sudah jatuh ke dalam cengkeraman musuh-musuhnya.

Yang terpenting, Daud bukan hanya menghargai kebesaran dan pertolongan Tuhan di masa-masa sukar; ia juga sepenuhnya menyadari dan menghargai kemahakuasaan Penciptanya di masa-masa damai.

 

Langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar. (Mzm. 19:2-4)

 

Daud sudah menjadi gembala sejak muda dan sudah menghabiskan banyak waktu di padang rumput sendirian. Barangkali, sambil menggembalakan domba-dombanya, ia menatap ke langit, menghargai awan-awan, mengagumi keindahan pelangi, dan terpesona oleh berjuta bintang di langit. Dan selagi Daud merenungkan semua itu, ia pun tertegun oleh kebesaran Tuhan, Sang Pencipta alam semesta ini.

Pada tahun 1996, ahli-ahli astronomi di Space Telescope Science Institute menggunakan teleskop luar angkasa Hubble untuk mempelajari bidang kecil di langit yang tampak kosong sama sekali, tanpa planet, bintang, atau galaksi. Beberapa kritikus menganggap usaha mereka itu pemborosan saja.

Tetapi teleskop itu terus menangkap banyak sekali gambar yang menakjubkan. Setiap bintik, noda, dan titik yang kita lihat dari bumi, sebenarnya merupakan satu galaksi utuh, yang masing-masing terdiri dari ratusan milyar bintang. Semua ini berujung pada satu fakta sederhana: tak peduli seberapa mengesankannya prestasi kita di dunia ini, manusia hanyalah setitik noktah dibandingkan dengan ukuran alam semesta, dan tak terkira tak signifikannya di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa.

Sebagai anak-anak-Nya terkasih, kita mungkin sudah merasakan pengalaman-pengalaman yang membantu kita memahami kebesaran Tuhan. Akan tetapi, sekalipun tidak punya pengalaman demikian, kita tidak punya alasan untuk tidak tahu tentang Tuhan kita yang ajaib. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengangkat kepala dan menatap langit malam bertabur bintang—kita pun akan disuguhi bukti tak terbantahkan tentang betapa besarnya Pencipta dan Bapa Surgawi kita.

 

BERDIRI DENGAN PENUH KEKAGUMAN DI HADAPAN TUHAN

Sungguh, Tuhan itu hebat, karena Dia menciptakan semua bintang dalam satu hari saja (Kej. 1:15) dan mendandani segala sesuatu dari ketiadaan. Dia membuat semuanya ini untuk kita masing-masing. Oleh karena itu, kita harus berdiri dengan penuh kekaguman di hadapan kehebatan Tuhan.

            Kagum bukan hanya berarti takut akan Tuhan tetapi juga memiliki rasa hormat dan segan kepada Tuhan. Kita mungkin takut kepada orang-orang berkedudukan tinggi karena mereka dapat mengancam kehidupan kita; sama seperti orang-orang yang hidup di bawah penguasa tirani merasa takut tapi tidak menghormati para tiran tersebut. Akan tetapi, Tuhan kita layak ditakuti dan dihormati. Dia memiliki kuasa dan kewenangan untuk mengambil nyawa kita kapanpun, akan tetapi Dialah Allah yang menjaga kita sepanjang hidup kita.

 

MEMEGANG PERINTAH-NYA

 

Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat. (Pkh. 12:13-14)

 

Seorang raja yang terkenal akan hikmatnya secara gamblang memberitahu bagaimana kita harus takut akan Tuhan. Jawabannya mudah sekali diucapkan: memegang perintah-Nya. Akan tetapi, persoalan yang lebih penting dan sulit adalah,sudahkah kita benar-benar memegang perintah-Nya. Kita mungkin tidak melanggar satu pun Sepuluh Hukum Tuhan, tetapi sudahkah kita bertekad untuk memegang perintah-perintah tersebut dengan sepenuh hati, ataukah kita hanya melakukannya sedikit dan asal saja? Sudahkah kita memegang intisari dari perintah tersebut?

Contohnya tentang Hari Sabat. Kita diperintahkan untuk “menguduskan hari Sabat” (Kel. 20:8). Apa maknanya bagi kita? Bagi beberapa orang, perintah ini sudah dipenuhi dengan cara duduk di gereja selama satu setengah jam di Sabtu pagi (atau siang), menyanyikan beberapa kidung pujian, berdoa dua kali, dan mendengarkan khotbah. Dan jika kita punya urusan pada hari Sabtu, kita mengikuti kebaktian Jumat malam sebagai “pengganti”. Di waktu-waktu lain, Jumat malam adalah waktu untuk bersosialisasi dengan teman, menonton film, atau bersantai di rumah sambil menonton TV. Lalu ada lagi orang yang tidak menggunakan Jumat malam untuk aktivitas sosial, tetapi mereka tetap tidak mengikuti kebaktian Jumat malam, lebih suka menggunakan waktu tersebut untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah atau mengurusi bisnis dan masalah pekerjaan.

Alkitab mengajarkan bahwa kita tidak boleh bekerja dari awal hingga akhir hari Sabat (Kel. 20:8-11; Im. 23:3). Memang benar kita tidak lagi tunduk pada peraturan kaku memegang Sabat ala hukum Taurat (lih.Luk.13:14-15). Akan tetapi, Kitab Yesaya mengingatkan bahwa jika kita tidak melakukan hal-hal yang kita sukai, dan melakukan segala hal yang disukai Tuhan, maka kita telah benar-benar memegang Sabat (Yes. 58:13-14).

Kita harus jujur menanyai diri sendiri sudahkah kita benar-benar memegang Sabat. Sudahkah kita menghormati Sabat sebagai hari kudus ataukah hanya memegang “jam kudus”? Tuhan memberi kita enam hari untuk mengerjakan urusan kita. Pada saat kita mengucap syukur atas pemeliharaan dan berkat-Nya selama enam hari tersebut, apakah kita menyadari bahwa hari ketujuh, hari Sabat, sepenuhnya merupakan milik Pencipta kita dan kita harus mempersembahkan hidup dan pikiran kita untuk perkara Ilahi pada hari itu?

Contoh tentang Sabat di atas menggambarkan sikap yang harus kita miliki terhadap perintah Tuhan. Kita harus memastikan bahwa kita bukan sekadar memegang perintah tersebut secara harafiah melainkan intisarinya. Inilah perwujudan pertama namun sangat penting dari hati yang takut dan hormat akan Tuhan—kita bersuka dalam perintah-perintah-Nya, merenungkan dan melakukannya dengan penuh kerelaan.

 

MENGUCAP SYUKUR

Kebesaran Tuhan seharusnya juga menumbuhkan hati yang penuh syukur dalam diri kita. Kitab Kejadian memberitahu kita bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan bumi sebelum menciptakan Adam dan Hawa. Dari sini kita tahu bahwa Dia menjadikan semua itu demi kebaikan manusia, dan bahwa Dia secara khusus menjaga kita. Menyadari hal ini seharusnya membuat kita merasa sangat bersyukur kepada Tuhan.

 

Sebab beginilah firman yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.” (Yes. 57:15)

 

Yesaya menggambarkan Tuhan sebagai Yang Mahatinggi dan Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya. Walaupun Dia Mahatinggi dan Mahamulia, Dia mau tinggal di antara manusia, bersama orang-orang yang remuk dan rendah hati, dan bersama orang-orang yang rindu untuk menyembah Dia.

Khususnya, Tuhan ingin tinggal di dalam hati kita. Sebenarnya, mengingat betapa kotor dan kacaunya hati kita, kita tidaklah layak menjadi tempat kediaman Tuhan yang kudus. Namun demikian Dia mau menerima ketidakkudusan kita dan tinggal di dalam kita. Kasih yang sedemikian besar dari Tuhan kita ini layak mendapatkan rasa syukur yang melimpah dan berkesinambungan, bukan sekadar cetusan terima kasih sesaat.

Banyak dari kita sudah menyadari bahwa kebesaran Tuhan patut untuk disyukuri, tetapi seberapa seringkah kita benar-benar mengucap syukur kepada Tuhan, entah dalam doa maupun saat teduh? Bagi beberapa orang, mengatakan “Terima kasih Tuhan!”merupakan kebiasaan alami. Tetapi apakah kita benar-benar bermaksud demikian? Sangat sering, kecuali ada hal khusus terjadi atau kita merasakan anugerah Tuhan, kita tidak mengucap syukur atau mengucap syukur tidak dengan sepenuh hati seperti yang seharusnya kita lakukan. Terlebih lagi, bahkan setelah mengalami karunia Tuhan yang luar biasa, setelah aliran pertama rasa syukur berlalu, umat manusia cenderung lupa. Kenangan akan berkat-berkat Tuhan seringkali dan mudah sekali tercampur aduk dengan kekhawatiran hidup sehari-hari.

Oleh karena itu, kita harus secara sadar menghitung berkat Tuhan setiap hari. Pada saat itulah, kita akan mulai melihat dan menghargai berbagai cara Tuhan menjaga serta membimbing kita dalam kehidupan sehari-hari. Ini akan mendekatkan kita kepada-Nya. Sebaliknya, semakin jarang kita mengucap syukur kepada Tuhan dan semakin kita menganggap Tuhan memang sudah seharusnya seperti itu, semakin mudah kita mengeluhkan keterpurukan kita dalam hidup ini. Dan seperti bangsa Israel yang keras kepala dan tidak tahu terima kasih, pada akhirnya kita akan menjauh dari-Nya.

Rasul Paulus mengingatkan kita untuk selalu mengucap syukur kepada Tuhan (Ef. 5:20 ; 1Tes. 5:18).Tuhan kita yang luar biasa mau tinggal di antara kita dan, yang lebih penting, tinggal di dalam kita. Terlebih lagi, untuk memastikan bahwa suatu hari kita dapat tinggal dalam kerajaan surga bersama-Nya, Dia rela menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib. Kasih-Nya jauh melampaui kasih manusia yang terbesar sekalipun.

 

HIDUP UNTUK KRISTUS

 

Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. (2Kor. 5:14-15)

 

Paulus sangat memahami dan merasakan kasih Kristus atas dirinya. Pemahaman ini mendorongnya bertekad untuk hidup bagi Dia yang telah mati untuknya. Dan Paulus memang menjalani seluruh hidupnya bagi Tuhan, sejak ia menjadi percaya sampai mati sebagai martir. Hidup dan perbuatannya benar-benar layak kita kagumi, karena menjadi petunjuk bagaimana seharusnya kita hidup untuk Kristus.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hidup untuk Kristus? Apabila kita mengikuti kebaktian secara rutin dan berpartisipasi dalam pekerjaan gereja, apakah itu artinya kita sudah hidup untuk Kristus?

Pertimbangkan contoh keluarga yang salah satu anggotanya memiliki keterbatasan dan tidak mampu merawat dirinya sendiri. Di satu sisi, orang ini tidak dapat hidup untuk dirinya sendiri, sehingga anggota keluarga yang lain harus hidup untuk dia. Rancangan dan tata ruang rumah, perkembangan karir, rencana liburan, rencana masa depan keluarga itu dan sebagainya, semuanya harus dibuat dengan mempertimbangkan anggota keluarga yang khusus ini. Akan tetapi, kita bukan hanya bersedia mempertimbangkan, malah memprioritaskan anggota keluarga yang cacat ini karena kita mengasihinya. Inilah perilaku yang kita lihat pada seseorang yang hidup untuk orang lain.

Tentu saja, Kristus lebih besar daripada kita, dan Dia bukanlah orang sakit yang harus kita rawat. Tetapi ketika kita memutuskan untuk hidup bagi Kristus, kita akan memiliki pertimbangan yang sama dan memberikan prioritas utama kepada-Nya. Akankah Tuhan senang dengan apa yang kulakukan? Kalau aku melakukan hal ini, apakah aku memenuhi standar Tuhan? Apakah ini bermanfaat bagi gereja? Kalau aku memutuskan pindah kerja ke luar negeri, siapa yang akan membawa anggota keluargaku yang belum percaya kepada Kristus? Kalau aku pindah negara, dapatkah aku mempertahankan iman pribadi dan keluarga?

Singkatnya, jika kita bertekad untuk hidup bagi Kristus karena kita takjub dan tergerak akan kasih-Nya yang besar kepada kita, iman—pribadi dan keluarga kita—akan menjadi perhatian utama kita.

 

DARI TAKJUB MENJADI TINDAKAN

 

Jiwaku memuji Engkau, Tuhan; sungguh besar, Kau Allahku!

 

            Dalam kidung yang sangat terkenal dan disukai, “Sungguh Besar Kau Allahku”, liriknya menggambarkan keajaiban alam, pengorbanan Kristus yang luar biasa dan menggugah, serta pengharapan ajaib akan kehidupan kekal. Semua ini menuntun pada refrain puncak—jiwa kita tak dapat tidak memberitahu Penyelamat kita betapa besarnya Dia.

            Refrain ini seharusnya menjadi pengulangan tetap sepanjang hari-hari kita di dunia—memuji Dia atas kasih karunia yang besar dan ajaib. Yang lebih penting, ketika kita melihat dan mengingat kebesaran Tuhan, hendaknya kita juga takut kepada-Nya, memegang perintah-Nya dengan sepenuh hati, mengucap syukur senantiasa kepada-Nya, dan yang terpenting, hidup untuk-Nya.